
Papa Johan menjalankan mobil menuju rumahnya. Sepanjang jalan beliau menangis, kini di masa tuanya yang seharusnya sedang berbahagia menimang cucu. Namun, hanya kenyataan pahit yang beliau rasakan saat ini, dan memetik buah yang beliau tanam karena ulahnya sendiri.
"Sudah pulang Pa, bagaiama keadaan anak kita?" tanya Mama Latania keluar dari dapur melihat suaminya sedang duduk lesu bersandar di kursi sofa sambil memijit pelipisnya.
"Masih sama Ma, belum ada kemajuan" lirih Papa Johan.
Mama ikut duduk di samping Papa, menghela nafas panjang. "Tidak ada yang bisa kita lakukan Pa selain hanya berdo,a" kata Mama putus asa.
"Sudah makan siang belum? makan yuk" Mama Latania menggenggam tangan suaminya, merasa kasihan melihat suaminya yang sudah rapuh. Mama Latania merasa bersalah sehusnya tidak terlalu menyalahkannya.
"Tidak lapar Ma, Mama saja yang makan" titah Papa, menunduk sambil manjambak rambunya sendiri.
"Jangan begitu, nanti Papa malah sakit loh" Mama Latania membujuknya, Papa Johan pun menurut mengikuti istrinya kemeja makan.
*******
Jam dua siang Mawar, dan keluarganya sudah sampai di kediaman Mama Sahina.
"Tok tok tok"
Ceklek
"Mawar, kamu sudah sampai nak?" tanya Mama Sahina, beliau sendiri yang membuka pintu.
"Iya Bu" sahut Mawar lalu menyalami Mama Sahina. Mawar masuk kedalam terlebih dahulu, menuju dapur meletakkan buah, sebagai buah tangan. Mawar kemudian kembali lagi kedepan. Sedangkan Melati masih memarkirkan kendaraan.
"Mana Ibumu?" Mama Sahina sudah tidak sabar, ingin bertemu sahabatnya.
"Aku sudah sampai..." Ibu Riska tersenyum sumringah merentangkan kedua tanganya ingin memeluk sahabatnya itu.
"Alhamdulillah Riska...akhirnya kita bisa bertemu setelah sekian lama." Mama Sahina memeluk tubuh Bu Riska dengan erat.
"Bagaima kabarmu?" Mama Sahina mengurai pelukanya, menatap lekat sahabatnya.
"Beginilah Na, aku sudah tua, tidak bisa merawat diri seperti kamu" Bu Riska merendah padahal walaupun tanpa polesan, Ibu Riska masih cantik di usia 45 tahun.
"Kenalkan, ini suamiku, terùs ini Melati adik Mawar" Ibu memperkenalkan Pak Sutisna, dan Melati.
__ADS_1
"Sahina..." Mama Sahina bersalaman dengan Pak Sutisna. "Saya Sutisna" ucap Bapak.
Melati pun turut memperkenalkan diri kemudian mencium punggung tangan Mama Sahina.
"Oh, kamu adiknya Mawar? cantik banget, mirip sama Mawar" Mama Sahina menelisik wajah Melati. "Terimakasih tante" sahut Melati.
"Mari-mari, silahkan duduk" Mama Sahina menuntun Ibu Riska mengajaknya duduk karena mereka tadi masih ngobrol di depan pintu. Pak Sutisna, Mawar dan melati mengikuti.
"Kalian mau minum apa?" tanya Mama Sahina. Menatap tamunya satu persatu.
"Apa saja, nggak usah repot Na, aku sudah minum kok" sahut Ibu Riska. Mama Sahina kemudian kebelakang menemui Bibi agar membuat minum tidak lama kemudian kembali lagi.
"Intan belum pulang kuliah ya Bu?" tanya Mawar, sebab dari tadi Mawar tidak melihat Intan.
"Belum nak, mungkin sebentar lagi" sahut Mama Sahina kemudian kembali duduk.
"Suamimu belum pulang Na?" tanya Ibu Riska, penasaran ingin berkenalan juga dengan suami sahabatnya itu.
"Belum Ris, baru jam dua, biasanya jam empat baru sampai."
"Mas ini aslinya darimana? kok dulu saya tidak pernah melihat?" tanya Mama Sahina kepada Pak Sutisna.
"Ciamis? kok bisa Ris, kamu nikah sama orang jauh?" Mama Sahina menatap sahabatnya heran. Sebab, Bu Riska dulu paling sulit di dekati laki-laki, padahal teman sekolahnya sendiri.
