Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab. 65


__ADS_3

Rumah itu semakin terasa dingin. Itulah yang Olivia rasakan. Tidak ada lagi kehangatan di dalamnya. Pun dengan hubungan mereka sebagai suami istri. Vino yang pulang larut malam, lalu dirinya yang sudah terlalu lelah untuk menunggu.


Bukankah pernah Olivia rasakan bahwa masalah yang terjadi di rumah tangga mereka ini tidak tahu apa pastinya? Hal ini jugalah yang membuat ia bingung dalam menentukan sikap.


Pada akhirnya, Olivia memberikan begitu saja semuanya terjadi apa adanya. Biarkan saja waktu yang akan menjawab semuanya.


Pagi itu, Olivia bangun dan langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Jika di hari -hari sebelumnya ia akan sangat semangat karena ada kedua orang tuanya yang akan ikut sarapan pagi bersama, tidak dengan dua hari ini. Meja makan itu kosong, tiada penghuni.


Rumah besar ini semakin sepi layaknya kuburan saja. Ditambah dengan kondisi tubuh Olivia yang semakin hari semakin dirasakan tidak memiliki tenaga. Nafsu makannya berkurang drastis. Entah apa yang terjadi kepada dirinya ini, Olivia pun tidak mengerti. Lebih tepatnya tidak ingin memikirkan kondisi dirinya sendiri.


"Olivia! Olivia!"


Olivia menjeda pekerjaannya mencuci peralatan masak yang digunakan untuk menyiapkan sarapan kala mendengar suara teriakan dari sang suami. Ia bergegas mencuci tangan, mengelap dengan kain yang tergantung di dinding kemudian memenuhi panggilan itu.


"Ada apa, Kak?" tanya Olivia bingung. Ia berdiri di hadapan Vino yang melangkah menuju dapur. Raut lelaki itu tampak kesal.


"Kamu sengaja mempermalukan mamaku di depan orang tua kamu ya?"


Olivia tersentak kaget mendengar tuduhan itu.


"Ini kejadiannya dua hari lalu kan dan Mama baru cerita tadi sambil nangis -nangis di telepon. Aku enggak nyangka kamu bisa bersikap begitu, Olivia? Mamaku juga ibu kamu, kan? Seharusnya kamu bisa menengahi secara adil dong perdebatan mereka. Mama sampai marah besar dan sangat sedih serta kecewa berat sama aku." Vino mengacak rambutnya dengan kasar. Ia juga mengusap wajahnya dengan kasar. Wajahnya tampak kalut.


"Sebenarnya apa yang sudah Mama ceritakan sama kamu, Kak?" Olivia masih berusaha untuk meredam emosinya.


"Banyak. Semuanya!" seru Vino dengan wajah merah. "Aku tahu kamu sedang bersedih, sedang berduka dan kehilangan atas meninggalnya anak kita. Tapi ... kamu juga masih punya kewajiban untuk urusin aku, perhatiin aku suami kamu--"


"Ah, jadi ini masalahnya. Kakak bahkan lupa apa yang telah dilakukan kamu sebagai seorang suami terhadapku. Aku tidak pernah membahasnya kan? Aku hanya diam dan mencoba mengerti." Olivia menyela dengan cepat. Untuk kali ini saja, biarkan ia mengeluarkan segala apa yang terpendam di dalam hatinya.

__ADS_1


"Emangnya apa yang aku lakukan?!" hardik Vino tidak terima. Ia telah melakukan yang terbaik, tetapi tetap saja tidak dianggap.


"Soal Raisya--"


"Oh, jadi kamu tidak terima kalau aku membantu keluargaku yang kesulitan? Aku harus fokus dengan keluarga kamu saja begitu? Egois."


"Apa?" Olivia menatap suaminya dengan nanar. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bisa bisanya ....


"Aku bahkan menerima keluarga kamu dengan baik di rumahku, Olivia. Tapi kamu ...." Telunjuk Vino teracung. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya dan itu sangat membuat Olivia sakit hati.


Di tempatnya berdiri, Olivia mengatupkan kedua bibirnya dengan rapat. Rahangnya mengeras. Kecewa dengan apa yang dikatakan Vino kepadanya. Sangat. Hingga, lidahnya tidak lagi mampu mengeluarkan suara. Pita suaranya seakan telah terputus membuatnya menjadi bisu.


