
Pagi ini, Vino kelimpungan. Pasalnya, ia baru saja mendapatkan telepon dari Bunda Kania kalau dalam waktu dekat modal usaha yang diberikan akan dicabut.
Sementata, beberapa anak cabang yanh baru dibuka belum membuahkan hasil maksimal.
Vino mondar -mandir kebingungan. Sesekali lelaki itu akan menjambak rambut, lalu mengusap wajah dengan kasar. Oh, ia juga menggigit benda pipih yang masih berada dalam genggaman.
Vino akui, beberapa bulan terakhir ini hidupnya cukup berantakan. Sejak ... harus ia akui jika kekacauan ini semakin menjadi jadi sejak dibacanya surat dari Olivia, istrinya.
Ah, apa kabar istrinya itu? Vini bahkan tidak lagi sempat memikirkan hubungan mereka. Yang jelas, ia tidak ingin menceraikan wanita itu sekalipun sang mama terus saja menuntut.
Kembali pada masalah usahanya. Bunda Kania hanya memberi waktu selama tiga hari dalam pengembalian dana. Tidak masalah jika barang-barang yang telah diinvestasikan juga diuangkan semua. Toh, Bunda Kania juga tidak membutuhkan barang-barang itu.
Vino tercenung sejenak. Sesaat, pikirannya tertuju kembalj kepada Olivia. Istrinya itu pergi ke Jakarta. Lantas, apakah ada hubungannya masalah ini dengan wanita itu?
Atau ... apakah Olivia yang membujuk Bunda Kania untuk menarik modalnya?
Ada gemuruh panas di dada Vino. Jika hal tersebut benat terjadi. Itu berarti Olivia memang menginginkan perpisahan di antara mereka.
"Arrrggghhh!!!" Vino memekik. Ia mengeluarkan segala kecamuk yang mengimpit dada.
Bersamaan dengan itu, suara ketukan di pintu kamarnya terdengar.
"Kakak! Apa yang sedang terjadi?" Suara Raisya dari depan kamarnya terdengar sangat khawatir.
Vino menatap ke pintu kamar yang masih terkunci. Semalam, Raisya memang menginap di rumahnya. Sebab, sang mama mengkhawatirkan keadaannya yang sempat drop kemarin. Namun, sekarang sudah baik-baik saja. Raisya sudah cukup ahli dalam mengurua orang sakit. Terlebih mengurua dirinya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Hanya kejepit." Vini berkata dengan nada keras, tidak berniat untuk membukakan pintu kamarnya. Ia masih cukup waras untuk tidak menemuo gadis itu dalam keadaan setengah berpakaian seperti sekarang.
"Oh ya udah. Aku siapkan sarapan di meja makan atau bawa ke kamar saja?" Raisya memberikan penawaran.
"Langsung di meja makan saja. Kakak sebentar lagi keluar. Makasih, Raisya."
Setelah Vino mengatakan demikian, terdengar suara langkah yang menjauh dari kamarnya. Ia pun bergegas mengambil pakaian ganti. Hari ini, Vino akan berangkat ke kantor. Ia akan mengadakan rapat dadakan dan melihat ada berapa banyak uang yang bisa digunakan untuk mengembalikan modal dari Bunda Kania.
Vino berdecak kesal. Modal yang diberikan di awal usaha yang Olivia rintis itu tidaklah sedikit. Ada sekitar lima puluh juta lebih untuk alat-alat yang digunakan, belum dana awal sebagai operasional juga ruko yang mereka tempati sebagai kantor.
Jika harus menutup beberapa anak cabang, Vino akan melakukannya. Jalan satu satunya yang bisa ia ambil adalah menjual barang barang yang ada untuk menutupi pengembalian modal itu, di samping selain untuk memggaji karyawan. Sebab, mau tidak mau ia harus memberhentikan beberapa pekerja.
Vino bergegas keluar dari kamar setelah berganti pakaian. Ia mengenakan kemeja panjang berwarna hitam bergaris emas yang dibelikan Olivia saat ulang tahunnya, lalu celana berbagan dasar warna hitam sebagai pasangan.
Vino menarik kursi dan duduk di hadapan sang adik. Sepertinya, Raisya sedang melamun karena tidak juga menatapnya.
