Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Surat Undangan.


__ADS_3

Mawar masuk kedalam ruangan Adit, ia menelisik ruangan ada foto dirinya dengan Adit berbingkai love di pajang di atas meja. Foto ini di ambil Riko ketika mereka sedang di pantai dulu. Mawar tersenyum lebar kemudian duduk di kursi yang biasa Adit pakai.


Namun, senyum itu menghilang seketika, tatkala Mawar membaca sebuah undangan pernikahan yang tergeletak di atas meja.


.


Rayakan Cinta yang bermekaran.


...(.......)...


...&...


...(.....)...


...Akat nikah....


...Yang akan di selenggarakan di Hotel xxx Jakarta....


.


Jedeeeerrrr.


Bagai di sambar petir, Mawar membaca surat itu kemudian meletakkan ketempat semula.


"Oh jadi begini, kelakuanmu Mas? baiklah, dulu aku mengalah denganmu karena aku ingin menyenangkan hati Mbak Silfi. Tetapi tidak untuk sekarang. Aku tidak akan menangis lagi." gumam Mawar kemudian melangkah pergi memegangi perutnya yang semakin membesar.


"Ris"


Panggil Mawar kepada Risky, ketika sampai di lobby. Risky sedang mencatat beberapa mobil dan motor yang keluar maupun yang masuk.


"Ada apa Bu?" Rizky cepat berdiri menghampiri Mawar.


"Kamu sudah makan?"


"Belum bu, sebentar lagi" sahut Risky.


"Ini buat kamu, saya pulang dulu ya" ucap Mawar menyerahkan bekal kemudian berjalan kedepan. Sebelum mendapat jawaban dari Risky.


Risky mengejar Mawar.


"Bu, biar di antar pulang teman saya ya, ada mobil nganggur kok"


"Tidak usah, saya sudah pesan taksi kok" ucapnya seraya mengangkat tangan tanda penolakan.


"Mbak Mawar ya" sopir taksi pun sudah sampai di depan Mawar.


"Oh iya bang" Mawar segera naik, kemudian taksi meluncur. Risky melihat kepergian istri bossnya hingga mobilnya tidak terlihat lagi.


Lima menit kemudian, mobil melintas di depan Mall, jalanan mendadak macet. Mawar membuka kaca mobil setengahnya memperhatikan orang yang berlalu lalang. Tidak sengaja pandangan matanya tertuju kepada sosok wanita cantik berhidung mancung berjalan bersama orang yang paling spesial di hatinya keluar dari restoran. Gadis berpakaian syar, i itu melirik Adit yang berjalan di sampingnya tersenyum senang, sepertinya mereka sedang ngobrol entah apa yang mereka bahas. Mereka pun masuk kedalam Mall.


"Mas Adit?" gumam Mawar.


"Bang, saya turun disini saja ya" ucap Mawar kepada sopir taksi.

__ADS_1


"Loh, kan masih jauh Mbak" tanya sopir taksi heran.


"Tidak apa-apa, saya ada keperluan" Mawar ambil masker di dalam tas kemudian mengenakannya. Mawar turun setelah membayar ongkos taksi.


Mawar masuk kedalam Mall, mengamati pergerakan suaminya dengan seorang gadis tersebut. Mereka sedang memilih-milih gaun. Setelah mendapatkan yang ia cari Adit dan gadis itu menuju kasir.


Mawar segera keluar, meninggal mereka memesan taksi, tak lama kemudian taksi pun datang, Mawar segera naik.


"Sebentar bang, jangan jalan dulu" Mawar menahan supir taksi ketika melihat suaminya keluar dari Mall membawa kantong plastik kemudian Adit masuk kedalam mobil.


"Kenapa Mbak?"


"Ikuti mobil di depan itu ya Pak" titah Mawar.


"Ta-- tapi..." sopir menjeda ucapanya.


"Jangan khawatir bang, nanti saya bayar lebih" Mawar tahu maksud supir taksi.


"Baik Mbak"


Supir taksi akhirnya mengikuti mobil Adit. Mawar masih berpikir positif, pasalnya gadis cantik itu tidak duduk di depan bersama Adit, melainkan duduk di belakang.


Taksi terus mengikuti sampai mobil Adit masuk ke halaman rumah Papa Johan.


"Ini kan rumah Pak Johan? ada apa mereka kesini, terus apa hubungannya gadis itu dengan Pak Johan?" monolog Mawar.


Sudah tahu dimana tujuan Adit Mawar pun minta taksi untuk mengantarkan pulang.


*******


"Sudah Mbok" sahut Mawar singkat kemudian masuk kedalam kamar.


Kali ini Adit dan Mawar pindah kekamar bawah setelah mengetahui bahwa Mawar hamil tiga bulan yang lalu.


Mawar merebahkan tubuhnya, perutnya agak kencang faktor mondar mandir tadi. "Baik-Baik di perut bunda sayang" mengelus perut buncitnya. Seolah tahu kegelisahan bundanya, baby pun bergerak-gerak kencang membuat Mawar tersenyum.


