
Tepat jam tujuh malam Mawar sampai dirumah, ia kemudian masuk kedalam setelah di bukakan pintu oleh simbok.
"Kok sendirian Non, Tuan kemana?" tanya Simbok. Pasalnya, sore tadi waktu berangkat Nonanya bersama Tuanya.
"Kerumah sakit Mbok" jawab Mawar setelah mencium punggung tangan Simbok kemudian masuk kemarnya sendiri. Tidak mau ke kamar suaminya ngapain juga? pasti malam ini tidak pulang.
Simbok menatap langkah Mawar sebagai sesama wanita rasanya hatinya sakit. Hidup di duakan memang sangat menyakitkan. Dulu simbok bercerai dengan suaminya lantaran suaminya di paksa mertuanya menikahi wanita lain sebab Simbok terbukti mandul.
Kemudian Simbok mengabdikan diri kepada tuan Johan dan Nyonya Latania hingga kini. Simbok menyeka air matanya kemudian bergegas masuk kekamarnya sendiri setelah Nonanya tidak terlihat lagi.
.
Mawar didalam kamar ambil baju ganti, kemudian kembali keluar seperti biasa mandi di dapur.
"Non Mawar... makan malam dulu ya, jangan langsung tidur" ucap Simbok mendengar Mawar keluar dari kamar mandi lalu menghampiri.
"Saya sudah makan Mbok" sahut Mawar sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk yang basah setelah keramas. "Mbok makan saja, sudah makan belum?" Mawar balik bertanya.
"Sudah Non" sahut Simbok. " "Malam ini Tuan pulang tidak Non?" sambung simbok.
"Kurang tahu Mbok" jawab Mawar, memang belum ketahuan Adit malam ini pulang atau tidak.
"Berarti saya simpan di kulkas saja ya Non" sambungnya.
"Iya Mbok" Mawar kemudian kembali kekamar. Di dalam kamar handphone Mawar berbunyi.
Mawar membuka handphone lima panggilan tak terjawab. Sebab, tadi Mawar tidak membawa tas maupun handphone, karena di bopong suaminya.
Ternyata Intan yang telepon, Mawar kemudian menggeser tombol hijau.
"Hallo Tan" jawab Mawar.
"Hallo kak, kakak lagi sibuk nggak?"
"Nggak kok, baru pulang. Baru selesai mandi nih" sahut Mawar kemudian menyusun bantal untuk bersandar mencari posisi nyaman. Sebab, hari ini rasanya lelah sekali.
"Oh gitu ya kak"
"Kalau besok, kakak sibuk nggak? Mama mau ketemu kakak"
"Nggak kok Tan, kita kan ospek masih minggu depan"
"Jadi jam berapa Tan, Mama kamu di rumah?" Mawar senang di ajak ketemuan dengan Mama Intan tentu satu kehormatan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau makan siang kak?"
"Siap Tan, besok saya kesana"
"Ya, sudah dulu ya kak"
"Tut.
Setelah telepon di tutup oleh intan, Mawar check pesan yang lain, siapa tahu suaminya kirim pesan. "Oh nggak kirim pesan" Gumam Mawar kemudian meletakkan handphone di atas tempat tidur.
*****
Sementara di rumah sakit tampak Johan, Mama Latania, dan tidak terkecuali Adit, sudah berkumpul diruang rawat. Sebab, ingin memindahkan Silfi dari ruang ICU.
"Adit, kamu tadi kemana? kirain tungguin aku" ujar Silfia setelah sadar dari pingsan tadi, tidak ada Adit di sampingnya.
Setelah sadar yang di tanyakan pertama kali oleh Silfi yaitu Adit. Maka Papa Johan minta Adit segera kembali.
Adit menatap Papa Johan minta bantu menjawab.
"Adit di kantor sayang, kan harus kerja" Papa Johan yang menyahut, tidak seluruhnya bohong. Sebab, dari pagi Aditya memang rapat di kantor baru setelah selesai rapat pulang dan bertemu Mawar.
"Lagian di rumah sakit nggak boleh ada yang masuk Sil" sahut Adit.
"Sudah Sisil... yang penting kan suamimu sekarang ada di sini" "Suamimu itu kan sekarang pimpinan perusahaan, jadi pasti sibuk seperti Papa" Tutur Mama Latania.
"Sudah, sekarang kamu tidur saja, aku nggak kemana mana kok" hibur Aditya.
"Mama sama Papa pulang saja istirahat, biar saya yang jaga Silfi." ujar Adit menatap mertuanya terlihat lelah sekali.
"Oh iya, terimakasih ya Dit" sahut Mama Latania keduanya pun bersiap pulang.
