
Melati melangkah keluar membawa rantang kemudian menemui keluarganya yang sudah menunggu di mobil. Melati membuka bagasi setelah meletakkan rantang menutup kembali kemudian berjalan ke depan.
Melati membuka pintu mobil di sebelah pengemudi. "Geser kak, aku saja yang nyetir." kata Melati. Melati tidak ingin kakaknya menyetir sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Kita langsung kerumah teman Ibu kak?" tanya Melati. Sebab rencananya tadi malam setelah pulang dari rumah Ibu Reny, ingin langsung kerumah Mama Sahina.
"Masih jam sepuluh Mel, kita ke taman dulu ya, biar Ibu tenang dulu" sahut Mawar.
"Ketaman mana kak?" tanya Melati karena di depan ada belokan.
"Lurus saja, nggak jauh dari sini adanya di sebelah kanan" tutur Mawar.
"Siap kak" Melati meluncur menuju taman terdekat untuk menjernihkan pikiran.
******
"Ibu jorok amat sih!" omel Diah setelah kepergian Melati, melihat air seni yang menggenang.
"Cepat bersihkan Bu" perintah Diah, sambil berlalu.
"Diah...jangan pergi dulu, ambilkan kain pel" titah Ibu Reny.
"Malas Bu, ambil saja sendiri" sahut Diah jijik melihat pipis Ibunya ia ingin menanjak tangga.
"Diaaaah... huh! kalau Ibu jalan, pipisnya kemana-mana!" pekik Ibu Reny. Memang benar kalau beliau jalan pasti meratakan air seni.
"Iya! iya, huh!" Diah pun mengurungkan niatnya naik keatas. Dengan langkah malas mengambil kain pel lalu menyerahkan kepada Ibunya.
Bu Reny membersihkan lantai sambil ngedumel. "Sialan tuh si Sutisna" Setelah membersihkan lantai Ibu Reny mandi keramas di kamar mandi dapur, menuruti saran Diah. Sementara Diah Mandi di kamar Mandi lantai dua kamar yang dulu di tempati Mawar, dan Adit.
"Lapar Bu" ucap Diah, setelah turun dari anak tangga melihat Ibunya sudah duduk bertumpang lutut, di sofa ruang tamu menikmati kopi, dan Roti bawaan Mawar tadi.
"Roti tuh! ambil satu saja sisanya buat nanti malam" titah Ibu Reny.
"Kalau mau kopi, buat saja sendiri" kata Ibu Reny berbicara dengan mulut penuh hampair tidak terdengar.
"Ibu ini kebiasaan dech, sekarang saja makan belum kenyang kok sudah memikirkan nanti malam!" sungut Diah kemudian kedapur membuat teh manis, dan ambil satu roti seperti yang di perintahkan Ibunya.
"Tak" Diah meletakkan gelas, di atas meja sofa lalu membuka roti kipas mentega, kemudian menggigitnya.
"Kok kamu ambil yang besar sih!" Ibu kesal, sebab Diah memilih roti yang paling besar.
__ADS_1
"Normal lah Bu, orang kalau di suruh pilih makanan salah satu, pasti pilih yang besar." Diah tidak mau kalah.
"Sialan tuh! Melati, orang sudah niat memberi masakan di ambil lagi, Ibu kan nggak kenyang kalau nggak makan nasi!" gerutu Ibu Reny. Menyesali dendeng balado yang menggiurkan tadi.
"Pasti Ibu pura-pura nggak mau, iyakan?" tebak Diah sudah tahu sifat Ibunya.
"Yah, kita itu jangan terlalu terlihat membutuhkan mereka, bisa-bisa keras kepala dia" argumen Ibu Reny.
Setelah menghabiskan roti, Ibu dan anak itupun kembali kekamar melanjutkan mimpi indahnya.
*****
"Nah, langsung masuk saja Mel, itu ada taman yang indah" kata Mawar, setelah sampai tempat yang di tuju. Mawar menunjuk taman yang di penuhi pepohonan rindang.
"Okay... kak" sahut Melati, kemudian masuk ke dalam taman, lalu mencari tempat parkir.
"Pak, Bu. Kita turun dulu" Mawar membuka pintu agar Ibu dan Bapak nya keluar.
"Loh, kok ke taman? katanya mau kerumah Sahina?" tanya Ibu Riska, memandangi se keliling setelah keluar dari mobil di ikuti Bapak.
"Nanti habis dzuhur saja Bu, kita santai saja dulu di sini, masa kita kesana dalam keadaan mata bengkat" Mawar berpendapat.
