
Keesokan harinya. Kenzo dan Adelle datang menemui Paman Adelle sesuai janji yang ditentukan. Mereka bertemu disebuah restoran.
Melihat keponakannya juga ikut serta, Paman Adelle merasa senang. Ia berdiri dan menyambut hangat keponakannya dengan pelukan. Sang Paman berkata, jika ia sangat merindukan Adelle.
"Kamu semakin cantik, sayangku." kata Paman Adelle memuji.
"Tentu saja. Kalau tidak cantik bukan keponakan Paman namanya. Hahaha ... " jawab Adelle tertawa dan langsung melepas pelukan.
Paman Adelle mempersilakan keponakanya dan calon suami keponakannya untuk duduk. Ia memesankan minuman untuk dua orang yang duduk di hadapannya.
"Ada apa Paman memanggil Kenzo? apa hal penting?" tanya Adelle penasaran.
"Ah, itu ... ini soal proyek Star Mall. Ada sesuatu hal yang mau aku sampaikan. Setelah aku pikirkan, aku akan mengambil proyek itu. Tapi aku memiliki syarat. Apa boleh aku ajukan syaratku?" tanya Paman Adelle. Yang juga ingin menyampaikan sesuatu.
"Silakan bicara," jawab Kenzo.
"Aku punya dua syarat. Yang pertama, tolong naikkan harga kerjasama kita, cukup dua kali lipat dari harga sebelumnya yang kita sepakati. Kedua, berikan aku sedikit dari saham Star Mall. Itu saja. Kalau kamu setuju, kita akan segera tanda tangan kontrak dan proyek akan langsung dimulai." kata Paman Adelle menjelaskan detail keinginanya.
Adelle manatap Kenzo, lalu menatap Pamannya, "Paman ... apa itu tidak berlebihan? tidak ada syarat yang lain?" tanya Adelle.
Saat Paman Adelle ingin menjawab pertanyaa Adelle. Kenzo pun angkat suara dan mengiakan persyaratan Paman Adelle.
"Saya setuju. Silakan lakukan sesuai permintaan Anda. Untuk saham, apa ada angka khusu yang Anda inginkan? saya tidak bisa berikan lebih dari lima persen." kata Kenzo menatap Paman Adelle.
__ADS_1
Paman Adelle terkejut, "Lima persen? apa kamu bergurau, itu terlalu banyak. Setengahnya saja. Aku tidak seserakah itu, Kenzo." kata Paman Adelle.
"Hm, jika begitu. Setengahnya saya akan berikan pada Adelle." sahut Kenzo.
"Apa? padaku? kenapa aku?" tanya Adelle.
Paman Adelle mengangukkan kepala tanda setuju, jika Adelle menerima setengah dari bagiannya. Ia malah senang. Padahal sebenarnya Paman Adelle meminta saham untuk kemudian dia berikan pada Adelle nantinya.
Kenzo dan Paman Adelle pun berjabatan tangan sebagai tanda kesepakatan. Kenzo menantikan kunjungan Paman Adelle ke kantornya untuk tanda tangan kontrak.
Adelle masih bingung. Ia merasa tidak dianggap karena dua orang di di samping dan di hadapannya sibuk sendiri.
"Apa-apaan mereka berdua ini. Aku kan ada di sini, tapi mereka tak menanggapi kata-kataku seolah aku tidak ada." batin Adelle.
Kenzo memalingkan pandangan nenatap Adelle, ia lantas mejelaskan kenapa ia seperti itu. Kenzo merasa tidak enak kalau haruas menerima kembali lima persen saham yang aka ia berikan pada Paman Adelle. Karena Paman Adelle pun menolak dan hanya ingin setengah, maka setengahnya akan diberikan pada Adelle.
Tidak lama pelayan datang dengan membawa berapa hidangan yang sudah dipesan sebelumnya. Mereka bertiga pun bersama-sama menikmati makan siang dengan tenang.
***
Malam harinya ....
James tidak menghabiskan makan malam dan pergi begitu saja dari apartemen. Karena tidak ingin bertengkar dengan James, ia pun membiarkan James pergi tanpa bertany mau ke mana.
