
Hari-hari Olivia kini diselimuti oleh kebahagiaan. Ia merasa jika hidupnya kini telah lengkap dengan kehadiran seorang putra yang sangat menyenangkan.
Olivia memilih fokus pada keluarga saja. Ia sudah sangat jarang pergi ke tempat kerjanya. Lebih baik ia berikan kepercayaan kepada karyawan dan hanya memeriksanya sesekali saja. Namun tetap, untuk usaha yang ia pegang karyawannya memberikan laporan bulanan kepadanya. Mengirim via email yang akan diperiksa secara teliti oleh Olivia.
Beberapa kali, ia akan menanyakan langsung kepada sang suami yang masih aktif bekerja. Pekerjaan Vino tentu lebih padat karena semua unit usaha dihandle nya sendiri.
Vino merasa senang saat mengetahui bahwa Olivia akan lebih banyak di rumah. Jadi wanita itu tak perlu merasakan capek dan kelelahan yang berlebih karena harus mengurus putra mereka sekaligus mengurus bidang usaha.
Alvin sudah pintar berceloteh. Bocah kecil itu sangat aktif dan tak mau diam, kecuali saat tidur saja. Bahkan saat menyusu pada sang ibu, ia akan terus bergerak. Baik itu kaki maupun tangannya.
Tidak jarang Olivia merasa kelelahan. Terpikir untuk mencari jasa baby sitter agar dirinya bisa beristirahat sejenak di kala sang putra tak mau diam. Namun, dipikir lagi cukuplah bagi dirinya untuk mengurus Alvin sendirian. Toh, Vino telah mempekerjakan dua asisten rumah tangga di keluarga kecil mereka.
Hari ini, Olivia tengah bermain di ruang keluarga bersama Alvin.
Olivia mengajak bercanda dan berbicara yang akan disambut dengan kekehan tawa. Ia sampai tak sadar jika pintu ruang tamunya diketuk dari luar.
"Maaf, Nyonya. Ada tamu." Salah satu asisten rumah tangganya memberi kabar.
"Oh iya, siapa, Bik? Suruh masuk saja. Tunggu di ruang tamu, ya." Olivia menjeda ajang main mereka. Kemudian mengangkat Alvin, menggendongnya ke depan.
Olivia sempat terkejut ketika melihat siapa tamu yang datang. Namun, ia segera mengendalikan emosi. Bersikap biasa saja dan ramah menyambut tamunya. Terlebih yang datang adalah ibu mertuanya beserta Raisya, adik suaminya.
"Baru sampai, Ma. Raisya?" sapa Olivia lalu duduk di kursi yang berada di hadapan kedua orang itu. Ada meja yang menjadi jarak di antara mereka.
"Iya, mau lihat anaknya Vino." Sekar beranjak dari duduknya mengulurkan tangan, lalu berdiri di dekat Olivia dan mengambil bayi dari gendongan wanita itu. "Aduh ... aduh, cucu Nenek. Gembul banget." Selanjutnya, ia pun kembali ke tempat duduknya semula. Bercanda bersama Alvin tanpa menghiraukan sekitar. Seperti tidak ada siapa pun di ruangan itu selain mereka berdua.
__ADS_1
Sementara itu, Olivia tersenyum. Kemudian menoleh ketika pembantu di rumahnya itu datang dengan membawa nampan berisi tiga cangkir dan cemilan. Olivia membantu menurunkan cangkir dan camilan itu, meletakkan di atas meja.
"Silakan, Raisya! Silakan, Ma!" kata Olivia sopan. "Terima kasih, Bik," ujarnya lagi kepada pembantunya itu.
Olivia memperhatikan nenek dan cucu yang tengah bercengkerama itu. Alvin tertawa lepas dan Sekar pun terlihat bahagia. Ia bersyukur karena ibu mertuanya itu mau menerima kehadiran anaknya walaupun terlahir bukan dari menantu yang diharapkan.
"Tadi dari rumah aja, atau mampir ke sini?" tanya Olivia mencoba mengajukan kalimat basa-basi. Sebagai tuan rumah ia merasa berkewajiban bersikap ramah pada tamu -tamunya termasuk pada dia wanita itu yang notabene adalah bagian dari keluarganya.
