
Selesai berputar-putar melihat sekeliling rumah baru mereka. Adit mengantarkan Mawar ke kampus. Saat ini hari terakhir Mawar mengikuti ospek.
"Hati-hati sayang...nanti kalau kamu pulang, aku nggak bisa jmput" ucap Adit setelah sampai di depan kampus.
"Mas mau langsung ke kantor?" tanya Mawar sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Mau tunggu Diah dulu sebentar, mau tanya alamat Ibu. Dimana Ibu tinggal sekarang" terang adit.
"Ya sudah... aku turun ya Mas"
"Iya sayang..." Mawar pun masuk ke dalam kampus, sampai di lobby Mawar bertemu Rosita sahabat barunya.
Adit di dalam mobil melihat mahasiswa yang berdatangan satu persatu menunggu kedatangan Diah. Netranya menelisik mobil yang berhenti tepat di depannya.
Tampak Diah turun dari mobil yang sedang tren untuk anak remaja. Namun Adit tidak tahu siapa laki-laki itu. Mobil yang mengantar Diah pun melesat pergi meninggalkan Diah. Adit tidak tahu jika yang mengantar adiknya bawahannya di kantor.
"Tin tin tiiin..." Adit membunyikan klakson setelah membuka kaca mobil. Diah terjingkat kaget. Pasalnya klakson itu suaranya memekakan telinga.
"Brak"
"Heh! brisik tahu nggak loe?! Diah menggebrak mobil milik kakaknya.
"Awas kamu ya! berani nggebrak mobil aku. Kalau ada yang lecet tanggung jawab!" omel Adit.
Diah terkesiap tatkala melihat siapa yang berada di dalam mobil menyembulkan wajahnya keluar.
"Kakak?" seru Diah, Diah menatap kakak kandungannya kemudian beralih menatap mobil Adit.
"Naik!" tukas Adit menatap tajam adiknya.
"Tapi... sebentar lagi masuk kak," Diah ngeri melihat tatapan kakaknya yang terlihat garang.
"Masuk, aku bilang!" Adit sebenarnya kangen dengan adiknya dan tidak mau memarahinya. Namun Adit ingat bahwa tingkah adiknya semakin menjadi-jadi Adit perlu memberi pelajaran.
"Iya, iya" Diah pun masuk kedalam mobil kakaknya.
"Apa yang kamu lakukan kepada Mawar?! tanya Aditya to the point.
"A-- apa maksut kakak?" sahut Diah terbata-bata, pura-pura tidak tahu.
"Sekali lagi kamu berani macam-macam dengan kak Mawar! kakak akan hentikan biaya kuliah kamu!" ancam adit.
Diah tercekat jika kakaknya sudah bilang begitu pasti tidaklah main-main.
"Ngga kak, orang dia mendorong aku ya wajar kalau aku marah" kilah Diah.
"Sudah, jangan banyak ngomong! kamu? sekarang katakan, siapa yang membayar kontrakan kamu?" Adit menatap lekat wajah adiknya yang tampak ketakutan.
__ADS_1
"Temen aku kak" sahut Diah, rasanya sudah ingin cepat masuk kedalam kampus tidak mau mendengar omelan kakaknya lagi.
"Bikin malu kamu! berapa kemarin? kembalikan uangnya!" tukas Adit.
"Cuma kontrakan satu petak kok kak, 12 juta satu tahun" sahut Diah enteng.
"Kembalikan ini uanganya, ke teman kamu" Adit menyerahkan uang tunai 15 juta.
"Iya kak" setelah mendapatkan uang Diah ingin segera kabur ingin cepat lolos dari kakaknya.
"Sebentar lagi masuk kak, aku turun ya" Diah beralasan.
"Tunggu!"
"Ada apa lagi kak?" Diah rasanya sudah gatal kakinya ingin berlari.
"Kenapa nomor handphone kamu nggak bisa di hubungi?" tanya Adit.
"Aku ganti nomor kak"
"Sini, minta nomor telepon kamu, sama sekalian alamatnya Ibu" ujar Adit.
Diah memberikan alamat dimana dirinya tinggal, kemudian berlari ngacir. Sebenarnya Ibu Reny berpesan agar merahasiakan di mana ia tinggal. Tetapi Diah takut kepada Adit.
Adit menatap kepergian adiknya, geleng-geleng kepala. Lalu kembali menjalankan mobilnya mencari alamat di mana Ibunya tinggal.
