
Mawar masih terpaku di pintu mushola menelisik seluruh penjuru ruangan. Netranya tertuju kepada sepasang pengantin yang terlihat dari belakang sedang menandatangani buku nikah.
Mawar kembali menutup wajahnya dengan telapak tangan ingin melihat tidak berani menerima kenyataan. Namun jika tidak melihat pun penasaran.
Puk
Pundak Mawar ada yang menepuk. Mawar melepas kedua tanganya dari wajah. Lalu menatap siapa gerangan suaminya kah?
"Mawar... akhirnya kamu pulang nak?" tanya Papa Johan tersenyum senang, karena kemarin anak buahnya tidak berhasil melacak keberadaan Mawar dan kini justeru datang sendiri.
Ya, dia lah Papa Johan oranganya.
Menyadari siapa yang datang Mawar naik darah.
Alih-Alih menjawab. Mawar memukul-mukul dada pria setengah baya itu dengan tas slempangnya.
"Pak Johan, jahat! Pak Johan jahaaaatttt..." Mawar histeris sambil terus menghajar Pak Johan. Pak Johan berjalan mundur menghidari serangan-serangan Mawar.
"Mawar berhenti nak, Papa akan jelaskan."
"Apa yang akan anda jelaskan? hah?! anda ini pria yang nggak punya perasaan!"
Buk, buk. Mawar terus menghajar Pak Johan.
"Mawar hati-hati nak, kamu sedang hamil!" Pak Johan menatap Mawar khawatir akhirnya Pak Johan berhenti membiarkan tubuh tua nya di pukuli Mawar. Agar tidak terjadi sesuatu dengan kandungannya.
Para hadirin yang sedang duduk menyaksikan pengantin yang akan melakukan ritual sungkeman pun menoleh serentak kearah keributan.
Kedua pasutri yang baru menikah itu mengurungkan niatnya, untuk melanjutkan sungkeman yang sudah di pandu MC.
Mama Latania mendekati Mawar tetapi tidak bisa menghentikan amukan Mawar.
"Pak Johan jahat! belum puas anda, membuat hati saya hancur! ketika anda menikahkan putri anda dengan suami saya!" cecar Mawar dengan nafas tersengal-sengal, kemudian mendorong Pak Johan hingga tersungkur. Pak Johan akhirnya berdiri.
"Dan sekarang, bahkan anda tahu suami saya akan menikah dengan wanita lain! anda pun mendukung!" Mawar menatap Pak Johan mengintimidasi.
"KENAPA! ANDA MELAKUKAN INI? KENAPA?!" Mawar kalap wajahnya merah padam.
Tidak ada lagi Mawar yang penyabar, walaupun bertahun-tahun di tindas keluarga mertuanya pun tidak pernah melawan. Namun kini hatinya sudah sangat terluka, luka tak berdarah, tapi membekas.
"ANDA ITU PRIA SEPERTI APA HAH?!" Mawar meluapkan emosi, tidak peduli dengan sekeling yang sedang menontonnya dengan mulut menganga.
"Saya selama ini sudah cukup mengalah, dengan perlakuan anda! tapi tidak untuk sekarang! tidaaaakkk..." hu huuu...Mawar bersimpuh di lantai dengan tangis mengharu biru.
Para wanita yang berada disitu ikut menangis walaupun tidak tahu apa yang terjadi.
Papa Johan tercekat, hatinya mencelos. Betapa trauma dan terlukanya, anak ini, dan dialah penyebabnya. Papa Johan mendekat kemudian duduk didepan Mawar.
"Papa akan jelaskan nak" lirih Pak Johan.
"Pergi! anda dari hadapan saya, pergiiiii..." hu huuu.
"Anda egois, anda serakah, anda mementingkan diri sen--" Mawar menjeda ucapanya tatkala perutnya melilit.
__ADS_1
"Kamu kenapa nak?" tanya Papa Johan. Melihat Mawar meringis memegangi perutnya.
"Mawar sayang... mama akan jelaskan nak" Mama Latania yang dari tadi terpaku pun berjalan cepat mendekati Mawar kemudian memeluk Mawar dari belakang.
"Perut saya sakit bu... perut saya sakiiiittt..." Mawar merintih memegangi perutnya.
"Sabar nak... yang sabar ya..." Mama Latania mengusap kepala anak angkatnya itu.
"Perut saya sakit bu..." Mama Latania menidurkan Mawar di pangkuannya. Keringat Mawar keluar sebesar-besar jagung padahal ruangan itu ber AC.
Semua orang yang berada disitu mendekat.
"Riko, siapkan Mobil" titah Papa Johan.
"Baik Tuan" Riko bergegas keluar, menyiapkan mobil.
Papa Johan membopong tubuh Mawar membawanya masuk kedalam mobil. Di ikuti Mama Latania.
"Riko cepetan!" seru Papa Johan.
"Baik Pak" Riko pun meluncur menuju rumah sakit.
Sopir taksi yang berdiri tidak jauh dari tempat itu tahu, jika klienya terjadi sesuatu kemudian menyusul.
*******
"Ada apa sih ini, sebenarnya?" tanya Aisyah kepada Abinya.
