Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Kecewa.


__ADS_3

Intan kesal menatap mobil Abim yang sudah meluncur cepat hingga menghilang dari pandangannya.


"Iih... kesel! kesel! keseeell...!!" gumam Intan, sambil menghentak-hentakan telapak kakinya yang beralaskan sepatu ke konblok. Hingga berisik dan menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang berlalu lalang.


"Kamu kenapa Tan?" tanya Mawar tiba-tiba berdiri di belakang dan menarik pundak Intan agar menoleh.


"Kesel kak! sekarang aku mau pesen taksi dulu, kita pulang bareng, nanti aku ceritakan" tutur Intan wajahnya terlihat menahan rasa emosi.


"Tapikan aku mau kerja Tan" Mawar mengerutkan dahi.


"Kan kita searah kak, nanti kakak turun lebih dulu, aku kan melewati konveksi dimana kakak bekerja" terang Intan.


Mawar kemudian mengangguk-angguk setuju. Mawar memang tidak jadi bekerja di butik milik Mama Sahina, melainkan bekerja di konveksi milik Papa Wahit yang lebih besar.


Sebenarnya Abim bisa saja meneruskan usaha Papanya. Namun nyatanya Abim memelih bekerja di perusahaan Om Johan karena ingin bekerja sesuai bidang yang Abim pilih.


Tin tin tiiin.


Klakson taksi terdengar nyaring berhenti di depan keduanya. Sebab, mereka keluar dari parkiran lalu menunggu di pinggir jalan.


"Ayo kak" Intan menarik tangan Mawar masuk ke dalam taksi. Setelah menutup pintu, kemudian sopir taksi menjalankan mobilnya.


"Bukanya kamu biasa di jemput kakak kamu Tan?" tanya Mawar basa basi, sebenarnya Mawar tahu mengapa Intan tadi marah-marah sendiri. Pasti karena kakaknya mengantarkan Diah.


"Justeru itu kak, aku kesal. Kenapa sih? kak Abim tuh kalau sedang bersama wanita itu selalu melupakan aku?" jawab Intan cemberut.


"Maksudnya?" tanya Mawar melirik Intan di sebelahnya.


"Ya seperti ini, contohnya kak. Sudah jelas aku menunggu dia dari tadi, eh, malah mengantarkan ceweknya pulang" "Sedangkan aku di suruh menunggu lagi! coba kak? siapa yang nggak kesel?! Intan masih terus mengomel.


"Oh gitu ya, tapi kok bisa sih? kakak kamu pacaran sama Diah?" tanya Mawar heran, mengapa adik iparnya bisa berhubungan dengan Abim.


"Kok kakak tahu sih? kalau pacar kakak namanya Diah?" Intan balik bertanya.


"Ya tahu lah, Diah itu kan adik ipar aku" jawab Mawar.


Intan menoleh cepat. "Hah? yang bener kak!" Intan terperanjat.

__ADS_1


"Ya bener lah Tan, masa aku bohong sih!" tukas Mawar.


"Kalau aku boleh tahu, dimana kakakmu bisa kenal dengan Diah?" tanya Mawar penasaran orang sedingin Abim bisa jatuh cinta dengan wanita urakan seperti Diah.


"Jadi begini kak, aku sama Diah itu satu sekolah, satu angkatan. Tetapi, beda ruangan"


"Kakak sering menjemput aku, sebab kak Abim kuliah di tempat kita tinggal kak"


"Entah bagaimana ceritanya aku juga bingung. Kok bisa? kak Abim jatuh cinta kepada Diah." Intan menggelengkan kepalanya memikirkan kakaknya seperti dihipnotis. Mencintai wanita yang tidak ada baik-baik nya sama sekali.


"Yah, namanya juga orang jatuh cinta Tan, nggak memandang siapa dia" Mawar berpendapat.


"Aku kecewa kak, setelah terima kenyataan, bahwa kak Abim pacaran sama Diah"


"Sebab, Diah tuh di sekolah anak paling nyebelin, banyak orang yang tidak menyukai sifatnya yang sombong dan menang sendiri." tutur Intan panjang lebar, lupa bahwa gibah itu dosa.


Mawar pun mendengarkan saja biar Intan mengeluarkan unek-uneknya. Mawar menghela napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Tidak mungkin Mawar membela adik iparnya yang sudah jelas mempunyai tabiat buruk.


"Terus...kamu tahu Tan, dimana Diah tinggal saat ini?" tanya Mawar kemudian.


