Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 72


__ADS_3

"Jangan bicara begitu, Ma. Aku masih anak Mama juga. Pasti akan merasa sedih kalau Mama sedih dan sakit begini." Vino berkata dengan suara serak.


Semua bayangan buruk berkelebat di kepala. Bagaimana jika? Oh, terlalu banyak pengandaian jika yang berdesakan di kepalanya ini.


Vino merapat pada ranjang, tangannya hendak meraih tangan sang mama. Namun, tampaknya wanita yang telah melahirkannya itu masih merasa enggan.


"Apa yang ... harus aku lakukan agar Mama mau memaafkan aku, Ma?" tanya Vino putus asa.


"Kamu bahkan tidak sudi memenuhi keinginan Mama Vino." Wanita itu menatap sekilas wajah sang putra dengan sinis, lalu kembali berpaling.


Vino menghela napas panjang, jantungnya berdegup sangat kencang sampai-sampai suara di sekitarnya seolah tidak terdengar. Hanya bisa mendengar suara degup jantungnya saja.


"Aku mau, Ma. Aku mau. Mama mau apa?" kata Vino dengan tubuh gemetar.


"Menikahlah dengan Raisya. Cuma itu yang mana mau dari kamu." Sang Mama menoleh. Wajahnya yang tadi tampak sangat murung, kini menerbitkan segaris senyum.


"Aku dan Raisya itu kakak adik, Ma." Vino berujar dengan perasaan putus asa.


Belumlah selesai masalahnya dengan sang istri, sekarang dirinya harus dihadapkan dengan masalah baru. Kenapa begitu sulit untuk membuat sang mamanya itu bangga kepadanya?


"Kalian bukan saudara kandung, jadi bisa menikah." Sang mama tampak bersikeras.


"Ma ...." Wanita yang menjadi topik obrolan ibu dan anak itu pun akhirnya angkat bicara.


"Kenapa? Kamu juga enggak mau menurut sama Mama?" tanya sang mama dengan sorot tajam.


Seketika wajah cantik Raisya pun memucat. Kalimat yang telah tersusun di kepala hanya bisa teredam di dalam dada. Mau gimana lagi? Dirinya saja tidak akan mampu membantah ucapan wanita yang telah membesarkannya itu.


Pada akhirnya, Raisya hanya diam. Lebih baik menurut. Ya, walaupun di dalam hatinya ia sangat berharap jika Vino mau menerima usulan itu. Sebab bagi Raisya, tidak ada keluarga yang baik yang pernah ia temui selain keluarganya saat ini.

__ADS_1


"Kalau kamu enggak mau. Lebih baik kamu pergi saja dan enggak usah jenguk- jenguk Mama lagi." Sang Mama memberikan ultimatum. Sepertinya, kalimat itu sudah menjadi senjata andalan saat terdesak.


Siapa anak yang mau melawan titah orang tua? Tentu saja tidak. Hanya saja, anak bukanlah robot yang tidak memiliki perasaan bukan?


Vino tidak lagi mampu untuk berpikir. Akhirnya, ia hanya diam saja dan menerima konsekuensi yang diberikan sang mama. Hatinya sakit, tentu saja. Saat tangannya terulur meminta salim, sang mama justru memalingkan wajah seperti tidak sudi menatapnya. Pun di saat dirinya berpamitan, wanita itu tetap bergeming seperti posisinya itu.


Vino melangkah gontai keluar dari ruang rawat inap itu. Langkahnya terhenti seketika kala mendengar langkah yang mengejarnya dan suara yang memanggil namanya.


"Kak." Tangan Raisya terulur menyentuh bahu Vino. "Aku minta maaf," katanya lembut. Tatapannya sendu menatap lelaki yang menampilkan wajah kuyu.


"Minta maaf untuk apa? Kamu benar, tidak ada kakak adik yang berciuman. Tapi, kakak juga enggak bisa menikah dengan kamu. Maaf." Vino menatap dinding putih di hadapan. Ia pergi begitu saja, mengabaikan tangan Raisya yang masih bertengger di bahunya.


