
Jam 11 pagi, setelah menyelesaikan mata kuliah. Mawar menunggu Adit di kantin seperti janjinya tadi pagi. Seperti biasa, Mawar di temani oleh rosita. Begitu Mawar memutuskan pindah kelas pagi, Rosita pun ikut pindah. Rosita rupanya tidak mau berpisah dengan sahabatnya itu karena sudah seperti lem dan perangko.
"Perut loe, sudah besar gitu belum mau ambil cuti kuliah Maw?" tanya Rosita kemudian menyeruput kopi susu.
"Baru juga tujuh bulan, nanti dong kalau sudah sembilan bulan, mudah-mudahan waktu lahiran bertepatan dengan waktu akhir semester" terang Mawar.
"Oh iya, betul juga sih, pemikiran loe" sahut Rosita.
"Maw, ngomong-ngomong bagaimana kabarnya Rony ya, sudah tiga bulan nggak ada kabar, itu bocah" Rosita rupanya kangen juga dengan kekonyolan sahabatnya walaupun sering bertengkar lain di mulut lain di hati.
Mawar mengakat bahunya keatas kemudian meneguk juice alpukat. "Mana aku tahu, kesel kali sama kamu, habisnya kamu sama dia itu seperti kucing sama anjing." Mawar menyahut.
"Yang ada juga dia tuh, kecewa sama loe, Maw" jawab Rosita tak mau kalah.
"Kok aku?" Mawar menatap Rosita dengan dahi mengkerut.
"Dia itu kan ada perasaan, sama loe, Maw"
"Uhuk, uhuk" Mawar terkejut mendengar ucapan Rosita juice alpukat pun muncrat dari mulut.
"Ih, jorok loe Maw" Rosita kesal, kaos nya kena cipratan juice karena posisi di depannya.
"Hehehe... maaf, maaf" Mawar kemudian ambil tisue lalu memberikannya kepada Rosita.
"Ngawur kamu, dia itu orang baik, mana mungkin mau menjadi pebinor" Mawar terkekeh.
"Loe nggak percaya, kurang peka sih loe, jadi perempuan" Rosita paham sikap Rony yang di tunjukkan kepada Mawar bukan hanya sekedar sahabat.
"Sudah ah, jangan ngaco, habisin tuh minuman kamu" Mawar mengalihkan.
"Maw, aku telepon dia ya" Rosita ambil handphone dari tas.
"Eh, ini tuh, hari kerja Ros, jangan ganggu dia, jangan-jangan kamu yang ngebet sama dia" Mawar terkekeh, sebenarnya hanya ingin bergurau dengan sahabatnya.
"Ngaco loe, gue tuh paling setia sama laki gue" elak Rosita.
"Ya kali, soalnya kamu sama dia sering cekcok, macam remaja sok jual mahal tapi hatinya mau" Mawar kembali terkekeh.
Mawar seketika ingat waktu masih sekolah dulu, saat jatuh cinta kepada Adit malu-malu tapi mau. Mendadak tersenyum.
"Tukan! senyum-senyum sendiri, pasti mikirin Rony loe ya" goda Rosita.
"Ngaco" Mawar menoyor kepala rosita. "Sudah ah, sudah adzan dzuhur, kita ke mushola kampus dulu" pungkas Mawar.
"Kalian ini kenapa sih? kemana-mana hanya berdua terus, ajak gue sekali-kali kek" Sisil anak yang satu kelas dengan mereka pun ikut bergabung.
__ADS_1
"Yeah... bukan begitu Sil? kamu itu kan masih gadis, ya kita minder main sama kamu lah." Mawar menjelaskan.
"Iya betul, lagian loe biasanya nempel terus sama cowok loe? sekarang kemana dia? tumben, loe sendirian." Rosita melihat sekeling tidak menemukan pacar Sisil.
"Lagi temuin dosen dia, dia kan asdos" sahut Sisil.
"Eh, kemushola dulu yuk, kita belum sholat " ucap Mawar.
"Gue nggak ikut, lagi halangan" kata Sisil.
Mereka pun ke mushola tanpa Sisil, menjalankan shalat dzuhur berjamaah. Setelah shalat, Mawar bersandar di tembok di sudut ruangan.
"Ros, kalau mau duluan, pulang saja, aku nunggu di jemput suamiku, mau sekalian kontrol soalnya."
"Iya Maw, gua duluan ya, kasihan Anwar, pasti menunggu."
"Iya sudah, hati-hati Ros"
"Ya, terimakasih" Rosita pun pulang.
Mawar masih bersandar di tembok mushola, membuka handphone kemudian mengabari adit, bahwa dia menunggu di mushola.
Mawar memejamkan mata setelah menyimpan ponsel kedalam tas. Karena tadi malam tidur hanya sebentar. Mawar pun terlelap juga. Mawar membuka matanya melihat jam di mushola tepat jam satu, berarti ia tidur selama satu jam.
