
Keesokan harinya ....
Adelle membuka mata karena mendengar ponselnya berdering. Saat dilihat itu adalah pesan dari Jessica. Setelah membaca dan membalas pesan, Adelle pun kembali meletakkan ponsel di nakas. Ia memalingkan pandangan menatap ke sisinya, ia tidak mendapati Kenzo di sana.
"Apa dia sudah pergi kerja?" gumam Adelle.
Adelle tampak lesu. Ia lemas dan enggan bangun dari posisi berbaring. Ia pun kembali menarik selimut dan mengubah posisi tidurnya miring. Tidak lama pintu dibuka, Kenzo datang dan membangunkan Adelle.
"Sayang, kamu masih tidur?" panggil Kenzo
Adelle memalingkan pandangan, "Oh, aku pikir kamu sudah berangkat kerja." Kata Adelle.
Kenzo duduk di tepi tempat tidur, "Aku sudah membuatkan sarapan kesukaanmu. Bagunlah dan mandi. Kita sarapan bersama dan aku akan mengantarmu ke kantor," kata Kenzo.
"Kamu sudah mandi?" tanya Adelle.
Kenzo tersenyum, "Kenapa? ingin mandi bersama?" Goda Kenzo.
"A-apa? aku hanya tanya, kenapa pikiranmu jauh ke sana. Dasar mesum," kata Adelle menutup wajahnya dengan selimut.
Wajah adelle memerah. Ia tidak pernah membayangkan Kenzo berani berkata seperti itu. Meski ia dan Kenzo tinggal bersama, tapi mereka tidak pernah melakukan hal diluar batas.
Kenzo membuka selimut Adelle, "Cepat mandi. Nanti sarapanmu dingin," kata Kenzo.
"Ya, aku mandi. Sana pergi," kata Adelle mengusir.
"Kamu mengusirku? berani sekali, ya. Awas saja aku akan mengigitmu," kata Kenzo yang langsung menyerang Adelle.
Kenzo menggelitik Adelle dan membuat Adelle tertawa sampai menangis karena geli.
"Hentikan, Ken. Geli ... hahaha ... " kata Adelle.
__ADS_1
Kenzo menatap Adelle, "Aku mencintaimu." kata Kenzo mencium kening Adelle.
Adelle memeluk Kenzo, "Aku juga mencintaimu, Ken." jawab Adelle.
Adelle mengusap-usapkan wajahnya ke dada bidang Kenzo. Ia berkata, kalau sedang malas melakukan apa-apa, tapi ia harus pergi bekerja. Entah mengapa Adelle merasa tidak bersemangat.
"Kamu sakit?" tanya Kenzo.
Ia menatap Adelle lekat-lekat. Ia menyentuh dahi Adelle dengan tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Adelle.
"Apa kamu libur saja. Bilangkah pada Jessice untuk mengundur semua jadwalmu hari ini ke lain hari. Kamu terlalu lelah, jadi seperti ini." Kata Kenzo.
"Aku tidak sakit. Hanya malas. Jangan memasang wajah seperti ini," kata Adelle mengusap wajah tampan Kenzo yang ada tepat di hadapannya.
Kenzo memeluk Adelle lagi. Ia meminta Adelle menuruti kata-katanya. Ia tidak ingin kesayangannya sakit. Tidak mau membuat Kenzo kecewa, Adelle pun mengiakan perkataan Kenzo. Ia akan menghubungi Jessica dan meminta Jessica mengatur ulang jadwalnya.
"Ya, aku akan hubungi Jessica nanti. Aku mau ke kamar mandi dulu," kata Adelle.
"Mandilah kalau kamu merasa tubuhmu baik-baik saja. Jangan dipaksakan. Setelah mandi pakai pakaian hangat. Mengerti? aku tunggu di luar, sekalian menghangatkan susu untukmu." kata Kenzo.
***
Setelah sarapan, Adelle menghubungi Jessica. Memberitahukan, jika ia tidak datang ke kantor karena tidak enak badan. Adelle meminta menjadwal ulang jadwal hariannya pada Jessica, dan meminta maaf. Ia seharusnya tetap bisa masuk, tapi Kenzo melarang. Karena Kenzo sudah bersuara, ia tidak bisa membantah. Adelle menceritakan itu pada Jessica, dan Jessica pun hanya berkomentar tertawa.
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Kenzo mengintip dari balik pintu.
Adelle menatap Kenzo, "Ah, iya. Aku akan keluar." jawab Adelle.
