Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab. 44


__ADS_3

Vino menepati ucapannya. Tidak berselang lama ia telah sampai untuk menjemput sang istri. Lelaki itu memilih untuk tak keluar dari kendaraan roda empat itu, menunggu dengan tak sabar kedatangan Olivia. Rencananya sih, demi menghemat waktu. Akan tetapi, berdiam diri saja hanya menunggu membuat waktu seakan berhenti berputar.


Vino bernapas lega saat Olivia berjalan mendekati mobil. Dengan gerakan cepat, ia membukakan pintu untuk istrinya itu, tak lupa membantu Olivia mengenakan sabuk pengaman.


Tanpa berkata kata lagi, Vino melajukan kendaraannya menuju jalanan. Menembus keramaian dengan hati gelisah.


Sudah lama tak berjumpa dengan Raisya. Bukannya mendapatkan kabar yang membahagiakan hati, justru dirinya harus mendapatkan kabar buruk itu.


"Semua akan baik-baik saja, Kak," ujar Olivia kemudian. Memecah keheningan yang beberapa menit lalu mengukung mereka.


Vino melirik sebentar. Membalas senyuman sang istri dengan senyuman pula. Namun, senyum yang ia berikan itu tak sampai ke mata. Dan, jangan kira jika Olivia tak mengetahui kegelisahannya. Wanita sangat paham betul dengan apa yang tengah ia rasakan.


Tangan Olivia terulur. Mengusap lembut lengan lelaki itu. Memberikan kekuatan sekaligus menyalurkan kenyamanan untuk Vino, yang sebenarnya apa yang dilakukan itu adalah untuk dirinya sendiri. Sebab, sedari tadi jantungnya itu berdebar tak keruan. Tubuhnya bahkan beraksi panas dingin saking gugupnya.


"Aku tahu," sahut Vino kemudian setelah terjadi jeda di antara keduanya.

__ADS_1


Selanjutnya, kembali hening yang menyapa mereka. Hingga mobil itu berhenti di depan rumah sakit yang dituju.


Tanpa ingin menunggu waktu yang semakin bergerak. Vino segera berlari menuju meja informasi. Menanyakan beberapa hal yang ia butuhkan. Selanjutnya, ia pun kembali menyusuri lorong-lorong untuk mencari kamar pasien tempat adiknya dirawat.


Setelah dirinya berdiri tepat di depan pintu, tangannya segera terulur untuk memegang handel pintu di hadapannya itu. Ia mengintip sebentar, tampak sang mama berada di dalam sana. Tiba-tiba, ingatannya berputar ke belakang. Lalu Vino tersentak. Dirinya telah meninggalkan Olivia yang bahkan tengah mengandung buah hatinya.


Vino berdecak. Kesal sendiri. Bisa -bisanya ia lupa pada sang istri yang sekarang mungkin saja Olivia tengah mencari keberadaannya.


Tak ingin berpikir lama, Vino pun segera berbalik arah. Seperti saat tadi datang, ia kembali berlari menuju pintu keluar rumah sakit.


"Sayang, maaf, tadi aku ...." Vino berucap dengan napas terengah engah. Ia menghampiri Olivia yang kini menatap lurus padanya.


Senyum wanita itu terkembang lebar menyambut kedatangan Vino.


"Udah ketemu ruangannya?" tanya Olivia masih dengan senyum. Ia memegang tangan sang suami lalu menggenggam erat.

__ADS_1


"Iya, sudah," jawab Vino.


Selanjutnya, Olivia kembali menghadap meja. Mengucapkan terima kasih kepada petugas lalu mengajak sang suami menuju tempat di mana Raisya dirawat. Tak lupa, ia menenteng paper bag yang telah ia siapkan.


"Oh, kamu bawa sesuatu ya? Aku sampai enggak sadar. Sini!" kata Vino saat menyadari bahwa Olivia melepaskan genggaman tangan mereka.


"Iya, cuma roti aja. Buat makan yang jaga," kata Olivia pelan. Lagi, ia tersenyum. Jantungnya semakin berdentam tak keruan. Namun, dirinya tak ingin jika lelaki yang berjalan di sampingnya itu mengetahui kegelisahannya. Maka, senyuman itulah yang mampu menyamarkan keresahannya.


"Aku bawain!" pinta Vino yang yang langsung dituruti oleh Olivia.


Vino membuka pintu kamar pasien. Dan seketika itu juga, tatapan mereka saling bertemu.


"Ngapain kamu ke sini sama dia?"


Pertanyaan itulah yang pertama kali mereka terima dari sang mama yang menatap sinis.

__ADS_1


__ADS_2