
Kenzo terdiam sesaat. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Adelle. Hanya saja ia tidak bisa diam atau berbohong pada Adelle. Mau tidak mau pun Kenzo menjawab jujur. Dan menunjukkan kelemahannya pada Adelle.
"Aku tidak pilih-pilih makan. Hanya tidak bisa makan makanan pedas karena tenggorokanku sensitif dengan cabai, merica atau jahe. Setiap memakan makanan pedas akan sakit dan meradang." jawab Kenzo menjelaskan.
Adelle menatap Kenzo. Ia sempat berpikir, kenapa Kenzo lama menjawab pertanyaannya dan seperti sibuk memikirkan jawaban. Ia menyadari, jika Kenzo tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya pada orang lain. Adelle yang tidak ingin membuat Kenzo tidak nyaman pun mencoba membuat perasaan Kenzo lebih baik dengan mengingatkan Kenzo supaya tidak makan makanan yang pedas.
"Ah, begitu. Kamu harus hati-hati saat memesan makanan di restoran kalau begitu. Jika kamu suka makan, lain waktu kita makan lagi saja. Makan bersama lebih asik daripada makan sendirian," kata Adelle.
"Boleh juga. Kita buat janji saja lain waktu," sahut Kenzo.
"Apa kamu tersinggung, Ken? atau merasa tidak nyaman?" tanya Adelle ingin tahu isi pikirkan Kenzo.
Kenzo tersenyum, "Bukan begitu. Hanya saja aku enggam mengakui kelemahanku. Di dunia ini pria mana yang lemah terhadap makanan pedas. Bukankah aku tampak bodoh karena tidak bisa makan cabai dan semacamnya?" jelas Kenzo.
"Kamu salah berpikir seperti itu. Tidak bisa makan sesuatu kan seperti alegi. Kalau alergi harus menghindari penyebabnya. Kamu tidak bodoh, juga tidak salah." kata Adelle.
Sesampainya di restoran, Adelle dan Kenzo langsung memesan menu yang diinginkan masing-masing. Keduanya ternyata memiliki selera yang sama. Saat tahu menu yang dipesan sama, keduanya saling melempar senyuman.
Melihat senyum cantik Adelle, Kenzo pun mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Ia memuji senyum cantik Adelle dan meminta Adelle untuk terus mengumbar senyuman di depannya.
"Kamu cantik saat tersenyum, Adelle. Tersenyumlah saat bersamaku. Maksudku pada saat berdua seperti saat ini," kata Kenzo memuji.
Adelle pun menganggukkan kepala perlahan, ia akan mencoba karena ia tidak biasa tersenyum tidak jelas.
"Ya, aku akan coba. Sejauh ini aku memang jarang tersenyum karena tidak ads yang bisa membuatku tersenyum. Aneh saja kan kalau tiba-tiba tersenyum tidak jelas," jawab Adelle.
Suasana hening. Entah mengapa tiba-tiba Adelle diam melamun. Kenzo pun menepuk punggung tangan Adelle, agar Adelle membuyarkan lamunannya. Benar saja, Adelle terkejut dan langsung menatap Kenzo.
Adelle bertanya, apa Kenzo bicara padanya? Kenzo balik bertanya, apakah ada masalah atau ada sesuatu hal yang dipikirkan Adelle?
"Sedang memikirkan apa?" tanya Kenzo.
__ADS_1
Senyum cantik mengembang di bibir Adelle, ia mengatakan, jika ia memikirn tentang mantan suminya.
"Ah, bukan hal penting. Itu hanya masa lalu," jawab Adelle.
Kenzo bertanya lagi, apakah Adelle masih mencintai mantan suaminya dan ingin berbaikan?
"Apa kamu masih mengharapkannya?" tanya Kenzo.
Adelle menggelengkan kepala cepat, "Mana mungkin aku berharap pada pria sampah seperti itu," jawab Adelle.
Ia menjelaskan, jika ia tidak lagi mencintai mantan suaminya. Hanya saja ia merasa kasihan Pada kedua orang tua mantan suaminya.
Adelle juga kesal, ia marah karena mantan suaminya tidak memberitahukan tentang perceraian keduanya pada siapapun termasuk orang tua mantan suaminya. Padahal hubungan Adelle dan orang tua mantan suaminya begitu baik, ia sampai merasa canggung karena harus menceritakan tentang perceraian pada Mama James tadi.
Kenzo bertanya, Apakah pada saat Adelle izin pergi tadi, adalah waktu berbincang antara Adelle dan Mama James? Membicarakan tentang perceraian Adelle dengan mantan suami Adelle?
