
Langkah kaki sang Mama terhenti, "Cukup! Mama sangat kecewa padamu. Satu-satunya harapan Mama hanya kau hidup bahagia bersama Adelle. Dia adalah wanita terbaik yang pernah Mama temui, tapi kamu sudah membuatnya menjauh dari Mama. Sudahlah, James. Percuma saja Mama marah-marah. Semua sudah terjadi, dan tidak bisa terulang kembali. Jangan temui Mama," kata sang Mama kembali memperingatkan James untuk tidak pulang menemuinya.
James menggelengkan kepala, "Tidak, Ma. Kumohon jangan bicara seperti itu. Aku mengaku salah. Maaf, Ma. Maaf ... " kata James menangis.
"Maaf dan air matamu tak akan mengembalikan keadaan, James. Nikmatilah hasil yang kamu lakukan. Setelah semua terjadi, kenapa kamu baru menyesal? pikir baik-baik sebelum kamu bertindak. Mama pulang," pamit sang Mama.
Kali ini sang Mama benar-benar pergi meninggalkan James. Melihat Mamanya pergi dengan perasaan kecewa, membuat James merasa bersalah.
Lalisa mengernyitkan dahi, "Hah, sialan! Orang tua itu mengesalkan sekali. Beraninya mengatakan hal tak pantas padaku. Aku menyukai anaknya saja, seharusnya dia bersyukur." batin Lalisa kesal.
Lalisan berjalan mendekati James, "Sayang ... " panggil manja Lalisa.
James menepis tangan Lalisa, "Pulanglah dulu. Aku mau menyusul Mama dan bicara dengan Mama." kata James meminta Lalisa kembali ke rumah seorang diri.
"Apa? kamu mau aku pulang sendiri? bukankah kita hari ini mau pergi berbelanja. Kampu mau pergi?" kata Lalisa kesal. Ia menggerutu.
"Lalisa ... kita belanja lain waktu. Aku tidak bisa tenang sebelum bicara dan meluruskan semuanya pada Mamaku. Pulanglah," jawab James.
"Menyebalkan," keluh Lalisa.
Lalisa yang marah dan kesal akhirnya langsung pergi meninggalkan James. Ia mengepalkan kedua tangan, langkah kakinya begitu cepat meninggalkan Caffe.
***
Di rumah orang tua James. Mama dan Papa James duduk berdampingan di sofa, dihadapan mereka ada James yang sedang berlutut memohon ampunan.
"Ma, Pa, maafkan James." kata James menundukkan kepala.
Mama James mengepalkan tangan, "Mama 'kan sudah katakan. Jangan pernah datang mencari kami. Apa yang kau harapkan sampai seperti ini?" kata Mama James emosi.
"Aku ingin tulus meminta ampunan, Ma. Aku mengakui semua perbuatanku. Aku salah, aku salah." jawab James.
Mama James berdiri dari duduknya, "Sayang, suruh dia pergi. Aku tak ingin melihatnya. Kedatangannya tidak diterima di rumah ini," kata sang Mama yang langsung pergi.
__ADS_1
Papa James menarik napas, lalu mengembuskan napas. Ia tidak menyangka, putra kebanggaanya sudah melakukan tindakan tidak terhormat dan memalukan.
"Pulanglah, James." kata Papa James.
"Pa ... dengarkan dulu penjelasanku. Aku, aku, aku ... " kata James terbata-bata.
"Papa sudah dengar semuanya dari Mama. Tindakanmu tidak terpuji, bagaimana bisa Mama memaafkanmu. Jujur saja Papa saat ini bingung harus seperti apa menghadapimu. Kamu membuat Papamu ini kecewa, kesal, juga merasa bersalah. Bagaimana bisa ... bagaimana bisa, James ... " kata Papa James manangis.
James memeluk kaki Papanya, "Aku hanya tergoda sesaat, Pa. Aku pun tidak menyangka akan semakin jauh berhubungan dengan Lalisa. Pa, tolong aku ... " kata James memelas.
Papa James menepuk bahu putranya, "Nak, kamu sudah dewasa. Apa yang sudah kamu perbuat dan lakukan, harus bisa kamu pertanggung jawabkan. Papa tidak bisa membantumu." jawab sang Papa.
"Pa, kumohon." pinta James memohon. Ia mengeratkan pelukan ke kaki sang Papa.
