
Kenzo selesai berganti pakaian. Ia keluar dari kamar mandi kembali ke ruang tamu. Ia melihat ruang tamu kosong. Ia mencari-cari keberadaan Adelle. Kenzo melihat sekeliling, tapi tidak melihat Adelle.
"Apa dia di kamar?" gumam Kenzo.
Tidak lama pintu apartemen terbuka dan Adelle pun masuk ke dalam. Melihat Kenzo berdiri di ruang tamu, Adelle pun menyapa.
"Kamu sudah selesai ganti? maaf, ya. Aku baru dari bawah mengambil paket yang datang." kata Adelle membawa sebuah kotak bersamanya.
"Paket apa? besar sekali," tanya Kenzo.
Kenzo langsung berjalan mendekati Adelle, mengambil alih mengangkat kotak yang dibawa Adelle.
"Ah, ini barang-barangku dari rumah lama. Aku sengaja meminta asisten rumah mengemasnya dan mengirim ke sini." jawab Adelle.
Kenzo terlihat bingung. Ia tidak mengerti maksud ucapan Adelle. Melihat wajah bingung Kenzo, Adelle tersenyum dan menjelaskan. Jika yang ia maksud rumah lama adalah rumahnya bersama James. Ia berniat menjual rumah itu karena tidak ingin menyisakan kenangan apapun dengan James.
Setelah dijelaskan, akhirnya Kenzo mengerti. Ia pun kembali bertanya, apakah perasaan Adelle sudah lebih baik setelah bercerai? atau seperti apa? Kenzo menjelaskan, jia ia sekadar ingin tahu. Buka bermaksud mengorek masalah pribadi Adelle.
"Tidak masalah, santai saja. Hm ... perasaanku sekarang? aku merasa lebih baik. Meski awal-awal terasa berat. Bagiku yang terpenting sekarang adalah pekerjaan," jawab Adelle.
"Baguslah kalau kamu merasa lebih baik. Aku senang mendengarnya," kata Kenzo.
"Masalahnya, aku belum berani menemui Papa dan Mamaku setelah bercerai. Aku hanya mengirim kabar perceraikanku dengan James, dan tidak menjawab pesan ataupun panggilan mereka sama sekali. Ya, begitulah. Kalaupun kuterima, selalu aku alihkan ke Sekretarisku atau Asistenku. Hahaha ... " kata Adelle bercerita, lalu tertawa.
Melihat Adelle yang sudah tidak malu-malu lagi bercerita, membuat Kenzo merasa lega. Ia sempat berpikir Adelle akan kesal, jika ditanya-tanya seputar masalah perceraian atau hal-hal yang berkaitan dengan perceraian.
***
Malam semakin larut. Kenzo berniat pulang karena sudah merasa lebih baik. Ia tidak ingin merepotkan Adelle lagi.
__ADS_1
"Kamu yakin mau pulang?" tanya Adelle.
"Ya, lagipula aku tidak mau merepotkanmu lagi." jelas Kenzo.
"Merepotkan apa? kamu sama sekali tidak merepotkan. Aku hanya khawatir keadaanmu semakin buruk karena di luar udaranya dingin." jelas Adelle.
Adelle menatap Kenzo dengan tatapan tajam. Kenzo mengerutkan dahi bingung. Ia pun lantas bertanya, apa ada sesuatu yang ingin Adelle katakan?
Adelle menjawab, jika Kenzo harus menginap di aprtemennya dan akan diantar pulang besok paginya. Adelle tidak tenang kalau harus melepas kepergian Kenzo sekarang. Ia kepikiran bagaimana kalau Kenzo kenapa-kenapa saat dalam perjalanan pulang.
"Mau kan?" tanya Adelle.
"Hm ... ya, baiklah. Sepertinya menjawab tidak pun kamu akan memaksaku tinggal." jawab Kenzo.
Adelle tersenyum, "Nah, kalau begitu aku akan ambilkan selimut. Kamu tidur di sofa, aku akan temani kamu tidur di matras. Ok," kata Adelle bergegas pergi menuju kamarnya.
Kenzo menghela napas panjang. Dia bahkan belum menjawab apa-apa dan Adelle langsung memutuskan kemauannya sendiri.
"Aku baik-baik saja," kata Kenzo.