Adit menelisik kontrakan empat pintu. Tampak anak kecil-kecil sedang bermain lompat tali di halaman. Kontrakan kumuh, ya wajar saja jika kumuh. Sebab, setahun hanya 12 juta itu artinya sebulan hanya 600 ribu. Di jakarta jika ingin kontrakan yang bagus harus mengeluarkan uang yang banyak.
"Assalamu alaikum"
Ceklek. Pintu pun dibuka oleh wanita setengah baya. Siapa lagi kalau bukan Ibunya Adit.
"Waalaikumusallam"
"Adit" Ibu Reny terkejut bukan main melihat anaknya datang.
"Bagaimana kabarmu nak" Ibu Reny memeluk erat anak laki-laki nya, yang beliau rindukan. Namun jika ingin menemui anaknya dari kemarin Bu Reny takut. Sebab, tempo hari Adit sudah melarangnya untuk tinggal di Jakarta kecuali hanya menengok anaknya sebentar. Kasihan Pak Renggono tinggal di rumah hanya seorang diri.
"Baik Bu. Ibu juga sehat?" tanya Adit berbicara dengan lembut. Semarah apapun namanya anak bersikap kepada orang tuanya harus sopan.
"Baik nak, kamu mau makan apa nak? Ibu masak untuk kamu ya?" Ibu Reny heboh sendiri.
"Nggak usah Bu, Adit hanya sebentar" sahut Adit, memang hanya ingin sebentar sebab harus berangkat ke kantor.
"Duduk saja Bu. Adit ingin bicara"
Ibu Reny kemudian duduk di samping anaknya.
__ADS_1
"Kenapa sih Bu? Ibu repot-repot ngontrak rumah di sini, kasihan loh, Bapak di rumah sendirian" nasehat Adit.
"Salah sendiri Bapakmu nggak mau di ajak kesini!" tukas Ibu.
"Terus...apa yang bisa Ibu lakukan disini? di kontrakan hanya sendirian, kalau di rumah kan Ibu bisa mengurus Bapak" Adit heran dengan Ibunya harusnya di usianya yang sudah 50 tahun ingin menikmati masa tua bersama suami. Tapi justru menjauh dari suami.
"Kamu ngusir Ibu Dit, boro-boro kamu tuh kasih Ibu tempat tinggal yang layak"
"Kamu kan menikah lagi dengan orang kaya, Dit. Sekarang sudah menjadi boss lagi, berarti kan kamu bisa membahagiakan Ibumu." omel Ibu Reny bersungut-sungut.
"Ibu ini bicara apa sih?
yang kaya kan Istri Adit Bu, bukan Adit"
"Mendingan kamu baik-baikin istri kamu yang kaya itu, terus tinggalkan si Mawar yang bisanya hanya merongrong uang kamu saja."
"Bu, Adit mohon sama Ibu, jangan bicara begitu Bu"
"Kasihan Mawar Bu, dia sudah berjuang demi Adit, Adit bisa begini karena Mawar Bu" terang Adit.
"Halah kamu tuh dari dulu memang selalu membela dia Dit!" ketus Ibu.
"Sudah Bu, Adit mau berangkat" pungkas Adit. Adit kemudian keluar ingin segera ke kantor.
"Dit, tunggu" panggil Ibu tergopoh-gopoh.
"Ada apa Bu?" tanya Adit menghentikan langkah kakinya. "Kok Ibu nggak di kasih uang?" tanya Ibu Reny dengan tidak tahu malunya.
Tanpa banyak bicara, Adit mengeluarkan dompetnya kemudian memberikan 500 ribu kepada Ibunya. Adit kemudian benar-benar pergi.
****
Siang harinya di kampus, selesai Ospek, Mawar akan di ajak bareng oleh Rosita. Sebab, Rosita melewati tempat di mana Mawar bekerja. Rosita pulang mengedarai sepeda motor.
Mawar menunggu Rosita yang sedang ke toilet di taman kampus.
"Heh! ngadu apa kamu, sama kakak?! ketus Diah, tiba-tiba berdiri di depan Mawar.
Mawar tidak begitu memperhatikan, sebab sedang membaca. Mendengar suara yang tidak asing di telinga Mawar mendongak.
"Ngadu apa sih dek? kenapa sih kamu suka mengada ada?"
Mawar menjawab dengan tenang.
"Alaah...pura-pura nggak tahu! kamu kan yang bilang ke kakak kalau goe kontrak rumah?! sinis Diah.
"Ya wajar lah dek, aku kan juga kakakmu, kita ini keluarga jadi harus saling perhatian, kita tinggal di mana dan tinggal bersama siapa?" pungkas Mawar.
__ADS_1