"James, pulanglah. Jangan membuat Mamamu semakin kesal. Bisa-bisa tekanan darahnya nanti naik." kata Papa James. Yang langsung berdiri.
Pelukan James di kaki sang Papa pun terlepas. Papa James pergi menyusul istrinya ke dalam kamar. Di ruang tamu, hanya ada James yang terdiam menyesali perbuatannya.
"Semua karena wanita itu. Jika dia tidak menggodaku, ahh ... sialan!" batin James.
Setelah puas menangis dan meratapi kesalahannya, James pun pergi dari rumah orang tuanya.
***
Di kamar tidur, Papa dan Mama James saling diam. Mereka sebenarnya tidak tega pada James, tetapi mereka amat kecewa.
Papa James memegang tangan istrinya, "Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Kita sudah menghukumnya, dia pasti akan semakin dewasa nantinya." kata Papa James membuka percakapan.
"Aku tidak menduga dia akan seperti itu," gumam Mama James.
"Dia tadi mengatakan padaku, dia tergoda. Semua itu bisa terjadi karena ada kesempatan, kan. Apa kamu kenal wanita itu?" tanya Papa James manatap sang istri.
Mama James menggelengkan kepala, "Tidak. Aku tak berkenalan dengannya. Aku hanya sekilas menatapnya. Sepertinya dia bukan wanita baik-baik. Tatapan matanya terlihat seperti itu," kata Mama James membayangkan wajah Lalisa.
__ADS_1
"Hah ... (menghela napas) ayo, kita pergi ke supermarket. Bukankah kamu tadi ingin berbelanja sayur dan buah? sekalian kita minum teh di caffe samping supermarket." ajak Papa James.
"Ya, ayo ... kita lihat juga, apa Anak nakal itu sudah pergi atau belum." jawab Mama James.
Kedua orang itu pergi meninggalkan kamar tidur. Ia melihat James sudah tidak ada di ruang tamu. Mereka pun pergi dari rumah untuk pergi ke supermarket.
***
Sebelumnya ....
Setelah meninggalkan Caffe, keduanya bingung memilih tempat tujuan. Kenzo pun mengusulkan pergi mengunjungi restoran Jepang.
"Bagaimana kalau kita makan makanan Jepang saja?" tawar Kenzo menatap Adelle.
Adelle berpikir sesaat, lalu menganggukkan kepala tanda setuju.
"Ya, ayo. Ke restoran Jepang juga boleh," jawab Adelle.
Saat Kenzo tanya, apakah Adelle suka makan makanan khas Jepang? Adelle menganggukkan kepala, dan menjawab, jika ia suka semua makanan. Ia tidak pilih-pilih makan, karena baginya semua makanan terlihat enak.
"Pilih-pilih makanan adalah sesuatu yang aku benci," gumam Adelle.
"Jadi, kamu tidak suka pada orang yang pilih-pilih makan, ya. Hm ... begitu rupanya." sahut Kenzo fokus mengemudi.
"Bagaimana aku bisa suka? melihat seseorang pilih-pilih makanan rasanya ingin aku tenggelamkan ke kolam lumpur. Benar-benar tidak menghargai makanan," jawab Adelle. Yang tanpa sadar mengeluarkan ekspresi kesal.
Mendengar jawaban Adelle, Kenzo pun tersenyum. Adelle bingung, kenapa Kenzo tersenyum mendengarkan jawabannya, ia pun bertanya apa hal yang membuat Kenzo tersenyum?
"Kenapa tersenyum? apa ada yang membuatmu senang?" tanya Adelle.
"Tidak juga. Hanya heran saja. Setahuku wanita itu rumit. Mereka ... " kata Kenzo menjeda ucapannya.
Kenzo menjelaskan, jika biasannya wanita akan menjadi pemilih soal makan karena ingin menjaga pola makan dan bentuk tubuh ideal.
__ADS_1
"Melihatmu seperti ini aku cukup terkejut," lanjut Kenzo bicara.Adelle menggelengkan kepala, ia pun menyahuti penjelasan Kenzo, jika hal itu tidaklah berlaku baginya yang suka makan. Anehnya, meski makan banyak, ia sulit untuk meningkatkan berat badannya.
"Kamu suka makan juga? atau jangan-jangan suka pilih-pilih?" tanya Adelle ingin tahu. Adelle melirik ke arah Kenzo yang fokus mengemudi.