Deg


Lagi-lagi Mawar terkejut, mertuanya berada di sini dan mengontrak rumah. Itu artinya, Adit tahu semuanya. Tetapi mengapa suaminya tidak membicarakan kepadanya, malah sengaja menutupi. Hati Mawar terasa kecewa yang teramat sangat, betapa tidak? mengapa suaminya tidak mau bicara jujur kepadanya.


Mawar hanya diam menatap jalanan, belum kering luka hatinya yang kemarin, kini sudah menambah luka yang lain. Rasa sesak menghimpit dadanya.


"Memang suami kakak nggak bilang sama kakak ya?" Intan menoleh Mawar yang masih tenggelam dalam lamunan.


"Belum" sahut Mawar singkat.


"Bang, di depan berhenti dulu ya" ucap Intan, karena mereka sudah sampai di depan konveksi. "Baik Non" sahut sopir taksi.


Taksi berhenti Mawar kemudian turun. "Kamu mau lanjut pulang Tan, nggak mampir dulu"


"Nggak kak, mau cepat istirahat nih, capek" kata Intan tidur mungkin akan membuatnya tenang daripada kesal memikirkan kakaknya.


"Ya sudah, hati-hati di jalan" ucap Mawar kemudian berjalan menuju loby gedung konveksi.

__ADS_1


Mawar masuk kedalam ruangan desainer baju. Mawar baru tiga hari bekerja disini. Namun, Mawar benar-benar menyalurkan imajinasinya. Keinginannya untuk terjun ke dunia fashion designer walau baru pemula tak menjadi halangan baginya.


Dulu Mawar pernah kursus menjahit setiap seminggu dua kali hingga tidak ada lagi hambatan. Mawar selain mendesain juga sudah bisa menjahit.


Mawar berkutat di depan komputer, Ia mempunya ide mengenakan pakaian yang untuk gaya sendiri baru merancang busana muslim berdasarkan tren saat ini tentu akan banyak di minati.


Waktu merangkak cepat, Mawar melirik jam di lenganya sudah jam 9 malam, itu artinya sudah 8 jam ia bekerja.


Mawar check handphone setelah mendengar notifikasi masuk ternyata suaminya sudah menunggu di parkiran. Mawar bergegas ke luar dari ruangan desain, melewati para pekerja yang lembur, maupun shift malam. Kemudian menuju parkiran mencari di mana suami menunggu. Setelah menemukan mobilnya suaminya sedang menunggu bersandar di mobil bagian belakang.


"Sudah lama menunggu Mas?" tanya Mawar kemudian mendekati lalu mencium tangan suaminya.


"Belum sih, kamu capek banget ya?" Adit menepuk pelan pipi istrinya terlihat lelah.


Mawar tidak menimpali kemudian masuk kedalam mobil. Di dalam mobil Mawar hanya diam bersandar di jok mobil dengan mata terpejam.


Adit sesekali melirik Istrinya seperti ada yang mengganggu pikirannya. Namun Adit tidak berani bertanya khawatir jika Mawar marah, sebab sedang dalam keadaan capek.


"Maw" panggil Adit lirih.


"Heeemmm" sahut Mawar.


"Kita cari makan yuk" ajak Adit.


"Makan di rumah saja" sahut Mawar. Rasanya ingin cepat pulang mengguyur kepalanya agar adem.


10 menit bukan waktu yang lama mereka tiba di rumah. Sementara Adit memasukkan mobil ke dalam garasi. Mawar bergegas mandi mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Keluar dari kamar mandi Mawar melihat Adit duduk di sofa kamar menunggu dirinya. Mawar kemudian duduk di depan meja rias menyisir rambut panjangnya.


"Maw" Adit memeluk Mawar yang sedang mengoleskan vitamin wajah agar kulit tampak sehat keesokan harinya. Mawar tidak menyahut rasa kecewanya sudah ingin ia luapkan. Namun, menatap wajah Adit dari pantulan kaca yang tampak memelas. Mawar berusaha meredam emosinya.


"Sudah malam Mas, aku ngantuk" ucap Mawar melepaskan tangan Adit yang sedang melingkar di perutnya. Kemudian Mawar berjalan ke tempat tidur merebahkan diri.


Adit menghela nafas berat membuntuti istrinya lalu menyusulnya ke tempat tidur.


"Maw" kamu belum makan malam loh, aku ambilkan ya, khawatir masuk angin." bujuk Adit. Mawar hanya diam sudah bergulung selimut, mengangkat tanganya memberi isyarat agar tidak mengganggu tidurnya.


Adit pun ikut tidur, keduanya terlelap melewatkan makan malam.

__ADS_1


__ADS_2