"Ceritanya panjang Na, aku kan dulu pernah bekerja di pabrik, bagian produksi. Eh, suamiku ini bagian mengepak barang produk. Orangnya kalem, pendiam, banyak teman aku suka sama dia. Eh, ternyata dia milih aku" ucap Bu Riska terkekeh bangga.
Pak Sustinya pun tersipu malu, mendengar ocehan istrinya. Obrolan terus berlanjut sambil menikmati hidangan yang di suguhkan.
"Assalamu alaikum" Intan datang dengan tas kuliah di punggunya. Semua pun menoleh.
"Kak Mawar..." panggil Intan yang baru masuk. "Sekarang kita jarang bertemu ya? muach...muach" Intan mencium Mawar kemudian beralih menatap Melati, keduanya saling tatap.
"Kamu"
"Kamu"
Melati dan Intan saling tunjuk. "Kalian saling kenal?" tanya Mawar.
__ADS_1
"Iya, kita dulu kan pernah menjadi suporter basket sekolah masing-masing terus kita kenalan" sahut Melati, ingat dulu ketika sedang support sekolah masing-masing bukan menjadi musuh justeru menjadi teman.
"Kenalkan ini Ibu aku" ucap Mawar kepada Intan. Intanpun memperkenalkan diri.
"Kak, kita kekamar aku yuk, sudah lama loh kita nggak ngobrol" Intan menarik tangan Mawar. "Sama kamu juga Mel" ucap Intan, mereka pun akhirnya kekamar.
"Ris, kita jodohkan Intan sama Abim anakku ya" kata Mama bersemangat.
"Seperti jaman Siti Nurbaya saja, Na, pakai jodoh-jodoh han" sahut Ibu Riska mana mungkin anaknya bisa menikah dengan anak sabatnya yang berkelas itu.
"Aku serius Ris" ucap Mama Sahina tidak ada kebohongan. "Saat ini Abim memang sudah punya pacar Ris, tapi kalau sampai jadi sama anak yang tidak punya tata krama itu, mau jadi apa anak cucuku nanti" tutur Sahina. Sahina tidak akan rela jika anak laki-laki nya menikah dengan Diah.
Bu Riska hanya diam tidak ingin tahu, siapa wanita yang menjadi kekasih Abim. Karena tidak punya hak untuk ikut campur.
"Aku sih setuju saja, tapi apa anakmu mau?" Ibu Riska ragu, khawatir jika Abim tidak mau menikah dengan Melati.
"Nanti aku yang atur" kata Mama Sahina mantap. Waktu sudah sore Pak Sutisna pamit pulang.
"Tante maaf, apa kira-kira di konveksi masih ada lowongan pekerjaan? saya mau bekerja Tante?" tanya Melati.
"Kalau konveksi saya tidak tahu, tapi kalau di butik saya butuh bagian kasir, apa kamu mau?" Mama Sahina balik bertanya.
"Mau Tante" Melati bersemangat.
"Ya sudah, besok langsung masuk saja temui saya di butik, ini alamatnya." pungkas Mama Sahina kemudian menyerahkan alamat lengkap.
Mawar mengendarai mobilnya. Mobil berjalan merayap. Sebab, waktunya pulang kerja. Sampai di rumah, semua sudah masuk kedalam. Tinggal Mawar memasukkan mobilnya kedalam garasi.
Mawar pun masuk rumah melihat suaminya sedang duduk di depan televisi. Mawar hanya melewati, tidak menyapa, tidak mencium tangan seperti biasa langsung naik tangga.
Deg.
Adit terkejut bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan istrinya? padahal waktu berangkat tadi baik-baik saja. Adit pun mengejar.
Mawar di dalam kamar membuka kerudung dan mengganti bajunya dengan kaos yang nyaman untuk memasak.
"Kenapa?" Adit sudah masuk kemudian memeluk tubuh istrinya dari belakang.
__ADS_1
Mawar menyingkirkan tangan suaminya. Kemudian melangkah ingin keluar. "Maw" panggil Adit. Mawar menghentikan langkahnya. Namun tidak menoleh. "Ada apa? kalau ada masalah di bicarakan." ucap Adit, lalu berputar kedepan menghadap Mawar dan memegangi pundak istrinya.
"Aku capek Mas!" lagi-lagi Mawar menyinkirkan tangan Adit, lalu menuruni anak tangga menuju dapur. Meninggalkan Adit yang masih terpaku di tempat.