
Johan PoV
Sudah hampir jam dua belas siang aku menunggu menantuku di ruangannya. Namun, belum juga datang. Adit tidak biasa begini, apa pun yang ia lakukan selalu minta izin. Aku ingin berbicara kepadanya langkah apa yang harus kami lakukan untuk kesembuhan Silfi anakku.
"Adit hari ini ada rapat keluar kantor Rik?" tanyaku kepada Riko, yakni asisten pribanya Adit.
"Tidak Pak, tadi saya telepon beliau sedang tidak enak badan katanya" jawab Riko.
"Tidak enak badan? kenapa?" aku terkejut, jangan sampai dia sakit, sebab aku bingung jika dia sampai sakit, hanya dia yang bisa aku ajak bicara. Sedangkan istriku selalu menyalah kan aku sejak Silfia koma tempo hari.
"Saya juga kurang tahu Pak" jawab Riko.
"Antarkan aku kerumahnya Rik" pintaku.
"Baik Pak" sahutnya. Kami berangkat menuju rumah Adit. Sepanjang jalan pikiranku kacau.
Sudah lima tahun, anakku menderita sakit. Namun, semakin kesini semakin bertambah parah saja. Sejak Silfi mengetahui aku menjodohkan dia dengan laki-laki yang ia cintai dalam diam selama 4 tahun, dan faktanya sudah beristri. Sudah hampir seminggu masih belum sadar dari koma.
Mudah-mudahan anakku cepat sadar, dan aku akan menuruti apa yang Silfia inginkan. Awalnya aku berpikir dengan aku menikahkan dia dengan pria yang ia cintai bisa membuat anakku senang dan lebih baik, ternyata pikiranku salah.
Benar kata istriku aku egois, aku sudah menyakiti istri pertama Adit. Dan kenyataannya bukan hanya istri Adit yang terluka. Silfia, istriku, dan masih banyak lagi orang-orang yang terluka karena aku. "Aaahhh...selama ini serumit apapun persoalan bisa aku selesaikan dengan mudah. Namun mengapa dengan ini seolah aku menempuh jalan buntu?"
"Yah...mau bagaimana lagi? semua sudah terjadi, yang harus aku lakukan adalah aku akan menemui istri pertama Adit, mudah-mudahan saat ini dia ada di rumah."
"Sudah sampai Pak" ucap Riko membuyarkan lamunan ku.
"Oh gitu ya? yang mana rumahnya?"
"Yang ini Pak" Riko parkir di halaman rumahnya aku lihat komplek paling ujung, rumah ini sebagian tanahnya masih kosong belum di bangun. Ternyata menantuku itu pandai memilih rumah selain asri juga modern.
Pintu di buka setelah Riko mengetuknya, ternyata Adit sendiri yang membukanya.
"Eh Papa, tumben kesini? masuk Pa?" ucapnya. Aku terkejut melihat wajahnya lebam-lebam di pipi.
__ADS_1
"Kamu kenapa Dit? tanyaku.
"Ceritanya panjang Pa" ucapnya sambil masuk kedalam lalu aku mengikuti bersama Riko di sampingku.
"Duduk Pa, Rik" ucapnya. Akupun duduk lalu menelisik ruangan tampak rapi.
"Istrimu kemana Dit?" tanyaku karena di rumah ini tampak sepi.
"Mawar lagi di rumah Ibu, mengantar mertua" ucapnya.
"Oh, jadi mertuamu disini Dit? boleh tidak, Papa bertemu, Papa ingin minta maaf Dit" aku bersamangat, dengan meminta maaf kepada orang tua Mawar mungkin akan mengurangi sedikit rasa bersalahku.
"Silahkan Pa, tapi waktunya hanya malam ini, karena besok beliau sudah ingin pulang kekampung." tutur Adit. Aku akan usahakan nanti malam ingin menemuinya.
"Baik lah Dit, nanti malam Papa ingin menemuinya.
Kami ngobrol panjang lebar, membahas tentang kantor, tentang Silfi, hampir satu jam di situ akupun pamit pulang.
Author PoV.
"Rik, mobilnya kamu bawa kekantor saja, nanti suruh sopir mengantarkan kesini" titah Papa Johan setelah sampai di parkiran rumah sakit.
"Tidak usah Pak, saya naik taksi saja" sahut Riko setelah memencet remote, Riko menyerahkan kunci mobil kepada Pak dewan dereksi tersebut, kemudian Riko kembali ke kantor.
Dengan langkah cepat, Papa Johan segera masuk ke kerumah sakit, naik lift menuju lantai tiga dimana ruang ICU berada. Setelah mencuti tangan, dan mengganti pakaian yang di berikan oleh petugas rumah sakit Papa Johan masuk ruang ICU.
