Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Malam Yang Dingin.


__ADS_3

"Enak Maw, cobain dech, aaaa..." Rony menyodorkan sendok ke mulut Mawar bermaksud menyuapi.


"Sudah selesai Maw, pulang yuk" bersaamaan dengan itu Adit datang memegangi pundak Mawar dari belakang.


Sontak semua menoleh.


"Ros, aku pulang duluan ya, terimakasih seharian ini sudah menemani aku." ucap Mawar kemudian berdiri.


"Kenalkan ini suami aku" ucap Mawar, mengenalkan Adit. Adit menyalami Rosita lalu menatap Rony datar tidak mau menerima uluran tangan Rony. Rony hanya diam lalu menarik tanganya kembali.


Adit kesal melihat Rony yang ingin menyuapi Mawar tadi.


Mawar tahu kalau suaminya sedang cemburu tetapi Mawar pura-pura tidak tahu.


"Sama-sama Maw, gue juga senang di temani loe seharian" kata Rosita, tahu akan ketegangan kedua pria itu, kemudian berdiri juga. "Gue juga mau pulang kok" sambung Rosita Menatap tangan Adit yang selalu memegangi istrinya seolah takut kabur


"Ron, saya duluan ya" ucap Mawar.


"Loe pada tega ya, gue di tinggalin" protes Rony. Menatap Mawar dan Rosita bergantian tidak memperdulikan Adit, yang sedang menatapnya devil.


"Sorry Ron, siomay nya sudah aku bayar, tapi di habiskan ya" ucap Mawar. Mawar kemudian berjalan mendahului suaminya, rasa kesalnya belum hilang.


Adit menatap Rony tajam, kemudian pergi meninggalkan tempat itu, menyusul Mawar.


Rosita pun ikut menyusul. Sampai parkiran, mereka berpisah. Rosita menjalankan motornya setelah melambaikan tangan kepada Mawar.


Adit memboncengkan Mawar.


"Pegangan ya" Adit menarik kedua tangan Mawar melingkarkan di perutnya.


Mawar hanya diam menurut.


Adit meluncur cepat selap selip diantara kendaraan yang lain. Mawar pun takjub akan keahlian suaminya. Jika Mawar yang membawa motor hanya berjalan pelan mengikuti orang di depanya.


Maka dari itu, tidak memakan waktu lama mereka sampai di pinggir pantai, Adit menghentikan motornya.


"Ngapain, kita ke sini Mas" Mawar melepaskan peganganya.


"Mau ngajak kamu quality time" jawab Adit tersenyum simpul.


"Malam-malam ke pantantai, dingin tahu!" ucap Mawar, sebenarnya senang di ajak ke tempat ini, tapi jika malam-malam tentu akan terasa membeku.


"Tenang saja, aku yang akan menghangatkan kamu" Adit terkekeh. Adit berusaha bersikap biasa saja menyembuyikan rasa cemburunya. Ia tidak ingin istrinya marah dan kabur lagi.


"Nggak lucu! Aku mau pulang saja, cape!" sahut Mawar manyun, membuat Adit gemas.


"Ikut aku" Adit menggenggam telapak tangan Mawar erat membawanya berjalan kearah pantai.


"Duduk sini" Adit mengajak duduk di cafe yang jauh dari kebisingan kota memandangi laut lepas memanjakan mata.


"Tanganmu kenapa?" Mawar menelisik punggung tangan Adit, baru sadar setelah Adit menggenggam tangannya tadi, bahwa tangan Adit lebam dan memar.

__ADS_1


"Memukul tembok" sahut Adit nyengir, seraya menggaruk tengkuknya. "Tapi nggak apa-apa kok nggak usah dipikir mendingan kita lihat pantai!' pungkas Adit.


Memang benar apa yang di katakan Adit, duduk di cafe ini seperti berada di bali di tempat terbuka merasakan sensasi memandangi bentangan laut biru, angin segar dan takjub. Seulas senyum tipis terukir di bibir Mawar, yang tidak lepas dari tatapan Adit, kemudian Adit memeluk pundak Istrinya.


"Kamu senang?" Adit menoleh ke kiri.


Mawar mengangguk.


"Maaf, selama di sini aku sampai tidak memperhatikan kamu." ucap Adit ingat selama di Jakarta tidak pernah mengajak istrinya jalan-jalan karena keributan selalu mewarnai.


Mawar hanya diam, tetapi hatinya senang. Mawar memang tidak bisa marah terlalu lama dengan suaminya itu.


Adit melepas jaketnya lalu ia pasangkan di badan istrinya. Kemudian Adit berdiri memesan jahe hangat, dan makan malam, tidak lama kemudian kembali lagi.


"Aku tadi pagi kerumah Ibu, lalu telepon Bapak Renggono, aku minta Bapak kesini secepatnya, selama ini hanya bapak yang di takuti Ibu" tutur Adit, setelah menemui Ibu Reny tadi pagi lalu menelepon Bapaknya.


Mawar tidak menjawab tapi mendengarkan. "Terus... bapak Mau?" Mawar akhirnya bertanya.


