Cincin Kedua

Cincin Kedua
CK (7)


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudikan Kenzo memasuki Lobby sebuah gedung dan menghentikan laju mobilnya di sana.


"Benar di sini?" tanya Kanzo menatap ke arah gedung.


"Ya," jawab Adelle singkat.


Kenzo terus menatap ke arah gedung apartemen tempat tinggal Adelle. Ia juga melihat sekelilingnya.


"Te-terima kasih sudah mengantarku pulang. Untuk ajakanmu, aku akan pikirkan lagi. Aku akan menghubungimu, jika ada waktu." kata Adelle.


"Ya, aku tunggu." jawab Kenzo.


Adelle membuka pintu dan turun dari dalam mobil. Ia menutup pintu, lalu berjalan masuk ke pintu utama gedung apartemennya. Melihat Adelle yang sudah masuk, Kenzo pun mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan Lobby.


**


Adelle selesai mandi dan berganti pakaian. Ia duduk di meja kerjanya. Mengambil sebuah berkas, lalu membacanya dan menandatangani berkas tersebut. Ia teringat akan Kenzo, diambilnya ponsel di atas meja tak jauh darinya. Ia memeriksa pesan masuk yang dikirim Kenzo padanya.


"Apa aku harus menerima ajakannya?" batin Adelle.


Ia meletakkan ponselnya dan memandangi pesan dari Kenzo. Tidak lama sebuah pesan baru masuk, pesan yang dikirim Kenzo.


"Apa kau sudah tidur?" Pesan dari Kenzo.


Adelle melebarkan mata, "Dia tahu aku sedang menatap pesannya, ya? wah ... seperti cenayang saja." guman Adelle.


Adelle sempat ragu untuk membalas pesan Kenzo, tetapi ia tidak bisa mengabaikan Kenzo karena sudah berbaik hati mengantarnya pulang.


"Hai, Ken. Aku belum tidur. Sedang memeriksa berkas. Kamu sendiri masih membuka mata?" jawaban pesan dari Adelle.


Ponsel bergetar, pensan balasan dari Kenzo datang.


"Baru selesai mandi. Entah kenapa tidak bisa tidur. Perutku juga tidak nyaman." balas Kenzo menjawab pesan Adelle.


"Kenapa? apa kamu salah makan? minumlah obat agar pencernaamu tidak bermasalah lagi." balas Adelle.


"Tidak apa-apa. Mungkin karena aku terlambat makan dan langsung makan banyak saat di rumah Thomas dan Ellie. Oh, ya ... bisa bantu aku sesuatu? Ini berhubungan dengan bahan furniture." balas Kenzo.


"Tentu saja. Silakan bertanya." balas Adelle.

__ADS_1


"Boleh minta surelmu? akan aku kirimkan beberapa gambar lewat surel." balas Kenzo.


Adelle pun mengirim surel pribadinya kepada Kenzo. Tak ingin membuang waktu, Kenzo pun langsung mengirim beberapa gambar contoh bahan furniture pada Adelle. Kenzo bertanya  karena ia kurang memahami, kualitas furniture di Star Hotel memang bagus, tetapi ia ingin memberikan perhatian lebih untuk Hotel barunya di luar kota.


"Bagaimana menurutmu? bahan mana yang bagus untuk digunakan di Hotel. Aku cukup dibuat bingung karena kurasa semua bagus." isi pesan Kenzo.


Adelle menatap layar komputernya, "Sepertinya aku harus bicara langsung untuk menjelaskannya," batin Adelle.


"Begini, terlalu panjang jika aku jawab lewat pesan. Bagaimana kalau kita bertemu sambil minum kopi. Ayo bertemu lusa sebelum jam makan siang." balas Adelle.


"Baiklah. Sesuai perkataanmu saja. Terima kasih." balas Kenzo.


"Tidak masalah. Bukan hal besar." balas Adelle.


"Tidurlah. Ini sudah larut malam. Selamat tidur, Adelle. Mimpilah yang indah. Sampai jumpa esok lusa." balas Kanzo.


Adelle tersenyum, "Pria aneh ..." gumam Adelle.


"Ya, kamu juga. Selamat malam dan selamat tidur." balas Adelle.


Adelle meletakkan ponselnya dan menatap layar komputer di hadapannya. Ia menatap gambar-gambar yang dikirim Kenzo padanya.


***


Ia kembali teringat akan pertemuan pertama mereka. Kenzo sempat kesal saat ia dituduh sebagai perampok, bahkan dikatai sebagai pembuh berantai. Pada saat itu memang keadaanya sedang terdesak, tidak mungkin juga baginya menjelaskan panjang lebar pada orang asing yang baru saja ditemuinya. Makadari itu ia hanya bisa menerima semua perkataan Adelle tanpa bantahan.


