
Jam sebelas pagi setelah membantu Pak Renggono, Adit bergegas ke warung baso. Tampak sudah banyak para penikmat baso yang sudah mengantri menunggu giliran di layani.
Adit segera masuk kedalam bergabung dengan Pak Sutisna, membantu mertuanya.
"Bu, saya minta kopi hitam dua cangkir sama teh manisnya dua gelas ya" kata salah satu pria seusia Adit, yang berpakaian santai datang bersama tiga orang temanya begitu masuk langsung duduk.
"Baik Mas" sahut Bu Riska agak kencang khawatir tidak terdengar.
"Baso nya mau sekalian Tuan?" tanya pelayan menyodorkan daftar menu baso beberapa pilihan. Yakni, baso urat, baso raket, baso daging, dan baso telur pada umumnya.
"Pak, biar saya saja yang membuatkan kopi" Adit menawarkan diri.
"Memang kamu tidak keberatan? kan biasa kerja kantoran masa mau membuat kopi" ucap Bapak tersenyum, kemudian menyerahkan kopi sachet kepada Adit. Lalu Pak Sutisna membuat ice untuk pelanggan yang lain.
"Bisa Pak" sahut Adit membalas senyum mertua, kemudian membuat kopi dan teh sesuai pesanan.
Sementara Ibu Riska sedang menyiapkan pesanan baso bersama kedua karyawannya yang satu melayani di depan, dan yang satu bagian mencuci piring.
"Selamat menikmati Tuan" ucap pelayan seraya meletakkan mangkok baso, satu persatu di depan sepuluh orang pemesan, termasuk 4 orang pria yang baru saja datang. Baso panas yang ngebul aromanya menggugah selera para pengunjung.
"Terimakasih" ucap salah satu dari sepuluh orang.
Bertetepatan dengan itu, Adit keluar membawa minuman. "Ini kopinya Mas" Adit membawa nampan meletakkan kopi dan teh di depan para pemesan.
"Terimakasih" salah satu pemesan menatap Adit yang masih menunduk sambil membagikan kopi.
"Adit?" sapa seseorang kemudian berdiri cepat dari duduknya.
Adit mengangkat kepalanya cepat.
"Wawan?" Adit balik menyapa.
Kedua orang itu pun tertegun, saling pandang masih dalam posisi berdiri.
Tiga orang teman Wawan, saling pandang melihat sahabat mereka sepertinya bertemu dengan orang yang sudah saling mengenal.
"Adit"
"Wawan"
Keduanya serentak mengulangi panggilanya kemudian berjabat tangan. Ya, dialah Wawan, sahabat Adit ketika SMA dulu, mereka terakhir bertemu saat Adit menikah enam tahun yang lalu.
"Kamu apa kabar?" tanya Wawan menatap Adit dari dada keatas. Sebab, kaki Adit terhalang meja. Adit mengenakan kaos hitam, tampak lebih tampan dan berwiba dari enam tahun yang lalu. Saat itu Adit, Mawar, dan Wawan masih berusia 18 tahun. Sungguh Adit masih terlalu muda saat itu, untuk menjalani hidup berumah tangga.
"Alhamdulillah... aku baik-baik saja Wan." ucap Adit.
"Kenalkan Dit, ini teman-teman aku" Wawan mengenalkan teman-temannya.
Adit mengangguk sopan kepada ketiga teman Wawan.
"Duduk sini Dit, kita ngobrol-ngobrol, sudah enam tahun loh, kita nggak ketemu" kata Wawan.
Adit pun ikut bergabung duduk berhadapan.
__ADS_1
"Kenapa kamu disini Dit?" tanya Wawan.
"Ini warung baso milik mertua aku" sahut Adit menunjuk mertuanya yang tampak sibuk di dalam.
"Oh, itu Pak Sutisna?" Wawan, menoleh Pak Sutisna yang tidak begitu jelas di lihat dari depan.
"Betul" sahut Adit.
"Aku temui mertuamu dulu ya Dit" ucap Wawan sambil beranjak. Adit hanya mengiyakan.
Teman-teman Wawan membiarkan sahabatnya temu kangen dengan sahabat lamanya. Mereka menikmati baso dan minuman sambil berbincang-bincang dan berkenalan dengan Adit.
Wawan asyik ngobrol lupa apa tujuan mereka datang ke tempat ini.
"Ya Allah... dunia sempit ya Dit, kita bisa bertemu disini" ucap Wawan setelah kembali dari menemui Pak Sutisna, sambil menyeruput kopi dalam cangkir.
"Kenalkan Dit, ini temanku senasib seperjuangan, yang ini Risky, terus yang itu Ridho." Wawan menunjuk ketiga temanya. "Yang terakhir ini Mamat" imbuh Wawan.
"Istrimu masih yang dulu kan Dit?" goda Wawan terkekeh.
Adit tersenyum getir. "Ya masih lah" sahut Adit pendek.
Adit berbincang-bincang dengan Wawan dan teman-temannya, mereka ternyata para korban phk dari salah satu perusahaan. Dan ingin memulai membuka usaha steam Mobil dan Motor.
"Oh, jadi kalian akan memulai membuka usaha steam?" tanya Adit.
