Cincin Kedua

Cincin Kedua
CK (30)


__ADS_3

Jassper yang penasaran pun memberanikan diri pulang ke kediaman orang tuanya. Ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara orang tuanya dengan Paman dan Bibinya dulu semasa hidup. Jassper tidak banyak berharap. Ia hanya ingin tahu alasan Kakeknya begitu acuh tak acuh pada keluarganya, terutama Papa dan Mamanya.


"Ya, lebih baik aku tanya langsung. Apa Papa dan Mama mau bicara sesuatu, jika ku tanya?" batin Jassper.


Jassper masuk ke dalam rumah dan disambut pelayan. Melihat Bibi pelayan, Jassper pun bertanya di mana Papa juga Mamanya berada. Bibi pelayan menjawab, jika orang tua Jassper sedang berada di ruang kerja.


Segera Jassper melangkah pergi setelah mendengar jawaban dari pelayan. Entah mengapa, perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Jantung Jassper berdegup kencang, dan keringat dingin mulai bercucuran.


"Ke-kenapa aku gelisah dan tegang, ya? apa karena aku takut akan kena marah, jika bertanya? atau karena hal lain?" batin Jassper.


Sejak kecil, Papa dan Mama Jassper selalu mendidik Jassper dengan keras. Jassper yang merupakan seorang pria pun, dilarang ini dan itu. Sebagai pria, Jassper tak boleh menangis apalagi terlihat menyedihkan. Jassper juga tidak boleh tertawa untuk hal tidak penting. Lebih dari itu, Jassper diminta mati-matian belajar agar kualitas nilainya terus meningkat. Jika nilai Jassper tak sesuai harapan Papanya, maka Jassper akan dihukum di ruangan gelap.


Sejak saat itu Jassper yang lembut dan baik hati pun berubah menjadi orang yang tidak puny perasaan. Mirip dengan orang tuanya, terutama sang Papa. Dulu saat belum tahu apa-apa, Jassper selalu menjadi anak yang  riang dan ramah. Sekarang ia bahkan tak akan bersikap baik dan ramah pada siapapun tanpa alasan.


Papa dan Mama Jassper selalu membandingkan Jassper dan Kenzo. Di mata orang tua Jassper, Kenzo adalah anak yang istimewa. Selain tampang yang rupawan,  Kenzo adalah anak yang pintar. Sehingga selalu mendapat pujian dari sang Kakek. Itulah yang membuat Mama Jassper selalu menekankan putranya terus belajar agar bisa melampaui Kenzo dan bisa mendapatkan pujian dari sang Kakek juga. Sayangnya kemampuan Jassper dalam belajar tak setara dengan Kenzo. Jassper yang tertekan pun pernah menolak dan memberontak sampai mogok belajar. Apa yang didapatnya setelah itu? Jassper lagi-lagi dimasukkan ke ruang gelap seharian sampai pingsan.


Ketekutan akan diseret masuk ke ruangan gelap terbawa hingg dewasa. Jassper sangat benci ruangan tanpa adanya cahaya penerangan. Ia tidak suka berada di ruangan gelap dan pegap, ia akan merasa sesak napas seperti tercekik dan tiba-tiba pingsan.


Jassper mengatur napasnya, ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Jassper yang saat itu berdiri di depan pintu pun berusaha sekeras mungkin menenangkan diri. Pikirannya kalut, tapi ia tidak bisa begitu saja mundur tanpa mendapatkan jawaban atau penjelasan apa-apa.


Ia mengetuk pintu ruang kerja, dan membuka pintu. Jassper masuk ke dalam ruangan dan kembali menutup pintu. Di sana ia melihat Papanya sedang duduk di meja kerja menatap layar komputer, sedangkan Mamanya membaca sebuah berkas dokumen di sofa. Sang Mama menatap ke arah pintu, ke arah Jassper yang datang.

__ADS_1


"Oh, kamu datang, Nak." sapa sang Mama.


"Mama sedang apa?" tanya Jassper basa-basi. Berjalan mendekati sang Mama, lalu duduk di samping Mamanya.