Adelle menganggukkan kepala, "Ya, mau tidak mau aku harus menjelaskan. Aneh rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Kami memang sudah bercerai, saat ditanya-tanyai tentang James aku tidak suka." kata Adelle.
Karena tidak ada alasann baginya untuk menutupi retaknya hubungannya dengan James di depan mama James. Adelle juga menceritakan bagaimana reaksi Mama James saat mendengarkannya bercerita. Sebagai orang yang mengenal baik orang tua James, Adelle paham perasaannya.
"Kamu sudah melakukan hal benar, Adelle. Maaf, bukan aku ingin mencampuri urusan pribadimu. Aku hanya tidak mau kamu menekuk wajahmu. Kalau aku berada diposisimu, aku juga pasti akan melakukan hal sama." Kata Kenzo menatap Adelle.
Adelle tersenyum, "Kamu cukup seru diajak bicara, ya. Aku mengira kamu orang yang kaku seperti robot. Hahaha ... " kata Adelle tertawa lepas.
Keduanya lanjut berbincang sampai makanan yang dipesan datang. Mereka lanjut menikmati makanan bersama.
***
Selesai makan dan membahas tentang pekerjaan, Kenzo pun mengantar Adelle kembali ke kantor. Adelle kembali bekerja seperti tidak terjadi masalah apapun. Sejujurnya ia ingin segera melupakan kejadian buruk yang selalu membayanginya seperti hantu.
Adelle menyampaikan pada Asistennya, jika ia akan segera menerima pekerjaan penting terkait Star Hotel. Adelle meminta sang Asisten untuk bersiap akan segala sesuatunya kedepannya.
__ADS_1
"Kita harus melakukan dengan lebih baik dan memperhatikan semuanya," kata Adelle.
Asisten Adelle menganggukkan kepala, "Ya, Bu. Saya mengerti. Saya akan menyiapkan segala sesuatunya sesuai perintah Anda," jawab sang Asisten.
Asisten Adelle pergi meninggalkan ruangan Adelle. Sedangkan Adelle kembali memeriksa berks dokumen dan menandatangani beberapa berkas yang butuh tanda tangannya.
***
Dilain tempat. Tepatnya diapartemen Lalisa. James yang minum-minum diomeli Lalisa dan keduanya pun bertengkar.
"Sudah cukup. Mau sampai kapan kamu akan minum alkohol, James?" kata Lalisa kesal.
"Diamlah dan jangam ganggu aku," kata Kenzo.
"Bagaimana bisa aku diam saja melihatmu seperti ini? dan juga, kapan kamu akan menikahiku?" tanya Lalisa.
Lalisa menuntut pertanggung jawaban James untuk menikahinya. James yang awalnya diam pun meledak.
"Apa kamu bilang? menikah?" kata James kesal.
"Ya, menikah. Tidak mungkin kan kamu mengabaikan anakmu ini?" jawab Lalisa menatap tajam ke arah James.
"Tidak bisakah kamu melihat situasi saat ini, Lalisa? tolong jangan membuatku semakin kesal dan emosi. Tolonglah mengerti," kata James marah-marah.
James kesal karena Lalisa tidak bisa bersabar dan melihat situasi. Lalisa dinilai egois, hanya mementingkan keinginan pribadi tanpa memikirkan bagaiamana keadaan James. Adu mulut pun tidak bisa terhindarkan. Baik James ataupun Lalisa, memiliki pendapatnya sendiri dan ingin membenarkan perkataan masing-masing.
Lalisa tidak tahan, James terus memintanya bersabar. Ia pun pergi mendatangi Adelle dan meminta bantuan Adelle tanpa tahu malu. Saat tahu Lalisa ingin bertemu, Adelle terkejut. Ia tidak ingin terlibat lagi dengan Lalisa, terlebih James.
Adelle meminta Asistennya untuk menyampaikan pesan, kalau ia sedang sibuk dan tidak bisa menemui tamu.
"Sampaikan seperti itu. Aku tidak ingin bertemu dengannya, jadi tolong kamu urus, ya." pinta Adelle.
__ADS_1
"Baik, Bu." kata sang Asisten.
Adelle berpikir, itulah cara halus yang bisa ia pakai saat ini. Ia kembali bekerja karena mengira Lalisa pasti akan pergi setelah mendengar penjelasan Asistennya. Ia pun memfokuskan pikirannya dan melupakan sejenak tentang Lalisa.