"Untuk sekarang iya. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba kamu demam dan tidak ada aku tidak tahu? kalau aku di sini kan aku langsung tahu dan melakukan tindakan perawatan padamu." sahut Adelle tidak mau kalah berdebat.
Kenzo akhirnya mengalah. Ia diam tidak bicara apa-apa dan menurut apa kata Adelle. Matras pun selesai di pasang dan diberi alas. Adelle ingin langsung tidur, tapi Kenzo meminta Adelle tidur di sofa dan ia di matras. Kenzo ingin bertukar tempat dengan Adelle.
"Sofanya terlalu sempit," kata Kenzo beralasan.
Adelle menganggukkan kepala, "Benar juga. Kalau kakiku menggantung juga pasti tidak akan nyaman, kan. Ok, aku tidur di sofa dan kamu di matras. Ayo, harus tidur sekarang." kata Adelle yang langsung naik ke sofa dan berbaring.
Kenzo juga berbaring. Ia menggunakan bantalan sofa untuk alas kepalanya. Kenzo merasa aneh, ini pertama kalinya ia menginap di rumah seseorang dan tidur di matras. Tangannya menyentuh selimut yang menyelimuti tubuhnya. Ia merasakan selimut itu lembut dan wangi.
__ADS_1
"Kenapa selimutku tidak seharum ini, ya?" batin Kenzo.
Kenzo berbalik menatap Adelle, ternyata Adelle sedari tadi menatapnya dan saat pandangan mata keduanya bertemu, Adelle langsung tersenyum.
"Apa kamu belum mengantuk?" tanya Adelle.
"Ya, sepertinya begitu. Bagaimana denganmu?" tanya Kenzo.
"Ya, aku juga belum mengantuk. Bagaimana kalau kita berbincang," ajak Adelle.
"Boleh, katakan yang akan kita bicarakan?" jawab Kenzo yang langsung bertanya.
"Hm, apa, ya?" gumam Adelle. Tiba-tiba Adelle ingat sesuatu, "Ah, ya ... aku mau tanya, apa hubunganmu dengan pria bernama Jass ... Jass-per tadi tidak baik?" tanya Adelle penasaran.
"Ya, hubungan kami memang tidak baik sejak dulu." jawab Kenzo.
Kenzo menjelaskan, apa yang membuat hubungannya dengan Jassper tidak baik. Ia memberitahu Adelle siapa itu Jassper dan orang yang seperti apa. Bagi Kenzo, Jassper adalah musuh dalam selimut.
Mendengar pernjelasan Kenzo, dahi Adelle pun berkerut. Ia jadi tahu, kenapa Jassper bersikap tak tahu malu dan tak beretika. Memang ternyata dia orang yang mengesalkan.
Adelle mengingatkan Kenzo untuk berhati-hati, jika memang Jassper berbahaya. Adelle memang sudah curiga pada Jassper saat menatap Kenzo, sorot matanya penuh kebencian. Adelle mengatakan, jika Kenzo perlu menjaga jarak dari Jassper agar tidak terluka.
"Abaikan saja apa yang dia katakan. Janga terpancing ucapan orang gila sepertinya," kata Adelle.
Kenzo menatap Adelle dan tertawa, "Haha ... kenapa kamu terlihat lebih kesal padanya daripada aku yang sudah sering ditindasnya?" tanya Kenzo.
"Itu karena aku tidak menyukainya. Orang-orang yang suka merendahkan orang lain, orang yang mudah melakukan apa saja hanya karena punya uang banyak. Orang yang terlalu percaya diri, dan terlalu yakin kalau semua wanita akan mengejarnya. Intinya sejak awal aku tidak suka padanya, baik itu tata bicaranya, atau sikapnya yang arogan." jelas Adelle panjang lebar meluapkan apa yang ia pikirkan tentang Jassper.
Kenzo tersenyum, ia tidak risih ataupun bosan mendengar Adelle mengomel. Padahal biasanya ia pasti akan langsung meminta Asistennya diam kalau sudah mulai banyak bicara, dan meminta menyampaikan apa yang perlu disampaikan saja.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, karena sudah tidak terdengar lagi suara Adelle, Kenzo pun bangun dari posisi berbaring dan melihat apa yang terjadi. Rupanya Adelle terlalu bersemangat bercerita sampai ia pun terlelap tidur. Kenzo tersenyum, ia membenahi selimut Adelle dan mengusap lembut kepala Adelle.