Setiap masuk ke ruangan dimana anaknya di rawat. Papa Johan dadanya terasa sesak, sekuat apapun seorang Ayah, melihat kondisi anaknya yang tak berdaya dengan berbagai alat, dan jika alat itu di lepas anaknya akan pergi untuk selamanya.
Papa duduk di samping anaknya menatap wajah pucat dan pipi keriput karena kurus, air matanya tidak bisa ia bendung.
"Sadarlah anakku...Papa sayang sama kamu nak, Papa tidak ingin kehilangan kamu" Papa merogoh sapu tangan dari saku celana menyeka air matanya.
"Apa yang harus Papa lakukan nak, dulu Papa membawamu berobat keluar negeri, tetapi kamu ingin pulang karena Adit yang menjadi alasan kamu" Papa mencium tangan Silfia hancur rasa jiwa raganya.
__ADS_1
"Sadarlah nak, maafkan Papa, karena Papa menikahkan kamu dengan Adit, justeru membuat kamu menjadi seperti ini nak" hu huuu... Papa mendekap perut sang anak dengan tubuh bergetar.
"Papa sudah berbuat kesalahan lagi nak, maafkan Papa, maafkan Papa...Papa hanya bisa menyakiti, dan mengecewakan kamu nak..." hu huuu.
"Tes" Tanpa Papa Johan tahu air mata Silfia pun menetes.
"Sadarlah nak, dulu Papa bekerja keras merintis usaha dengan susah payah hanya demi kamu nak, hingga Papa kurang memperhatikan kamu, tapi sekarang tidak ada gunanya" huuu.
"Cepat sadar nak, tumpahkan semua rasa yang kamu pendam, Papa akan dengarkan nak" Papa Johan terisak mengingat dulu ketika Silfia masih kecil sedang membutuhkan perhatiannya. Namun, Papa sering pergi keluar negeri hingga berminggu-minggu, bahkan sampai satu bulan.
Tanpa Papa Johan sadari ketika Silfi beranjak dewasa, dan mengenal lawan jenis, ada teman sekolahnya yang serius mencintainya. Namun, Papa melarang Silfia berhubungan dengan laki-laki yang anaknya cintai itu dengan alasan si pria terlahir dari orang biasa.
Ketika Silfia selesai wisuda, lalu mendapat gelar sarjana ekonomi ada seseorang yang melamarnya lagi-lagi Papa Johan menolak karena bibit, bobot, dan bebet, yang menjadi penghalang.
Semenjak saat itu Silfia menjadi pemurung tidak mau berhubungan dengan pria manapun.
Ketika sudah mencapai puncak kesuksesan materi tanpa beliau sadari anaknya butuh perhatian, hingga Silfi sering sakit-sakitan, dan Papa menghadapi kenyataan bahwa anak semata wayangnya telah mengidap kanker otak stadium lanjut.
Yang bisa Papa Johan rasakan saat itu hanya penyesalan andai bisa menukar otaknya Papa akan berikan kepada anaknya.
Semenjak saat itu Papa Johan selalu memperhatikan anaknya, lalu Silfia berusaha melawan penyakitnya. Mencoba bangkit, kemudian memberikan ilmunya kepada orang-orang, sering memberikan seminar di kampus-kampus, tanpa meminta imbalan.
Hingga akhirnya Silfi menceritakan kepada Papa dan Mamanya bahwa dia mencintai salah satu mahasiswa dan dialah Adit orangnya.
Papa Johan menyelidiki siapa Adit, Papa tahu jika Adit sudah mempunyai istri. Namun, demi anaknya Papa lagi-lagi berbuat kesalahan menghalalkan segala cara demi anaknya. Papa Johan saat ini harus terima kenyataan karena tindakan yang tidak beliau pikirkan dengan matang justeru membuat keadaan semakin rumit di urai, seperti benang kusut. Padahal Mama Latania sudah berulang kali menentang ide gila suaminya itu.
"Maaf Pak, saya mohon Bapak keluar dulu ya... kami ingin memeriksa anak Bapak." datang dokter jaga dan suster ingin memantau keadaan Silfi.
"Tolong anak saya dokter... tolong sembuh kan anak saya..." tangis Papa pun meledak, dokter menatap pria yang berusia 65 tahun itu. Tampak tatapan Papa Johan yang penuh pengharapan sang dokter pun merasa iba.
Berharap anaknya sembuh dan akan memperbaiki semuanya.
"Sabar ya Pak, kita serahkan kepada Tuhan, kita hanya bisa berdoa dan berusaha" nasehat dokter.
__ADS_1
Papa Johan pun melangkah keluar dengan tatapan kosong, limpahan harta kini tidak ada gunanya. Hanya penyesalan yang tersisa. Papa Johan masuk kedalam lift sesekali mengusap air matanya hingga menjadi pusat perhatian semua yang berada di dalam lift.
Papa Johan kembali keparkiran menyalakan mobil kemudian pulang kerumah.