
Lalisa menangis di bilik kamar mandi. Ia menyesal, tapi ia tidak mau hubungannya dan James berakhir begitu saja.
"Tidak, tidak mau. Aku tidak mau berakhir dengan James." batin Lalisa.
Lalisa menghubungi James, panggilannya terhubung, tetapi belum diangkat oleh James. Lalisa mencoba beberapa kali dan masih tidak mendapatkan jawaban. Ia pun menyudahi panggilannya, dan menyimpaj ponselnya di dalam tas.
Ia mengusap air matanya, lalu keluar dari bilik. Lalisa mencuci tangan, ia bercermin melihat matanya yang bengkak. Lalisa ingat akan kata-kata Adelle, jika setiap perbuatan pasti ada akibatnya. Lalisa sudah menggoda dan menjadi pihak ketiga hubungan Adelle dan James, bahkan karena itu Adelle dan James pun bercerai. Makadari itu, sudah sepatutnya Lalisa memetik buah dari apa yang ditanamnya sendiri.
Adelle mengatakan, kalau Lalisa harus memakan dan menikmati buah dari hasil panen perbuatannya. Terkahir sebelum pergi, Adelle meminta Lalisa tidak lagi datang mencarinya. Karena Adelle tidak mau terlibat apapun juga yang bersangkutan dengan James.
Karena bagi Adelle, James hanyalah kenangan buruk yang akan dikubur. James memang mantan suaminya yang selalu ada selama lima tahun terakhir, tetapi James jugalah duri dalam dagingnya yang membuatnya merasakan sakitnya dikhianati.
"Apa hubunganku dan James, juga akan berakhir sama seperti hubungan Adelle dan James?" gumam Lalisa manatap cermin.
***
Di ruang kerjanya, Adelle tampak sedang melamun. Ia memikirkan semua perkataan yang ia lempar pada Lalisa.
"Kenapa aku bicara kasar begitu, ya? apa karena aku kesal?" batin Adelle.
Seharusnya ia tidak mengatakan hal-hal bodoh seakan meluapkan kekesalan, hanya saja Adelle tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Sudahlah. Terserah saja dia mau menanggapi ucapanku seperti apa. Lagipula kami tidak aka bertemu lagi." batin Adelle.
Adelle memejamkan mata, ia pikir ia sudah bebas setelah bercerai, nyatanya ia semakin terjerat. Adelle menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia melakukan itu berulang-ulang untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah dipikir-pikir juga, Adelle merasa kasihan pada Lalisa. Melihat betapa berantakan penampilan Lalisa tadi saat menemuinya. Adelle juga penasaran, kenapa James tidak menikahi Lalisa secepatnya? apa akan menunggu sampai Lalisa melahirkan?
"Atau pria busuk itu punya alasan lain. Jangan bilang dia punya wanita lain lagi selain Lalisa," batin Adelle menerka-nerka.
Adelle pun menggelengkan kepala perlahan, ia merasa bodoh kalau memikirkan hal-hal rumit yang bukan urusannya. Adelle pun kembali bekerja untuk mengalihkan pikirannya dari Lalisa dan James.
***
Sore harinya. Saat Adelle bersiap pulang kerja. Ponselnya berdering. Adelle mendapatkan panggilan dari Kenzo. Ternyata Kenzo mengajak Adelle pergi ke acara ulang tahun salah satu kliennya. Karena ia tidak punya pasangan untuk pergi, ia pun mengajak Adelle. Itupun kalau Adelle berkenan.
__ADS_1
"Apa kamu pergi denganku sebagai pasanganku?" Tanya Kenzo.
Kenzo berkata tidak akan memaksa kehendak Adelle. Mendengar permintaan Kenzo, Adelle pun bertanya kapan acara diselenggarakan? Kenzo menjawab, dua hari lagi di Hotelnya.
Adelle diam berpikir beberapa saat, lalu mengiakan permintaan Kenzo.
"Ya, baiklah. Aku akan pergi denganmu," jawab Adelle.
Adelle bersedia menjadi pasangan Kenzo. Adelle menambahkan sebuah syarat, Kenzo harus mau bekerja sama untuk proyek selanjutnya. Maksudnya Kenzo harus terus memakai produk dari perusahaan Adelle.
"Apa kamu setuju dengan syaratku?" tanya Adelle.
Kenzo pun tertawa, ia tidak menduga Adelle akan mengajukan syarat yang tidak bisa ditolak. Kenzo akan menyetujui semua persyaratan Adelle, asal itu tidak merugikan.
