
Mawar masih di Rose shop berkutat di depan komputer hingga menjelang maghrib, Mawar ingin segera pulang kerumah.
"Rul, saya pulang dulu ya" kata Mawar kepada Rully di bagian kasir.
"Baik Bu" sahut Rully, sambil melayani tiga pelanggan yang sedang mengantri. Rose shop buka sampai jam 11 malam di bagi dua sift.
Mawar clingak clinguk mencari Melati sudah tidak ada. "Melati sudah pulang ya Rul?" tanya Mawar.
"Sudah pulang dari tadi Bu" sahut Rulli, sambil memasukkan barang produk yang sudah di hitung kedalam plastik di bantu karyawan yang lain.
"Oh ya sudah" Mawar keluar sebelum masuk kerumah mampir ke kedai baso dulu.
Mawar berdiri di depan rollengdoor melihat Ibu sedang membereskan uang di dalam laci bersama Bapak. Hatinya senang, dan juga sedih.
Senang karena rumah tangga orang tuanya sangat harmonis hingga seusia sekarang. Jika ada konflik kecil ketika Mawar dan Melati masih kecil dulu, kadang dirinya bandel sulit di atur. Bapak dan Ibu paling selisih paham tentang cara mendidik dia dan Melati. Dan setiap masalah selalu cepat di selesaikan dengan cepat.
Namun Mawar sedih, mengapa rumah tangganya tidak bisa seperti orang tuanya, walaupun sekuat tenaga berusaha untuk bersabar.
"Ibu, aku pulang ya" pamit Mawar kemudian, setelah lama termenung.
"Ibu juga mau pulang kok Maw, sudah habis nih" sahut Ibu sambil tersenyum.
"Oh gitu ya" Mawar pun masuk mendekati Ibunya lalu pulang bersama.
Sampai di rumah, mereka sibuk dengan urusan masing-masing, hingga tiba waktu makan malam mereka berkumpul.
"Suamimu belum pulang nak?" tanya Pak Sutisna, sebab tidak melihat menantunya bergabung di meja makan.
"Pulang malam lagi kali Pak, biar saja, kita makan saja duluan" Mawar menjawab dengan santai menyembunyikan rasa penasaran apa yang di lakukan suaminya di luar sana.
Ibu mengambilkan makan untuk suaminya, Mawar tidak lepas memandangi tangan Ibu yang bergerak kesana kemari. Andai saja ada suaminya saat ini, tentu Mawar akan melakukan hal yang sama.
"Kak, ayo makan, kok nglihatin Ibu terus sih" kata Melati dari tadi melihat kegelisahan kakaknya.
Ibu dan Bapak pun sontak menatap Mawar.
"Nggak apa-apa Mel. Iya, ayo. Makan-makan" merasa semua memperhatiakan dirinya, Mawar cepat-cepat mengalihkan.
__ADS_1
Mereka pun makan. Selesai makan ngobrol di ruang keluarga tiduran di karpet. Mawar merasa terhibur untung ada keluarganya, jika tidak, disaat situasi hatinya yang sedang memanas, tidak ada yang bisa meredam.
"Ya Allah... Bu, lihat, perut kakak Bu" pekik Melati kegirangan, melihat perut Mawar bergerak menonjol sampai tinggi disisi kiri dan kadang disisi kanan.
Ibu dan Bapak seketika menoleh. "Ya memang begitu, Mel, waktu Ibu hamil kamu, dan kakak kamu juga sama" sahut Ibu.
"Oh gitu ya Bu" Melati menatap Ibu membayangkan jika suatu saat nanti dirinya hamil.
"Sakit nggak kak?" Melati meringis membayangakan jika itu perutnya.
"Ya nggak sih, cuma geli-geli begitu" sahut Mawar.
"Boleh pegang nggak kak?" Melati nampak penasaran.
"Boleh tapi pelan ya" kata Mawar.
Melati mengelus pelan di bagian perut yang menonjol. Mawar jadi ingat suaminya. Adit sudah dua minggu tidak pernah melihat pergerakan bayinya yang saat ini gerakannya semakin kuat. Mawar memejamkan mata.
Sudah dua minggu Adit tidak pernah lagi membuatkan susu hamil untuknya, tidak pernah lagi memijit kakinya, yang semakin kesini semakin pegal dan kadang bengkak.
"Maw, kamu kenapa sih nak? Ibu perhatikan, hari ini banyak melamun, jika kamu ada masalah, cerita sama ibu nak, tidak baik jika sedang mengandung kamu nya stres, kasihan bayi mu." nasehat Ibu.
