Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Kaldu Daging.


__ADS_3

Diah keluar dari rumah membeli nasi bungkus di Warteg yang tidak jauh dari rumah itu.


"Bang, nasi rames dua bungkus" ucapnya sambil manaikan satu kakinya keatas kursi panjang. Sikunya tertumpu di lutut, telapak tangannya menopang dagu dengan jari telunjuk yang ia ketuk-ketukkan di pipinya. Pengunjung warteg yang dominan laki-laki pun sontak menatapnya kesal.


"Bentar Mbak, antri ya" ujar pelayan warteg.


"Nggak pakai lama!" bentaknya, bergaya seperti boss.


"Apa lihat-lihat! baru lihat cewek cantik ya?! ketus Diah menatap pria itu satu persatu.


"Cantik dari mana? nggak ada sopan santun begitu!" ketus salah satu pria melirik sebal kaki yang nangkring di sebelahnya mana kukunya di kutek hitam membuat nafsu makan pria itu menguap.


Pria itu cepat menyalakan korek kemudian menyulut rokok.


"Lauknya apa ini Mbak?" pelayan warteg menghentikan perdebatan mereka.


"Balado terong sama tempe, tambah kuah dagingnya ya, buat kaldu" cerocos Diah membuat laki-laki tadi menoleh cepat.


"Huh! makan pakai terong saja belagu" ketus laki-laki yang sedang asyik dengan rokoknya kemudian mengepulkan asap rokok ke wajah Diah. "Brengsek loe!" Diah beram ingin menendang laki-laki itu. Namun dengan sigap laki-laki itu menangkap kaki Diah lalu memelintir.


"Aaaakkk..." Diah berteriak, tetapi pengunjung warteg yang lain tetap santai menyantap makanan tidak ada yang melerai.


"Hais! kalau kalian mau ribut di lapangan sana! jangan di warung saya!" omel pemilik warteg. Laki-laki itupun hanya diam kemudian menghempaskan kaki Diah hingga terhuyung.


"Ini Mbak" tukang Warteg menyodorkan kantong plastik agar Diah cepat keluar dari warungnya.


"Jadi berapa?" tanya Diah sambil membuka dompet.


"Dua puluh ribu" jawab pelayan warteg.


"Huh" makan pakai terong saja kok 20 ribu! mahal amat sih?! tukas Diah menyambar kantong plastik putih di atas etalase kemudian melenggang pergi. Pemilik warteg hanya menggeleng menatap kepergian Diah.


*****


Malam berganti pagi, dengan semangat Mawar bergijabu dengan penggorengan. Kali ini Mawar memasak dendeng daging, orek tempe, dan urap sayuran ingin membawa buah tangan untuk Ibu mertua.


"Sayurnya sudah empuk ini kak" kata Melati memijit kacang panjang yang ia kukus.


"Separuh disusun di rantang Mel, terus separuhnya di simpan di meja makan" titah Mawar.


"Sambal urapnya di pisah saja ya, khawatir cepat basi" Mawar menambahkan.


"Siap kakak" ucap Melati, kemudian menyusun empat rantang, yang paling bawah nasi, dendeng, orek tempe, dan yang terakhir sayur.

__ADS_1


Setelah rapi mereka mandi lalu sarapan bersama.


"Jadi kerumah Ibu Maw?" tanya Adit ketika di meja makan. Adit dari tadi malam gelisah memikirkan jika Ibunya sampai berbuat ulah di depan mertuanya. Saat ini mertuanya sedang tidak respek kepadanya, jika sampai Ibunya macam-macam Adit khawatir mertuanya semakin tidak menyukainya.


"Jadi Mas, habis sarapan kami berangkat ya" ucap Mawar sambil meletakan minuman di depan Adit.


"Iya, tapi pulanganya jangan kemalaman ya" pesan Adit.


"Tenang saja Mas, biasanya juga aku tiap hari pergi, dan tahu kapan harus pulang kan?" Mawar merasa Adit dari tadi pesan ini, itu, padahal biasanya setiap mau kerja, maupun ke kampus tidak terlalu khawatir.


"Kamu masak jam berapa Maw?" Ibu Riska tiba-tiba berdiri di susul Pak Sutisna, dan juga Melati. Melihat masakan yang tertata di meja makan Ibu pikir semua sulit jika di masak dalam waktu singkat.


"Jam empat Bu" sahut Mawar, sambil menarik kursi untuk kedua orang tuanya. Mawar memang bangun jam empat pagi, yang pertama ia lakukan adalah merebus daging dulu agar cepat empuk.


"Tiap hari kamu bangun jam segitu Maw?" Bapak menimpali, lalu melirik Adit kesal. Betapa tidak? anaknya rela bangun pagi sekali demi melayani menantunya itu, tetapi dengan seenaknya Adit mengkhianati. Adit tidak menyadari jika sang mertua sedang meliriknya tajam, tetap asyik dengan sarapannya.