"Hei!" seru Vino sembari menepuk kepala gadis di hadapannya.
Detik itu juga, Raisya tergagap. Tampak sekali jika ia terkejut karena ulah lelaki itu.
"Kakak," keluh Raisya sembari merapikan poninya yang sedikit berantakan karena ulah sang kakak. Oh, bolehkah jika dirinya menyebut lelaki itu sebagai calon suami?
Pipi Raisya kontan saja merona. Membayangkan jika lelaki sebaik Vino bisa menjadi calon suaminya. Sungguh tidak terbayangkan sebelumnya, mengingat bagaimana dekatnya mereka selama ini.
"Kenapa pipi kamu merah? Udah ketemu sama cowok yang kamu sukai?" Mata Vino memicing. Ia penasaran dengan perasaan Raisya. Sejak terlibat kasus dengan mantan pacarnya kala itu. Mungkinkah gadis itu telah menemukan tambatan hatinya yang lain? Jika itu terjadi, tentu saja akan sangat bagus sekali.
__ADS_1
"Apaan, sih? Ya enggak adalah." Orang aku bayangin Kakak Vino juga. Kalimat terkahirnya hanya bisa tertelan di kerongkongan. Kalau saja dirinya cukup berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Apa tanggapan Vino kepadanya?
"Ya kali aja. Mana Kakak tahu. Bagus kan kalau kamu punya cowok idaman--"
"Kakak bahkan sudah setuju sama rencana pernikahan kita. Gimana caranya aku akan bicara ke mama kalau ternyata punya cowok lain? Aku enggak mau nyakitin mama. Cuma mama yang sayang sama aku." Raisya tampak emosi dengan ucapan Vino yang ngawur itu.
"Oke. Sorri ... sorri. Kakak lagi banyak pikiran. Ayo makan!" Vino merasa bersalah. Ia mengulurkan tangan, mengelus puncak kepala wanita di hadapan. Tidak lupa, ia juga memasang senyum.
Senyum yang entah mengapa tidak sampai ke matanya. Sebuah senyuman yang terasa hambar bahkan begitu menyiksa dada.
"Pikiran apa? Kak Olivia ya?" Terkutuklah lidahnya sendiri. Raisya menanyakan sesuatu yang sudah jelas akan menyakiti hatinya sendiri.
"Iya dan tidak." Vino menggeleng lemah. "Soalnya, Kakak lagi mikirin usaha yang dirintis oleh Olivia. Ada beberapa cabang yang harus ditutup. Ah, sudahlah. Kenapa kita harua membicarakan yang berat-berat?"
Vino terkekeh pelan. Lantas, ia pun mengambil cangkir di hadapan dan menyeruput kopinya yang tidak lagi panas. Minuman yang biasanya bisa menenangkan dirinya itu, kini seolah tidak memberikan efek sama sekali. Semua hal yang ada padanya terasa hambar.
Di hadapan Vino, Raisya melakukan hal yang sama. Bedanya, gadis itu meneguk tehnya sampai tidak bersisa. Kemudian menyuap nasi uduk yang ia beli di depan komplek. Pagi-pagi sekali Raisya rela antre demi membeli nasi ini.
Katanya, sih, rasanya enak. Namun, entah mengapa rasa nasi uduk ini terasa hambar. Apa yang salah dalam dirinya? Lidahnya kah? Atau memang rasa nasi ini yang tidak sesuai dengan apa yang diberitakan oleh orang lain.
Ya, kadang diri ini memang seperti itu. Memandang indah kehidupan orang lain. Memandang indah apa yang diceritakan oleh orang lain. Padahal, selera orang lain tersebut belum tentu sama dengan selera pribadi. Bisa jadi, selera Raisya yang kini mulai berubah haluan.
Dulu, ia tidak terpikirkan untuk memiliki lelaki yang juga sedang menikmati sarapan yang sama seperti dirinya. Namun, beberapa bulan terkahir ini dirinya telah berubah. Raisya ingin memiliki Vino secara utuh. Salahkah ia yang mulai merasakan perasaan sayang itu secara berlebihan?
Biarkan reader yang menjawab kegalauan Raisya.
__ADS_1