Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 57


__ADS_3

Akhirnya, orang yang ditunggu oleh Olivia itu pun datang juga. Ibu dan Bapak-nya datang dengan banyak membawa bingkisan. Berbagai macam makanan dibawa mereka dari kampung.


Perasaan Olivia membuncah bahagia. Setidaknya, pikirannya itu sedikit teralihkan dari bayangan mengerikan sang putra semata wayang.


Olivia sebagai mengajak kedua orang tuanya masuk. Sementara itu, Vino membantu membawakan barang bawaan mereka masuk ke rumah.


"Kok, banyak bawa bawaan, sih, Bu, Pak. Apa enggak repot bawanya. Segala ubi mentah pun dibawa. Pisang juga," kata Olivia. Ia tentu saja merasa tidak enak hati, sebab membayangkan orang tuanya itu kerepotan membawa banyak barang seperti itu.


"Namanya saja oleh-oleh. Itu juga banyak dari para pekerja yang bawain, enggak enak dong kalau Ibu tolak. Jadi ya dibawa saja semuanya." Sang Ibu menjelaskan diselingi kekehan pelan.


Bapaknya Olivia pun menghampirinya, merangkul bahunya dengan erat. Olivia tersenyum, walau senyum itu masih tampak sendu. Ia mengajak kedua orang tuanya masuk dan langsung ke kamar tamu.


"Bapak dan Ibu istirahat dulu ya, mandi dulu. Terus kita makan." Olivia berkata lembut.


Olivia keluar dari kamar tamu, menghampiri suaminya yang masih berada di dapur.


"Biar aku aja yang nyusun, Kak," katanya kepada Vino.


Vino menoleh kemudian tersenyum manis. Ia mengangguk dan bergeser dari duduknya, membiarkan sang istri mengambil alih pekerjaan yang ia lakukan.


"Ini besok dibagi-bagikan juga sama Bibik ya," ujar Olivia memberikan usulan.


"Boleh. Atau ajak Bibik masak bersama saja baru kalau banyak bisa dibawa pulang."


"Bener juga. Ya udah, gitu aja, deh." Olivia menyetujui usulan itu.

__ADS_1


Vino memesan makanan dari luar, sementara Olivia menyelesaikan pekerjaan. Tiga puluh menit kemudian, makanan yang dipesan sudah datang. Sepasang suami istri itu menyusun makanan di meja makan.


Olivia segera membuat minuman hangat sembari menunggu kedua orang tuanya keluar dari kamar. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara nada dering dari ponsel Vino.


Olivia tentu saja penasaran, tetapi tidak langsung bertanya siapa yang menghubungi sang suami di jam segini. Maka, ia pun hanya diam saja mendengar percakapan mereka. Sesekali, kepalanya menoleh ke luar are makan ini, kalau saja kedua orang tuanya telah selesai dan berjalan ke arahnya untuk makan bersama.


"Sayang ... aku keluar sebentar ya," kata Vino mengalihkan pandangan Olivia.


"Mau ke mana malam-malam begini, Kak. Ini udah jam sembilan, lho. Ada yang penting banget ya?" tanya Olivia. Ia tidak bisa menahan diri untuk mengutarakan isi kepalanya melihat Vino yang bersiap untuk keluar.


"Ini Raisya telepon. Katanya dia terjebak di jalan, mobilnya mogok. Aku enggak mungkin kan biarin dia sendirian. Dia kan cewek, nanti kalau diganggu orang di sana gimana. Mana tadi dia teleponnya sambil nangis lagi. Aku jadi khawatir sekarang."


Olivia melongo mendengar penjelasan Vino yang panjang lebar itu dan diutarakan dengan lancar tanpa ada jeda untuk berpikir. Mungkin sang suami memang sangat menghawatirkan keadaan Raisya. Kalau sudah begini, dirinya pun tidak akan bisa melarang.


"Oh ya udah kalau gitu. Kamu hati-hati ya, salam untuk Raisya. Hati-hati juga." Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengalah.


Setelah kepergian Vino, Olivia tercenung di tempat duduknya. Suasana rumah ini semakin terasa asing oleh rasa sepi yang memenjarakan jiwanya. Jika saja ada Alvin di sisinya kini, tentulah ia tidak terlalu ambil pusing jika suaminya itu pergi mendadak seperti saat ini.