Hanya gerakan dadanya yang naik turun yang menunjukkan betapa Olivia sedang merasa kesakitan sekarang. Napasnya sesak, sampai ia harus menepuk dadanya berulang kali.


"Olivia ... Sayang ...." Vino mengulurkan tangan, ia menyesal sekaligus khawatir melihat keadaan sang istri.


Vino harus menelan kekecewaan di kala Olivia mengangkat tangan ke depan dada, memintanya berhenti. Lantas, wanita itu pergi tanpa sepatah kata pun yang terucap. Olivia meninggalkannya begitu saja.


***


Beberapa hari kemudian, tidak ada bahasan apa pun di rumah itu. Sepasang suami istri itu seakan telah melupakan perdebatan mereka. Sebab, apa yang terlihat seakan telah menunjukkan bahwa mereka memang telah melupakan setiap masalah yang terjadi.


Vino berangkat bekerja seperti biasa, dengan Olivia yang kembali melayaninya seperti sebelum kepergian Alvin dari kehidupan mereka.


Tidak lupa, wanita itu juga menemani sang suami sarapan, bahkan membawakan bekal. Hingga di pagi itu, Olivia memibta izin kepada Vino untuk pergi berlibur.


"Mau pergi berapa hari?" tanya Vino. Ia bersikap biasa saja dan merasa sangat senang karena Olivia mau liburan.


Dengan liburan Vino berharap Olivia bisa sedikit rileks dan kembali dengan keadaan yang lebih baik.

__ADS_1


"Semingguan boleh?" Olivia balik bertanya dengan senyum terukir di wajahnya.


"Boleh. Nanti aku pesankan tiket ya. Tapi maaf, Sayang. Aku enggak bisa menemani. Karen sibuk banget sama kerjaan--"


"Aku tahu. Tidak masalah." Olivia cepat menimpali.


"Iya. Maaf ya. Mana aku juga lagi urus kasusnya Raisya yang .... eh, aku udah cerita belum ya?" Vino merasa bersalah. Ia seakan telah keceplosan menceritakan masalah Raisya. Pasalnya, ia tidak ingat apakah pernah menceritakan masalah ini sebelumnya atau belum kepada sang istri?


"Iya. Tidak apa apa. Aku ngerti kok. Kamu urus saja sampai selesai. Aku enggak masalah. Ambil waktu sebanyak yang kamu mau." Lagi. Olivia berujar dengan mengulas senyum tipis.


Vino meraih tangan Olivia di atas meja. Menggenggam tangan itu dengan erat. "Terima kasih, Sayang. Untuk pengertiannya," katanya tulus yang dibalas dengan anggukan dan senyum tipis.


Selanjutnya, keduanya pun menikmati sarapan pagi denhan diam. Sesekali, Vino akan berceloteh tentang karyawan dan pekerjaannya. Juga bercerita tentang rencana membuka cabang baru. Sungguh, hari ini adalah hari yang indah untuknya. Ada perasaan enggan berangkat bekerja.


"Rasanya, aku tidak ingin berangkat ke kantor hari ini. Tapi, beberapa mesin cuci, pengering dan setrika uap akan datang. Aku harus memeriksa secara langsung sebelum dikirim ke cabang." Vino berkata dengan raut manja. Ekspresi yang telah lama tidak ia tunjukkan di hadapan Olivia.


"Kamu harus tetap berangkat bekerja, Kak. Ada tanggung jawab yang harus kamu selesaikan. Aku juga akan mengurus bagianku di rumah ...."


"Kamu mau ngapain?" tanya Vino menelisik.


"Aku mau siap-siap liburan," jawab Olivia dengan senyum lebar.


"Ah, andai aku bisa menemani kamu, Sayang. Kita bisa bulan madu kan?" keluh Vino.


"Tidak apa-apa. Mungkin lain kali kamu juga bisa liburan kan--"


"Sama kamu." Vino menyahut cepat.


Olivia tidak membalas perkataan Vino. Ia hanya tersenyum dengan tatapan lekat. Seakan, menyimpan ekspresi Vino hari ini dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2