Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Cinta Yang Retak.


__ADS_3

Malam semakin larut kedua insan suami istri yang berbeda kamar itupun tidak ada yang bisa tidur.


Aditya PoV.


Yang aku takutkan kini akhirnya terjadi. Wajar, jika istriku marah besar tatkala mengetahui jika aku telah menduakan. Jujur, dari hati kecilku tidak ingin menyakiti hatinya.


Flashback on


Setelah menikah dirumah sakit, seminggu kemudian Silfi membaik lalu di izinkan pulang. Aku pun ikut dengan mereka dan tinggal di rumah mertuaku.


"Dit, kenapa saya perhatikan, kamu murung terus?" tanya Papa Johan. Memergogi aku sedang termenung di meja makan duduk di kursi menopang dagu. Tentu yang ada dalam pikiranku hanya Mawar Mawar dan Mawar.


"Maaf Pak, saat ini... saya memang sudah menjadi suami Silfi"


"Tetapi... Bapak tahu kan? bahwa saya sudah mempunyai istri selain Silfi. Bahkan, saya mencintai istri saya melebihi diri saya sendiri" ucapku.


"Lalu?" tanya Papa Johan tangannya ikut menopang pelipisnya. Menatapku seksama.


"Saya merasa berdosa Pak, karena saya sudah membohongi istri saya, ini yang kesatu."


"Lalu yang kedua, saya tidak akan mungkin bisa bersikap adil antara Silfia dan istri saya" kataku jujur.


"Karena terus terang, saya tidak mencintai Silfi" sambungku.


"Saya tahu Dit, yang penting, tugas kamu bisa menghibur Silfi"


"Kamu bisa kok, menemui Istrimu setiap saat, Papa bisa mencari alasan yang tepat jika kamu sedang bersama Istrimu" pungkas Papa.


"Bulan depan istri saya datang Pak, saya mau mencari kontrakan" kataku.


"Tidak usah Dit, Papa punya rumah di komplek. Ajak istrimu tinggal disana, semua fasilitas ada kok" sahutnya.


"Tapi saya tidak enak Pak" sahutku memang benar, jika aku tinggal di rumah mertuaku dan mengajak Mawar pasti dia tidak akan mau. Mawar paling tidak mau berhutang budi. Jangankan sama orang lain. Sama keluarganya sendiri saja dia menolak. Di tambah lagi jika Mawar tahu aku menempati rumah istri mudaku. Apa yang akan terjadi nanti.


"Tapi sebelum istrimu datang, kamu tetap tinggal disini"


"Biar rumahnya di renovasi dulu"


Aku hanya diam menatap pria yang saat ini menjadi mertuaku sungguh egois kalau aku bilang. "Betapa tidak? Dia ingin anaknya senang. Tetapi, beliau mengorbankan perasaan istriku. Dan membawa aku ikut terjebak dalam permainan nya.


"Mulai besok, kalau kamu berangkat kerja, pakai mobil yang putih, mobil itu punya kamu, sudah atas nama kamu" ucapnya kemudian menyerahkan surat-surat dan kunci mobil kepadaku.

__ADS_1


"Tidak usah Pak, saya bisa naik angkutan umum" tolakku.


"Jangan menolak! kamu ini sekarang menantuku dan mulai sekarang panggil aku Papa" pintanya.


"Baik Pak"


Kami berbicara panjang lebar sampai akhirnya Silfi memeluk aku dari belakang.


"Sudah malam Dit, tidur yuk" ucapnya.


"Ayo" sahutku, aku di gandeng Silfi. Kami masuk ke dalam. Setiap kami tidur bersama, aku merasa khawatir jika Silfi meminta lebih. Aku tahu yang aku lakukan pada Silfi tidak adil. Tapi jujur, jika melakukannya aku merasa bersalah dengan Mawar.


"Maaf ya Dit, aku belum bisa memuaskan kamu" ucapnya setiap kami hendak tidur.


"Jangan pikirkan apa-apa Sil, yang penting kamu sembuh" hiburku. Padahal kata-kata Silfi justeru membuat aku senang.


Flashback off.


Mendengar tangisan pilu istriku rasanya hancur hatiku. Ingin rasanya aku dekap dan memberi kekuatan kepadanya. Namun ia menolak.


Aku mengejar istriku ketika menuruni anak tangga. Ia masuk kedalam kamar tamu dan membanting pintu dengan keras.


Aku menangis tersedu jidatku, aku bentur-benturkan di pintu kamar. Pundakku terasa ada yang menepuk kemudian aku menoleh. Ternyata Simbok orangnya.


