
Melati menatap Abim, pria yang dicintainya berkaca-kaca. Akhirnya jawaban yang di tunggu-tunggu selama tiga tahun, terucap dari bibir Abim. Walaupun jawabannya membuatnya kecewa. Namun, ia setidaknya tahu isi hati Abim yang sebenarnya, dan tidak akan lagi berharap. Ia menyadari bahwa cintanya selama tiga tahun ini bertepuk sebelah tangan.
"Mel, kamu jangan marah ya, kita akan tetap menjadi saudara kan? kakak akan selalu berdoa semoga kamu mendapat jodoh yang lebih baik, daripada saya."
"Seandainya saya menerima perjodohan ini, saya takut tidak bisa membahagiakan kamu, kamu wanita baik yang tidak pantas untuk disakiti." tutur Abim panjang lebar.
Tapi nyatanya saat ini pun, kakak sudah menyakiti aku kak.
"Saya tahu kak, saya hanya bisa berdoa, semoga kak Abim bahagia bersama Diah." ucapnya serak.
"Kak Abim, terimakasih untuk makan siangnya, saya permisi dulu." Melati beranjak menahan genangan air matanya.
"Mel" panggil Abim, cepat berdiri.
Melati berhenti, tetapi tidak menoleh.
"Saya antar pulang ya." Abim mendekat.
"Terimakasih kak, saya membawa motor sendiri." sahutnya. Melati lalu melanjutkan jalanya kali ini semakin cepat, tidak menoleh.
Abim menatap langkah Melati sendu. Sebenarnya tidak tega, sejak lama Abim ingin mengatakan ini. Tetapi rasa kasihan itulah yang membuatnya menunda.
Abim pun akhirnya pergi menemui Diah, rumahnya tidak jauh dari tempat itu.
"Assalamu alaikum."
"Waalaikumsalam"
"Eh nak Abim, masuk nak" Pak Renggono yang sedang beristirahat diteras rumah pulang dagang dari rumah Mawar.
"Diah ada Pak?" tanya Abim. Tanganya langsung menyalami calon mertua.
"Ada, masuk saja. Bapak panggilkan dulu." Pak Renggono masuk kedalam diikuti Abim.
"Duduk Bim"
"Baik Pak.
Abim segera duduk menunggu Diah, tak lama kemudian, Diah pun menemuinya.
"Hai kak" sapa Diah tanpa sungkan langsung duduk disamping Abim.
"Hai..."
"Kakak darimana? tumben, tadi pagi baru ketemu sudah kesini lagi?" tanya Diah keheranan.
"Nggak boleh memang?"
"Iihh... jelas boleh lah" Diah menyenderkan kepala dipundak Abim.
"Jangan begitu Diah, nggak enak dilihat Bapak sama Ibu." Abim menggeser kepala Diah.
__ADS_1
"Kakak ini alesan! Bapak sama Ibu lagi dikamar kok, kalau begitu kita keluar saja kak."
"Kemana?"
"Ke restoran saja kak, kita makan siang, lapar aku."
"Tapi barusan aku sudah makan siang direstoran." sesal Abim.
"Sama siapa?" Diah langsung memutar tubuhnya menghadap Abim.
"Sama Melati." jujur Abim.
"What! kak Abim pergi sama Mela?!" mata Diah melotot marah.
"Cek. Kamu ini, cemburu deh, kebiasaan memang, aku tadi sengaja menemui Mela, biar bagaimana kita harus terkesan baik."
"Tapi kan! Mela itu suka sama kakak, nanti justeru Mela mikir kakak suka sama Dia." tutur Mela posesif.
"Nggak, Mela orangnya tidak seperti itu. Aku tadi memang ingin bertemu dan membicarakan semuanya, Melati itu sudah aku anggap adik sendiri. Aku tidak ingin kita tiba-tiba menikah tidak memberi tahu dan bicara baik-baik kepadanya." Abim.
Diah lalu mengangguk mengerti maksud Abimanyu.
"Sekarang kita kerumah aku saja." Abim mengalihkan.
"Kerumah kakak?" tanya Diah menggeleng cepat.
"Aku takut sama Mama kak." nada bicara Diah mulai lemah, jika menyinggung soal calon mertua.
"Sampai kapan kamu mau seperti ini, Mama tuh orang baik, hanya bagaimana cara mengambil hatinya, kamu harus berusaha."
"Iya deh, ayo" Mereka pun pergi setelah pamit Bapak sama Ibu, menuju rumah Abim.
