
Dengan rasa campur aduk Mawar sampai di rumah. Ia menangis telungkup di tempat tidur.
.
"Sesungguhnya Allah telah menetapkan cemburu kepada para wanita, dan menetapkan jihad kepada para laki-laki, barang siapa di antara para wanita itu bersabar karena iman, dan penuh pengharapan, maka baginya sama dengan orang yang mati sahid. ( Hadist ini didha' ifkan oleh Albani dalam Dha' iful jami' as shogri 1626)
.
"Ah aku harus semangat" gumam Mawar kemudian bangun dari tidur menghapus air matanya lalu membuka handphone. Mawar mencari iklan kontrakan.
"Ah kontrakan mahal juga, 15 juta pertahun, kalau ambil BTN dp ada yang 30 juta, cicilan dua juta. Walupun lokasinya kurang strategis paling tidak, nanti bisa jadi hak milik. Lebih baik nanti aku bicarakan dengan Mas Adit, aku check saja nanti berapa isi kartu atm ini siapa tahu kalau di gabungin punya aku pasti cukup" monolog Mawar dalam hati, sambil menelisik kartu atm yang di berikan Adit tempo hari.
*****
Dirumah sakit, Mama Latania sudah datang dan ingin menggantikan Adit menunggu Silfia.
"Sudah sarapan belum?" tanya Mama Latania kepada Silfi.
"Sudah Ma, tadi disuapi Adit" sahut Sifi senang.
"Sudah saya seka juga kok Ma" Adit menimpali.
"Kamu sendiri sudah sarapan belum Dit? Mama nggak kepikiran membawa bekal buat kamu" sesal Mama Latania.
"Belum sih Ma, nggak apa apa kok, saya nanti sarapan di bawah saja" sahut Adit.
"Aku berangkat dulu ya, jangan banyak pikiran, Sil" pesan Adit.
"Iya Dit hati-hati ya" sahut Silfi kemudian mecium punggung tangan suaminya. Lalu Adit mengecup kening istrnya.
"Adit berangkat Ma" pamit Adit kepada Mama.
"Ya Dit, hati-hati, terimakasih ya" ucap Mama.
"Terimakasih untuk apa Ma?" tanya Adit bingung. Mama Latania kemudian menarik tangan Adit lalu membawanya keluar dari ruang inap.
"Mama merasa bersalah kepada istri kamu Dit, Mama ini juga wanita. Tetapi, sebagai orang tua saya juga ingin anak saya merasakan sedikit senang di hari terakhir hidupnya." Mama Latania tidak bisa menahan tangis.
"Kapan Mama bisa bertemu istrimu Dit, Mama ingin minta maaf kepadaya" Mama Latania masih terus terisak.
"Nanti saya akan bicarakan kepadanya Ma, andai Mama tahu, Mawar itu wanita terbaik milik Adit Ma"
__ADS_1
Adit pun menitikan air mata. "Adit itu laki-laki yang tidak berguna Ma. Adit bisa begini karena Mawar"
"Adit hanya bisa menyakitinya Ma, andai Mama tahu, Mawar mengorbankan masa mudanya untuk laki-laki yang tidak berguna seperti saya."
"Mawar dengan gigihnya mencari uang untuk membiayai kuliah saya" "Tapi apa balasan saya Ma, saya sudah menyakiti Ma." Adit pun menangis tersedu seperti anak kecil yang minta balon tapi tidak di beri.
"Maafkan Mama Adit" Mama memeluk Adit. Keduanya larut dalam kesedihan.
"Sekarang apa yang bisa Mama lakukan Adit, apa yang dia mau, Mama akan berikan Dit" kata Mama serak.
"Tidak ada Ma, dia hanya ingin diriku kembali seperti dulu, dia tidak ingin apa pun."
"Andai Mama tahu, Mawar tidak mau tinggal di rumah yang Mama berikan"
"Dia ingin saya mengontrak rumah walaupun sepetak tidak masalah baginya"
"Saya paham kok Ma. Mawar hanya ingin tenang, tidak merepotkan orang lain." pungkas Adit, kemudian melangkah pergi.
Mama menatap kepergian Adit ada kebimbangan. Di satu sisi dia sebagai wanita tidak ingin menyakiti hati sesama. Namun, disisi yang lain Mama Latania tidak ingin kehilangan anaknya.