"Bisa-bisanya kamu mengajukan syarat yang tidak mudah, ya. Bukankah itu curang," jawab Kenzo.
"Curang apa? Ini hanya syarat yang aku ajukan saja, kamu boleh tidak menerimanya dan mengganti dengan syarat yang lain. Asalkan menguntungkanku, hahaha ... " kaga Adelle, lalu tertawa.
"Tidak, tidak. Aku hanya bergurau saja tadi. Apapun syaratmu pasti akan aku penuhi." jawab Kenzo.
"Aku jamin," kata Adelle penuh keyakinan.
"Baiklah, aku percaya. Mari kita bekerjasama dengan baik, Bu Direktur." jawab Kenzo menggoda.
Adelle tersenyum. Ia mengatakan pada Kenzo untuk tidak terus menggodanya. Karena masih ada pekerjaan, Adelle langsung berpamitan.
Panggilan pun berakhir. Adelle kembali bersiap dan langsung pulang. Ia ingin segera berendam air hangat, makan dan tidur nyenyak. Tubuhnya terasa lelah dan tidak nyaman.
***
Di ruang kerjanya, Kenzo menatap layar ponselnya dan tersenyum. Meski belum lama mengenal Adelle, ia yakin Adelle tidak akan mengecewakannya. Kenzo mau mencoba bekerjasama dengan Adelle.
"Tidak ada salahnya mencobanya," gumam Kenzo.
Melihat Adelle yang bersikeras, Kenzo harap produk perusahan Adelle memang memuaskan dan sesuai harapannya.
__ADS_1
Kenzo pun menghubungi Asistennya, dan mengatakan pada Asistennya, jika ia akan menggunakan produk furniture dari perusahaan Adelle. Asisten diminta untuk menyiapkan segala berkas dokumen yang dibutuhkan untuk kerja sama.
***
Sesampainya di apartemen, Lalisa duduk bersandar di sofa. Ia mengatur napasnya karena kelelahan.
"Apa dia belum pulang?" batin Lalisa melihat sekeliling rumah. Ia tidak menemukan tanda-tanda adanya James
Karena pagi sampai sore James pergi kerja, maka Lalisa hanya sendirian di apartemen. Ia sudah tidak lagi bekerja, ia pun terkadang merasa bosan dan jenuh.
Setelah tahu positif hamil, Lalisa mengundurkan diri dari pekerjaannya karena tidak ingin menimbulkan rumor. Sebagai pekerja wanita yang menampilkan kesan baik, ramah dan elegan di perusahaan, Lalisa sebisa mungkin menyembunyikan kehamilannya agar tidak ketahuan.
Selagi usia kandungannya masih dini, ia pun memilih berhenti kerja. Itu ia lakukan juga agar semua teman-teman sekantornya tidak curiga dan berpikir buruk tentangnya.
Lalisa pun tertidur disofa sampai James pulang kerja. Melihat Lalisa tidur dengan posisi tidak nyaman, James pun membenarkan posisinya. Merebahkan tubuh Lalisa ke sofa, dan menaikan kaki Lalisa ke sofa.
"Kenapa dia tidur di sofa?" batin James.
Ia pergi ke kamar untuk mengambil selimut dan kembali ke ruang tamu. Diselimutinya tubuh Lalisa agar hangat. James menatap wajah Lalisa, mengusapnya lembut, lalu mencium kening Lalisa.
"Hmmm ... James, apa itu kamu?" tanya Lalisa masih dengan mata tertutup.
"Ya, ini aku. Tidurlah, aku akan mandi dan buat makan malam. Nanti aku bangunkan," kata James.
Lalisa membuka mata perlahan. Meski matanya mengantuk, ia berusaha menahannya.
"James ... " panggil Lalisa menatap James. Lalisa megang erat lengan James.
"Ya? ada apa?" tanya James menatap Lalisa.
Lalisa bertanya, apakah James akan pergi meninggalkannya? Lalisa menangis, ia memohon pada James agar tidak mencampakkannya.
James melebarkan matanya. Tiba-tiba saya Lalisa bertanya hal yang mengejutkan. Ia pun meminta Lalisa untuk tidak banyak berpikir. James mengatakan, jika ia tidak akan pernah meninggalkan Lalisa. Ia berjanji pada Lalisa.
Lalisa pun bangun dari posisi berbaring dan memeluk erat James. Lalisa mengatakan, bahwa ia sangat mencintai James. Mendengar ungkapan cinta dari Lalisa, membuat James senang. Ia juga mengungkapkan perasaan cintanya pada Lalisa.
__ADS_1