Cincin Kedua

Cincin Kedua
CK (21)


__ADS_3

Kenzo menjemput Adelle sepulang kerja. Ia ingin mengajak Adelle pergi ke suatu tempat. Saat Adelle bertanya ke mana mereka akan pergi? Kenzo hanya tersenyum tampan tanpa menjawab.


"Jangan terus tersenyum, Ken. Jawablah, kita akan kemana?" tanya Adelle sangat penasaran.


Kenzo meraih tangan Adelle dan mencium tangan Adelle, "Kamu pasti suka," kata Kenzo.


"Suka?" gumam Adelle.


Adelle menyandarkan kepalanya, "Ya, baiklah. Aku akan ikut ke manapun kamu membawaku." kata Adelle.


Kenzo meminta Adelle untuk bersabar, dan Adelle mengiakan apa kata kekasihnya itu. Ia juga merasa tak punya alasan lain untuk memaksa Kenzo bicara, yang bisa lakukan hanya diam dan menggu.


***


Dua puluh menit kemudian ....


Mobil yang dikemudikan Kenzo memasuki halamaan sebuah rumah. Adelle cukup terkejut melihat, jika ia dibawa ke rumh asing, yang baru pertama kali ia lihat.


"Ini rumah siapa? kenapa Kenzo membawaku ke sini?" batin Adelle bingung.


Kenzo mengajak Adelle turun. Ia membukakan pintu mobil untuk Adelle, dan meminta Adelle untuk berhati-hati saat turun.


"Ini di mana?" tanya Adelle menatap Kenzo.


Kenzo tersenyum, "Ini rumah masa depan kita. Awalnya aku membangun rumah ini tanpa pemikiran apa-apa. Hanya ingin membangunnya saja. Setelah bertemu denganmu, aku jadi ingin tinggal di sini bersamamu." kata Kenzo.


Adelle tersenyum, "Kamu suka sekali memporak porandakan perasaanku, ya. Tadi kamu membuatku bingung dan gelisah, sampai terus kepikiran. Sekarang kamu membuatku tersenyum senang," kata Adelle.


Kenzo meminta maaf. Ia tidak bermaksud untuk membuat hati Adelle gelisah sampai kepikiran. Kenzo berkata, jika ia hanya ingin memberikan kejutan saja untuk kekasih tersayangnya.


Adelle dan Kenzo berjalan perlahan mendekati pintu utama rumah. Kenzo menekan sandi pintu dan memberitahu sandinya pada Adelle, kalau-kalau Adelle ingin datang sendiri nantinya.


Pintu rumah dibuka Kenzo, "Selamat datang, Nyonya pemilik rumah." kata Kenzo mempersilakan Adelle masuk.


Adelle masuk dan melihat ruang tamu yang bersih. Meski di sana belum ada sofa dan meja yang mengisi. Ia lantas memuji Kenzo.

__ADS_1


"Memang, ya. Kekasihku selalu mengutamakan kebersihan," Kata Adelle.


Kenzo senang dan puas menerima pujian Adelle. Ia lantas mengajak Adelle masuk untuk melihat-lihat seluruh bagian rumah masa depan mereka.


"Rumah ini memang masih kosong tanpa furniture apa-apa. Jadi, kalau kamu berkenan, bolehkan kamu saja yang mengurus bagian isinya?" tanya Kenzo.


Adelle tersenyum senang, "Oh, dengan senang hati. Kalau pakai warna terang apa tidak apa-apa? Ruang tengah ini kan luas, jadi kalau pakai furniture warna gelap sepertinya tidak terlihat bagus." kata Adelle memberikan masukan.


Kenzo pun mengizinkan untuk Adelle melakukan apa saja. Ia hanya akan melihat hasil akhirnya saja.


Adelle ingat, ia menyimpan beberapa foto set sofa dan lemari pajangan keluaran terbaru yang belum dirilis di toko maupun pusat perbelanjaan manapun di dalam ponselnya. Saat Adelle melihat dan mencocokan, sepertinya ia sudah menemukan tempat yang cocok untuk produknya.


Adelle berpindah dari ruang tengah ke ruang tamu. Ia melihat sekeliling ruangan dan mencari set sofa yang lain yang cocok ditempatkan di ruang tamu.


Melihat Adelle bergitu bersemangat, Kenzo hany bisa diam mengamati. Ia tidak ingin menggangu sang kekasih yang terlihat sibuk.


Adelle memalingkan pandangan menatap Kenzo, "Sayang, kemarilah. Bantu aku memilih," panggil Adelle.


