
Hari berganti, tepatnya hari minggu setelah shalat subuh, Mawar berkemas-kemas ingin kembali pulang ke Jakarta. Tetap menjadi Istri Adit atau sebaliknya hari inilah mungkin hari penentuan.
Namun, jika boleh berharap seperti doa Mawar ketika subuh tadi ingin rumah tangganya tetap utuh dan Adit tetap menjadi miliknya seutuhnya.
Tidak ada orang ketiga atau siapapun yang mengganggu ketentraman keluarga kecilnya.
"Kamu jadi berangkat hari ini nak?" tanya Bibi masuk kedalam kamar kemudian duduk di tepi ranjang. Sedangkan Eni habis shalat tadi kembali tidur.
"Iya Bi, maaf ya, Mawar sudah merepotkan Bibi dan Paman" kata Mawar, sambil melipat mukena.
"Kamu ini bicara apa? jelas tidak ada yang direpotkan, bibi senang kamu mau main kesini. Apalagi kalau kamu mau melahirkan disini, Bibi pasti senang nak" tutur Bibi. Bibi sebenarnya ingin menahan Mawar untuk tinggal. Tetapi menurut Paman biar Mawar menyelesaikan persoalan rumah tangganya dulu.
"Hehehe... terimakasih Bi, kasihan Ibu kalau Mawar lahiran disini." Mawar melipat daster asal, kemudian memasukkan kedalam tas.
"Ya sudah, teruskan berkemas, Bibi membuat sarapan dulu ya" kata Bibi kemudian kedapur ingin membuat sarapan.
20 menit kemudian, Mawar sudah selesai berkemas.
Lalu menyusul Bibi kedapur setelah selesai mandi dan bergganti pakaiannya. "Aku bantu ya Bi" ucapnya.
"Nggak usah nak, kamu duduk saja, sudah mau selesai kok" Bibi tampak mengaduk-aduk bubur kacang hijau aroma jahe nya menggugah selera.
"Bibi membuat bubur kacang hijau ya" Mawar melongok panci.
"Iya, Bibi sengaja membuatkan kamu bubur kacang hijau, bagus loh, untuk bayi kamu."
"Ya Allah... Bibi... baik sekali" Mawar sangat terharu kemudian merangkul tubuh Bibi dari belakang walaupun terhalang perut.
"Sudah, lebih baik kamu, istirahat gih, kamu kan mau perjalanan jauh" titah Bibi.
"Baiklah Bi"
Mawar menurut kemudian duduk di kursi meja makan, kali ini Mawar mengaktifkan handphone. Mawar pikir sudah mau pulang lebih baik dihidupkan karena nanti mau pesan taksi online.
Banyak sekali panggilan masuk dari keluarganya maupun dari temanya. Melati, Rosita, Rony dan juga suaminya. Mawar membuka pesan mereka rata-rata menanyakan dimana keberadaannya.
Melati: Kakak... dimanapun kakak berada, aku hanya bisa berdoa, semoga kakak dalam keadaan baik-baik saja. Aku tahu, pasti kakak sedang ada masalah dengan kak Adit kan? cepat pulang ya kak, kami semua merindukan kakak. Bapak dan Ibu kebingungan kak."
Mawar menyeka air matanya dengan tissue. Mawar menyesal kemarin niatnya ingin memberi kabar Melati setelah sampai agar orang tuanya tidak kebingungan tetapi mengapa bisa lupa.
Lalu Mawar membuka pesan dari Rosita menanyakan hal yang sama.
Yang terakhir Mawar membuka pesan dari Adit banyak sekali pesan yang Adit tulis.
"Sayang... kamu dimana? maafkan aku, karena tidak bisa menepati janjiku, ingin mengantarkan kamu kerumah sakit."
"Tolong balas pesanku ini sayang, saat ini kamu dimana? aku akan menjemputmu" Mawar menutup aplikasi WA tidak berniat membalas pesan, lagi pula pesan itu sudah ditulis tiga hari yang lalu.
__ADS_1
"Mawar... kamu kenapa lagi nak?" Bibi bertanya saat meletakkan bubur kacang hijau dimeja makan, kemudian duduk di samping keponakannya yang malang itu.
"Tidak apa-apa Bi" dengan cepat Mawar kembali mengusap sisa air matanya.
"Kamu menikah bukan baru sebulan atau dua bulan nak, tetapi sudah tujuh tahun. Kamu sudah dewasa, cepat selesaikan masalahmu, jangan berlarut-larut kasihan bayi dalam kandungnmu." nasehat Bibi.
Mawar reflek mengelus perutnya. "Terimakasih Bi, secepatnya Mawar akan diselesaikan" Mawar kemudian membenamkan wajahnya di pundak Bibi memeluknya erat.
"Iihh... teteh curang, masa Mak aku di ambil" Ridwan langsung melingkarkan tanganya di leher Bibi dari belakang, pura-pura kesal.
Mawar melepaskan pelukanya kemudian menatap Ridwan tersenyum. "siapa suruh bangun siang, kalau kata pepatah, rezeki nya keburu di patok Ayam" sahut Mawar.