Tidak berselang lama Abim sampai dirumah.
"Eh Aden sudah sampai?" Bibi membuka pintu.
"Iya Bi, Mama mana?"
"Nyonya di kamar Den."
"Kamu tunggu disini dulu, aku panggil Mama ya" Abim minta Diah duduk.
"Iya"
"Bi tolong buatkan Diah minum ya"
"Baik Den"
Bibi membuat minum, lalu Abim segera menuju kamar Ibunya.
Sementara Diah menunggu di kursi. Ia memutar bola matanya ketika mendengar suara motor masuk garasi.
__ADS_1
Tak berselang lama, datanglah sang pemilik dengan langkah anggun masuk kedalam. Dia adalah Intan yang baru pulang dari rumah teman.
Intan terperangah berdiri di depan pintu. Melihat Diah yang sedang menatapnya. Keduanya saling diam. Intan kemudian melewati Diah tanpa sepatah kata pun. Menapaki anak tangga masuk kekamar.
Sampai kamar Intan melempar tas slempang kekasur kemudian menjatuhkan tubuhnya dengan kasar.
Intan ambil handphone melihat fhoto dirinya dengan Melati. Air matanya menetes.
Impiannya mempunyai kakak ipar seperti Melati baik luar dalam kini telah kandas. Walaupun sebenarnya tanpa Melati menikah dengan kakaknya pun mereka akan tetap bersahabat. Tetapi Intan kecewa kenapa Abim justeru memilih wanita arogan seperti Diah?
Inikah yang dinamakan takdir. Intan terisak sendiri didalam kamar. Hari-hari sebelumnya ingin bertemu Diah saja rasanya malas. Tetapi, kini dia harus menerima kenyataan bahwa hari-harinya akan selalu bersama Diah.
Intan kemudian beranjak ambil air wudhu menjalankan shalat ashar dengan kusyu. Tangganya menengadah memohon agar Diah bisa berubah lebih baik setelah menikah dengan kakaknya. Hanya itu harapanya.
******
Sementara Melati sampai di depan Rose shop. Langkah kakinya lebih cepat ingin segera bertemu kakaknya, dan berbagi cerita kepadanya. Mungkin akan mengurangi sesak di dada.
"Mel, kamu kenapa?" Mawar yang sedang bekerja di depan komputer langsung dipeluk Melati dari belakang sambil menangis. Ia terkejut.
"Kak Mawar... kak Abim jahat... kak Abim tegaaa..." tangis Melati semakin kencang.
"Sudah Mel, kamu yang sabar," Mawar ikut menitikan air mata. Mawar sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Abim kepada adiknya.
"Kenapa nasip kita begini kak... kenapa kita dipermainkan oleh pria, kenapa kak... hiks hiks."
"Seeettt... Mel, istighfar. Kamu nggak boleh bicara begitu." Mawar balik badan merangkul adiknya dalam dekapan.
"Sekarang kita kerumah kakak, kamu ceritakan semua, nggak enak kalau kita bicara disini banyak orang yang melihat." Mawar mengurai pelukanya kemudian mengajak Adiknya pulang.
Mereka berjalan pulang yang hanya sepuluh langkah dari Rose shop. "Mbok Paijem" Mawar kedapur setelah meletakkan tas di kamar, sambil melihat Bhanu yang sedang tidur pulas.
"Saya Non"
"Tolong buatkan minuman, terus dibawa kedepan ya, Mbok."
"Baik Non" Simbok segera membuat minum.
"Sudah... kamu ceritakan semua siapa tahu bisa meringankan beban pikiran kamu," Mawar mengajak adiknya duduk.
Sambil menagis terisak-isak Melati menceritakan apa yang dibicarakan Abim.
"Oh jadi Abim mau menikahi Diah?" Mawar mengusap punggung adinya.
"Iya kak" lirih Melati.
"Mendingan kamu istirahat saja, nggak usah kembali ke Rose shop." pungkas Mawar.
"Aku mau pulang saja kak, istirahat dirumah"
"Kamu yakin Mel?" Mawar tidak tega membiarkan adiknya dirumah sendiri dalam keadaan sedih.
__ADS_1
"Yakin kak"
Melati pun pulang kerumah. Menyendiri mungkin akan lebih baik. Tidak bedanya yang dilakukan Intan Melati segera ke kamar mandi. Ambil wudhu lalu shalat ashar.