"Iya, dalam waktu dekat Bapak akan datang" sahut Adit.


Tidak lama kemudian pesanan datang.


"Makan dulu yuk" Adit memesan sop kepiting hidangan khas pantai di makan dalam keadaan hangat mengurangi rasa dingin ketika malam hari.


Mawar menyuap sop pertama kali memang enak. Di tambah lagi dari pagi memang belum makan selain minum dirumah Rosita tadi pagi.


"Aaa..."Adit menyuapi Mawar, tapi Mawar memiringkan wajahnya.


"Ayo dong, sekali saja" paksa Adit, Mawar akhirnya membuka mulut menerima suapan Adit. Adit kemudian menyuap ke mulutnya sendiri.


"Siapa laki-laki tadi?" tanya Adit yang sudah ia tahan sejak tadi akhirnya keluar dari bibirnya.


"Rony maksudnya?" Mawar balik bertanya sambil mngunyah.


"Oh Rony namanya?" Adit menatap Mawar fokus dengan makananya.


"Siapa dia?" Adit menyelidik.


"Ya teman kuliah aku lah... namanya juga di kampus"


"Tapi dia sepertinya suka sama kamu" lirih Adit sungguh tidak mau jika harus kehilangan Mawar.


"Ya biarin saja, dia suka sama aku, toh aku bukan wanita yang mudah untuk pindah kelain hati seperti ka...mmm" Mawar menghentikan bicararanya karena mulutnya di bekap Adit.


"Sudah... jangan di teruskan, aku percaya sama kamu." Adit berucap, kemudian melepas tanganya tidak mau membahas masalah ini khawatir jika istrinya semakin marah.


Mereka menyelesaikan makan dalam diam. Selesai makan Adit memulai bicara.


"Kita teruskan pembicaraan kita tempo hari Ma" ucap Adit sambil menggosok-gosok telapak tangannya untuk mencari kehangatan.


Mawar menoleh cepat. "Pembicaraan apa?"

__ADS_1


"Rencana kita mau membuat ruko di sebelah, Riko sudah mencari tenaga proyek, mungkin besok sudah mulai pasang pondasi"


"Mas serius?" Mawar memutar tibuhnya menghadap Adit.


"Iya, tanahnya sudah di ukur ada 150 meter, yang 50 untuk butik kamu, terus yang 100 aku mau buat bengkel" tutur Adit bersemangat.


"Bengkel?" tanya Mawar menatap wajah Adit lekat.


Adit pun memutar tubuhnya menghadap Mawar dan menggengam tanganya.


"Iya Maw, aku mau buat bengkel, kita harus memulai hidup baru, aku akan keluar dari perusaan itu dan mulai merintis usaha bengkel." tutur Adit serius.


Mawar balik badan menatap laut yang di terangi sinar rembulan. Mawar bingung, entah harus senang atau sedih, tidak mungkin kan suaminya harus menceraikan Silfi yang sedang sakit keras.


Mawar bukan orang yang egois, hanya memikirkan perasaannya sendiri, ada perasaan lain yang harus ia jaga.


"Ya Tuhan...berikan jalan" Mawar mendongat menatap langit berdoa langkah apa yang harus ia ambil.


"Kok kamu melamun Maw?" Adit merapatkan tubuhnya dan memeluk pundak Istrinya.


"Sudah malam Mas, kita pulang yuk"


"Okay..." sahut Adit, mereka bergandengan menuju motor, lalu pulang. Sampai di rumah karena sudah lelah mereka pun tidur.


Keesokan harinya Mawar bangun menyiapkan baju suaminya kemudian kebawah ingin menyiapkan makan pagi.


"Loh, kamu sudah masak Mel?" tanya Mawar, sampai di dapur ternyata Melati sudah selesai memasak nasi goreng dan telur mata sapi.


"Iya kak, mulai besok kakak nggak usah repot, kalau pagi, aku yang membuat sarapan dan bersih-bersih." Melati memberi usul.


"Besok kata Mas Adit Simbok mau bantu-bantu disini kok Mel" sahut Mawar.


"Oh gitu" sahut melati.


"Kamu hari ini mulai bekerja Mel?" tanya Mawar sambil menyeduh susu coklat untuk suaminya.


"Iya kak, doakan lancar ya"


"Jelas dong" sahut Mawar, kemudian mereka duduk di meja makan menunggu Adit turun, sambil berbincang-bincang.


"Oh jadi kamu mau di jodohkan sama Abim?" tanya Mawar setelah Melati menceritakan maksud Mama Sahina.


"Iya kak, menurut kakak bagaimana? aku kan belum mengenal Abim kak"


"Kakak, juga belum tahu pasti sih, seperti apa tabiat Abim, yang kakak tahu orangnya cuek, walaupun kakak sering bertemu belum pernah ngobrol" Mawar menceritakan semuanya tentang Abim, termasuk bahwa Abim adalah kekasih Diah.


"What? jadi Abim pacaran sama Diah?" Melati terbelalak.


Mawar mengangguk.


"Oh i don't want to"

__ADS_1


Melati menggelengkan kepala.


__ADS_2