Tatapan Oliva masih menatap lekat pada Raisya yang memegangi lengan Alvin. Ada ekspresi gemas yang ditunjukkan Raisya pada bayi gembul itu.
Raisya menolah sekilas. "Dari rumah. Mama memang sengaja ngajak ke sini," katanya lalu kembali beralih pada Alvin. Ia begitu saja tertawa melihat bayi itu.
"Iya, belum pernah lihat cucu. Vino enggak mau ngajak Alvin ke rumah," gerutu Sekar.
"Kamu mau punya bayi kayak gini?" Sekar menatap lekat nan hangat kepada Raisya.
Ada yang seakan mencubit hati Olivia. Ia sendiri belum pernah merasakan ditatap sedemikian rupa oleh Sekara, selain tatapan sinis.
Olivia menghela napas dalam. Mencoba tak terlalu melankolis menghadapi ibu mertua dan adik iparnya itu.
"Mau dong, Ma. Lucu begini," sahut Raisya dengan senyum lebar. Wajahnya tampak bahagia.
"Bikin sendiri," goda Sekar. Lantas kedua orang itu pun tertawa bersama. Alvin tampaknya tak mau kalah. Bayi itu ikut terkekeh pelan, dengan suara lucunya.
Olivia mengulas senyum melihat anaknya itu nyaman di gendongan neneknya.
__ADS_1
"Iya, gemes banget, Ma." Raisya mencubit lengan Alvin. Mungkin ia berniat untuk menggoda saja, tanpa sengaja mencubit secara keras. Ia mungkin tidak mengerti jika kulit bayi tiga bulan itu sangatlah lembut, halus sekaligus sensitif.
Tak perlu menunggu detik berlalu, sebab kini yang terdengar memecah ketenangan ruangan itu adalah tangis Alvin yang pecah begitu saja.
"Sayang ...." Olivia begitu saja berdiri dari kursinya. Menyerobot bayi yang tengah menangis meminta pertolongan itu. Ia tak peduli jika Sekar menampakkan wajah masam atas sikapnya yang ingin menenangkan hati anaknya. "Sakit ya, Nak. Maaf yaa ...." Ia berdiri berayun menggerakkan tubuhnya agar si bayi cepat tenang.
Tangan Olivia mengelus lengan Alvin yang tampak memerah sekaligus meniup bagian yang sakit itu.
"Raisya, kulit bayi ini sangat lembut dan sensitif. Jangan kekencangan kalau mencubit atau gemas," ujar Olivia memberi peringatan pada Raisya yang tampak khawatir.
"Udah ... udah, Raisya juga enggak sengaja. Enggak perlu diperpanjang. Niat dia juga baik kok tadi, main sama Alvin dan bercanda." Sekar begitu saja menyahut dengan wajah tak suka.
Suasana yang beberapa menit lalu sempat terasa hangat di sana, kini berubah menjadi panas. Sekar berdiri meraih tas tangannya lalu mengajak Raisya berdiri.
Di gendongan Olivia, Alvin masih saja menangis. Ingin rasanya Olivia menjawab perkataan Sekar. Namun, ia urungkan karena merasa tak enak hati jika harus bertengkar di sini. Lagi pula, ini adalah kunjungan pertama ibu mertuanya itu ke rumahnya. Terlebih dengan niat untuk mengunjungi sang cucu pertama.
"Ayo, pulang! Cuma begitu saja sudah marah enggak terima," gerutu Sekara. Lantas begitu saja keluar dari rumah.
Olivia berusaha mengejar. Ia tadi sudah berniat untuk mengajak mereka makan siang bersama. Namun, apalah daya ... Sekar melengos begitu saja bahkan tak menyambut uluran tangannya yang meminta salim.
Olivia melepas kepergian kedua orang itu dengan perasaan sedih. Ya, seharusnya ia bisa menahan diri untuk tidak langsung menegur Raisya tadi. Ia tahu, ibu mertuanya tak akan terima jika anaknya mendapatkan teguran darinya.
Akan tetapi, salahkah dirinya jika ingin melindungi sang putra dari apa pun yang menyakiti?
Olivia menghela napas. Tak mengerti lagi harus berbuat apa menghadapi ibu mertuanya itu.
__ADS_1