Kenzo langsung berjalan mendekati Adelle, "Ya, ada apa?" jawab Kenzo.


Adelle menunjukkan dua gambar set sofa pada Kenzo. Meminta pendapat Kenzo, set sofa mana yang sekiranya cocok untuk di ruang tamu.


"Pilihan kita sama," kata Adelle.


"Benarkah? wah, aku tidak menyangka itu. Aku hanya merasa warna gambar ke dua lebih elegan saja." kata Kenzo.


"Benar sekali. Karena itu aku memilihnya," sahut Adelle.


Adelle pun akhirnya memantapkan hati memilih gambar kedua untuk ruang tamu. Sekarang ia akan memilih set sofa untuk teras belakang rumah, set dapur dan meja makan. Ia juga akan melanjutkan memilih set lemari untuk kamar, tempat tidur dan lain-lain. Sore itu Adelle benar-benar bersemangat.


Dua jam kemudian ....


Tanpa terasa, langit sudah gelap. Perut Adelle juga sudah bergemuruh karena lapar. Adelle mengajak Kenzo untuk makan malam. Ia mengatakan, jika ia sudah selesai dengan pekerjaanya.


***

__ADS_1


Adelle dan Kenzo makan malam bersama si sebuah restoran. Di sana, secara tidak sengaja Adelle dan Kenzo bertemu James yang sepertinya baru selesai makan dengan teman kantornya.


Teman Kantor James dan Adelle saling kenal, keduanya pun saling menyapa. Adelle merasa tidak enak kalau mengabaikan sapaan teman James, ia tetap harus bersikap sopan dan ramah teman Jamez itu.


"Oh, Hallo. Apa kabar, Adelle. Lama tidak bertemu. Terakhid kita bertemu hmm ... saat acara kantor, kan?" kata Teman James menatap Adelle dengan senyuman.


"Oh, Hallo. Iya, lama tidak bertemu." jawab Adelle basa-basi.


Teman James menatap Kenzo. Ia juga menyapa Kenzo, memperkenalkan diri, jika ia adalah teman James, dan kenalan Adelle.


Kenzo tersenyum, ia juga memperkenalkan dirinya. Yang lebih mengejutkan adalah, Kenzo langsung mengatakan, jika ia adalah calon suami Adelle.


Teman James pun terkejut, begitu juga James. Tatapan James tajam menatap Adelle, tapi Adelle tak meladeni James. Meksi kaget, Adelle tidak mempermasalahkan apa yang Kenzo katakan. Apa yang Kenzo katakan memanglah kenyataan.


"Apa? pria ini calon suami Adelle?" batin James.


James memperhatikan Kenzo. Dan ia baru sadar, jika Kenzo adalah pria yang sama yang ia lihat saat ia dipangil Mamanya ke sebuah Caffe. Pada saat itu James juga bertanya pada Mamanya, siapa pria yang bersama Adelle. Tetapi Mamanya tidak menjawab.


Kenzo menatap James, "Apa ada yang mau kamu katakan? kenapa menatapku penuh rasa curiga?" tanya Kenzo menatap James.


Adelle menatap Kenzo, "Kenapa? apa ada sesuatu?" tanya Adelle.


"Hm, entahlah. Sejak tadi sepertinya dia menatapku. Karena mungkin ada yang ingin dia disampaikan padaku, makanya aku sekaliam tanya saja." jawab Kenzo.


Adelle menatap James, "Apa kamu ada hal yang ingin kamu sampaikan, James? jagan membuat kami tidak nyaman," kata Adelle.


Jemes mengerutkan dahi, "Ayo bicara sebentar denganku, Dell." ajak James.


Kenzo mengerutkan dahi. Saat ia akan bicara, Adelle sudah lebih dulu menjawab ajakan James.


"Siapa kamu mengajakku bicara? kita kan bukan siapa-siapa," jawab Adelle.


"Lima menit saja. Tidak, tiga menit." kata James.


"Tidak mau," tolak Adelle.

__ADS_1


Kenzo diam-diam tersenyum. Ia mengakui keberanian Adelle yang menolak tegas ajakan mantan suaminya untuk berbicara hanya berdua.


James kesal, ajakannya ditolak. Sedangkan Adelle memang tidak ingin lagi berurusan dengam James sejak mereka sah bercerai. Suasana tegang dan memanas. Pada akhirnya teman James menarik tangan James pergi bersamanya agar tidak mengganggu Adelle dan Kenzo yang sedang makan.


__ADS_2