Cincin Kedua

Cincin Kedua
CK (24)


__ADS_3

Jassper sedang duduk bersantai memegang gelas berisikan wine. Ia menggoyangkan gelas perlahan, lalu meminum wine itu. Ia tersenyum tipis, memikirkan kabar yang baru saja ia terima dari tangan kanannya.


"Menarik. Jadi wanita cantik pemarah itu akan menikah dengan sepupuku, ya?" batin Jassper.


Jassper teringat akan wajah Adelle yang dinilainya cantik. Walaupun sedang marah. Jassper tampaknya tertarik pada Adelle.


Ia memanggil tangan kanannya. Meminta bawahannya itu membeli bunga dan mengirim bunga pada Adelle atas namanya.


"Kirimkan ke kantor Adelle, bunga atas namaku. Berikan buket bunga berukuran besar dan catatan selamat dariku. Kamu mengerti?" kata Jassper menatap tangan kanannya.


"Mengerti, Pak. Saya permisi," pamit orang itu yang langsung pergi.


Jassper meletakkan gelas di meja. Ia melipat kedua tangan di dadanya dan bersandar di sofa. Tidak lama ponsel Jasssper berdering. Ia mendapat panggilan dari Kenzo.


Senyum Jassper mengebang, saat melihat layar ponselnya. Ia melihat nama "KJ" di layar ponselnya. Tak lama kemudian Jassper tertawa keras bak orang gila.


"Hahahaha .... "


"Ah, benar. Aku harus menerima panggilannya dan mengucapkan selamat karena dia mau menikah." kata Jassper.


Ia menggeser panel hijau pada layar ponsel dan berbicara dengan Kenzo di telepon.


"Ya, Ken. Ada apa? apa kamu sedang merindukanku?" tanya Jassper menggoda Kenzo.


"Apa kekacauan itu kamu yang membuatnya? apa kamu sadar apa yang kamu lakukan? Dasar gila!" kata Kenzo marah.


"Aku gila? tidak, tidak. Justru karena kepalaku dan isinya sangat sehat. Aku melakukan itu. Apa kamu menyukainya?" kata Jassper tersenyum.


"Aku sudah salah mengabaikanmu. Semestinya aku membereskanmu sejak awal, Jassper. kata Kenzo.

__ADS_1


"Kamu benar. Seharusnya saat itu kamu langsung saja membunuhku. Aneh sekali, kenapa kamu malah membiarkanku hidup, ya? Aku sangat berterima kasih padamu, untuk kesempatan yang kamu berikan. Jangan khawatir, sepupuku tersayang. Aku akan membalas kebaikanmu sedikit demi sedikit. Hahaha ... " kata Jassper penuh maksud tersembunyi.


Jassper langsung mengakhiri panggilan dari Kenzo. Ia tersenyum senang, mendengar suara Kenzo yang sedang kesal.


***


Di ruang kerjanya, Kenzo memandangi ponselnya dengan penuh amarah. Ia menggenggam erat ponselnya seakan ingin meremukkan ponselny itu.


"Sial! lagi-lagi dia menyerangku diam-diam." batin Kenzo.


Kenzo langsung memanggil Asisten dan Sekretarisnya dan meminta keduanya segera datang ke ruang kerjanya.


Tidak berselang lama Asisten dan Sekretaris Kenzo datang. Mereka berdiri di hadapan Kenzo. Keduanya tahu, apa alasan Kenzo memanggil mereka. Si asisten dan Sekretaris saling menatap.


"Julio, bicaralah pada Sekretaris HM Konstruksi dan LC Konstruksi. Katakan aku mau bertemu Presdir mereka. Aku harus bisa membujuk salah satu dari keduanya untuk mau menjalankan proyek pembangunan pusat perbelanjaan. Aku tidak akJ biarkan Jassper merusak rencanaku untuk membangun Star Mall." kata Kenzo dengan ekspresi wajah kesal.


"Pak, maaf. Bukannya saya tidak ingin menjalankan perintah Anda. Tadi ada surel masuk dari kedua perusahaan konstruksi itu dan mengatakan kalau mereka tidak bisa bekerjasama lagi dengan pihak Star Grup karena suatu alasan. Pihak HM langsung nenawarkan untuk dikenalkan pada perusahaan konstruksi lain, jika berkenan." jelas Julio menyampaikan apa yang terjadi


Kenzo memerintahkan Sekretarisnya untuk menyiapkan data-data perusahaan konstriksi yang lain. Meski itu adalah perusahaan berskala sedang, dibawah dua perusahaan yang menolak permintaannya.


