Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Curahan Hati Mawar.


__ADS_3

"Ini diminum dulu" Rosita mendekatkan teh hangat yang di buat oleh Bibi ke hadapan Mawar. Dan yang segelas lagi untuk dirinya sendiri.


"Aku boleh numpang toilet nggak Ros?" tanya Mawar.


"Elah loe, biasanya juga suka kekamar mandi, kenapa pakai ijin sih?" Rosita sengaja berseloroh untuk menghibur Mawar.


Mawar tidak menanggapi langsung masuk ke kamar mandi ingin membuang air yang terasa menggenang di kantong kemih.


Mawar menatap wajahnya di kaca toilet tampak matanya sembab dan wajahnya pucat.


Mawar membasuh wajahnya mengelap dengan tisue, kemudian mengoleskan sedikit bedak yang ia ambil dari tas.


"Loe sudah sarapan belum?" tanya Rosita setelah Mawar keluar dari kamar mandi kemudian duduk di samping Rosita.


"Sudah" jawabnya singkat.


"Loe kenapa? cerita sama gue, walaupun gue nggak bisa bantu apa-apa setidaknya loe merasa lega" Rosita memberi saran.


Mawar menunduk mengusap kepalanya sendiri menarik nafas berat.


"Selama kamu menikah, apakah pernah ada masalah dengan mertuamu?" tanya Mawar, memiringkan kepala menatap Rosita mengangkat tangan lalu menopang pelipisnya.


"Sering" Rosita menyeruput teh sebelum bertutur kata. "Kenapa? loe ada masalah dengan mertua loe?" Rosita menyelidik.


Mawar mengangguk.


"Dulu, waktu gue ketahuan hamil sebelum menikah, calon mertua gue menentang keras ketika keluarga gue minta pertanggungjawaban."


"Malah gue dituduh anak yang gue kandung bukan anak dari pacar gue"


"Ya jelas lah, keluarga gue ngamuk saat itu, singkat cerita, ketika gue sudah menikah terus 5 bulan kemudian melahirkan baru dia sayang banget sama gue karena cucunya itu benar-benar foto copy suami gue"


"Nah, setelah itu baru mertua gue berubah baik sampai sekarang?" tutur Rosita.


"Terus loe kenapa?" Rosita ingin sahabatnya itu berbagi cerita.


"Sudah hampir 6 tahun aku menikah, mertuaku selalu menyakiti aku Ros, tapi aku anggap angin lalu kata-katanya" Mawar mengingat mertuanya yang selalu mengatai menantu membawa sial, menorehkan luka hingga kini. Namun Mawar tetap hormat kepada mertuanya.


"Dan...karena aku mencintai anaknya, maka aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus menerima mertua aku juga apa adanya."


"Tapi... gue sakit Ros, ketika mertua gue menghina orang tua gue" Mawar kali ini menahan tangis.


Rosita mengguk-angguk mendengarnya" loe yang sabar ya" Rosita mengelus-elus punggung sahabatnya itu.


"Mungkin karena loe, belum memberikan cucu, makanya mertua loe belum bisa berubah Maw" Rosita berspekulasi.

__ADS_1


"Entah lah Ros, awalnya aku menunda kehamilan karena saat itu usia aku masih terlalu muda, dan ketika aku sudah siap ingin mempunyai momongan, justeru cobaan lagi bagi aku, kenyataannya suamiku menikah lagi." tutur Mawar berkaca-kaca.


"Kenapa nasip aku begini Ros, kadang aku ingin meyerah, tapi aku kembali berpikir positif tingking. Tuhan bersamaku, dan akan memutar balik waktu malam yang gelap akan hadir siang"


"Kadang di kegelapan malam pun akan terasa indah karena hadirnya rembulan yang bersinar dan di hiasi bintang-bintang." Mawar mengulas senyum membayangkan hidupnya sekarang sedang gelap dan berharap kelak akan hadir rembulan dan bintang.


"Huaaaa..." ketika sedang bercerita Mawar di kejutkan tangisan anak kecil yang di gendong baby sitter dari luar rumah sepertinya baru pulang sekolah.


"Mama..." anak laki-laki yang berumur 4 tahun itu tampak lucu dan menggemaskan.


"Sini-sini, kenapa sayang..." Rosita memeluk anaknya sayang.


"Ute nakal, aku nggak boleh jajan" adu anak yang masih mengenakan seragam tk itu kepada Ibunya. Rosita menatap baby sitter minta penjelasan.


"Mau minta permen karet tadi Non" sahut baby sitter.


Rosita pun paham. "nggak boleh makan permen karet dong, nanti giginya ompong" Rosita menjelaskan.


"Yah Mama" anak rosita manyun.


"Kenalin ini Tante Mawar" Rosita mengalihkan.


"Eh kamu lucu, sini sama Tante, namanya siapa?" Mawar merangkul anak Rosita.