***


Kenzo dan Adelle bertemu disebuah Caffe tidak jauh dari gedung kantor Adelle. Sambil minum kopi, mereka berdua mulai membahas hal-hal yang sebelumnya disepakati. Dengan sabar Adelle memberitahukan bahan-bahan yang berkualitas pada Kenzo. Ia juga menunjukkan contoh bahannya dihadapan Kenzo.


"... ah, begitu. Jadi bahan ini semua masih kurang memenuhi ekspetasiku, ya. Sayang sekali," gumam Kenzo sedikit kecewa.


Adelle menatap Kenzo, "Bagaimana dengan perusahaan yang membuat furniture Star Hotel? kenapa tidak menggunakan satu produk?" tanya Adelle ingin tahu.


"Ah, itu ... aku sudah memutus hubungan kerjasama kami setelah mereka menyelesaikan proyek Star Hotel. Ada sesuatu yang bersifat rahasia, yang tidak bisa aku beritahukan. Maaf, bukan bermaksud apa-apa." jawab Kenzo.


Adelle menganggukkan kepala perlahan, "Ah, ok. Santai saja. Aku hanya ingin tahu, jika kamu punya alasan tersendiri maka lupakan saja pertanyaanku. Anggap aku tidak pernah bertanya apa-apa padamu." jawab Adelle mengerti akan ucapan Kenzo.


"Terima kasih sudah mau mengerti," kata Kenzo tersenyum.

__ADS_1


"Tidak masalah. Kalau bahan ini ... (Adelle menunjuk sebuah gambar) biasanya digunakan untuk set sofa dan meja. Bahannya halus dan tebal, cocok untuk ruang tunggu di lobby Hotel. Kesan yang akan ditunjukkan adalah kenyamanan yang sempurna. Untuk warna bisa disesuaikan keinginan pemesan," jelas Adelle.


Kenzo melihat gambar yang ditunjukkan Adelle, "Kalau untuk set sofa dan meja suite room, apakah bisa?" tanya Kenzo.


"Bisa saja. Karena kesan mewahnya," jawab Adelle.


Kenzo mengangguk perlahan. Ia memandangi gambar-gambar lain yang ditunjukkan Adelle. Meski tidak memahami bidang yang sama dengan Adelle, Kenzo mau belajar. Setidaknya ia ingin tahu, agar mengerti, walau hanya sedikit.


Keduanya tampak serius dalam berdiskusi. Pada saat yang sama, sesuatu terjadi tanpa diduga. Seorang wanita paruh baya melihat keberadaan Adelle dan berjalan menghapiri Adelle. Wanita tersebut memanggil Adelle.


"Adelle ... " panggil seseorang itu, berdiri di samping Adelle.


Adelle memalingkan pandangan. Matanya langsung membulat, melihat seseorang di sampingnya.


"Oh, Ma-Mama ... " sapa Adelle


Wanita yang menyapa Adelle tak lain adalah mantan mertua Adelle, Mama James.


"Untuk apa Mama James di sini. Membuatku canggung," batin Adelle.


"Kamu sedang apa?" tanya Mama James.


"Ah, iya. A-aku sedang berdiskusi dengan rekanku. Mama jauh-jauh ke sini, datang bersama siapa?" tanya Adelle. Melihat sekeliling Mama James.


"Ah, maaf. Jika aku mengejutkanmu, Nak. Aku hanya sangat merindukanmu makanya ingin datang menemuimu di kantor. Melihat Caffe ini aku mampir ingin beli dessert untuk diberikan padamu." jelas Mama James.


"Be-begitu, ya ... " gumam Adelle.


"Apa kamu tahu sedang apa James? Mama menghubunginya dari kemarin, tetapi sepertinya ponselnya tidak aktif." tanya Mama James terlihat khawatir.


Adelle terdiam, "Kenapa bertanya padaku? Apa jangan-jangan Mama dan Papanya James tidak tahu soal perceraian kami? bukankah James sudah berkata akan mengurusnya?" batin Adelle bertanya-tanya.


Adelle menatap Kenzo, "Maaf, Ken. Boleh beri aku waktu berbincang sebentar?" tanya  Adelle.


Kenzo menganggukkan kepala, "Silakan," jawabnya.


"Ma, ikut aku sebentar. Kita perlu bicara berdua saja," kata Adelle menggandeng tangan Mama James.


Mama James terlihat bingung. meski demikian ia mengikuti langkah kaki Adelle yang membawanya pergi. Kenzo terus memperhatikan Adelle dan Mama James yang berlalu dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2