Aditya bergegas kebawah. Di lobby berpapasan dengan security yang tadi Mawar beri sarapan.
"Pak Adit suami Nona Silfi kan?" tanya security.
"Tadi ada wanita cantik datang kemari, katanya mau gantian menjaga Non Silfi. Eh, nggak taunya pulang lagi." tutur security.
"Wanita cantik?" Adit mengerutkan dahi. "Ciri-cirinya seperti apa Pak?" tanya Adit deg degan.
"Orangnya putih bersih, pakai hijap, hidungnya mancung, tingginya kira-kira 160 centimeter." terang security.
"Tadi dia juga memberikan ini untuk saya, saya perhatikan matanya sembab habis nenangis" security mengangkat teromol.
"Mawar? gumam Adit, tidak menimlali security, kemudian berlari menuju parkiran. Adit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di perjalanan ia berpikir pasti Mawar melihat dirinya ketika memandikan Silfi tadi.
"Sampai di halaman rumah. Adit memarkirkan mobilnya diluar garasi sebab, dia akan berangkat kekantor setelah menemui Mawar dan minta maaf"
"Mbok, Mawar mana?" tanya Adit kepada Simbok.
"Barusan pergi Tuan" sahut Simbok.
"Kemana Mbok? sudah sarapan belum dia?" tanya Adit khawatir.
__ADS_1
"Belum, sudah saya bujuk suruh sarapan katanya nggak lapar Tuan, malah nangis terus dia" tutur Simbok.
Adit menduduki kursi dengan kasar, kemudian mengubungi Mawar, tetapi handphone Mawar tidak aktif. Berkali-kali menghubungi namun tidak ada tanda-tanda handphone aktif. Adit mendadak gusar. Meremas rambutnya. "Kemana kamu Mawar? gumamnya. Kemudian pergi menyusuri jalanan. Siapa tahu menemukan istrinya.
*****
Di rumah Mama Sahina, Mawar sudah sejak pagi disini, membantu memasak Ibu Sahina bersama Intan. Mereka memasak sambil bercerita panjang lebar. Ibu Sahina bertanya ini itu, ingin tahu lebih jauh siapa Mawar yang akan di rekrut menjadi perancang di butiknya.
"Oh, ya Allah...jadi kamu tuh anaknya Riska?" tanya Mama Sahina terkejut.
"Iya Bu, Ibu kenal Ibu saya?" tanya Mawar.
"Kenal nak, Riska itu teman SMP saya, tapi setelah SMA saya melanjutkan sekolah di Jakarta"
" Namun, setelah itu, Ibu nggak pernah ketemu lagi" tutur Mama Sahina.
"Iya Bu, Ibu saya sekolah hanya sampai SMP tidak di lanjutkan. Sebab, kata Ibu tidak ada biaya." terang Mawar.
Mama Sahina hanya manggut-manggut.
"Boleh, Mama minta Nomor telepon Ibumu nak"
"Ibu saya, tidak punya handphone Bu" hehehe.
"Tapi nomor Melati ada kok Bu, nanti Ibu bisa menghubungi dia" Mawar kemudian memberi nomor handphone Melati kepada Ibu Sahina.
"Terus... kalau mertuamu siapa namanya?" tanya Mama Sahina.
"Mertua saya Reny, sedangkan Bapak mertua Renggono. "Ibu kenal juga?"
"Oh kalau nama itu kok asing di telinga Ibu ya" Mama berpikir mencoba mengingat tapi tidak ingat juga.
"Terus, ini di apain Ma?" tanya Intan ia sedang memotong-motong sayuran.
"Sini Tan masukan kepenggorengan, tumis bumbunya, sudah harum nih" Mawar yang menyahut.
"Belajar masak kamu sama kak Mawar Tan, biar pinter, nanti kalau punya suami sudah siap" titah Mama.
"Iya Ma"
Tidak terasa sambil bercerita, masakan untuk makan siang pun sudah matang.
__ADS_1
Deru mobil di halaman seperti biasa, jika Mama Sahina di rumah. Papa Wahit pasti akan menyempatkan diri untuk pulang makan siang.
Mobil Abimanyu pun menyusul, di belakan mobil Papa. Abimanyu sudah biasa makan siang di rumah jika tidak ada rapat keluar kota.