"Pagi-pagi kok drama, kaya di sinetron saja" gantian Eni yang memeluk Mawar.
"Huh, teh Eni korban sinetron" Ridwan mencibir ke Eni.
Bibi tersenyum sumringah senang jika anak-anaknya rukun seperti ini. Bibi kemudian melirik Mawar dan Eni bergantian, jangan sampai anaknya mengalami nasip seperti Mawar.
"Kalian ini makan apa sih? kok Nini, nggak di bagi" dengan tubuh yang sedikit membungkuk Nini, menghampiri.
"Belum di makan kok Ni" Mawar menyahut
"Nini, mau bubur? Mawar ambilkan ya" Mawar kemudian berdiri, menarik kursi membantu Nini duduk, lalu menyendok bubur memberikan kepada Nini.
"Terimakasih" ucap Nini langsung menyuap bubur.
"Kamu mau berangkat jam berapa nak?" Bibi menoleh Mawar.
"Setengah jam lagi Bi" Mawar melihat jam di lenganya, ia ingin berangkat jam 5 30, waktu sudah di perhitungkan. Sebelum jam 11 harus sudah sampai di hotel, karena akad nikah akan di langsungkan jam tersebut.
"Yah... Teh Mawar... kok cepat banget sih pulangnya...aku kan belum puas ngobrol sama Teteh" Eni cemberut.
"Nggak usah cemberut, aku sudah 6 hari loh disini" Mawar mencubit bibir Eni gemas.
"Jangan pada bertengkar, kalian ini seperti bocah" sungut Nini.
"Iya Ni..." jawab mereka kompak.
"Teh Mawar, sebentar lagi aku kan lulus, boleh nggak aku kerja sama Teteh" kata Eni.
"Memang Bibi boleh?" Mawar menoleh Bibi di sebelahnya.
"Boleh ya Mak, Eni kerja ke Jakarta? boleh ya." rengek Eni mengguncang lengan Bibi.
"Nanti kita pikirkan lagi." sahut Bibi rasanya belum ikhlas melepas anaknya merantau.
"Jangan di kasih kerjaan Teh Mawar, bagaimana mau kerja? bangun saja susah" Ledek Ridwan.
__ADS_1
"Apa lagi kamu" Eni menoyor jidat Ridwan.
"Aku kan laki-laki teh, wajarlah bangun siang juga." Ridwan nggak mau kalah.
"Sudah Nini bilang, jangan bertengkar!" Nini kesal mendengar cucunya ribut.
"Iya Ni"
"Sudah... kita sarapan dulu, sebentar lagi kan Teh Mawar, berangkat" Bibi menengahi.
"Panggil Abah dulu Wan" titah Bibi.
"Iya Mak" Ridwan keluar memanggil Abah sudah kebiasaan Abah jika pulang dari Masjid setelah maghrib, maupun subuh, selalu membaca yasin, di bale teras rumah. Paman pun masuk mereka sarapan bersama sambil ngobrol.
"Kamu jadi pulang sekarang Maw?" tanya paman selesai sarapan.
"Iya Paman." jawab Mawar sambil mengelap mulutnya dengan tissue.
"Maaf nak, kami tidak bisa mengantar kamu." sesal Paman karena tidak bisa mengantarkan Mawar ke Jakarta.
"Tidak apa-apa Paman, sebentar lagi taksi datang, kok." sahutnya.
"Ini ikan asin, buat oleh-oleh ya nak, Kang Entis senang loh" Bibi menyerahkan kantong plastik berisi ikan asin.
"Maaf ya Bi, bukan Mawar menolak, lain kali saja, soalnya Mawar tidak langsung kerumah Bi, mau ada urusan." terang Mawar sebenarnya kasihan dengan Bibi. Namun tidak mungkin ke hotel bawa-bawa ikan asin.
"Memang kamu mau kemana Maw?" selidik Paman.
"Mau menyelesaikan masalah rumah tangga saya paman" sahut Mawar.
Paman menatap Mawar dengan dahi berkerut, tidak mengerti maksut keponakannya. Namun, ya sudahlah tidak mau memperpanjang.
"Atau begini saja, ikan asin nya di kirim melalui jasa pengiriman." usul Eni.
"Betul En" Mawar senang karena tidak mengecewakan Paman dan Bibinya. Mawar memberikan sejumlah uang untuk Nini, Bibi, kedua sepupunya dan untuk ongkos kirim ikan asin.
Tidak lama kemudian taksi pun datang menjemput Mawar.
"Hati-hati di jalan ya nak" ucap Bibi mencium pipi keponakannya disusul Nini dan Eni, kemudian Paman dan Ridwan berjabat tangan.
"Terimakasih Nini, dan semua sampai ketemu lagi." Mawar melangkah menuju taksi, kemudian berangkat.
"Hanya sendirian Mbak?" tanya sopir taksi yang sudah setengah baya.
"Iya Pak"
Waktu menuju Jakarta kurang lebih tiga jam. Waktu ini lebih baik Mawar gunakan untuk tidur karena tadi malam ngobrol dengan sepupunya hingga larut.
__ADS_1