
"Kamu siapa?" tanya Nini, kepada Mawar sudah yang kesekian kali beliau bertanya, jika dijawab sebentar akan lupa. Tetapi jika mengingat masa lalu masih gamblang.
"Mawar Ni" jawab Mawar saat ini sedang membantu Bibi mengepak ikan asin di kemas 1kg, 1/2 kg, dan 1/4 kg setelah ini akan di jual Bibi kepasar.
"Mawar?" Nini mengerutkan dahi. "Bukan Mawar kamu, jangan ngaku-ngaku, anak Entis tuh masih kecil-kecil."
"Iya Ni" sahut Bibi sudah paham apa kebiasaan Nini.
"Setiap hari begitu Bi?" Mawar sedih melihat keadaan Nini.
"Ya begitu Maw, waktu itu malah kabur, kami mencarinya kemana-mana, eh nggak taunya pergi ke sawah mencabuti tanaman padi." Bibi menggeleng ingat bibit padi yang baru ditanam pagi hari sorenya sudah dicabuti.
"Ya Allah... terus... sawahnya punya siapa Bi?" Mawar tidak bisa bayangkan jika tanaman itu milik orang lain.
"Ya, punya orang Maw, untung mereka sudah paham, tapi kami nggak enak hati, terus memberi ganti rugi." tutur Bibi berbisik-bisik agar tidak di dengar Nini.
"Mak, Eni berangakat ya" Eni mau berangkat ke sekolah bersama Ridwan bisanya mereka berboncengan motor.
"Hati-hati ya nak" Bibi mengusap kepala kedua anaknya setelah mereka mencium punggung tangannya.
"Iya Mak"
"Ridwan, kamu itu seharusnya yang menjadi kakak nya Eni, bukan adiknya" kelakar Mawar, sebab Ridwan tampangnya lebih dewasa dari kakaknya padahal usianya berbeda tiga tahun.
"Iya teh, kalau aku lagi boncengan dikira pacarnya masa?" Ridwan terkekeh. Mengingat orang mengira kakaknya adalah pacarnya.
Eni menyeringai mendengar obrolan mereka.
"Teh Mawar, aku berangkat, nanti malam kita ngobrol lagi ya" ucap Eni.
"Siap dek" Mawar mengacungkan jempolnya.
"Mak, tambahin ongkosnya buat beli bensin" kata Ridwan mengangsugkan tanganya.
"Sudah, jangan minta duwit Mak mu terus. Ini, Nini kasih buat kalian" Nini menyerahkan uang koin buat kerokan yang di ambil dari kolong kursi. "Di bagi dua sama teteh kamu, jangan bertengkar, sama saudara itu yang rukun." Nasehat Nini kadang lancar seperti orang normal.
Mawar menatap Bibi dan kedua sepupunya.
"Iya Ni, terimakasih" ucap Ridwan, begitulah apa yang di katakan Nini, semua hanya bisa mengiyakan, jika tidak Nini pasti akan kecewa.
"Tunggu, biar teteh, ambilkan ya" Mawar berdiri kemudian masuk kedalam kamar Eni ambil dompet, sebab tadi malam Mawar tidur bersama Eni. Tidak lama kemudian Mawar kembali.
__ADS_1
"Ini buat Ridwan, terus ini buat Eni" Mawar memberikan uang jajan ratusan masing-masing satu lembar.
"Yes! terimakasih teh" pekik Ridwan kegirangan.
"Terimakasih ya teh" Eni tak kalah senang.
"Kalian ini, nanti uang teteh habis loh, tadi saja teteh sudah beli sayur, buat kita" kata Bibi tidak enak hati.
"Nggak kok Bi, masih ada" sahut Mawar.
"Teteh tuh pengusaha Mak, uangnya nggak bakalan habis" bantah Ridwan.
"Ngawur kamu, walaupun pengusaha, pengeluaran uang kudu ada perhitungannya nggak seenaknya" terang Mak kepada kedua anaknya.
"Iya, Eni tahu" pungkas Eni mereka pun langsung berangkat setelah pamit Abah. Abah sedang siap-siap juga ingin berangkat kepantai. Paman Jajang sebagai nelayan, hasil tangkapan ikan kemudian dibuat ikan asin. Ada juga yang di jual mentah kepasar.
"Mawar, kamu betah disini nak?" tanya Abah yang baru masuk, kemudian ambil kopi di atas meja membawanya duduk di dekat Mawar, Bibik, dan juga Nini.
"Betah Paman" Mawar menyahut, padahal jika semua berjalan sesuai kehendaknya Mawar memilih berkumpul dengan keluarganya. Namun apa boleh buat, saat ini Mawar hanya pasrah melakoni jalan takdirnya.
"Abah berangkat dulu ya" Pamit Abah setelah menghabiskan kopinya.
"Ya hati-hati Bah" sahut Bibi.