Kicau burung terdengar merdu bapak mendongak menatap burung-burung yang hinggap di atas pohon tersenyum senang. Bapak bersiul-siul memanggil burung sambil menjentik-jentikkan jarinya.
"Hup" burung berwarna hijau kehitaman terbang merendah seolah tau jika ada yang memanggil. Bapak seketika loncat lalu menangkap.
"Bu, Bapak dapat Bu" ucapnya kegirangan Ibu menatap suaminya ikut senang karena suaminya bisa menangkap burung.
"Horee horee... Bapak hebat" Melati heboh kemudian mendekati Bapaknya mengelus kepala Burung, tampak halus.
Melihat Bapak dan Ibunya tersenyum sumringah, Mawar pun ikut senang lalu ikut mendekat.
"Selfy yuk" Mawar ambil handphone dari tas lalu mengabadikan beberapa gaya. Tampak binar dari keluarga itu. Mawar semakin senang, walaupaun mata mereka masih sembab, karena dalam foto tersenyum semua tidak kentara Mencari kebahagiaan, ternyata sangat sederhana.
"Di mobil ada tikar nggak kak? enak loh, kita gelar di sini" ujar Melati.
"Ada, di bagasi" sahut Mawar. Melati bergegas ke mobil ambil karpet tidak lama kemudian kembali dan menggelar.
"Duduk sini Bu, Pak" kata Mawar setelah menggelar karpet.
Mereka pun duduk bersama, Bapak dan Ibu berbincang-bincang kadang mereka tertawa kehadiran burung yang Bapak tangkap bisa melupakan kegetiran hati suami isteri yang sudah menikah sejak 25 tahun yang lalu itu sejenak.
__ADS_1
"Kakak sering kesini ya" tanya Melati.
"Pernah dua kali" sahut Mawar.
"Sama kak Adit ya? soalnya tempat ini cocok untuk berdua-duaan" tebak Melati.
"Bukan sama Mas Adit, tapi sama teman kampus aku, Rosita namanya" tutur Mawar.
"Kak aku mau jalan-jalan keliling taman ya"
"Boleh, tapi hati-hati, jangan sampai nyasar ya" kata Mawar.
"Hehehe... kakak ini, ada-ada saja, masa takut nyasar sih? memang aku seperti mertua kakak apa?" mereka pun terkekeh.
Melati langsung jalan-jalan menyuri taman.
Sedangkan Mawar tiduran terlentang menatap langit lepas, walaupun sudah jam sebelas, taman masih sejuk angin sepoi-sepoi menerpa wajah Mawar.
Mawar pun melupakan kegundahan hatinya hingga waktu hampir jam dua belas mereka berkumpul kembali.
"Sudah siang, kita cari makan yuk, sekalian berangkat kerumah Ibu Sahina" kata Mawar.
"Makan di sini saja" usul Melati.
"Makan disini dimana? tukang jualannya jauh kok" sahut Mawar.
"Tunggu kak" ucap Melati kemudian berjalan ke mobil. Tak lama kemudian kembali menenteng rantang.
"Hah? kamu" Mawar tertegun melihat rantang yang di buka Melati di atas tikar. Pasalnya makanan itu sudah ia serahkan kepada mertuanya.
"Kenapa kak, kaget? biarin saja orang kaya baru itu nggak usah di kasih makan! enak saja, kita sudah cape-cape masak malah nggak di hargai" gerutu Melati menuang nasi ia bagi empat keatas kertas nasi yang ia ambil di bagasi tadi.
Mawar masih bingung menatap kelakuan adiknya. Pasalnya makanan sudah di serahkan di ambil kembali.
"Sudah lah kak? nggak usah ngilhatin aku begitu" "Makan-makan, makan" Melati meletakkan nasi di depan Bapak, Ibu, Mawar, kemudian dirinya sendiri.
"Oh, jadi kamu itu buruk sikut Mel" kata Bapak terkekeh, tapi Bapak senang, karena sependapat dengan Melati. Sekali-kali ngerjai orang jahat seperti besanya itu, perlu juga.
"Buruk sikut itu artinya apa Pak?" tanya Mawar.
"Artinya ya itu, memberi tapi di minta kembali" sahut Bapak. Mereka pun menyantap makanan hingga habis kemudian kembali melanjutkan perjalanan, sebelum kerumah Mama Sahina singgah di Masjid untuk menjalankan shalat dzuhur berjamaah.
__ADS_1