Akan tetapi, Rasanya justru mengejar langkahnya. "Maafkan aku karena ucapanku kemarin, Kak." Ia menabrak punggung yang kini terlihat lemah itu. Kedua tangannya menyelip di bawah lengan Vino, melingkar di pinggang lelaki itu dengan erat. "Tidak seharusnya aku berkata demikian," katanya kemudian terisak.


"Semua sudah terjadi." Vino berujar dengan suara yang tidak kalah lirih. Ia hendak melepaskan tangan Raisya yang melingkar di pinggangnya, tetapi pelukan gadis itu justru semakin erat.


"Hanya Kakak yang peduli sama aku. Hanya Kakak juga yang menyayangi aku dengan tulus. Aku enggak mau kehilangan Kak Vino." Raisya meracau dengan suara serak. Ia masih menenggelamkan wajahnya di punggung lelaki itu.


Kali ini, Raisya mau melepaskan rengkuhan tangannya di pinggang Vino.


Vino pun berbalik, menatap wajah sang adik yang tampak kacau.


"Aku ... aku cinta sama Kak Vino." Raisya mendongak, menatap wajah lelaki yang kini tampak memegang. Jelas saja Vino terkejut. Dirinya saja cukup terkejut dengan pengakuan itu.


"Kalau Kakak berubah pikiran. Segera temui Mama ya. Aku menunggu keputusan itu." Senyum terkembang di wajah pucat Raisya. Lantas, ia pun berjinjit kemudian secepat kilat mencium pipi Vini dan segera berlari menghindari delikan mata lelaki itu.


Raisya sungguh sangat nekat. Walaupun mereka pernah melakukannya, tetapi Vino sadar jika kala itu hanya khilaf saja. Lantas, apa ini?


Vino segera berbalik badan, melangkah lebar pergi dari lorong itu. Matanya terpaku kala melihat sang ayah yang berdiri tidak jauh dari sana.

__ADS_1


"Sejak kapan?" tanya lelaki itu tegas.


Vino gelagapan. Ia bingung harus menjelaskan apa dan pertanyaan itu tertuju pada hal yang mana.


"Sejak kapan kamu main belakang dengan adikku, Vino?"


"Aku ... enggak, Papa. Tidak ada yang terjadi dengan kami. Itu tadi hanya ...." Suaranya tercekat di tenggorokan. Apa yang harus ia katakan sekarang? Hah. Kenapa ini rumit sekali.


"Cepat selesaikan masalah kamu dan ambil keputusan. Ingat kamu masih memiliki istri yang menjadi tanggung jawab kamu." Sang ayah berkata serius lalu melewati Vino yang masih berdiri mematung.


Vino mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak menyangka jika masalah ini malah semakin menjadi runyam begini.


Ia pun segera pergi dari sana. Lebih baik pulang dan mencari petunjuk dari jejak yang mungkin saja ditinggalkan istrinya itu di rumah mereka.


Sesampainya di rumah, Vini menggeledah setiap laci sampai ke kolong meja. Tidak ada apa pun.


Akan tetapi, saat tangannya membuka laci yang paling bawah di meja rias itu. Matanya tertumbuk pada selembar kertas yang dilipat rapi. Lantas, ia pun duduk di pinggir ranjang, membuka lipatan kertas itu. Jantungnya bertalu tidak karuan dengan tangan gemetar saat membaca tulisan di dalam kertas itu.


'Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka, biarkan diriku pergi dari hidupmu. Selamat tinggal.'


Apakah ini isyarat dari Olivia jika dia ingin meninggalkannya?


Air mata Vini mengalir. Ia tidak ingin menahannya. Rasanya sakit sekali.


Inikah yang menjadi alasan Olivia pergi dan sampai saat ini belum kembali?


Vino meremas kertas itu dan melemparnya sembarangan. Namun, beberapa detik kemudian ia bangkit dan memungut kertas yang dibuangnya tersebut.


Vino duduk bersimpuh di lantai kamar yang dingin. Ia buka remasan kertas di tangan dan membaca ulang. Namun, semakin ia baca semakin deras pula air mata yang mengalir.

__ADS_1


Vino menjambak rambutnya. Lantas memekik sekuat tenaga.


Jika begini, tentulah tidak ada alasan baginya untuk menolak permintaan sang mama. Menikah dengan Raisya.


__ADS_2