"Memang ada apa lagi? heeemmmm" sambung Bapak yang dari tadi menyimak obrolan istri dan anaknya.
"Tidak apa-apa Pak, itu hanya perasaan Ibu saja." Mawar meyakinkan Bapaknya.
"Ya sudah... sekarang sudah malam, sebaiknya kamu tidur nak" titah Bapak.
"Iya Pak"
Mawar menurut masuk kedalam kamar melihat jam weker waktu menunjuk angka sembilan. Mawar segera kekamar mandi sikat gigi membersihkan wajah, kemudian merebahkan diri.
"Kita bobok ya nak" ucapnya kemudian memejamkan mata. Namun hingga satu jam Mawar belum bisa terlelap.
Mawar bangun, kemudian berjalan menuju jendela ingin melihat keadaan di luar. Mawar menyibak gorden sedikit, melihat keluar. Tampak suaminya baru pulang terlihat dari jendela sedang di bukakan pintu gerbang oleh Simbok. Mawar segera ketempat tidur. Pura-pura terlelap menarik selimut menutup dada hingga sampai ke kaki.
Ceklek.
__ADS_1
Adit membuka pintu melihat istrinya sudah tidur, ia membuka pakaian lalu meletakkan ke keranjang baju kotor. Kemudian masuk kedalam kamar mandi. Adit mengguyur tubuhnya yang terasa lengket membuatnya segar.
Setelah memakai piama ia merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Mencium pipi dan bibir Mawar lembut kemudian mencium perut dan mengelusnya pelan.
"Maaf sayank" ucapnya.
Merasakan sentuhan suaminya tangan Mawar terangkat keatas ingin rasanya mengusap kepala suaminya. Tetapi ingat tadi siang Mawar menariknya kembali.
Mereka pun tidur, Adit memeluk Mawar yang membuatnya pulas hingga sampai pagi.
Mawar bangun terlebih dulu duduk di tengah ranjang, menelisik wajah suaminya. "Tunggu Mas, aku akan memberi kejutan saat pernikahanmu hari minggu nanti dengan wanita itu, dan aku akan mempermalukan kamu, aku bukan Mawar yang dulu lagi." gumamnya kemudian Mawar melakukan aktifitas seperti biasa.
Setelah shalat subuh ia menyiapkan baju Adit, mandi dan akan berangakat kuliah. Semenjak hamil, menurut saran Adit, kuliahnya pindah ke kelas pagi.
"Uugghhh" Adit melenguh kemudian mengerjapkan mata melihat jam di atas nakas sudah jam lima. Kemudian bangun, duduk merenggangkan otot melihat istrinya sudah di meja rias ia segera berdiri.
"Kok aku nggak di bangunin yank?" ucap Adit mengacak rambut isterinya kemudian berjalan kekamar mandi.
Mawar diam saja tidak menyahut menekan-nekan masker wajah agar wajahnya tidak kusut.
Adit keluar dari kamar mandi, kemudian mengunakan kemeja. Kali ini Mawar tidak mau membantu. Adit memperhatikan istrinya sikapnya tidak seperti biasa. Tetapi Adit tidak mempermasalahkan mungkin istrinya sedang lelah, Adit berfikir positif.
Hingga sarapan pagi tiba,
Mawar lebih banyak diam. Mawar berangkat kuliah di antar Adit sebelum ke bengkel. Namun di dalam mobil pun Mawar mogok bicara. Adit sesekali melirik istrinya ingin sebenarnya menanyakan ada apa dengan istrinya. Namun nanti sore saja ia akan pulang cepat.
"Kamu nanti siang jadwal periksa yank?" Adit akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Mawar menoleh cepat. "Iya" jawabnya singkat kemudian kembali menatap jalanan.
"Jam berapa nanti?" Adit menoleh sekilas tampak istrinya enggan menatapnya.
"Jam dua"
"Oh, nanti tunggu di kampus saja ya, jangan kemana-mana, nanti aku jemput, aku antarkan kamu kerumah sakit." titah Adit.
__ADS_1
"Ya" lagi-lagi hanya itu sahutan Mawar. Mereka sampai di depan kampus Mawar turun. Alih-alih mencium pipi Adit. Mencium punggung tangan pun tidak. Adit semakin bingung. "Kenapa kamu yank?" gumamnya kemudian memutar mobil lalu berangkat ke bengkel.