Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Mulai Bangkit.


__ADS_3

PoV Mawar


"Bu, saya pesan basonya lima porsi ya" ucap salah satu pembeli.


"Siap Mbak." sahut Ibu dengan semangat.


"Duduk dulu Mbak" titah Ibu.


Aku menatap Ibuku melayani pelanggan dengan cekatan.


"Campur semua Mbak?" tanya Ibuku sambil menyusun 5 mangkok di atas gerobak.


"Ice campur nya lima juga pak" sambung pembeli itu.


"Baik Mbak" sahut Bapak, lalu meracik Ice buah, memasukkan Ice batu, buah-buahan kedalam plastik lalu menuangkan air sirup racikan Bapak sendiri.


Kemudian datang lagi anak-anak muda mudi 10 orang masuk, lalu duduk di kursi panjang berhadap-hadapan.


Jika di lihat, tampaknya dia sedang merayakan ulang tahun dan sedang traktir teman-temannya.


"Mau pesan apa Mbak, Mas?" Aku mendekati mereka sambil menyodorkan buku menu. Yakni, baso, mie ayam, Ice campur, Ice tea dan jus buah-buahan.


"Basonya 10 porsi kak, yang delapan pakai sayuran yang dua porsi basonya saja." kata salah satu dari mereka.


Mereka pun memesan minuman yang berbeda-beda.


Aku membantu Bapak dan Ibu melayani.


Inilah kesibukanku sekarang, sudah dua bulan ini aku membantu Ibu berjualan.


Flashback on.


Sudah satu bulan Mas Adit tidak ada kabar beritanya. Papa Johan pun menghentikan pencariannya.


Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang. Aku harus bangkit selama sebulan Bapak dan Ibu selalu menasehati agar aku bisa tabah.


Tidak hanya Ibu dan Bapak, orang-orang sekelilingku mendudung. Aku juga sudah memulai kuliah, mulai bekerja.


"Sudah sebulan Bapak sama Ibu di sini nak, Bapak sama Ibu mau pulang kampung saja," kata Bapak.


"Yah, Bapak... aku maunya Bapak sama Ibu nggak pulang, aku mau, Bapak tetap tinggal di sini." aku merengek.


Entah mengapa aku tidak bisa jauh dengan kedua orang tuaku saat ini, dengan ada Bapak dan Ibu pikiran buruk aku tentang Mas Adit sedikit berkurang.


"Bapak bingung di sini kelamaan nak, apa yang bisa bapak lakukan? kalau di rumah kan bapak bisa jualan dawet lagi." tutur bapak.


Aku merenung, memikirkan langkah apa yang harus aku ambil. Selama seminggu aku berpikir akhirnya mempunyai jalan keluar.


Aku jalan ke samping rumah melihat dua kavling ruko yang Mas Adit tinggalkan.


Tidak mungkin di komplek seperti ini aku buka butik dan bengkel seperti yang aku rencanakan dengan Mas Adit.


Pasti hasilnya kurang maksimal bengkel kan harusnya di pinggir jalan raya.

__ADS_1


Jika untuk butik, masih okay lah... aku bisa promosi melalui online. Tetapi dengan bengkel pasti lingkungan tidak mendukung di samping itu aku tidak tahu seluk beluk usaha bengkel.


"Kenapa Bapak nggak jualan di sini saja ya?" batinku. Aku akhirnya mendapatkan ide kemudian kembali kerumah.


"Bapak benar mau jualan?" tanyaku kami sedang menonton televisi saat ini.


"Ya jelas mau nak, kalau cuma sekedar makan Bapak sama Ibu percaya sama kamu. Bapak tidak akan kelaparan"


"Tetapi walaupun Bapak bukan usia produktif. Bapak juga ingin bekerja supaya ada kesibukan, tapi yang menghasilakn tentunya, kalau sibuk saja nggak mau, hehehe." Bapak terkekeh.


"Ngobrol apa sih ini, serius banget?" tanya Ibu yang baru dari dapur membawa teh dan cemilan.


"Begini Bu, Bapak kan katanya mau jualan, Bapak bukanya dulu pandai membuat baso?" tanyaku kepada Ibu.


Memang, waktu aku masih sekolah dulu, Bapak suka menjual baso kelilingi.


"Bisa, sampai sekarang juga masih jago, hehehe" Bapak menepuk dadanya terkekeh.


"Nah, bagaiman kalau Bapak sama Ibu jualan baso saja di sebelah." usulku.


"Wah... ide yang bagus. Bapak mau." Bapak bersemangat.


"Tapi kok Ibu kuarang setuju ya." Ibu seperti memikirkan sesuatu.


"Kenapa Bu?" aku menatap Ibu kurang bersemangat.


"Bagaimana nanti kalau mertuamu Marah sama Ibu?" Ibu menunduk sambil mengetuk-ketuk nampan yang masih dipangkunya.


Aku menyingkirkan nampan itu kemudian aku rebahkan kepalaku. Ibu mengusap-usap kepalaku semakin aku tidak mau jauh darinya.


