Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Kegelisahan.


__ADS_3

Mawar dibantu Simbok memasak rendang daging dengan semangat demi menyenangkan hati suaminya.


Walaupun tadi sempat ada keributan kecil dalam rumah tangga hal yang biasa.


"Saya mandi dulu Mbok" pamit Mawar, setelah masakan matang.


"Iya Non" sahut Simbok yang sedang mencuci perabot setelah selesai memasak.


*****


Setelah mandi, Mawar mengoleskan bedak tipis dan perona bibir sedikit, agar tidak terlalu pucat. Karena kebanyakan menangis tadi siang.


Ia kemudian turun kebawah duduk di ruang tamu ingin menyambut kedatangan suaminya. Hingga magrib telah tiba suaminya belum juga datang.


"Tuan belum pulang ya Non?" tanya Simbok membuyarkan lamunanya.


"Belum Mbok, macet kali" imbuhnya.


"Mbok Istirahat saja" perintah Mawar kasihan Simbok kelihatan lelah. Karena saat ini sudah jam delapan malam.


"Iya Non, saya tinggal ya..." Simbok pun segera masuk ke kamar tanpa menunggu jawaban Mawar.


Mawar sabar menunggu, tetap positif thinking. Detik, menit berganti. Ia melirik jam sudah lewat jam sembilan malam. Namun, yang ditunggu tidak juga segera hadir.


Ia berkali-kali mencoba telepon, tetap tidak di angkat. Mencoba mengirim pesan pun, tidak di buka.


Sebagai Istri, ia sadar, dituntut untuk bisa mengerti suaminya luar, dalam. Baik, serta buruknya. Memang, tidak semua tingkah suaminya membuatnya senang, kadang menyebalkan dan membuat hatinya kesal. Namun, berpikiran positif itu yang harus ia tanamkan dalam hatinya.


Ia melangkah menuju meja makan perasaan kecewa menelusup di hati. Ia kembali menutup makan malam dengan tutup saji rasa lapar pun menguap entah kemana. "Apa Mas Adit masih marah ya... sama aku? ia bergumam.


Lalu menapaki anak tangga. Mencoba untuk tidur. Tetapi hanya gulang guling di kasur. Perasaan cemas pun mulai muncul. "Semoga kamu baik-baik saja Mas" ia terus bergumam.


*****


Dirumah sakit, Adit masih berusaha menenangkan istri mudanya walaupun usianya lebih tua dari Mawar selisih 10 tahun. Namun, yang namanya istri kedua tetap saja istiri muda.


Bahkan, Aditya pun lebih muda dari Silfia beda sekitar tujuh tahun.


"Adit... kepalaku sakit sekali"


"Aku nggak kuat Adit... Aku nggak kuat..." rintihnya.


"Sabar Sil, istighfar, terus berdoa ya..." hiburnya. Sambil mengelus kepala istrinya.


Aditya PoV


Inilah hidup yang aku jalani saat ini, entah sudah takdir atau apa namanya? entahlah.


Ketika itu, tepatnya sebulan yang lalu, aku sedang makan siang sambil telepon Istri tercintaku.

__ADS_1


Flashback on


"Bagaimana tawaran saya Dit?" tanya Pak Johan atasanku. Tiba-tiba duduk di sampingku.


"Maaf Pak, saya tidak bisa mengabulkan permintaan Bapak, saya sangat mencintai Istri saya, dan tidak bisa saya tukar dengan apapun" sahutku sungguh-sungguh.


"Sekarang ikut saya" perintahnya tegas sambil menarik tanganku.


"Ke- kemana Pak?" tanyaku gugup. Aku menjadi pusat perhatian para karyawan yang sedang makan di kantin. Pasalnya, aku karyawan baru bisa begitu dekat dengan boss. Begitulah bisik-bisik orang orang.


Aku mengikuti Pak Johan di ajak naik mobil miliknya. Di dalam mobil, kami saling diam. Aku bertanya-tanya dalam hati kemanakah pria ini akan membawa aku?


Sampailah di salah satu rumah sakit ternama. "Ayo" ucapnya, setelah kami turun dari mobil.


Aku berjalan di sampingnya menyejajarkan langkahnya. "Siapa yang sakit? tanyaku dalam hati.


Pak Johan membawa aku masuk kedalam kamar pasien VIP. Aku melihat seorang Ibu setengah baya sedang menunggunya. Aku mengangguk hormat kepadanya.


"Kamu kenal wanita ini?" tanya Pak Johan. Mataku menelisik wajah wanita plostos dengan peralatan medis sungguh menyedihkan. Aku terenyuh menatapnya mencoba mengingat-ingat wajah familiar di depanku.