"Tuan, jangan begini... biarkan Non Mawar tenang dulu"


"Tidak akan ada gunanya walaupun Tuan memaksa" tutur Simbok lembut. Kemudian menuntunku ke kursi Sofa.


Aku menurut, kemudian duduk di sofa.


"Ada masalah apa Tuan? kenapa Non Mawar sampai marah begitu?" tanya Simbok mengelus bahuku seperti Ibuku sendiri.


Akupun menceritakan semuanya kepada Simbok. "Astagfirlullah...jadi Tuan di paksa menikahi Non Silfi?" tanya Simbok heran.


"Iya Mbok, lalu siapa yang salah di antara semua Mbok? tetap saja aku yang salah kan Mbok? aku jahat Mbok... aku jahat... hu huuu.


"Seeett... Tuan..." "Tuan ini laki-laki, hadapi. Jika berani berbuat, harus berani bertanggung jawab. Saya yakin Tuan... jika Non Mawar tahu yang sebenarnya. Pasti akan mengerti." Simbok menghiburku.


"Semoga ya Mbok, saya tidak ingin kehilangan dirinya Mbok" sahutku lesu.


"Ya Tuan, lebih baik Tuan beristirahat." pungkas Simbok.

__ADS_1


Aku kembali kekamar melihat jam sudah jam dua belas malam. Aku mencoba untuk tidur, tetapi tidak bisa. Bayangan istriku ketika menunjukan telapak tangan dan kakinya seolah menari di pelupuk mataku.


Dulu, kami pasangan yang harmonis, saling memberi dukungan, saling menguatkan dan saling menghibur tentunya.


Tetapi, aku akui, telah menghancurkan dinding pertahanan rumah tanggaku sendiri. "Kamu benar Istriku...aku memang suami yang tidak berguna. Seharusnya aku yang banting tulang. Bukan kamu istriku" malam yang larut ini aku gunakan untuk merenung.


"Kita sebagai suami istri masing-masing punya kewajiban dan hak yang harus kita penuhi. Namun, nyatanya selama ini aku belum bisa memenuhi kewajibanku sebagai suami. Dan ironisnya aku justeru menorehkan luka di hatimu istriku."


Author PoV.


Malam berganti pagi, Adit mencoba bangun dari ranjang. Malam ini terasa panjang, karena sama sekali tidak bisa tidur. Kepalanya terasa sakit.


Ia melangkah kekamar mandi pikiranya terus mengembara. Kesalahan yang ia buat sendiri dan baru sadar setelah terdesak.


Adit kemudian mandi lima belas menit kemudian selesai. Ia harus semangat. Biar bagaimana banyak tanggung jawab yang harus ia emban.


Setelah berpakaian rapi ia menuruni tangga dan menuju kamar dimana istrinya tidur. Ia dorong pintu tetapi masih di kunci.


"Maw... buka pintunya, aku ingin bicara sebentar" panggil Adit, tetapi tidak ada sahutan maupun tanda-tanda pintu akan di buka.


Adit kemudian minum air hangat saat ini masih jam lima pagi. "Tuan sudah mau berangkat?" tanya Simbok sambil membawa dua porsi nasi goreng terasa wangi baunya.


"Iya Mbok, Tapi Mawar tidak mau membuka pintu" kata Adit lirih.


"Biarkan saja dulu Tuan, tidak akan mudah menyembuhkan hati yang terasa sakit, dengan cepat"


"Jelaskan perlahan jika bisa Simbok akan bantu. Tapi tuan harus bersabar Simbok yakin Non Mawar akan mengerti karena dia anak yang baik. Namun, Tuan jangan berharap bahwa Non Mawar akan memberi kepercayaan penuh seperti dulu"


"Ibarat kaca yang pecah kemudian di sambung, tetap saja akan terlihat retak" nasehat Simbok panjang lebar.


"Terimakasih Mbok"


"Sudah, Tuan makan dulu ya" simbok berniat menyendokkan nasi goreng kedalam piring. Tetapi Adit menolak.


"Saya berangkat dulu Mbok" pamit Adit tanpa menyentuh nasi goreng. Tidak ada rasa lapar sama sekali pagi ini.


Ia monoleh pintu di mana Istrinya tidur. Kemudian melangkah keluar masuk kedalam garasi yang sudah di buka oleh Simbok. Membuka pintu mobil menyalakan mesin lalu berangkat. Di dalam mobil terasa kacau.


"Lihat! telapak kaki ini Mas! kapalan! karena aku berjalan kaki tanpa mengenal lelah untuk mencari sesuap nasi" kata-kata istrinya bagai cambuk mendarat di ulu hati bertubi.


"Aaahhh..." teriaknya dari dalam mobil, jika tidak kedap udara pasti banyak orang yang ingin tanya "ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2