
Di hari anniverersary mereka. Adit telah menumpahkan segala rasa kasih sayang yang kuat dan berjanji akan memperbaiki semuanya.
"Tapi Mas Adit janji ya, jangan pernah berbuat kesalahan lagi" tegas Mawar. "Apa lagi sampai aku mendengar Mas Adit ada perempuan lain! nggak mau pikir-pikir lagi aku akan langsung ambil gunting aku potong anumu!"
"Krek" tangan Mawar memperagakan seperti menggunting sesuatu dengan mimik menyeramkan.
Riko yang sedang menyetir senyum-senyum sendiri.
Adit menatap wajah Mawar, ada gurat trauma yang mendalam,
dimata istrinya itu. Atas kesalahan yang Adit buat ia merasa menyesal di dalam hatinya.
Keputusannya untuk menikah lagi. Ada banyak hati yang terluka, belum lagi karma yang Allah berikan kepadanya. Kecelakaan yang menimpa dirinya bukan suatu kebetulan, mungkin ini adalah salah satu teguran dan cara Allah untuk mengurangi dosanya.
Adit mengangkat dagu Istrinya. "Tatap mata aku Mawar, aku sudah salah karena membohongi kamu saat itu. Tapi kamu harus tahu, di hati aku, tidak pernah ada ketenangan, selalu dihantui perasaan bersalah."
Mawar menatap iris mata suaminya ada kejujuran disana.
Adit menurunkan tanganya, menarik nafas berat. "Saat aku ambil keputusan menikahi Silfi tidak pernah ada rasa tenang setiap langkah kakiku, rasa bersalah aku kepadamu begitu dalam, karena rasa cinta aku terlalu dalam, aku selalu kebingungan, ingin jujur kepadamu tapi aku takut kehilangan."
"Kadang aku berniat mengakhiri semua, meninggalkan Silfi dan kembali kekampung, hanya ada kita berdua. Tetapi, ternyata tidak semudah itu." Adit menerawang jauh mengingat saat itu hatinya selalu tidak tenang.
"Eh, nggak boleh berbicara begitu, kita nggak boleh loh, membicarakan orang yang telah mendahului kita."
"Semua kita jadikan pelajaran, agar kita bisa menata hidup kita agar lebih baik untuk kedepannya."
"Mbak Silfi sudah tenang disana, kita doakan yang baik-baik saja, Mbak Silfi orang baik, dia adalah korban dari keegoisan Mas." pungkas Mawar.
"Sudah sore, kita pulang yuk" Mawar kemudian berdiri menarik tangan suaminya.
"Baik Tuan putri."
Mereka melangkah meninggalkan pantai kemudian Adit menghubungi Riko agar menjemputnya.
Sampai parkiran motor. Mawar merogoh kunci dari tas kecilnya.
"Eh, mau ngapain?" Adit mencekal tangan Mawar ketika akan naik ke atas motor.
"Ya mau pulang lah" sahut Mawar cepat.
"Mau naik motor sendirian gitu?" Adit mengerutkan dahi, menekan pundak Mawar dengan siku.
"Ya iyalah... Mas pulang sama Riko biar aku pulang sendiri." Mawar hendak starter motornya. Namun, tangan Adit menahan.
"Nggak boleh! kita pulang bareng saja, nanti motornya biar di ambil Riko."
__ADS_1
"Tapi"
"Turun, nggak usah tapi-tapian." sergah Adit. Mawar mengalah kemudian turun dari motor bergegas naik kedalam mobil sudah ada Riko di depan.
"Kita kerumah Ibu dulu Dit" ucap Adit setelah di dalam mobil. Mereka duduk di jok tengah.
"Mau kerumah Ibu ya, kita beli lauk dulu untuk makan malam" Mawar memberi usul.
"Membeli lauk dimana?" tanya Adit menoleh kearah Mawar.
"Kita beli gudeg komplet ya, Ibu pasti senang." ucap Mawar bersemangat ingin memberikan buah tangan kepada mertuanya.
"Gudeg? mana ada penjual gudeg yang berada di dekat sini?" Adit kemudian membuka handphone ingin pesan online.
"Di restoran DUKRENGTENG saja, Mas." sahut Mawar enteng.
Adit terperangah. "Yang benar saja Maw, dari sini kesana itu 30 menit loh, berarti pp satu jam." Adit menghitung waktu.
"Terus, kenapa gitu? baru juga ketemu sama istrinya, masa di ajak kesana saja nggak mau?! Mawar kesal melempar pandangannya ke jalanan.
Riko yang sedang menatap bossnya dari kaca spion menyimak sambil menatap lurus ke depan.
