
Hari ini, Olivia telah selesai membuat mantel bayi. Warnanya yang kombinasi tiga warna membuat benda itu terlihat sangat cantik dan menarik. Ia pun memotret hasil karyanya dan memasang di instagram dengan nama akun barunya.
Olivia telah mengganti nomor dan semua akun media sosialnya. Ia ingin bebas berekspresi tanpa ada rasa takut karena dipantau oleh Vino.
'Si kecil memakai ini, pasti akan terlihat keren.'
Ia menulis caption pada gambar tersebut. Usai meng-upload status itu, Olivia pun segera beralih ke akun yang lain. Melihat-lihat jika ada grup tentang rajutan yang membuatnya tertarik untuk bergabung. Setelah tidak menemukan apa yang dicari dan merasa bosan, dirinya pun segera keluar dari sana kemudian mematikan layar ponselnya. Meletakkan benda pipih itu ke meja dengan posisi terbalik, lalu Olivia membereskan peralatan yang digunakan untuk merajutnya.
Olivia merenggangkan badan. Ia mengangkat kedua tangan ke atas dan memiringkan tubuh ke kiri dan ke kanan. Kegiatan menoton seperti ini cukup membuat tubuhnya pegal. Namun, ia cukup senang karena hasil kegiatannya itu dirinya kini tidak lagi merasa bosan menjalani hari harinya.
Setiap hari, waktunya seperti terasa cepat berlalu. Tahu-tahu siang, tahu-tahu sore, tahu-tahu malam. Begitu terus setiap harinya. Beruntung ada Bunda Kania yang memperhatikan diri dan juga janin dalam kandungan, jika tidak sudah barang tentulah Olivia tidak ingat dengan namanya makan.
"Kak, dicariin Bunda, tuh." Nadia masuk ke kamar tanpa mengetuj pintu terlebih dahulu.
Gadis itu memang sudah terbiasa bersikap seperti itu. Walaupun sering kali mendapatkan peringatan dari sang bunda, tetapi tetap saja ia tidak acuh.
"Oh iya, sebentar. Ini udah selesai, kok." Olivia bergegas melangkah keluar dan menggandeng lengan putri semata wayang pemilik rumah. Keduanya pun keluar dari kamar secara bersamaan.
Di ruang makan, Bunda Kania telah menunggu kedatangannya. Di sana, juga ada Ayah Akbar yanv sudah ikut bergabung.
Kesibukan Ayah Akbar sebagai bisnisman yang memiliki anak perusahaan di seluruh penjuru Indonesia, membuat lelaki itu sangat sibuk. Pekerjaan yang dilakukan cukup menguras waktu dan tenaga. Walaupun, sudah ada karyawan dan orang kepercayaan yang mengurus. Namun, tetap saja Ayah Akbar melakukan kunjungan untuk melihat perkembangan anak perusahaannya.
Awalnya, Olivia tidak tahu. Pasalny, Bunda selalu bilang jika Ayah Akbar ada dinas ke luar kota. Ternyata, dinas yang dimaksud adalah memantau perusahaan sendiri.
Wajar saja jika Bunda Kania bisa memberikan suntikan modal kepadanya dulu. Memang, Olivia akui keluarga ini sangat dermawan dan baik sekali.
Olivia melepaskan gandengan tangannya di lengan Nadia, lalu menarik kursi dan ikut bergabung bersama tuan rumah.
__ADS_1
"Kita makan dulu. Kamu perlu menjaga kandungan dan kondisi kesehatan kamu, Olivia." Bunda Kania selalu mengingatkan dirinya akan hal itu.
Layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan putrinya, Bunda Kania pun menunjukkan perhatian yang demikian.
Oh, perlakuan itu mengingatkan Olivia akan ibu dan bapaknya. Ingatkan Olivia untuk menelepon kedua orang tuanya! Menanyakan kabar mereka di sana.
"Ini, Bik Rum masakkan spesial menu kesukaan kamu." Bunda Kania mengambil mangkuk, menyendok soto dari wadah besar. Apa yang dilakukannya itu tidak luput dari perhatian Nadia.
"Bunda, aku mau diambilkan juga. Bukan Kak Olivia saja," protes Nadia dengan manja.
Di hadapannya, sang ayah hanya terkekeh pelan sambil geleng kepala. Sifat manja sang putri jadi hiburan tersendiri untuknya.
