Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Sadarlah Silfia.


__ADS_3

"Kerjakan sendiri! kalian punya kaki dan tangan" ucap Simbok, kemudian masuk kedalam kamar membereskan baju kedalam tas. Simbok tidak tahan lagi di perlakukan seperti ini. "Kenapa sih nyonya Latania harus memasukkan dua wanita jahat itu kedalam rumah ini?" monolog Simbok.


Simbok pun memilih pergi menenteng tas pakaian melewati kedua wanita yang masih marah-marah.


"Heh! mau kemana? tugasmu belum selesai!" omel Ibu Reny.


"Tugas saya sudah selesai, karena Non Mawar sudah tidak ada di sini lagi!" tukas Simbok bergegas pergi meninggalkan kedua wanita yang menumpahkan sumpah serapahnya.


Simbok naik taksi menuju rumah Mama Latania 15 menit kemudian sampai tujuan.


"Assalamu alaikum"


"Waalaikumusallam..." kebetulan Nyonya Latania sendiri yang membuka pintu.


"Loh, ada apa Mbok? kenapa Mbok Paijem membawa banyak barang?" tanya Nyonya Latania, mengamati simbok kemudian beralih menatap 3 tas pakaian.


"Saya mau pamit Nyonya... saya tidak kuat lagi tinggal bersama mereka." tutur Simbok.


"Memang kenapa Mbok? bukanya jeung Reny orang baik?" tanya Nyonya, sebab waktu Ibu Reny datang bersama Diah tampak baik, walaupun sedikit kampungan bagi Nyonya tidak menjadi masalah.


Simbok pun menceritakan semuanya tentang perlakuan Ibu dan Diah kepadanya.


"Ya sudah, simbok jangan kemana-mana di sini saja" titah Nyonya.


"Tapi di sini sudah ada tiga orang yang kerja Nyonya" terang Simbok.


"Iya, tapi Simbok itu sudah 25 tahun bekerja sama saya, jangan sungkan kalau simbok masih mau bantu-bantu memasak saja" titah Nyonya.


"Terimakasih Nyonya"


"Sudah bawa pakaianmu ke kamar"


"Baik Nyonya"


Mama Latania, menatap langkah simbok yang sedang menenteng tas dari belakang.


"Masalah apa lagi sih ini?" gumam Mama Latania. Menghela nafas panjang.


Flashback on.


"Ma, terimakasih ya, saya dan Mawar sudah di kasih tinggal di rumah Mama" ucap Adit.


"Kamu ini bilang apa sih Dit, rumah itu kan sudah aku berikan untuk Istrimu" sahut Mama.


"Iya, tapi Mawar monolak Ma, minggu besok saya dan Istri mau pindah ke rumah yang kami beli sendiri." tutur Adit.


"Berarti rumah itu suruh di tempati besan saja, katamu Ibumu ada disini kan? sekalian Mama mau kenalan" sahut Mama.


"Tidak usah Ma, Ibu sudah kontrak rumah kok" cegah Adit.


"Jangan begitu Dit, biar Ibumu tinggal di rumah itu untuk sementara, sekarang rumah itu kan sudah menjadi milik Istrimu" terang Mama.

__ADS_1


*****


Keesokan harinya, Ibu Reny datang kerumah besan di jemumput Adit. Sepanjang jalan Adit mewanti-wanti agar Ibu tidak berbuat macam-macam di rumah mertuanya.


Sampai di rumah mertuanya Adit memperkenalkan Ibu dan adiknya kepada Silfi dan Mama Latania.


"Oh jadi ini mantuku? cantik, pinter, kaya pula" ucap Ibu kemudian memeluk menantu keduanya. "Oh beda sama-- " Ibu menghentikan ucapanya karena Diah mengedipkan mata jangan sampai keceplosan di depan Silfi tentang Mawar.


"Iya Ibu, saya menantu Ibu, maaf ya... saya belum pernah mengunjungi Ibu. Adit sih... nggak mau ngajak aku menemui Ibu" adu Silfi kepada mertuanya.


"Silahkan duduk Bu" Silfi menuntun mertuanya duduk.


Setelah perkenalan mereka duduk di ruang televisi.


"Kamu adiknya Adit, namanya siapa?" tanya Silfi kepada Adik Iparnya.


"Diah Susanti, kak"


"Oh nama yang bagus" puji Silfi.


Mereka pun berbincang-bincang di depan televisi.


"Waah... televisi nya besar sekali..." Ibu Reny berdiri mendekati televisi kemudian mengelus televisi 35 inci tersebut. Ibu Reny membelalakan mata jika bukan ciptaan Allah mungkin sudah lepas dari sarangnya, mulut mangap membulat karena belum pernah melihat televisi sebesar itu.


Belum hilang rasa terkejutnya Ibu meraba guci dari bali, pajangan kristal, yang tersusun di lemari kaca.