"Hari minggu saja, kita jalan-jalan kesana sekeluarga" usul Bibi.
"Minggu saya sudah balik Bi" Mawar memang akan tinggal sampai hari sabtu, sedangkan hari minggu, Mawar akan pulang lalu menyusun rencana membatalkan pernikahan suaminya.
"Ya sudah, besok saja paman ajak, sekarang kamu istirahat dulu" pungkas paman kemudian pergi.
"Nini juga mau berangkat" Nini pun bangkit dari duduknya dengan susah payah sambil memegangi kakinya yang terasa sakit, kadang kebas jika buat jalan.
"Mawar bantu ya Ni" Mawar ingin membantu Nini berdiri.
"Nggak usah, perutmu besar begitu kok mau membantu, lagian Nini sudah bilang, jangan ngaku-ngaku menjadi Mawar cucuku."
"Iya Ni" Mawar tidak mempermasalahkan ucapan Nini.
"Nini mau berangkat kemana memang Bi?" tanya Mawar yang belum tahu Maksud Nini.
"Berangkat ke pulau kapuk" sahut Nini enteng, setelah bisa berdiri merembet meja di sebelahnya.
__ADS_1
Mawar terkekeh. Nini kadang membuatnya terhibur.
Mawar pun melanjutkan membantu Bibi sambil ngobrol.
"Maw, cerita sama Bibi, nggak mungkin kamu kesini hanya seorang diri, jika tidak ada sesuatu." selidik Bibi pasti ada yang nggak beres dengan keponakannya.
Mawar menarik napas panjang kemudian menceritakan ketika Adit menikah lagi dengan Silfi.
"Oh jadi kamu dimadu Maw?" tanya Bibi sendu.
"Ya, tetapi Silfi sudah meninggal Bi." Mawar sedih mengingat Silfi.
"Setahun aku melewati hidup penuh dengan air mata Bi" Mawar menitikkan air mata mengingat kala itu. Sudah hidup dimadu dan berusaha untuk ikhlas. Namun tekanan dari luar seolah menghakimi, di bilang munafik lah, hanya ingin harta madunya lah, berbagai asumsi rata-rata menyudutkan. Membuatnya setres yang tak berujung.
"Lalu air mata aku tehapus, karena setahun ini kami menjalani hidup normal dan rukun" Mawar tersenyum mengingat setahun ini kehidupannya dengan Adit sangat harmonis.
"Tapi sebulan belakangan ini, badai mulai mengguncang Bi, Adit berubah, memang sih, dia sedang membuka bengkel di Semarang"
"Tetapi kami menjadi semakin sulit untuk bertemu, untuk menjalin komunikasi, setiap malam Adit pulang larut, berangkat lebih pagi. Mungkin karena kehamilanku, aku nggak kuat menunggu dia sampai jam sebelas malam" Hiks hiks hiks. Mawar tidak kuat lagi menahan tangis.
"Sabar Mawar, dalam hidup berumah tangga hal seperti itu sering terjadi sayang" Bibi mengusap-usap punggung keponakannya.
"Tapi aku nggak kuat lagi Bi, aku mau pisah saja" hiks hiks.
"Jika persoalannya hanya karena pulang larut malam, sebaiknya dibicarakan nak, kalian hanya kurang komunikasi."
"Hidup berumah tangga, komunikasi itu penting nak, jika ada permasalahan sedikit lalu minta cerai mau berapa ribu janda dalam setiap hari." Bibi memberi gambaran.
"Tetapi dia mau menikah lagi Bi, dan aku nggak mau dimadu lagi." Mawar menutup wajahnya dengan kedua tanganya.
Bibi menatap Mawar banyak menanggung beban berat di raut wajahnya. Sebenarnya Bibi tidak tega tetapi jika Bibi membela Mawar sama halnya menyiram api dengan bensin.
"Menikah lagi? maksudnya?" tanya Bibi bingung. Pasalnya Mawar tadi bilang Silfi sudah meninggal.
"Ketika aku datang kebengkel menurut salah satu karyawan, Adit sedang keluar dengan seorang gadis. Aku penasaran Bi, siapa perempuan itu. Tetapi belum hilang rasa penasaran aku, dimeja kerjanya ada setumpuk undangan dirinya dengan gadis Malaysia Bi." hiks hiks.
Bibi manggut-manggut mendengarkan cerita keponakannya.
"Terus kamu sudah tanyakan, siapa wanita itu?" tanya Bibi.
"Bagaimana mau tanya Bi? dia sama sekali nggak ada waktu buat aku, tetapi mengapa jika bersama gadis lain dia bisa makan di restoran, jalan-jalan diMall" Mawar bercucuran mengingat ketika membuntuti Adit kemarin.
__ADS_1
"Yang sabar nak" Bibik mendekap kepala Mawar kedalam dadanya.