Adelle langsung memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan membawa tasany ke luar dari kamar. Di depan kamar Kenzo berdiri menunggu. Mereka lantas pergi bersam-sama. Kenzo kedatangan tamu dan harus segera pergi ke Star Hotel. Karena Adelle tidak mau ditinggal, Kenzo pun mengajak Adelle pergi.
***
__ADS_1
Di tempat lain. Di kediaman Eric Jonathan. Jassper diundang datang oleh Eric karena ingin membicarakan sesuatu. Awalnya pembicaraa keduanya baik-baik saja. Sampai saat Eric memberikan sebuah amplop besar berisi hal-hal kotor yang selama ini dilakukan Jassper dibelakang Eric.
"Apa ini, Kek?" tanya Jassper menatap sebuah amplop besar berwarna cokelat di atas meja di hadapannya.
"Lihat saja," jawab Eric.
Dengan ragu Jassper mengambil amplop tersebut, lalu membukanya. Ia mengeluarkan semua isinya yang ternyata adalah bukti kejahatannya selama ini. Mata Jassper melebar, lalu tak lama dahinya berkerut.
"A-apa, ini? da-dari mana Kakek menemukanya?" batin Jassper.
Jassper merasa, selama ini ia selalu memebersihkan barang bukti. Karena ia tidak ingin merusak nama baik keluarga, apalagi jika sampai perbuatannya ketahuan oleh Papanya.
"Apa ini semua, Kek?" tanya Jassper menatap Eric. "Dari mana Kakek dapatkan ini?" tanya Jassper lagi.
Eric menatap ke arah Jassper, "Apa hanya itu yang bisa kamu lakukan selama ini? Kamu sangat tidak berguna, Jassper." Kata Eric mengkritik Jassper.
"Jangan mengkritikku seperti itu, Kakek. Siapa bilang aku tidak berguna? aku bisa melakukan semuanya kalau saja Kakek punya sedikit rasa percaya dan menaruh harapan padaku. Bukannya pilih kasih padaku," kata Jassper menggerutu.
"Pilih kasih? katakan, di mana aku pilih kasih? coba lihat orang tuamu, apa Kakek menelantarkan mereka meski Kakek tahu apa yang sudah orang tuamu lakukan pada orang tua Kenzo. Berpikirlah, Jassper. Gunakan isi kepalamu dengan baik dan benar. Jangan memandang hanya pada satu sisi saja." Kata Eric kesal.
Jassper diam. Ia tidak tahu apa maksud ucapan Kakeknya. Ia berpikir, memangnya apa yang sudah dilakukan orang tuanya pada orang tua Kenzo? Sampai-sampai Kakeknya terlihat marah dan kesal.
"Bisa jelaskan apa maksud Kakek? Memangnya apa yang sudah dilakukan Papa dan Mama pada Paman dan Bibi?" tanya Jassper menatap Kakeknya.
Eric menggelengkan kepala memijat pangkal hidungnya perlahan. Rasanya Eric ingin sekali menguak semua kebusukan anak sulung dan menantunya yang sudah bertindak di luar batas.
"Soal itu tidak perlu tahu. Yang perlu kamu perhatikan sekarang adalah, jangan lagi ganggu dan mengusik Kenzo. Kakek akan menutup mata untuk hal yang terakhir kali kamu lakukan pada Kenzo. Jangan sampai sesuatu terjadi lagi padanya, atau Kakek akan benar-benar memberimu pelajaran. Paham?" kata Eric menatap tajam.
Jassper mengerutkan dahi, "Lagi-lagi Kakek mengancamku. Terserah Kakek saja, aku pergi dulu." kata Jassper berdiri dari sofa.
"Perkataanku bukan hanya sekadar peringatan, Jassper. Kali ini Kakek akan bertindak adil dengan menghukum siapa saja yang berani menyakiti Kenzo. Meskipun itu kamu, atau orang tuamu sekalipun." kata Eric memperingatkan.
__ADS_1
Jassper pergi dengan membawa amplop cokelat yang berisikan semua bukti kejahatanny dengan hati yang dongkol. Ia masih belum memahami pemikiran Kakeknya. Masih berpikir kalau Kakeknya pilih kasih dan hanya sayang pada Kenzo saja.
Bagi Jassper, Kenzo adalah batu sandungan besar yang harus ia singkirkan. Ia juga ingin terlihat di mata sang Kakek. Bukan hanya Kenzo saja yang terlihat dan dipuji-puji. Sampai membuat Jassper muak.