"Jangan pikirkan masalah itu bu, Ruko itu kan ada 50 meter yang separoh untuk jualan Bapak sama Ibu, terus yang separohnya mertua, terserah mau jualan apa." Aku meyakinkan Ibu memang ini sudah aku pikirkan sebelumnya.


"Terus, yang 100 meter, aku sedang berpikir Bu, akan membuka usaha apa nantinya."


"Oh gitu ya nak." Ibu terlihat lega.


"Betul Bu, untuk jualan baso ukuran kios 25 meter sudah luas kok, nanti kan gerobak bisa di luar" sahutku.


Bapak dan Ibu bersemangat kemudian aku menemui mertuaku. Tentu mertuaku laki-laki yang bisa aku ajak musyawarah.


****


"Oh jadi Bapak di suruh jualan di ruko milik kamu nak?" tanya mertuaku beliu tersenyum sumringah.


"Punya Adit itu Mah! bukan punya Mawar!" ketus Ibu Reny.


"Ibu bisa diam tidak? Bapak dengan menantu kita itu sedang musyawarah!" Mertua laki-laki aku langsung melotot menatap Bu Reny.


Bu Reny pun diam.


"Kita lanjutkan nak, menurut kamu Bapak harus jualan apa?" tanya Pak Renggono.


"Kalau masalah itu saya terserah Bapak saja." sahutku.

__ADS_1


"Kalau jualan sayur bagaiman nak?"


"Bagus Pak, di komplek itu kan belum ada tukang sayur mangkal. Dari pada Bapak harus keliling kasihan kan Bapak sudah sepuh" sahutku.


"Kenapa nggak buka nasi rames saja." Ibu Reny memberi usul.


"Memang kamu mau masak? kalau sekiranya kamu mau masak, Bapak siap." Pak Renggono menoleh Ibu mertua di sampinnya.


"Ya cari orang lah Pak, masa Ibu sih! cari duwit itu kan tugas laki-kaki." tukas Bu Reny.


"Ngawur kamu! jualan itu jika baru pemula di lihat pasarnya dulu, laris atau tidak, kalau memang kira-kira laris bisa cukup untuk menggaji pegawai, baru kita ambil langkah itu." terang Pak Renggono memang benar ucapan mertuaku itu.


"Sekarang begini saja nak, Bapak mau jualan sayur. Bapak minta 10 meter saja, selebihnya buat kios baso, nanti kalau basonya ramai butuh tempat yang luas untuk para pelanggan." tutur Bapak memang benar adanya.


"Tapi apa Bapak nggak apa-apa kalau tempat jualan Ibu lebih luas?" tanyaku merasa tidak enak jika terjadi kecemburuan nantinya.


"Kamu ini bicara apa Maw, bapak nggak punya pikiran begitu. Kalau mau hitung hitungan aku kan sudah menempati rumah kamu ini." pungkas Bapak.


Setelah sepakat aku mencari tenaga proyek untuk menyekat ruko. Yang 35 m untuk berjualan Baso, dan 15 meter untuk mertua jualan, sayuran.


Mertua aku jualan sayur lebih dulu dari pada Bapak dan Ibu.


Ternyata sayuran mertuaku laris, asal jam 10 pagi sudah habis.


Setelah Bapak mulai jualan Baso semua bahan mentah pesan dengan mertua. Sayuran, bumbu, termasuk daging itung-itung menambah omset penjualan mertua aku.


Flashback off.


Author PoV.


Enam bulan kemudian, dagangan baso Ibu dan Bapak semakin laris. Saat ini ada tiga karyawan Laki-laki dan perempuan. Yang bagian mencuci piring dan bersih-bersih, bagian melayani pelanggan, dan juga bagian delivery sebab Mawar promosi secara online juga.


Kuliah Mawar, saat ini sudah menginjak semester tiga.


"Mel, temani kakak bisa nggak?" tanya Mawar setelah sarapan pagi.


"Kemana kak?" tanya Melati yang sudah siap berangkat kerja.


"Kakak mau mengurus perizinan usaha mini market."


"Kemana kak?" tanya Melati, memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.


"Kepasar." sahut Mawar sambil menoyor kepala adiknya.


"Ih, kakak! serius nih?" Melati cemberut.


"Ya ke kementerian perdagangan lah." sahut Mawar.


"Siap kakak"


Kedua kakak beradik itu berangkat menggunakan motor. Sebenarnya ada mobil peninggalan Adit. Namun Mawar menggunakan mobil itu jika pergi satu keluarga saja.


Mawar akan membuka mini market dia sudah resign dari pekerjaannya. Di komplek perumahan yang luas di tempat Mawar jika membuka mini market tentu akan menjanjikan. Walaupun perdagangan bahan pokok sudah menjamur di wilayahnya. Namun seiring bertambahnya penduduk usaha ini tetap laris dan lancar.

__ADS_1


...💪💪💪Semoga🤣🤣🤣....


__ADS_2