"Ya ... yang hamil dulu, dong. Kamu, sih, bisa ambil sendiri." Bunda Kania membalaa ucapan putrinya itu dengan santai.
"Dih, curang. Masak aku harus hamil dulu baru dilayani sama Bunda," gerutu Nadia, tetapi tentu saja tidak sampai ke hatinya.
"Biarkan saja dia. Lagi akting saja. Biasanya juga ambil sendiri," sahut Bunda Kania.
"Mau Ayah ambilkan?" tawar Ayah Akbar yang justru mendapatkan delikan dari sang putri.
"Dih, manja super kalau ada Ayah. Dinas ke luar kota lagi aja, Yah," sahut Bunda Kania lagi.
"Yeee! Jangan, dong, Bund. Baru aja sepekan di rumah. Udah mau pergi aja." Sesaat mata Nadia memicing. "Ayah enggak punya keluarga baru, kan, di luaran sana."
"Ya enggaklah. Cukup Bunda di hidup Ayah." Sang Ayah menyahut cepat dan seketika itu juga perasaan lega menghampirinya.
"Ya, takut aja. Kayak ayahnya temen aku. Dinaa ke luar kota, enggak tahunya punya keluarga baru," balas Nadia lagi.
__ADS_1
"Bunda ada, tuh, baca novel judulnya Cincin Rubi. Anaknya baru tahu kalau sang ayah punya keluarga baru. Nah, pas di rumah sakit ayahnya meninggal dan menitipkan anak dari wanita lain itu kepada ibunya Rubi itu. Pada akhirnya, Rubi harus bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Sebab, tidak berapa lama kemudian sang ibu jatuh sakit." Bunda Nadia memgambilkan makanan untuk sang putri dan meletakkanya di hadapan Nadia. Lantas, ia pun duduk di kursinya dan mulai menyantap hidangan di piringnya sendiri.
"Terus, Bunda?" tanya Nadia antusias.
Sedangkan Olivia hanya diam menyimak. Ia juga merasa tertarik dengan cerita tersebut.
"Ya, terus ... Rubi yang kuliahnya lewat jalur beasiswa pun gagal. Ia fokus mencari uang untuk pengobatan ibu dan kehidupan mereka. Akhirnya, dia melamar seorang lelaki untuk jadi suami." Bunda Kania menyuap makanannya.
"Terus, Bunda." Nadia sudah tidak sabar menunggu kelanjutan cerita sang bunda.
"Baca sendiri. Itu novel karyanya Ike Frenhas. Atau baca cerita lain di aplikasi noveltoon."
Nadia menghela napas panjang. Merasa sia-sia untuk mendesak Bunda Kania untuk bercerita lagi. Akhirnya, ia pun melanjutkan menyantap makanan.
"Oh iya, Olivia. Bunda sudah berbicara dengan Ayah masalah kamu. Nah, Ayah berencana untuk mencabut modal yang sudah diberikan--"
Ucapan Bunda Kania terputus saat suara batuk Olivia terdengar. Ia segera memberikan segelas air putih, menunggu Olivia minum sampai batuknya reda.
"Modal itu, kan, awalnya memang dikhususkan untuk kamu. Karena, kami sangat berterima kasih atas bantuan kamu Nadia bisa jadi pintar. Dan, kalau pada akhirnya kamu berencana berpisah dengan suami kamu itu maka kami tidak memiliki alasan untuk tetap membiarkan modal dipegang dia." Bunda Kania menjelaskan panjang lebar.
Olivia bisa mengerti alasan itu. Terlebih, jika mengingat bagaimana Vino dulu tidak langsung mau diajak mengelola usaha itu.
"Aku mengerti, Bunda ... Ayah." Olivia membalas dengan penuh pengertian. "Aku juga enggak bisa memaksa Bunda dan Ayah untuk tetap membiarkan modal dipegang Kak Vino. Apalagi dengan status kami sekarang. Aku belum mau bertemu dan komunikasi dengan dia. Aku berharap dengan begini Kak Vino bisa mengerti maksudku dan segera mengurus perceraian kami."
"Tapi, menurut Bunda ... lebih baik kamu menghubungi suami kamu itu dan bila perlu memggugat cerai dia, Olivia. Jangan lama-lama menggantung begini--"
"Kayak jemuran aja, Bunda ... digantung," celetuk Nadia yang seketika mendapatkan pelototan dari Bunda Kania.
__ADS_1