"Apa ada yang mengenal wanita tadi?" selidik Azis memandang semua kerabat yang berada di situ.
"Atau... jangan-jangan... Mas Aditia sudah menikah dengan wanita lain? sebelum menikah dengan aku?" tuding Aisyah menatap Adit kesal.
"Kamu ini bicara apa, ya jelas belum lah... selain dengan Laras yang sudah aku ceritakan dulu" bantah Aditia.
"Alah... duda, tetap saja duda!" Ketus Aisyah emosi, baru menikah sudah ada keributan.
Deg.
Aditia menatap wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu tidak percaya akan mengucapkan kata itu.
"Tapi kenapa? seperti di sinetron-sinetron, seorang pria sedang menikah, terus... istri tuanya datang" kata Aisyah membayangkan suaminya mempunyai istri tua.
"Abi tuh! gara-garanya orang belum mau menikah dipaksa begini kan jadinya!" tukas Aisyah.
"Sayang... tidak boleh, bicara begitu nak" nasehat Ummi mengusap punggung anaknya.
"Sudah... kalian jangan bertengkar, kita pecahkan masalah ini" titah Azis.
"Aahh... nggak tahu, nggak ada yang ngerti perasaan aku!" Aisyah pun melangkah pergi dengan membawa banyak pertanyaan. Kemudian di susul Ummi, dan Zulaiha.
Adit ingin mengejar namun di tahan Ibunya. "Sebentar Dit, Ibu tahu jawabannya sekarang" Ibu Adit pun mencerna apa yang di katakan Mawar tadi.
"Apa?" semua menatap Ibu Adit.
__ADS_1
"Wanita tadi kan marah-marah sama Mas Johan. Bukan kah Johan dulu menikahkan Silfi dengar pria yang sudah beristri dan kalau tidak salah namanya sama. Adit juga." terang Ibu Adit yang bernama Jeni.
"Astagfirlullah..." Adit menepuk jidatnya. "Jadi itu, istrinya Adit yang sering dia ceritakan." sambungnya.
"Kamu mengenalnya Dit" tanya Jeni.
"Ya kenal Bu, dia itu dulu yang menjadi direktur utama di kantor Pakde Johan."
"Ya ampun... jadi tadi itu istrinya Adit? kasihan banget, padahal sedang hamil lagi." sesal Jeni.
"Kok namanya bisa sama?" tanya Abi Azis.
"Sebenarnya tidak sama Bi, jika di lihat dengan cermat, sebab nama saya. (Wahyu Aditia.) Sedangkan nama dia. (Wahyu Aditya.) terang Aditia'.
Flashback on.
"Jadi kita pernah menjadi sepupu bro? tapi kenapa kita dulu tidak saling mengenal?" tanya Aditia.
"Bagaimana mau mengenal, sedangkan pernikahan kami di rahasikan oleh Papa Johan." terang Adit.
Aditia manggut-manggut sambil memeriksa berkas-berkas dokumen yang di serahkan Adit kepanya, karena hari ini peralihan jabatan.
"Kok nama kita bisa sama ya?" tanya Aditia.
"Beda broo. Namamu (Aditia) sedangkan namaku (Aditya) terang Adit terkekeh.
"Hahaha... benar-benar, kamu memang cerdas" tandas Aditia.
Flashback off.
"Terus bagaimana ini? tampaknya istri Adit trauma berat." Ayah Aditia yang dari tadi hanya diam pun bersuara.
"Tungu, terus kenapa Adit sampai tidak tahu, jika Istrinya datang kemari?" tanya Ayah Adit.
"Adit sekarang sedang dirawat dirumah sakit, sejak tiga hari yang lalu Yah" terang Aditia.
"Ya Allah... kenapa jadi serumit ini?" Abi Azis duduk lesu memijit pelipisnya.
"Kok Abi bisa tidak tahu kalau Adit dulu menantu Pakde Johan, bukanya Adit dulu pernah dirawat Abi?" tanya Aditia dengan dahi berkerut.
"Iya, tetapi Pakde maupun Adit tidak pernah menceritakan masalah itu." jawab Abi.
Ibu Jeni adik kandung Papa Johan yang berasal dari Jawa timur. Aditia anak tertuanya yang saat ini menggantikan posisi Adit sebagai direktur di perusahan Papa Johan.
Azis tetangga Ibu Jeni. Namun Azis merantau ke Malaysia dan sukses dengan usaha restorannya. Kedua keluarga itupun sepakat menjodohkan anaknya. Aisyah dengan Aditia, seorang duda istrinya meninggal korban tabrak lari setahun yang lalu.
******
Riko sampai di rumah sakit, setelah parkir menemui resepsionis. Entah apa yang mereka bicarakan, tidak lama kemudian, kembali membawa kursi roda.
"Sakiiittt..." rintih Mawar perunya kontraksi, sepanjang jalan hingga sampai rumah sakit Mawar tampak kesakitan.
"Istighfar nak, berdoa terus ya" titah Mama Latania. Kemudian Mawar di dorong keruang dokter jaga karena dokter Rizal yang biasa menangani jika hari minggu tidak praktek.
__ADS_1