"Ya nggak tiap hari juga Pak, kalau hanya berdua sama Mas Adit habis subuh tidur lagi kok" hehehe. Mawar terkekeh.


Mereka pun sarapan, setelah selesai bersiap-siap. Adit mengeluarkan mobil dari garasi lalu memanaskan agar memudahkan Mawar.


"Hati-hati ya sayang... pelan-pelan saja nyetirnya" pesan Adit ketika Mawar sudah memegang setir.


"Iya Mas" sahut Mawar, kemudian Adit mencium pipi istrinya. Lalu Mawar mencium tangan suaminya.


"Yang ini nggak?" tanya Adit memegangi bibirnya, kemudian mendekatkan ke wajah Mawar hanya beberapa senti tersenyum genit.


"Ehemm... Melati yang duduk di sebelah kakaknya berdehem merasa kesucian matanya ternodai. Adit menatap Melati cuek, ia segera menutup pintu mobil. Mawar seketika menoleh Melati nyengir, lupa jika dia sedang bertiga.


Bapak dan Ibu pun masuk, kemudian duduk di tengah. Mawar melaju dengan kecepatan sedang setengah jam kemudian sampai di rumah mertuanya. Sebab, tadi mampir ke mini market dulu.


"Teng tong, teng tong" Melati memencet bel.


Sambil memunggu pintu di buka, Pak Sutisna, dan Bu Riska pandangan mengitari sekitar halaman. Sebenarnya banyak tanaman hias. Namun tidak di rawat sebagian hampir mengering.


Melati kembali memencet bel hingga yang ketiga kali. Namun belum juga di buka.


"Belum di buka ya Mel?" tanya Mawar setelah memarkirkan mobilnya kemudian ia menyusul.


"Belum kak, pergi kali ya" sahut Melati. Mawar hanya menggeleng.


Sementara di dalam kamar kedua penghuni rumah itu masih mendengkur.


"Bu... ada tamu tuh" ucap Diah sambil menutup telinganya dengan bantal.

__ADS_1


"Ibu masih ngantuk, kamu saja yang buka" ujar Bu Reny justeru menarik selimut.


Namun, bel terus berbunyi, membuat Ibu Reny kesal terpaksa bangun. "Siapa sih bertamu pagi-pagi? ganggu orang saja!" gerutunya kemudian kebawah menuju pintu padahal sudah jam sembilan mungkin Bu Reny kira masih jam 5.


"Ceklek"


Pintu di buka Ibu Reny melongok siapa yang datang.


"Oh besan to? kok bertamu pagi-pagi" ucapnya.


Delapan pasang mata menatap Bu Reny menyeringai. Pasalnya,


mata Bu Reny memerah kas bangun tidur, bekas aliran sungai mengering di ujung bibir panjang hingga ke pipinya. Endapan sagu tapioka, masih bertengger di ujung kedua mata Bu Reny.


Belum apa-apa Melati sudah berguncang cekikikan bersembunyi di belakang Ibu Riska.


"Masuk" ucap Bu Reny, merasa di tertawakan Melati, ia mlengos kesal kemudian masuk kedalam.


Pak Sutisna berjalan paling depan di ikuti istri dan kedua anaknya.


"Duduk saja Pak, Bu" kata Mawar kepada kedua orang tuanya. Setelah Pak Sutisna dan Ibu Riska duduk, Mawar kemudian membereskan kertas nasi yang berserakan di atas meja, dan membersihkan kulit kacang di depan televisi. Setelah membuang ketempat sampah, Mawar masuk kedapur membawa rantang, dan kantong plastik.


Tampak Ibu Reny sedang mencuci muka di wastavel.


"Bu, saya mau membuat minum ya?" kata Mawar sambil menyalakan kompor setelah meletakan panci hendak merebus air.


"Mau bikin minum apa? saya nggak punya apa-apa!" tukas Ibu Reny.


"Tenang Bu, saya membawa sendiri kok" sahut Mawar kemudian mengeluarkan teh, kopi, gula, dan cemilan dari kantong Indomaret yang ia beli ketika di jalan tadi.


"Sekalian Ibu di buatkan ya" ucapnya tidak tahu malu, lalu melirik rantang sambil menelan ludah membayangkan isi dalam rantang tersebut.


"Iya Bu" sahut Mawar.


"Bawa apa kumu, di dalam rantang itu?" tanya Ibu Reny menyelidik.


"Oh itu, dendeng daging, kesukaan Ibu" jawab Mawar.


"Ibu mau sarapan sekarang?" tanya Mawar sambil membuka rantang.


"Oh, sekarang saya nggak makan daging, kolesterol soalnya." sahutnya munafik, padahal air liurnya sudah bercucuran ingin segera mencicipi dendeng kesukaannya.


"Oh ya sudah, kalau gitu" sahut Mawar menutup rantang kembali lalu menyeduh teh.

__ADS_1


****


"Tertawa dulu gaes sebelum menangis lagi 🤣🤣🤣.


__ADS_2