
Pagi hari adzan subuh berkumandang. Adit bangun dari tidur meraba ranjang di sebelahnya namun kosong. Adit baru sadar, bahwa istrinya tidak tidur bersamanya. Adit segera bangun kemudian menjalankan ritual pagi. Menyiapkan segalanya sendiri. Terasa kelimpungan karena tidak ada Istri. Adit menarik kaos kaki yang sudah digulung hingga acak-acakan.
Hingga matahari terbit, Adit baru selesai mandi. Adit menyadari bahwa istrinya terlalu kecewa kepadanya hingga tidak mau menyiapkan pakaian maupun tidur bersamanya. Adit menarik napas panjang kemudian keluar dari kamar ingin segera bertemu Mawar lalu minta maaf.
Adit melihat dimeja makan keluarga istrinya sudah berkumpul, namun tidak ada istrinya disana. Mendengar derit pintu, dan kehadirannya semua menoleh.
"Kak Mawar, mana kak Adit?" tanya Melati melihat kakak iparnya keluar dari kamar hanya sendiri.
Deg.
"Bukanya tidur sama kamu Mel?" Adit menghentikan langkahnya.
Melati menggeleng. "Kakak ini aneh, kalau kak Mawar tidur sama saya pasti saya nggak akan tanya."
"Bukanya tadi malam kalian pergi bersama Dit? kami mulai tidur jam sembilan, menunggu Mawar, tapi dia belum sampai dirumah loh?" Bapak mulai panik.
"Brak"
Tas kerja yang Adit pegang berisi lap top pun terlepas dari tanganya. Adit diam di tempat tidak bergerak. Kakinya terasa berat untuk mencapai meja makan. Bayangan buruk bermunculan kemana istrinya tidak pulang semalaman? kecelakaan kah? atau jangan-jangan terjadi sesuatu dengan kehamilannya sehinggga istrinya masuk rumah sakit?" "Oh tidaaakk..." Adit tiba-tiba berteriak.
"Dit, sadar Dit" Bapak mendekat lalu menepuk pundaknya.
Ibu mencerna apa yang terjadi kemudian beranjak dari meja makan menyusul suaminya. "Yang benar kamu Dit! terus Mawar kemana?" Wajah Ibu menahan marah, menatap Adit tajam.
"Katakan, Adit! Mawar kemana? kamu apakan anakku, Dit? JAWAB DIT!" Ibu merosot kelantai, berteriak mengguncang tangan Adit. Ibu benar-benar panik, air matanya mulai bercucuran.
"Kamu bertengkar dengan istrimu Dit?" Pak Sustina memegangi kedua sisi pundak Adit.
Melati tidak bisa berkata apa-apa hanya menangis. Simbok pun hanya bisa terpaku.
Semua menegang perasaanya tidak karuan. Mereka berkumpul di depan kamar Adit.
Adit menggeleng lemah, matanya menahan cairan bening agar tidak jatuh. Adit bersimpuh di depan Ibu yang duduk di lantai tanpa alas.
"Saya memang salah Bu, kemarin saya janji akan menjemputnya, tapi saya lupa" Adit tidak berani menatap wajah Ibu.
"Saya diberi tugas Papa Johan, harus rampung minggu ini, makanya saya sering lembur."
"Terus kenapa Mawar sampai pergi Dit?"
"Tidak mungkin jika hanya masalah itu Mawar sampai pergi!" kata Ibu terisak.
"JAWAB DIT! JANGAN DIAM SAJA!" Bentak Ibu kembali meradang, bayangan Adit telah menyakiti anaknya kembali muncul.
Adit menatap wajah ibu dengan tatapan kosong.
"Bu, sabar Bu" Pak Sutisnya menenangkan, mengusap bahu Ibu. "Coba kita cari ke Rose shop, siapa tahu anak kita tidur disana." kata Bapak mencoba tenang, walaupun pikiranya tidak lebih baik dari istrinya.
Semua mengikuti Bapak ke Rose shop, nihil. Keadaan Rose shop pun masih sepi. Sebab Rose shop biasa buka jam delapan.
__ADS_1
Bapak kemudian mengajaknya kembali kerumah. "Mel kamu menyimpan nomor telepon salah satu teman kakak kamu?" tanya Adit lirih.
"Tidak ada kak, hanya nomor telepon Intan." jawab Melati serak karena dari tadi menangir terus.
"Oh iya, mungkin ada disana" sambung Ibu penuh harap.
"Bisa minta tolong di hubungi Mel" kata Adit. Karena tidak ada telepon, Adit tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.
"Iya kak"
Melati menghubungi Intan deringan ketiga kali kemudian di angkat.
"Ada apa Mel?" tanya Intan to the point, di seberang.
"Kak Mawar main kesitu nggak Tan?" Melati berusaha untuk tenang.
"Nggak ada, memang dia mau kesini ya?" Intan balik bertanya.
Intan menggeleng menatap Bapak yang menegang.
Ibu dan Adit mendengar perbincangan Melati dengan Intan melaui Loudspeaker. Menjadi semakin was-was karena tidak ada tanda-tanda Mawar ada dirumah Mama Sahina.
"Nggak sih Tan, ya sudah, nanti aku telepon lagi" Melati kemudian mematikan sambungan telepon.