"Iya, iya.Tuan putri... gitu saja marah" Adit mengalah menoel-noel leher istrinya di balik kerudung.
"Ih geli ah!" Mawar mengerak-gerakkan pundaknya.
"Baik boss"
Riko putar balik kemudian ke Tangrang. "Pasti kamu mau ketemu Om Daniel kan? ngajak aku kesana?" tebak Adit.
"Ih, nggak jelas amat sih? ngapain juga mau ketemu Om Om" sanggah Mawar melotot tajam.
"Bukanya satu bulan yang lalu pernah ketemu ya?" selidik Adit sambil mengeluarkan uang dari dompet karena berniat membeli bensin yang tinggal beberapa menit di depan.
"Kok Mas tahu?" Mawar terkejut kemudian memutar pandanganya ke arah suaminya.
"Ya tahu lah, kan Papa Johan yang cerita" sahut Adit.
"Menurut cerita yang aku dengar Pak Daniel itu sayang banget sama istrinya. Padahal usianya terpaut 12 tahun." sindir Mawar.
"Ternyata benar kata orang, menikah dengan pria yang lebih tua dari kita itu bisa ngemong kita, disamping menjadi suami juga sekaligus menjadi Bapak."
"Nyindir kamu!" ketus Adit. "Lagian kamu tahu banget sih tentang dia?" Adit tampak posesif.
"Aku di ceritain sama Rony, dia kan karyawan disana."
__ADS_1
"Oh iya Mas, yang masih menjadi pertanyaan aku, kok bisa? Pak Johan bekerja sama dengan Pak Daniel padahal kan usahanya berbeda?" tanya Mawar.
"Ya bisa lah, kan Pak Daniel mau membuat 20 apartemen, hebat kan dia." ucap Adit.
"Hebat sih? tapi banyak harta buat apa coba? kalau akhirnya nggak bisa menikmati, kerja sampai lupa waktu, ibarat kata sampai lupa anak istri, padahal kita hanya butuh makan sekenyangnya. Mbak Silfi itu contoh yang konkrit harta berlimpah toh akhirnya ditinggalkan semuanya." tutur Mawar panjang lebar, membuat Adit diam tak berkutik.
Mereka pun sampai tujuan, kemudian Mawar membeli apa yang ia inginkan.
"Nggak makan atau minum dulu yank?" tanya Adit sebab melihat Mawar setelah membayar kemudian pulang.
"Nggak Mas, tanggung. Nanti malam saja, makan bareng di rumah Ibu."
"Siap Tuan putri."
Mereka pun pulang, baru lima menit naik di atas mobil Mawar sudah langsung pulas.
Adit memperhatikan istrinya kepalanya membentur kesana kemari, kemudian Adit menarik pelan pundak Mawar menidurkan pelan-pelan di pangkuanya.
Adit mengusap lembut pipi Mawar memandangi wajah yang tampak lelah sekali. Adit merasa kasihan.
"Sudah sampai yank" Adit mengusap -usap pipi Mawar dengan jari ketika sampai di depan rumah mertuanya.
"Oh ya Allah... sampai ketiduran aku Mas." Mawar bangun dengan cepat.
"Nggak apa-apa nanti kamu terus tidur lagi kayaknya capek banget." kata Adit kemudian turun dari mobil membawa buah tangan yang dibeli Mawar.
Tampak Pak Renggono sedang duduk melamun di kursi teras rumah. Melihat siapa yang datang kemudian bergegas menghampiri Adit. "Adit? benar ini kamu nak?" Pak Renggono menepuk pundak Adit.
"Benar Pak, Bapak apa kabar?" sahut Adit kemudian merangkul bapaknya. Pak Renggono terkejut dan bingung anatara percayai dan tidak. Bahwa anaknya yang
dikabarkan sudah meninggal ternyata masih hidup. Tangannya masih menjuntai masih terasa kaku untuk membalas pemelukan anaknya.
"Dia memang Mas Adit Pak." Mawar meyakinkan Mertunya.
Mawar tahu jika mertuanya laki-laki itu masih belum seluruhnya percaya. Mawar kemudian masuk kedalam.
"Assalamu alaikum" Sampai dapur Mawar melihat ibu sedang mengupas singkong.
"Waalaikumsalam" sahutnya.
"Tumben" gumam Mawar. Baru kali ini Mawar melihat mertuanya mau kedapur mengupas singkong pula.
"Mau dibikin apa singkongnya Bu?"
"Nggak tahu! kesal aku, masa orang se level saya di suruh ngupas singkong." Omelnya.
__ADS_1
****
Maaf kemarin nggak up, tumbang juga nih akhirnya. 👏👏👏❤