Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Sadar.


__ADS_3

Kedua nelayan mendayung perahunya mendekati sesosok manusia yang masih menggunakan pelampung.


"Kita angkat kedalam perahu saja Bang" kata salah satu nelayan.


"Tetapi masih hidup tidak ya, kalau sudah meniggal kan serem." sahutnya.


"Ah kamu banyak bicara, ayo kita segera angkat." Kedua nelayan mengangkatnya kemudian menidurkan kedalam perahu.


"Masih hidup Bang?"


"Nggak tahu, belum pernah lihat ciri-ciri orang meninggal" sahut si Abang.


"Kita bawa saja ke penyebrangan" ucap nelayan.


Tanpa bicara lagi nelayan membawa orang itu ke penyeberangan Indonesia Malaysia.


Sepuluh menit kemudian sampai tujuan. Satu nelayan menunggu di perahu, dan seorang lagi menemui orang yang berlalu lalang menunggu antrian hendak menyeberang ke Malaysia.


"Permisi Tuan" nelayan ngos ngosan menemui seorang pria setengah baya berkaca mata hitam yang sedang bersandar di mobil menunggu antrian.


"Ada yang bisa saya bantu?" pria perawakan gagah itu menaikan kaca mata hitamnya keatas menatap nelayan.


"Saya menemukan mayat Tuan." kata pelayan.


"Dimana?" tanya pria gagah itu pandangan menyapu sekeliling.


"Di tepi laut Tuan, mari ikut saya" sahut nelayan kemudian mengajak pria tampan yang kira-kira berusia 43 tahun.


Pria itu melipat lengan jasnya kemudian, berjongkok memencet pergelangan pria dalam perahu itu.


"Masih hangat" kata pria tampan itu. Kemudian minta kedua pelayan mengangkat pria yang masih mengenakan pelampung.


Pria tampan minta nelayan memasukkan kedalam mobil di bantu supirnya kemudian membawanya menyeberang ke Malaysia.


"Siapa pria ini Tuan?" tanya supir setelah menyeberang.


"Saya tidak tahu, sekarang kita bawa kerumah sakit saja" titah pria tampan itu.


Pria tampan, menelisik wajah pria malang tersebut wajahnya memar-memar.


Pria itu membuka pelampung merogoh celana jins yang basah pria tak sadarkan diri tersebut mencari identitas. Namun, tidak di temukan.


Flashback on


Saat terjadi kepanikan di pesawat Adit sudah lengkap dengan pelampung tetap tenang dan terus berdoa.


Pesawat berasap mengepul bau kebakar menyengat. Adit segera mengenakan masker oksigen yang satu paket dengan pelampung.


Adit tetap fokus dalam kesadaran ada dua kemungkinan saat ini hidup atau mati.


Pesawat mendarat darurat menjelang detik-detik sebelum pesawat menabarak, lampu dalam keadaan mati. Adit yang kebetulan duduk di dekat pintu kabin segera membuka sabuk pengaman. Membuka pintu kabin pesawat, yang terbang sangat rendah.

__ADS_1


Yang ada dalam pikiran Adit hanya untung-untungan saat ini. Tetap tinggal di pesawat yang sudah jelas akan terbakar pasti akan mati terpanggang.


Namun jika loncat pun tidak menjamin ia akan selamat. Adit menimbang-nimbang mengambil langkah sesuai keyakinan hatinya. Walaupun keyakinannya salah dan tetap tidak selamat toh sudah berusaha.


"Bismillah... selamat kan Ya Allah."


Adit nekat loncat dari pintu kabin semangat hidup yang luar biasa hanya ingin bertaubat sebelum Tuhan memanggil nyawanya, dan bisa membahagiakan Mawar istrinya jika Allah memberi kesempatan pikirnya.


Adit terjatuh di pinggir laut menimpa batu cadas yang menjulang di tepi laut. Rasa sakit di bagian tubuh belakang sangat luar biasa.


Adit masih istighfar, dan merintih memanggil-manggil Mawar hujan begitu lebat saat itu. Adit di gulung ombak hanyut jauh dari tempat di mana pesawat meledak. Saat itu Adit sudah tidak sadarkan diri.


Flashback off


"Cepat kita cari bantuan Fir" titah pria itu kepada firman sang supir, setelah sampai di depan rumah sakit XX di Malaysia.


"Baik Tuan Azis" sahut Firman.


Ya, pria tampan dan baik hati itu bernama Azis dia adalah pria Indonesia yang mempunyai usaha restaurant di Malaysia.