"Kamu coba hubungi kakakmu nak" titah Bapak. Kali ini Bapak bisa menyikapi lebih bijak, jika semua marah tentu tidak akan bisa berpikir jernih.
"Tidak di angkat." Melati menatap Bapak putus asa.
"Saya cari Mawar dulu, Pak, Bu" kata Adit kemudian, masuk ke dalam kamar ambil jaket dilemari. Melihat baju Mawar tidak ada yang di bawa sepotong pun. Adit masih berpikir positif, istrinya tidak mungkin pergi jauh.
Tidak pikir-pikir lagi. Adit segera mengeluarkan motor dari garasi akan mengambil handphone dan menanyakan kepada teman-teman Mawar.
Adit menjalankan motornya dengan cepat, di situasi seperti ini menggunakan motor solusi nya. Adit mengurungkan niatnya untuk mengambil handphone. Namun ia belok arah menuju kampus siapa tahu Mawar berangkat kuliah.
Sampai di tempat, Adit duduk di kursi taman kampus mengamati satu persatu orang yang berdatangan. Netranya tertuju kepada salah satu wanita tomboy yang sedang berjalan dengan percaya diri memakai kaos lengan pendek, dan celana jins yang robek-robek. Adit segera menghadang langkahnya.
"Eh, Pak Adit? Mawar kemana?" Rosita clingak clinguk mencari Mawar.
Adit hanya diam berekspresi kecewa. Pasalnya, Adit pikir Mawar berada bersama temanya ini. Namun, dengan pertanyaan Rosita Adit sudah tahu jawabanya.
"Pak Adit? hallo... kok melamun?" Rosita menatap Intens Adit.
"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Adit tanpa ragu.
"Oh boleh Pak, masih ada waktu 30 menit" sahut Rosita melirik jam di tanganya. Kemudian mengajak Adit duduk di teras kampus.
"Ada apa Pak Adit?" tanya Rosita setelah duduk.
"Kamu kemarin bertemu Mawar?"
__ADS_1
"Bukan bertemu lagi Pak, ngorol sampai satu jam ikut shalat berjamaah, malah"
"Memang kenapa Pak? kemarin saya ngobrol di kantin menunggu Bapak, terus... selesai shalat saya pulang duluan."
Melihat tatapan Adit yang kosong Rosita ambil kesimpulan sendiri tanpa harus di jawab pasti terjadi sesuatu.
"Mawar belum pulang dari kemarin sore" Adit meremas rambutnya.
"Ya Allah... kemana sih tuh anak? mana perut besar begitu juga." gerutu Rosita khawatir terjadi sesuatu dengan sahabatnya, kemudian ambil handphone dan menghubungi.
Adit mengamati Rosita yang sedang telepon walaupun tidak yakin, berharap akan di angkat.
Rosita menatap Adit menggeleng. "Tidak di angkat" ucapnya.
"Ada masalah apa lagi Pak?" Rosita menatap nyalang Adit.
Adit tidak menyahut kepalanya disandarkan di tembok menatap bentangan langit yang jauh. Sejauh anganya untuk menggapai istrinya.
"Pak Adit, berbuat ulah apa lagi dengan sahabat saya? atau... Pak Adit kawin lagi seperti dulu?" Rosita berubah marah ingin rasanya mencakar wajah suami sahabatnya itu dengan kuku panjangnya.
Adit diam justru mengalihkan pembicaraan.
"Kira-kira, Mawar ada teman akrab yang lain tidak?"
"Tidak ada!" jawab Rosita ketus.
"Pak Adit tuh! laki-laki egois, yang pernah saya temui, andai saya menjadi Mawar buat apa mempertahankan laki-laki yang selalu menyakiti!" Rosita mlengos kesal.
"Jawab saja, jangan membuat saya semakin pusing! kalau tidak ya sudah, saya akan pergi!" Adit kemudian berdiri hendak pergi.
" Tidak ada" Rosita menurunkan intonasi.
Adit berhenti melangkah, kemudian menoleh.
"Hanya saya satu-satunya, dulu ada Rony, tapi semenjak bertengkar dengan Bapak waktu itu. Rony tidak pernah main ke kampus."
"Bisa minta nomor handphone nya?" Adit kembali duduk. Walaupun tidak mungkin istrinya ada bersamanya, jika sudah tidak ada titik temu, Adit akan mencoba menghubungi siapa tahu Rony tahu keberadaan istrinya.
"Ada" Rosita memberikan nomor telepon Rony.
"Sudah telepon polisi Pak" Rosita menahan emosi melihat wajah Adit yang syok, tidak tega juga.
"Kalau belum 24 jam, tidak akan di respon" suara Adit melemah.
"Nanti dipikirkan lagi Pak, sudah masuk soalnya, saya akan bantu Bapak" ucapnya kemudian meninggalkan Adit masuk kedalam kelas.
Adit tetap duduk lemas masih berharap istrinya akan datang ke kampus. Walupun harapan itu hanya sedikit.
Hingga jam sembilan tidak ada tanda-tanda kehadiran Mawar Adit berjalan setengah berlari menuju parkiran kembali menjalankan motornya.
__ADS_1