"Bu Silfi?" tanyaku, menutup mulut karena terkejut melihat wajah dosen yang pucat dan cekung.


Beliau dulu terkenal dosen paling cantik, paling ramah sehingga banyak pria yang mengaguminya. Tetapi, beliau tidak pernah menanggapi siswa yang masih muda rata-rata usianya di bawahku.


Pak Johan menarikku menjauh, agar Bu Silfi tidak mendengar pembicaraan kami.


" Dan yang perlu kamu tahu, dia sangat mencintai kamu."


Aku membulatkan mata. Tidak percaya jika dosen yang cantik dan terlihat matang itu mencintai pria beristri seperti aku.


"Kamu tau Dit, Silfi sebenarnya hanya dosen panggilan tiap-tiap kampus ketika ingin mengadakan seminar"


"Tetapi... dia rela mengajar di kampus kamu. Karena dia ingin lebih dekat dengan kamu." tuturnya.


"Dia itu sekarat Dit, dan hanya kamu yang membuat dia bersemangat bertahan hidup"


"Dia di vonis dokter hidupnya tinggal beberapa bulan lagi" tuturnya seraya menyeka air mata.


Aku tercengang mendengarnya.


"Lalu apakah Bu Silfi tau Pak, jika saya sudah beristri?" tanyaku kemudian.


"Tentu dia tidak tahu" ucapnya.


"Setelah itu aku melihat dia jarang kambuh. Saya senang sekali, melihatnya berseri-seri lalu saya tanya apakah yang membuatnya bahagia?"


"Dia bercerita kepada saya bahwa dia menyukai kamu"


"Saya akhirnya memerintahkan anak buahku, agar menyelidiki kamu"

__ADS_1


"Saya tahu Dit, Istrimu orang baik dan pekerja keras, bahkan... sampai rela membiayai kuliah kamu kan?" tanyanya.


Aku mengangguk rasanya sulit untuk bicara.


"Setelah saya tahu kamu, saya senang sekali ketika kamu melamar pekerjaan di kartor saya."


"Saya memerintah pihak HRD untuk menerima kamu berkerja"


"Namun, bukan berarti kamu tidak bisa bekerja Dit, saya puas dengan pekerjaan kamu." sambungnya.


"Setelah kamu di Wisuda, Silfi kembali kambuh dan nama kamu yang selalu ia panggil"


"Tolong saya Dit nikahi Silfi"


"Tapi, saya sudah punya istri Pak Johan, dan saya tidak ingin menyakiti Istri saya" "Saya sangat mencintainya dan tidak mau kehilangan dirinya!" sahutku kesal.


"Dan seandainya, saya menikahi putri Bapak. Apakah putri Bapak tidak akan kecewa? jika tahu saya sudah beristri?" tanyaku.


"Jangan katakan padanya, jika kamu sudah beristri"


"Saya yang akan mengatur waktumu membagi antara anak saya, dan istrimu."


"Itu artinya, saya membohongi dua wanita sekaligus Pak!" aku semakil kesal.


"Tolong saya Dit, saya rela mengemis" ucapnya kemudian duduk mencium kakiku.


"Astagfirlullah...Pak, bangun" sangking terkejutnya, aku mundur hingga beliau tersungkur.


Aku membantu membangunkan beliau. "Papa... Silfi sadar Pa" panggil seorang Ibu yang tidak lain Istri Pak Johan.


Kami segera mendekat, "A- Adit" Silfi memanggil namaku patah-patah lirih hampir tidak terdengar.


"Saya Bu... semoga cepat sembuh ya..." kataku tersenyum ramah kepadanya.


"Aku tidak bermimpi kan, Pa... Ma... ini memang Wahyu Aditya?" tanyanya sambil mengerjap-ngerjap kan mata.


"Iya nak, ini memang Aditya. Dia datang untukmu" terang Ibunya.


"Duduk Dit" ucapnya menepuk ranjang di sampingnya.


Aku pun segera duduk di sampingnya, dan berbincang panjang lebar. Bu Silfi mulai rersenyum sedikit-sedikit. Dan akhirnya bisa tertawa. Aku perhatikan wajahnya memang sudah tidak sepucat tadi.


Bernarkah kehadiran aku membuat dirinya bisa lebih baik?


Author PoV.


Selama tiga hari Aditya menemani Silfi di rumah sakit. Bahkan, atas saran Pak Johan. Adit agar membawa pekerjaan nya kerumah sakit.


Keadaan Silfi pun membaik atas kesepakatan bersama Adit menikah dengan Silfi dirumah sakit. Pak Johan memanggil KUA dan beberapa orang saksi.

__ADS_1


__ADS_2