"Sedang melihat laporan bulanan perusahaan. Kamu kenapa tidak memberi kabar kalau mau datang. Mama akan siapakan sesuatu kalau tahu kamu datang," kata sang Mama. Mengusap wajah tampan anaknya.


"Tidak perlu repot, Ma. Aku hanya mampir sebentar karena kangen pada Mama." jawab Jassper.


Mama Jassper tersenyum, ia menatap lekat ke arah putranya. Jassper melirik menatap sang Papa. Ia pun memberanikan diri menyapa sang Papa yang terlihat sibuk kerja.


"Apa Papa sedang sibuk?" tanya Jassper.


Jassper diam. Ia berpikir bagaimana caranya ia bertanya tanpa menyinggung perasaan orang tuanya sehingga keduanya tak marah. Jassper tidak bisa berpikir dan menjadi gelisah.


"Ada apa?" Tanya sang Mama memegang tangan Jassper.


Jassper tersentak kaget, "A-ah ... bu-bukan apa-apa, Ma. Maaf, aku sedang memikirkan hal lain dan kaget saat tiba-tiba Mama menyentuhku." ucap Jasseper beralasan.


"Dengar-dengar, Kenzo akan menikah. Apa benar?" tanya Papa James. Berjalan mendekat ke arah sofa.


Jassper menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan sang Papa. Mama Jassper menyahut, jika keluarganya mendapatkan undangan juga. Hanya saja belum dibuka olehnya. Papa Jassper ber-oh ria mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa murung?" tanya sang Papa.


Jassper mejawab. Jika ia baru saja datang ke rumah Kakek dan bertemu Kakeknya. Jassper pun menceritakan apa yang terjadi di rumah Kakeknya, tetapi tidak semua ia beritahu. Masalah sang Kakek memiliki semua bukti kejahatannya tidak ia beritahu. Jassper hanya mengatakan, jika ia sempat mengacaukan pekerjaan Kenzo dan sepertinya ketahuan oleh Kakeknya. Sehingga ia mendapat peringatan.


"Pak Tua itu sampai bicara ssperti itu padamu?" tanya sang Papa melebarkan mata.


Jassper menganggukkan kepala pelan. Ia juga mengatakan kalau sang Kakek berniat melakukan sesuatu, jika sampai tahu Kenzo di ganggu lagi. Jassper mebela diri, ia mengatakan jika ia hanya ingin membuat Kenzo kesal karena sudah membuatnya kesal lebih dulu.


"Papamu tidak pernag berubah. Lihatlah, bahkan pada cucunya pun sikapnya begitu keras." kata Papa Jassper menatap istrinya.


Mama Jassper menatap Papa Jassper, "Kenapa? apa kamu mau menyalahkanku? bukankah yang mebuat Papaku kesal itu kamu. Kalau saja kamu tidak bertindak berlebihan pada Adikku dan Adik iparku. Papa pasti tidak akan mengusir dan mengucilkan kita. Jangan hanya terus menyalahkanku, aku susah susah payah membantu dan mengikuti kemauanmu. Dasar ... " kata Mama Jasper menggerutu kesal.


Papa Jassper mengerutkan dahi, "Kamu ini. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku kan hanya mengatakan kenyataan. Kalau Papamu sejak dulu memang pilih kasih," kata Papa Jasper yang juga merasa kesal.


Suasana memanas. Papa dan Mama Jassper sama-sama saling diam. Jassper khawatir, Papa dan Mamanya akan bertengkar. Ia pun mengajak Mamanya keluar dari ruang kerja Papanya. Agar Papanya sedikit lebih tenang.


Jassper meminta dibuatkan makanan pada Mamanya sebagai alasan. Dan Jassper pun berhasil membawa sang Mama pergi dari hadapan sang Papa.


***


Di dapur, Jassper duduk diam menatap Mamanya. Ia kepikiran ucapan Mamanya yang ada sangkutannya dengan Paman dan Bibinya. Karena Mamanya jauh lebih mudah diajak bicara dari Papanya. Jassper pun mencoba melakukan pendekatan. Jassper ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sudah dilakukan orang tuanya pada Paman dan Bibinya. Mencari tahu apa yang memicu amarah sang Kakek.

__ADS_1


__ADS_2