Firman menemui petugas UGD agar membawa tandu. Tidak lama kemudian Firman kembali bersama petugas mengangkat tubuh adit yang sudah di dalam tandu membawanya masuk ke UGD.


Tuan Azis mengikuti langkah supir berjalan cepat.


Perawat pria segera membuka kaos Adit, celana jins yang basah dan sudah terkoyak, satu jari kelingking kakinya sudah buntung.


Dokter segera memeriksa tubuh Adit.


"Pasien masih dalam keadaan kritis, sepertinya tulang belakangnya patah Tuan, kami menunggu hasil rontgen." jawab dokter.


"Sungguh luar biasa pria ini masih bisa bertahan, sebab sepertinya sudah tiga hari yang lalu, mengelami kecelakaan." terang dokter.


"Lalu bagaiman keadaanya dok?" Azis tampak was-was.


"Kami harus menuggu pasien sadar Tuan jika sudah sadar kami akan melakukan operasi." kata dokter.


Setelah Adit di tangani, dan dirujuk di ruang ICU, Azis pulang dulu kerumah karena sudah rindu dengan Istri dan anaknya. Sebab sudah seminggu Azis meninggalkan keluarganya ke Indonesia


"Assalamu alaikum"


"Waalaikumusalam" tampak seorang Ibu berpakaian baju gamis syari, tampak anggun menyambutnya.


"Aisyah kemana Um?" tanya Azis kepada Istrinya.


"Ada di kamar" sahut Ummi.


"Abi kok terlambat sampai di rumah?" tanya Ummi, saat ini sedang di kamar membuka jas dan kemeja yang di kenakan suaminya.


"Ceritanya panjang Um, aku mandi dulu ya, nanti baru cerita." ucap Azis kemudian masuk kekamar mandi.


"Iya Bi" sahut Ummi kemudian menyiapkan makan malam.

__ADS_1


"Abi..." seru remaja berusia 18 tahun memeluk Abinya bergelayut manja dari belakang.


"Ya sayang, duduk gih, kita makan dulu" titah Azis saat mereka sudah berkumpul di meja makan.


"Abi nggak bawa oleh-oleh?" tanya Aisyah cemberut sambil meletakkan piring di depanya.


"Ada kok, masih di tas, nanti setelah makan baru di bongkar" sahut Azis sambil menyuap yang pertama.


"Kamu ini ya, Abi baru pulang kok yang di tanya bukan keselamatannya sih, malah oleh-olehnya." Ummi menimpali.


Aisyah nyengir.


Mereka makan bersama dengan diam, setelah makan Aisyah membongkar oleh-oleh.


Sementara Azis menceritakan bahwa dirinya menemukan pria yang sedang terluka parah, lalu membawanya kerumah sakit kepada istrinya.


Ummi hanya mengguk-angguk mendengarkan.


*****


Tiga hari Adit di rawat di rumah sakit, sedikit demi sedikit mengalami kemajuan. Adit merespon ucapan dokter, suster, dan juga Azis yang selalu bolak-balik bagi waktu. Antara keluarga di rumah, pekerjaan, dan juga rumah sakit.


Pagi hari Adit terjaga dari pingsanya, ia mengerjapkan mata, menatap sekeliling tampak buram.


Adit kembali terpejam setelah beberapa menit membukanya kembali. Adit bingung entah berada dimana saat ini, bola matanya berputar menelisik sekeliling.


Adit baru sadar, setelah melihat peralatan yang terpasang di seluruh tubuhnya.


"Anda sudah sadar?" tampak suster masuk kedalam ruangan bersama dokter.


Adit hanya menatap belum mampu menjawab.


Dokter memeriksa keadaan Adit kemudian suster melepaskan alat-alat.


Setelah memeriksa dokter hendak keluar ruangan.


"Dok" lirih Adit, dokter dan suster pun kembali.


"Sabar ya, kami akan segera memindahkan anda keruang rawat." ucap dokter.


"Saya mau pulang dok, saya mau bertemu istri saya" ucap Adit. Adit seketika ingat Mawar kemudian ingin bangun dari ranjang. Badanya terasa kaku dan sakit.


"Auw..." Adit kesakitan ketika ingin bangun. "Dok kenapa tubuh saya tidak bisa bergerak dok? kenapa dok?" Tangan ringkih Adit memegang lengan dokter pria tersebut.


Adit merasa tubuhnya lumpuh.


"Sabar Tuan, kami harap anda bersabar." dokter menenangkan.


*


Maaf gaes jika banyak kekurangan, mengetik sambil ngatuk 😌

__ADS_1


__ADS_2