Mengingat baby, Mawar baru menyadari bahwa dirinya belum makan apapun padahal sudah hampir ashar. "Kasihan kamu nak, kita makan ya" ucapnya mengusap perutnya kemudian kedapur.


"Masih ada makanan Mbok?" Mawar membuka tudung saji di meja makan.


"Masih Non, sayur sop nya saya hangatkan dulu ya" tidak menunggu jawaban Mawar. Simbok kemudian menghangatkan sup tidak lama kemudian membawa mangkok ke meja makan.


"Terimakasih Mbok"


"Iya, sama-sama non"


Mawar menyendok nasi memasukkan kedalam piring. "Ayo kita makan dulu Mbok"


"Sudah tadi siang non"


Mawar makan, sebenarnya kurang napsu tetapi demi anaknya ia paksakan.


"Mbok" panggil nya setelah selesai makan.

__ADS_1


"Saya non" Simbok mendekat.


"Duduk Mbok" simbok duduk di meja makan di depan Mawar.


"Simbok kan sudah lama bekerja dengan Pak Johan, berarti Simbok tahu berapa saudara Papa Johan dan Mama Latania?" selidik Mawar.


"Saya tahu non, memangnya kenapa non?" Simbok mengerutkan dahi.


"Beliu punya keponakan perempuan tidak Mbok?" tanya Mawar serius.


"Setahu saya tidak non, Pak Johan punya adik hanya satu, dan hanya mempunyai anak satu laki-laki. Tetapi namanya siapa ya?" Simbok mengingat-ingat. "Ah lupa non" sambung Simbok memegangi kepalanya.


"Terus kalau Mama Latania Mbok?" Mawar benar-benar ingin tahu siapa perempuan tadi.


"Beliau juga sama Non, punya adik perempuan hanya satu, terus punya anak dua laki-laki semua." terang Simbok.


"Oh ya sudah Mbok, saya mau mandi terus shalat ashar dulu." pungkas Mawar.


"Tunggu non, sebenarnya ada apa to non" Simbok mencurigai majikanya seperti ada rahasia.


"Tidak apa-apa Mbok, hanya ingin tahu saja. Simbok kan tahu, kenapa Mama Latania dan Papa Johan mengangkat saya sebagai anak, jika beliau mempunyai keponakan perempuan" jawab Mawar masuk akal.


"Oh gitu, saya pikir ada apa non?" Simbok langsung kembali kemeja makan membereskan pekerjaannya.


Mawar kemudian mandi, shalat ashar lalu berdoa, agar pikirannya bisa jernih.


Setelah itu, Mawar ke Rose shop, mendingan membantu Melati bisa menghiburnya, daripada memikirkan suaminya yang membuat kepalanya ingin pecah.


"Bagaimana omset hari ini Mel?" Mawar tiba-tiba berdiri di dekat meja kerja Melati.


"Ihh, kaget kak" ucap Melati sampai menjatuhkan mouse yang di peganganya.


"Kenapa sih kamu Mel? kayaknya gugup banget" Mawar heran kemudian menatap layar komputer. Ternyata Melati sedang memandangi koleksi foto Abim dengan gaya yang berbeda. Namun tampak tidak di sengaja berpose.


"Ya Allah Mel, kamu melototi foto Abim sampai segitunya?" Mawar menggeleng tetapi Mawar ingin tertawa ternyata adiknya benar-benar sedang mabuk cinta.


"Hehehe" Melati terkekeh menyembunyikan rasa malu wajahnya berubah merah.


"Darimana kamu dapat foto-foto Abim segitu banyaknya Mel?"


"Nyolong njepret, setiap ada kesempatan tanpa dia tahu kak" Melati kembali terkekeh.


"Kamu cinta banget sama Abim Mel?" Mawar selama ini tidak memperhatikan adiknya sibuk dengan masalahnya sendiri seolah tak berujung.


"Ya begitulah kak" sahut Melati kemudian mematikan komputer memang sudah waktunya ganti sift.


"Terus Abim sudah mencintai kamu Mel?"


Melati menggeleng. "Nggak tau kak, dia tuh, kalau di depan aku kayak ngasih signal. Tapi sampai saat ini belum ada kejelasan, dan anehnya, dia itu kalau di depan Diah suka sebel gitu kak, seharunya jika kak Abim sudah tidak punya perasaan sama Diah. Ya sudah, jangan terlalu benci. Sebab, cinta sama benci itu beda tipis kak." tutur Melati panjang lebar memikirkan perasaan Abim yang masih samar-samar.


Mawar mengela nafas panjang. "Benar kata Bapak Mel, jika kamu mencintai laki-laki jangan berlebihan. Cukup aku saja yang mengalami cerita cinta yang rumit." nasehat Mawar tidak ingin adiknya mengalami nasip yang sama.


"Yang penting kan kak Adit sekarang sudah berubah kak" sahut Melati.

__ADS_1


Mudah-mudahan ya Mel." pungkas Mawar tersenyum kecut.


__ADS_2