Mawar keluar dari musholla menunggu di taman kampus di pinggir jalan. Perutnya sudah keroncongan. "Ah masih jam satu, mungkin sebentar lagi Mas Adit datang, nanti aku ajak makan gado-gado di depan itu pasti segar" Mawar berguman sambil tersenyum membayangkan makan gado-gado bersama Adit.
"Tahan ya sayang, kita tunggu Ayah" Mawar mengajak berbicara anaknya sambil mengelus perut, perutnya agak menegang tidak ada gerakan anaknya.
Hingga jam satu tiga puluh menit, Adit belum menjemputnya. Mawar kembali membuka pesan belum di buka juga, akhirnya menghubungi kembali. Namun tidak di angkat pula. Mawar mulai kesal.
Mawar memutuskan untuk menghubungi Riski.
"Assalamualaikum" salam Risky di seberang.
"Waalaikumsalam"
"Bapak masih di situ Ris?" tanya Mawar.
"Tidak ada Bu, kebetulan Pak Adit hari ini tidak masuk"
Deg.
Mawar pun diam kemana suaminya.
"Hallo Bu" merasa istri boss nya diam, Risky mendahului bicara.
__ADS_1
"Oh gitu, ya sudah Ris, saya tutup ya" tut. Belum mendengar jawaban dari Risky Mawar segera memutus sambungan telepon.
"Ah, kalau nggak bisa! jangan suka janji kek! nyebelin!" Monolog nya.
"Okay Mas, aku bisa sendiri kok, kalau kamu tadi nggak janji, aku pasti nggak akan menunggu seperti ini, bisa naik taksi sendiri" Mawar menggerutu sendiri untung tidak ada orang lain.
Mawar memesan taksi kemudian kerumah sakit. Sampai di Rumah sakit Mawar segera menemui dokter Rizal. Keadaan sudah sepi karena jam praktek dokter Rizal hampir habis.
"Selamat siang dok" ucap Mawar tergesa-gesa sampai di ruangan dokter khawatir terlambat, benar saja, tampak dokter Rizal sudah berkemas.
"Siang Mbak, kenapa ini? sampai terlambat?" tanya dokter menatap wajah Mawar yang tampak kuyu berkeringat.
"Maaf dok, ada kendala tadi" Mawar beralasan.
"Baiklah Mbak, segera rebahan ya" titah dokter Rizal.
"Baik dok" Mawar merebahkan diri, kemudian asisten dokter memeriksa tekanan darah. Dokter Rizal melakukan USG, di bantu asistennya.
"Keseluruhan bagus Mbak" ucap dokter melepas sarung tangan kemudian duduk di kursinya. "Ibu dan bayi Ibu sehat, hanya jangan stress" titah dokter Rizal kemudian. mencatat hasil pemeriksaan.
"Alhamdulillah... terimakasih dok" Mawar pun duduk berhadapan dengan dokter Rizal setelah di persilakan asisten.
"Suaminya kemana Mbak? biasanya selalu ikut kedalam?" dokter Rizal pikir Adit menunggu di luar.
"Suami saya, sedang ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan dok" alasan Mawar lancar tidak meragukan.
"Oh tumben, biasanya selalu menjadi suami siaga dia" kelakar dokter.
Selesai periksa Mawar memesan taksi.
******
Malam hari di meja makan. "Bu, kok kakak belum pulang ya?" tanya Melati tampak khawatir. Sebab jam delapan kakaknya belum sampai di rumah.
"Iya, kok belum pulang, tadi katanya pulang kuliah mau langsung kontrol" jawab Ibu Riska tampak khawatir juga.
"Kalian ini kok pada bingung, tadi pagi kan Adit bilang, mau mengantar Mawar periksa, paling selesai periksa makan malam di luar, tenang saja lah, toh sama suaminya ini" Bapak berbicara apa yang di dengar dari Adit tadi pagi.
"Benar juga kata Bapakmu nak, sudah kita makan saja" Mereka makan bersama seperti biasa setelah makan menonton televisi. Hingga sampai jam sembilan malam, Mawar belum pulang juga. Mereka masuk kedalam kamar, karena masing-masing sudah lelah mereka tidur.
Jam 10 malam Adit baru pulang menelisik seluruh kamar tidak ada istrinya. Mungkin di kamar mandi. Adit membuka kamar mandi tidak ada juga.
Adit kemudian menjatuhkan bokongnya di sofa kamar. Ia baru ingat, tadi pagi sudah berjanji ingin menjemput istrinya, dan ingin mengantarkan kerumah sakit. Namun karena kesibukannya ia sampai lupa. Adit menjambak rambunya sendiri menyesali karena lupa akan janjinya. Adit berpikir pasti istrinya kini marah dan tidur di kamar Melati. Memang seperti itu jika istrinya marah, pasti tidur bersama adiknya.
Adit berdiri membuka tas kerja ingin mengambil ponselnya namun tidak ada. "Aahh... pakai ketinggalan lagi!" Adit kesal dengan dirinya sendiri. Kemudian melangkah kekamar mandi.
__ADS_1