__ADS_1
"Dia pasti minum-minum dan akan pulang dalam keadaan mabuk. Aku tidak bertanya, karena harus menahan diri agar dia tidak kesal lagi. Sebenarnya sampai kapan dia akan seperti ini? Aarghhh!" Kesal Lalisa.
Ia merapika meja makan dengan dengan terus mengomel. Hatinya sangat dongkol, tapi ia tidak berdaya. Mau pergipun juga tidak bisa, ia sedang mengandung anak dari James.
Lalisa merasa, kehidupannya yang dulu jauh lebih baik. Ia bisa bebas melakukan apa saja yang diinginkan dan bersenang-senang. Ia mengira, dulu akan sangat istimewa kalau ia berhasil membuat James jatuh cinta padanya. Ia akan mengusai James baik itu uang, tubuh dan hatinya. Sayang sekali pemikiran Lalisa salah. James bukanlah orang yang mudah diatasi.
Lalisa menyesal, tapi penyesalannya tak berguna. Ia tidak bisa melepaskan James demi anak dalam kandungannya. Mau tak mau meski tak mampu, ia harus menahan semuanya.
***
James pergi minum ke bar milik temannya. Di sana ia duduk termenung di temani minuman yang biasa ia pesan.
"Ada apa lagi?" tanya bartender kenalan James.
"Aku tidak apa-apa. Lanjutlah kerja," kata James.
Bartender itu pun tidak bertanya lagi dan kembali bekerja. Ia merasa sedih temannya tampak terpuruk, tapi ia tidak berhak ikut campur dalam masalah pribadi orang lain, sekalipun itu teman yang sangat ia kenal.
Bartender itu berpikir, jika semua masalah James tidak lain adalah karena Adelle. Dulu setelah menikah dengan Adelle, James tidak pernah pergi ke bar kalau tidak ada acara. Sangat sulit untuk bisa bertemu James. Sekarang berbeda, barnya dikunjungi oleh James hampir tiap malam.
James memikirkan kejadian saat ia dan Adelle bertemu di rumah orang tuanya. Awalnya ia hanya ingin menunggu kelahiran anaknya, lalu meminta Adelle kembali menikah dengannya. Entah mengapa semakin hari rasa sukanya semakin berkurang pada Lalisa. Ia tidak lagi menggebu seperti dulu. Di matanya Lalisa tak semenarik sebelumnya. Mungkin karena bentuk tubuh Lalisa yang sudah membengkak. Mungkin juga karena ia sudah muak pada Lalisa.
"Apa-apaan pikiran ini. Kenapa Adelle tidak pernah bisa aku lupakan? memang seharusnya aku tidak melakukannya. Ya ... aku seharusnya tidak terpancing oleh kecantikan dan bujuk rayu Lalisa. Sial! Kalau saja aku bisa kembali memutar waktu, aku tidak akan pernah mau melepaskan Adelle untuk pria lain. Dan tidak akan pernah mengkhianatinya." batin James.
__ADS_1
James memikirkan kehidupan pernikahannya dulu dengan Adelle. Meski mereka tak selalu mesra, tapi mereka tidak pernah sekalipun bertengkar. Jika ada selisih pendapat, Adelle selalu mengalah. Adelle selalu menurut apa kata James karena tidak mau ada pertengkaran. Itulah yang membuat James suka, tapi juga terkadang juga merasakan bosan. Ia tidak pernah menerima keluhan atau keinginan dari sang istri. Bahkan untuk hal-hal sulit pun, Adelle bisa menangani sendiri. Padahal James ingin Adelle bergantung padanya sedikit saja, bisa membantu Adelle. Begitulah dulu sehingga James pun merasa tergelitik hatinya saat Lalisa bersikap manja dan suka meminta ini itu. Sikap Lalisa sangatlah berbanding terbalik dengan sikap Adelle yang acuh tak acuh padanya.
James memijat pangkal hidugnya. Ia amat sangat menyesal, sudah melukai hati Adelle. Seharusnya ia tetap menjalani kehidupannya meski kurang nyaman. Itu jauh lebih baik daripada saat ini ia tersika batin karena tidak rela Adelle menjadi milik pria lain.