Asisten dan Sekretaris Kenzo meninggalkan ruangan. Kenzo tampak stres. Kali ini Jassper benar-benar berusaha mengguncang pertahana Kenzo dengan segala cara.


Star Mall. Adalah impian Mama Kenzo semasa hidup. Karena dulu tidak banyak investor yang mau bergabung, ditambah susahnya mencari lahan guna pembangunan. Proyek Star Mall harus ditunda.


Setelah Mama dan Papanya tiada, Kenzo perlahan tapi pasti memenuhi satu per satu bagian yang dulu belum bisa lakukan sang Mama. Mulai dari pembelian lahan, sampai investor. Kenzo berhasil mendapatkan semuanya. Bahkan perusahaan konstruksi yang akan menima proyek pun sudah ia genggam. Tiba-tiba saja, ada masalah yang terjadi. Ada dua orang pihak investor yang menarik kembali investasi mereka. Kenzo pun berusaha mencari kembali investor dan berhasil. Satu masalah selesai, muncul masalah baru. Ia mendengar, perusahaan konstruksi yang akan menangani proyek mengundurkan diri tanpa alasan pasti. Dan satu perusahaan konstruksi lain menolak kerja sama dengan alasan yang sama. Semua tidak ada kepastian dan seperti sengaja sudah direncanakan.


Akhirnya Kenzo pun tahu, apa yang terjadi. Jassper lah dalang dibalik semuanya. Ia tidak mau melihat Kenzo sukses, karena itu ia terus mengusik dan berusaha keras melengserkan Kenzo dari posisinya. Jassper memang punya niatan untuk merebut apa milik Kenzo sejak awal.


***

__ADS_1


Adelle selesai rapat dengan para stafnya. Tiba-tiba saja Sekretaris Adelle datang dengan membawa buket bunga mawar berukurab besar. Bahkan karena besarnya, wajah Sekretaris Adelle pun tidak terlihat.


"Jessica ... apa kamu sedang ulang tahun? aku ingat sepertinya ini bukan ulang tahunmu, kan?" kata Adelle.


Sekretaris memeluk buket bunga mawar besar dan menatap Adelle, "Memang bukan, Bu. Ini bunga kiriman untuk Bu Direktur. Pengirimnya saya tidak tahu, silakan Ibu Baca sendiri. Apa mungkin Pak Kenzo yang mengirim ini? Kalau iya saya iri sekali." kata Jessica.


Adelle megambil kartu ucapan yang menempel di buket bunga. Kartu ucapannya berwarna merah dengan bentuk hati.


Saat dibuka dan dibaca, Adelle pun terkejut. Bukan Kenzo, tapi Jassper yang mengiriminya bunga. Di dalam kartu ucapan, tertulis kata selamat.


"Bu, bungaya mau dibawa pulang atau ... " kata-kata Jessica di potong oleh Adelle.


"Ambil saja kalau kamu mau. Tidak mau kamu buang saja. Jangan perlihatkan bunga itu di depan mataku." kata Adelle .


Jessica keget, "Eh, apa maksudnya? bunga secantik ini kenapa dibuang? kalau Bu Direktur tidak mau, akan ku ambil saja." Batin Jessica.


"Ah, iya, Bu. Saya akan segera menyingkirkannya." kata Jessica yang langsung pergi.


Adelle melihat ponselnya dan menghubungi Kenzo. Kakinya kembali berjalan menuju ruang kerjanya.


***


Di ruang kerja Adelle. Adelle dan Kenzo berbincang lewar telepon. Adelle menyampaikan pada Kenzo, jika ia mendapatkan kiriman bunga dari Jassper dengan kartu ucapan bertulis kata "Selamat" tanpa tambahan kata lain dan nama pengirim.


"Apa? Dia melakukan itu?" tanya Kenzo kaget.


"Ya, Ken. Aku kaget, aku kira itu bunga darimu. Tapi aku merasa aneh, kalau darimu pasti kamu akan memberikannya sendiri tanpa bantuan kurir. Sekretarisku tadi yang menerima dan aku minta dia menganbilnya kalau mau. Kalau tidak aku suruh saja membuangnya. Apa ada sesuatu dengan orang gila itu?" tanya Adelle.


"Nanti saja kita bahas masalah ini. Oh, ya. Siang ini mau makan apa? Di Hotel ada menu baru, mau coba?" tawar Kenzo.

__ADS_1


"Oh, ya? mau, mau. Nanti aku ke Hotel, ya. Kita makan siang di sana saja." jawab Adelle.


Panggilam keduanya pun berakhir. Adelle merasa ada sesuatu yang aneh dari Kenzo, dan berniat mencari tahunya nanti. Adelle berharap, agar Kenzo baik-baik saja.


__ADS_2