Adit melirik Diah, menggelengkan kepalanya.


"Ngomong-ngomong suami Jeung Reny mana?" tanya Mama Latania.


"Suami saya nggak ikut Bu, lha wong di rumah ndak ada yang jaga loh" sahutnya.


"Oh, jadi Jeung Reny kesini tidak bersama suami? kok suami Ibu mau di tinggal ya?"


"Ya harus mau to Bu, saya kan pengen juga tinggal di Jakarta seperti orang-orang" pungkas Ibu Reny.


Flashback off.


Tiga hari kemudian, setelah Silfi koma belum ada tanda-tanda Silfi akan sadar.


Di ruang ICU.


Silfi di rawat dengan pengawasan yang ketat, di pantau oleh dokter spesialis kanker selama 24 jam, dan perawat yang sudah berkompeten.


Dilengkapi peralatan medis khusus. Ventilator membantu untuk bernafas, terhubung dengan kabel dan selang di masukkan ke dalam hidung, mulut dan tenggorokan. Namun walapun alat tersebut sangat membantu menstabilkan kondisi Silfi . Namun sangat menakutkan.


Tampak di dalam, Mawar duduk di kursi sebelah pasien menggunakan pakaian yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


Mawar menggenggam tangan Silfi lalu mengecupnya sesekali sambil mengajaknya bicara.


"Mbak Silfi, yang kuat ya...Mbak nggak mau kenalan sama aku"

__ADS_1


"Kita urus Mas Adit sama-sama ya, Mbak harus cepat sadar, nanti kita ngobrol bertiga selayaknya teman" ucap Mawar.


Tes


Air mata jatuh dari pipi Silfi. Sementara Silfi di alam bawah sadarnya sedang berjalan di taman yang indah. Silfi tersenyum merakah memetik setangkai bunga mawar merah lalu menciumnya.


"Mbak Silfi... aku Mawar Mbak... kembalilah Mbak..." sayup-sayup terdengar ada yang memanggilnya Silfi menoleh.


"Mawar... Mawar yang ini lebih indah" ucap Silfia, kemudian Silfi kembali berjalan menyusuri taman"


"Mbak Silfi... aku Mawar Mbak... Silfi kebingungan ingin menemui gadis berjilbab yang mengaku Mawar. Tapi Silfi lebih betah tinggal di tempat ini sungguh menyenangkan.


Kemudian Mawar masih terus berbicara berharap Silfi segera sadar.


"Sayang... sudah siang, kamu belum makan apa-apa loh" Adit memperingatkan. Saat ini Mawar berdua bersama suaminya di ruangan.


"Iya Mas, aku juga belum shalat" ucap Mawar. Mereka pun keluar dari ruangan sebelum makan, menjalankan shalat dzuhur terlebih dahulu.


Di dalam mushala rumah sakit Mawar beristirahat sejenak setelah menjalankan shalat. Mawar bersandar di tembok sambil membaca buku fiqih yang terletak di sudut ruangan mushala.


Dert dert dert.


Handphone Mawar berbunyi Mawar kemudian merogoh dari dalam tas slempang. Mawar membuka ternyata Melati yang telepon.


"Assalamu alaikum wr wb..." Mawar mengankat telepon.


"Waalaikumusallam..."


"Kakak apa kabar? kakak nggak apa-apa kan? kakak baik-baik sajakan?" Melati memberondong pertanyaan.


"Hehehe..." Mawar terkekeh. "Kamu ini kenapa sih Mel? bertanya kok seperti petasan." Mawar berseloroh.


"Nggak kak, minggu depan aku mau main kesitu boleh nggak?" tanya Melati.


"Ya jelas boleh dong, sama siapa?" tanya Mawar sambil meletakkan buku fiqih pada tempat semula.


"Sama Bapak, Ibu kak"


"Okay Adikku... bilang sama Bapak, Ibu ya... kakak nggak bisa jemput kesitu, nanti Bapak sama Ibu di ajak naik pesawat saja" saran Mawar.


"Baiklah kak, ya sudah gitu dulu ya kak" Assalamualaikum"


"Waalaikumusallam." tut.


"Sudah Maw" Adit melongok dari luar mushala khusus untuk wanita.


"Sudah kok Mas... ayo." keduanya meninggalkan mushala.


*****


"Hai reader ❤ sekali lagi budhe mohon maaf,🤝🤝 cerita ini hanya fiktif ya... jika ada kesamaan dalam kisah ini.

__ADS_1


"Budhe buat cerita ini, bukan berarti mendukung poligami, aduh... bukan hanya yang membaca yang sedih, budhe nulis ✍ juga menghayati sambil mewek.😢😢 Cerita masih belum selesai bagaimana kelanjutannya nanti mohon bersabar. 🤝🤝🤝


__ADS_2