"Anwar, Tante" sahut anak balita itu. Kehadiran Anwar pun cukup menghibur. Mawar melupakan kesedihan sejenak, Mawar menemani Anwar bermain bercanda ria.


"Kemana kamu Ma...?" gumam Adit sudah berputar-putar mencari Istrinya namun tidak bertemu. Adit mendatangin konveksi pihak menejer mengatakan bahwa Mawar hari ini izin tidak masuk kerja. Adit mendatangi kampus juga tidak ada istrinya di sana. Sebenarnya Adit tahu jika Mawar tidak kekampus karena kuliahnya malam. Namun, Adit hanya menerka-nerka. Adit beberapa kali telepon Mawar juga tidak tersambung.


Adit akhirnya kekantor ingin mengurangi pekerjaan yang menumpuk. Namun konsentrasi nya hilang karena selalu memikirkan Mawar. Dengan di bantu Riko dan sekretaris nya sedikit mengurangi pekerjaannya.


Siang harinya Adit ke kantin bersama karyawan lain, minum kopi mungkin bisa mengurangi cenut-cenut di kepalanya, karena tidak nafsu makan.


Selain minum kopi Adit memesan kentang goreng, agar asam lambung nya tidak naik.


"Selamat siang Mas" Abim berdiri di depan Adit yang sedang menyendiri.


"Siang" Adit mendongak menatap Abim.


"Duduk Bim" ucapnya.


Abim duduk di depan Adit. "Maaf Mas kalau boleh tahu pipi Mas Adit kenapa?" Abim menyelidik.


"Oh ini, jatuh" sahut Adit berbohong, tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi kepada anak buahnya.


Abim hanya manggut-manggut mendengarkan.

__ADS_1


"Mau makan apa Bim" Adit mengalihkan.


"Sudah pesan kok Mas" Abim memang sudah memesan nasi rames, hanya tinggal menunggu.


"Bagaimana keadaan Istri Mas?" tanya Abim Silfi yang di maksud. Abim memang sudah mengorek identitas Mawar dan Adit dari Intan. Namun Abim lebih baik tidak mencampuri urusan mereka.


"Masih koma, Bim" lirik Adit.


"Ya Allah... yang sabar ya Mas" Abim menghibur. Makanan yang di pesan pun datang kemudian Adit makan siang hingga habis.


"Kamu sudah punya pacar Bim?" tanya Adit kemudian.


"Sudah putus Mas" ucap Abim, obrolan berakhir karena jam makan siang sudah habis. Abim kembali ke kubikel nya sedangkan Adit masuk keruangan.


Adit menghabiskan waktunya bekerja hingga malam. Ia menyingkap kemeja melihat jam di lenganya sudah jam delapan malam.


Adit bergegas turun lewat lift menuju parkiran. Lalu setarter motor melesat menuju kampus. Sepanjang jalan ia gelisah khawatir jika istrinya tidak ada di kampus.


****


"Makan Maw, nanti loe masuk angin loh" ujar Rosita saat ini masih di kantin kampus sudah selesai jam kuliah. Rosita mengajak Mawar kekantin dulu memesan siomay. Maksud Rosita, agar Mawar makan dulu seharian tadi di rumahnya tidak mau makan apapun.


"Aku malas banget Ros" sahut Mawar kemudian.


"Yeee...yeee... ada makanan enak nih?" Rony bersorak. Anak ekonomi itu tiba-tiba datang menarik siomay dalam mangkok kemudian menusuk satu dengan garpu kemudian melahapnya.


"Plak" Rosita menggetok tangan Rony dengan sendok. Pasalnya setiap datang Rony selalu bertindak seenaknya.


"Elah loe! jadi cewek kejam amat sih" sungut Rony.


"Lagian loe tuh! lancang amat sih? cowok nggak modal!" ketus Rosita.


"Sudah... jangan ribut, biarin saja sih Ros, Rony makan." Mawar melerai.


"Tuh kan? yang punya saja boleh kok," dengan santainya Rony duduk di sebelah Mawar kemudian menyantap siomay.


"Tapi kan gue pesen buat loe Maw" Rosita menatap Rony yang sedang tersenyum karena mendapat pembelaan dari Mawar. Rosita pun mlengos kesal.


"Ih cowok nggak modal!" tukas Rosita mengulangi ucapannya.


"Elah... gue kan lagi sidang sekripsi terakhir, nanti kalau gue lulus terus dapat kerjaan loe hitung dech, habis berapa nanti gue bayar." Rony nggak mau kalah.


"Uh dasar! anak ekonomi perhitungannya...cek" Rosita berdecak kesal.


"Enak loh Maw, cobain dech, aaaa..." Rony menyodorkan sendok ke mulut Mawar.

__ADS_1


"Sudah selesai? pulang yuk" bersaamaan dengan itu, Adit Datang memegangi pundak Mawar dari belakang.


Sontak semua menoleh.


__ADS_2