Olivia pasti akan disibukkan mengurus Alvin, atau tidur bersama di kamar anaknya itu. Dan tidak akan terasa waktu tiba tiba saja sudah lagi. Sayang sekali, semua hal yang ada dalam angannya hanyalah khayalan kosong belaka. Nyatanya, ia harus ditampar kenyataan bahwa dirinya sekarang tengah sendirian di ruang besar ini.


Olivia memasang senyum lebar, secepat kilat ia menghapus jejak basah di pipi saat terdengar suara kedua orang tuanya tengah bercakap-cakap. Semakin lama, suara itu semakin dekat dan tampaklah wujud kedua orang tuanya itu sedang berjalan ke arahnya.


"Rumahmu besar begini, Ibu sama Bapak sampai tersesat, Oliv," keluh sang ibu begitu melihat wajah sang putri yang tengah menunggunya duduk di kursi meja makan.


"Halah. Ibumu lebay. Kayak punya rumah kecil kayak gubuk aja. Kalau gitu, mending bapak bangunkan rumah yang kecil saja," protes sang bapak dengan bibir memcebik.

__ADS_1


"Idih, Bapak. Ini kan cuma perumpamaan. " Ibunya Olivia memukul dengan keras lengan sang suami sampai terdengar suara mengaduh. "Kita tadi memang tersesat beneran kan mau ke ruang makan malah keluar ke ruang garasi mobil. Akhirnya balik lagi dan baru ketemu ruang makannya," omel wanita itu tidak mau kalah.


"Tadi kan kita memang ke sana karena dengan suara mesin mobil dinyalakan, Buk--"


"Udahlah, ngomong sama bapak ini emang enggak pernah bener. Ibuk salah terus. Mending ayo kita makan saja. Ibu sudah lapar." Ibu berjalan duluan meninggalkan suaminya di belakang yang masih geleng gelang kepala.


Olivia yang melihat perdebatan itu pun hanya bisa mengulum senyum. Sejujurnya, dirinya rindu dengan suasana ramai seperti ini. Beruntung kedua orang tuanya berada di sini, menemani dirinya yang tengah kesepian. Sebab, jika keduanya telah pulang ke kampung halaman. Olivia tidak tahu lagi kapan suasana ramai seperti ini akan bisa ia rasakan kembali di suatu hari nanti.


"Sini aku siapkan makannya," kata Olivia lalu berdiri mengambilkan nasi ke piring beserta menyiapkan lauknya.


"Suami kamu ke mana. Kok, enggak ada. Mobil tadi itu suami kamu ya yang pergi? Pergi ke mana dia malam-malam begini? Apa enggak suka ya ada ibu dan bapak datang ke sini temani kamu?" cecar Ibu.


Memang, jika ada kejuaraan pikiran ke mana-mana, ibunya Olivia lah yang akan mendapatkan juaranya. Pasalnya, Olivia saja sampai bingung kok bisa bisanya sang ibu berpikir demikian. Olivia sampai tidak habis pikir.


"Ibu nih mulai ngawur. Sudah, enggan usah didengerin omongan ibumu itu, Olivia." Bapak menengahi.


"Bapak ini ya, kan ibu jadi khawatir kalau misalnya Vino enggak suka dengan kedatangan kita. Makan kita enggak bilang dulu lagi kalau mau ke sini. Kita perginya mendadak banget," keluh ibu dengan suara sedih.


"Ibu ini ada-ada saja. apa enggak lebih baik bertanya saja Vino ke mana? Bukan malah ngawur ke mana-mana. Kak Vino itu pergi karena ada urusan mendadak. Tadi dihubungi adiknya. Jadi dia langsung berangkat soalnya adiknya sudah nangis nangis gitu, Bu." Olivia menjelaskan duduk perkaranya. tidak ingin jika pikiran dan prasangka ibunya itu semakin merembet ke mana mana.


"Lho emang adiknya itu kenapa?" tanya ibu ingin tahu.


"Olivia juga belum tahu pastinya. Tadi suasananya serba panik jadi belum diobrolin, Bu."


"Padahal kamu juga lagi sedih ya. Kamu juga nangis, tapi suami kamu malah ninggalin kamu." ibu berkata sedih.

__ADS_1


"Ya kan sekarang ada bapak sama ibu. Aku enggak sendirian." Olivia mengulas senyum tipis, menutup kesedihannya yang terasa menghimpit dada.


__ADS_2