"Betul, kami menggabungkan uang pesangon, dan akan kami gunakan untuk membuka usaha tersebut, daripada mencari pekerjaan saat ini sangat sulit." tutur Wawan.
"Aku boleh bergabung Wan?" tanya Adit bersemangat.
Mereka pun mengadakan rapat, Adit ingin bergabung, dan akan membuka bengkel tentu satu paket dengan pencucian motor, dan mobil.
"Tapi untuk lokasi bagaiman?" Adit belum mengetahui lokasinya.
"Kita sudah menemukan lokasinya Dit, tempatnya stragis kok, kami akan mengontrak tempat tersebut, jika kamu ingin bergabung mari kita melihat lokasinya." usul Wawan.
"Kamu tnggal dimana Wan?"
"Masih didekat sini kok, tetapi tiggal di perkampungan." sahut Wawan kemudian menghabiskan kopi yang tinggal seteguk.
"Bagaimana Dit? jadi ikut aku meninjau lokasi" Wawan menoleh Adit di sebelahnya.
"Sekarang Wan?"
"Besok" wawan terkekeh.
"Okay... aku ikut" ucap Adit kemudian pamit kepada mertuanya. Mereka membubarkan diri. Namun sebelumnya Adit mengajak Wawan, menemui Mawar dulu sekalian minta Izin.
Mawar yang sedang berkutat diruanganya menghitung pengeluaran dan pemasukan Toko, terkejut berasa ada yang memeluk pundaknya dari belakang.
"Capek yank?" tanya Adit, dagunya ia tempelkan di kepala Mawar.
"Lumayan sih, tapi masih jauh lebih capek ketika jualan keripik singkong." Mawar terkekeh.
__ADS_1
Adit pun diam, rasanya tenggorokannya tercekat mengingat kala itu, saat istrinya berjuang mati-matian untuk dirinya membuatnya semakin semangat ingin membuka usaha sendiri.
"Ada yang mau ketemu yank" ucap Adit menyembunyikan rasa kegelisahannya, mendengar kata-kata Mawar tadi otaknya kembali berpikir.
"Siapa?" Mawar masih meneliti serentetan angka berkas yang di serahkan Melati kepadanya.
"Ayo keluar dulu" Adit membetulkan kerudung istrinya yang agak miring.
Mawar membereskan berkas kemudian berdiri di gandeng Adit menemui sahabatnya.
Sambil menunggu Adit, Wawan melihat-lihat produk, berpencar dengan teman-temannya.
"Mawar?" sapa Wawan ketika melihat teman sekelasnya dulu berjalan ke arahnya.
"Eh, Wawan, apa kabar?" Mawar tersenyum mengembang melihat teman sekelasnya dulu.
"Baik Mawar, kamu tambah cantik, ya" Wawan melirik Adit langsung mendapat plototan dari Adit. Sebab Wawan berani memuji istrinya.
"Kamu sudah menikah Wan?" tanya Mawar.
"Sudah, baru setahun dua bulan, kok"
"Kamu jadian sama Santi nggak?" tanya Mawar. Santi dulu kekasihnya Wawan yang tidak lain teman SMA Mawar.
"Ya jadilah... nggak cuma kamu yang ingin sehidup semati kami pun juga begitu." Wawan terbahak.
"Nanti setelah, melihat lokasi mampir ke kontrakan aku ya, nggak jauh kok dari sini" terang Wawan.
"Aku ikut ya Mas, mau ketemu Santi" Mawar memegangi lengan Adit.
"Ayo"
"Kita berangkat sekarang saja" ajak Wawan.
"Baiklah" Adit berjalan lebih dahulu menuju rumahnya sambil berdoa dalam hati. "Ya Allah...semoga ini awal yang baik" Adit komat kamit, baru tadi pagi ia merencanakan akan merintis usaha. Dan saat sedang kebingungan Tuhan mengirimkan orang untuk menjembatani usahanyanya.
Tuhan mengirimkan temanya untuk datang ketempat ini. Semua bukan kebetulan, segalanya sudah di atur. Tidak terasa Adit sampai di depan rumahnya.
"Ini rumahmu Dit?" tanya Wawan yang mengikuti Adit dari belakang bersama teman-temanya.
"Betul, mau masuk dulu nggak" Adit ingin mendorong pintu tapi di cegah Wawan.
"Lain kali saja Dit, sudah siang soalnya."
"Oh ya sudah" Adit kemudian ingin mengeluarkan mobil dari garasi tapi di tahan Mawar. "Aku saja yang nyetir" Mawar menahan lengan Adit.
"Jangan, masa kamu yang nyetir sih?" larang Adit.
"Kan kamu masih sakit Mas" Mawar tampak khawatir.
"Kata Wawan nggak jauh kok, jangan khawatir mengajak kamu anu-anu saja kuat tiga ronde kok, masak nyetir mobil nggak bisa." seloroh Adit terkekeh.
"Ihh, nyebelin! pikiran nya ngeres terus!" omel Mawar kemudian keluar menemui Wawan yang masih sibuk melihat-lihat keadaan di luar rumah Adit.
__ADS_1
"Wan kamu yang nyetir ya" pinta Mawar.
"Saya saja yang nyetir Mbak" Risky menawarkan diri.