"Mama sama Papa pulang dulu ya nak" Ibu silfi mengusap-usap kepala plontos anaknya.
"Iya Ma"
Keduanya pun pergi meninggalkan Adit dan Silfi.
Tinggal mereka berdua Adit dan Silfi di dalam ruangan. Adit duduk di samping ranjang pasian.
"Makan ya, aku suapi" ucap Adit membuka makanan yang di bawa Mama Latania tadi sore.
Silfi mengangguk patuh. Selesai makan Silfi minta di antar ke kamar mandi.
__ADS_1
"Sudah, sekarang tidur ya" Adit membaringkan Silfi dan menyelimuti.
"Dit, bobok di sini ya" Silfi menepuk ranjang pasien di sampingnya memang lega. Sebab, ruangan VIP.
"Aku disini saja nanti mengganggu kamu" sahut Adit.
"Nggak! pokoknya kamu tidur di sini" kekeh Silfi.
"Iya dech" Adit pun menurut dan tidur di samping Silfi.
****
Malam berlalu pagi pun tiba. Mawar membuka mata yang pertama ia lakukan mengecek handphone barangkali suaminya memberi kabar. Namun, tidak ada kabar sama sekali. Chat yang Mawar kirim tadi malam mengucapkan selamat tidur saja tidak di buka.
Setelah ke kamar mandi, dan shalat subuh. Seperti biasa Mawar hendak memasak, siapa tahu suaminya pulang.
"Memang mau masak Non? nanti mubazir. Masakan tadi malam saja tidak di makan." tutur Simbok tiba-tiba nongol di dapur.
"Iya juga ya Mbok" sahut Mawar membuka kulkas memang masakan belum di sentuh.
"Saya hangatkan saja ya Non"
"Iya Mbok" pungkas Mawar, kemudian kekamar suaminya menyiapkan baju, siapa tahu suaminya pulang.
"Pluk" tempat perhiasan love berwarna merah hati terjatuh dari lipatan baju kamar suaminya. Mawar ambil lalu membukanya. Ternyata isinya kalung cantik
"Buat siapa ini ya" gumamnya. Mawar pun mengembalikan kalung tersebut.
Mawar kemudian kembali kelantai bawah menuju meja makan, lalu membuka tutup saji. Mawar berniat mengantarkan sarapan ke rumah sakit.
Mawar bersemangat ambil teromol dan menyusun makanan. Setelah mandi dan berganti pakaian pamit simbok, memesan Ojol kemudian meluncur kerumah sakit.
Mawar menunggu di lobby setelah kirim pesan, kepada suaminya. Saat ini masih jam enam biasanya Adit berangkat jam tujuh. Pandangannya tidak lepas dari tangga pasti suaminya akan melewati tangga tersebut. Namun, hingga hampir setengah delapan Adit tidak juga turun.
Terpaksa mawar naik keatas, setelah bertanya kepada resepsionis diruangan apa nama pasien yang bernama Silfi di rawat. Ternyata tidak sulit untuk minta izin security beralasan ingin mengganti menunggui pasien.
Sampailah di ruangan VIP. Mawar mengintai dulu dari celah kaca di pintu. Tidak mungkin Mawar mengetuk pintu dan sampai Silfi tahu bisa curiga dan akan mengancam jiwa Silfi jika tiba-tiba memberikan makanan.
Mata Mawar terbelalak tatkala melihat Adit membuka baju Silfi, hingga pakaian dalam. Walaupun tidak terlihat Wajah Silfi, Mawar masih dengan jelas melihat anggota tubuh Silfi yang polos. Air mata bening pun luruh. Sebenarnya Mawar sudah tidak tahan. Namun ingin tahu apa yang akan di lakukan suaminya.
Tampak Adit memeras handuk kecil dari baskom. Menyeka wajah Silfi, kemudian ke leher turun ke dada, bahkan sampai organ intim. Mawar tidak kuat lagi kemudian kembali kebawah. Tidak bisa menahan air matanya hingga sampai di lobby Mawar mengusap air mata.
"Kok nggak jadi Mbak?" tanya security yang menghadang langkah Mawar.
__ADS_1
"Orangnya masih tidur Pak, saya tidak tega membangunkan" Mawar beralasan yang masuk akal.
"Ini makanan buat Bapak saja" ucap Mawar menyerahkan tromol kepada security, kemudian kembali pulang. Membawa rasa sesak di dada. Lagi-lagi ia harus iklas hanya ini yang menjadi penyemangat. "Aku harus kuat, tidak boleh begini" gumam Mawar menyemangati diri sendiri.