Cincin Kedua

Cincin Kedua
CK (11)


__ADS_3

Siang harinya Adelle berniat makan siang di luar kantor. Ia ingin sekali makan dessert dan minum kopi di Caffe langanannya.


"Siang-siang begini, paling enak kalau makan dessert dan minum kopi kan, Rey?" tanya Adelle menatap Asistennya yang berdiri di samping mejanya.


Reyno menganggukkan kepala, "Ya, Bu. Apa Anda ingin saya belikan dessert dan kopi?" tawar Reyno.


Adelle menggelengkan kepala, "Tidak, tidak. Aku ingin pergi langsung ke tempat langganan. Apa kamu mau ikut? ajaklah Jessica juga," jawab Adelle. Ingin mengajak Asisten dan Sekretarisnya.


"Saya tidak bisa ikut, Bu. Karena ada pekerjaan mendesak. Bu Jessica juga sepertinya ada janji makan siang dengan teman. Saya mendengarnya berbincang di telepon tadi," Jawab Reyno menjelaskan situasi.


Adelle menganggukkan kepala, "Oh, begitu. Ya, baiklah kalau begitu. Biar aku saja yang pergi sendiri," kata Adelle.


Adelle pun langsung pergi dengan membawa tasnya keluar dari ruangannya. Ia berjalan santai memikirkan menu dessert di Caffe langganannya. Senyumnnya mengambang hanya dengan memikirkan cemilan manis.


Saat melewati ruang tunggu di lobby, ia dipanggil oleh Lalisa yang ternyata masih menunggu Adelle.


"Adelle ... " panggil Lalisa berjalan cepat mendekati Adelle.


"La-Lalisa ... " gumam Adelle menatap Lalisa yang berjalan menghampirinya.


"Untuk apa wanita ini datang mencariku sampai ke kantor? perasaanku tidak enak," batin Adelle.


Adelle kaget, ia tidak mengira Lalisa akan menunggunya. Bagaimana jadinya, jika ia tidak keluar makan siang? apa Lalisa juga akan menunggu sampai jam pulang kerja? begitu pikir Adelle.


"Hallo, maaf menghentikanmu mendadak." kata Lalisa lembut.


Meski canggung Adelle balik menyapa. Ia bertanya, apakah Lalisa tidak menerima pesan dari Asistennya? dan Lalisa menjawab, jika ia sudah diberitahu, tapi memang sengaja menunggu Adelle karena ingin membicarakan sesuatu.


"Apa boleh menyita waktumu sebentar?" tanya Lalisa.

__ADS_1


Melihat Lalisa yang terlihat menyedihkan, akhirnya Adelle pun mengajak Lalisa berpindah tempat.


"Ya, baiklah. Ayo, ikut aku." Ajak Adelle.


***


Adelle dan Lalisa pergi ke kantin dan makan siang bersama. Adelle memesankan Lalisa menu terbaru di kantin kantornya, seperti menu yang dipesannya.


"Maaf, ya. Aku tidak tahu kamu suka apa. Jadi aku pesan menu yang sama denganku. Ini menu terbaru kantin kami," kata Adelle.


"Oh, ya. Tidak apa-apa. Aku bisa makan apa saja, terima kasih." kata Lalisa canggung.


Lalisa memundukkan kepala dan langsung meminta maaf. Ia tidak bermaksud mengganggu Adelle, tapi ia tidak tahu lagi harus pergi mengadu kepada siapa. Adelle merasa tidak selera makan. Bukan karena keberadaan Lalisa, tapi memang ia tidak ingin makan makanan berat. Ia sudah membayangkan makan dessert dan minum kopi, nyatanya ia tidak bisa pergi karena Lalisa.


"Mau bagaimana lagi. Sepertinya aku harus menunda makan dessert dan minum kopi," batin Adelle.


Adelle mau tidak mau mencicipi menu yang dipesannya sedikit. Ia menatap Lalisa yang hanya diam terpaku. Adelle latas bertanya, apa keperluan Lalisa datang? Lalisa diam beberapa saat, lalu bicara. Ia menceritakan apa yang terjadi pada Adelle.


"Hah? apa yang dia ceritakan? apa-apaan si James itu. Dasar pria busuk!" batin Adelle mamaki James.


Lalisa berkata, ia tahu diri, seharusnya ia tidak menceritkan masalah pribadi pada Adelle. Hanya saja Adelle telah bersama James sekian lama, ia ingin memastikan sesuatu pada Adelle. Apakah James memang orang yang egois dan keras kepala? itulah pertanyaan yang dilontarkan Lalisa.


Adelle tersenyum, ia balik bertanya pada Lalisa. Apakah Lalisa mengencani James hanya karena tampan? jika iya maka Lalisa salah menilai orang.


"Dia memang tampan, juga tempramen. Egois itu sudah mendominasinya sejak awal," kata Adelle.


Adelle menambahkan, jika ia sebenarnya tidak mau lagi mengungkit atau membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan James. Hanya saja ia terkejut, saat Lalisa bertanya hal yang tidak terduga.


"Aku tidak menduga akan dapat pertanyaan yang mengejutkan," kata Adelle manatap Lalisa.

__ADS_1


Lalisa bertanya apa maksud Adelle? jika memang James egois, bagaimana bisa selama lima tahun Adelle bertahan?


"Bagaimana bisa kamu dan James bersama selama itu?" tanya Lalisa ingin tahu.


sedangkan ia yang baru beberapa bulan berhubungan saja rasanya sudah ingin mati.


"Kamu sangat penasaran, ya?" kata Adelle.


Adelle menatap Lalisa dan berkata, itulah perbedaan diantara keduanya. Adelle dan James menikah setelah mengenal cukup lama. Berkencan selama kurang lebih dua tahun dan Adelle tahu benar sifat keras kepala James yang tidak bisa diluluhkan oleh siapapun. Hanya saja James selalu menepati janji yang dibuatnya dan tidak mengecewakan.


Itulah sisi terbaik James saat itu. Bagi Adelle keras kepala atau egois bukanlah masalah, karena ia juga tidak pernah menuntut apa-apa dari James. Bisa dibilang keduanya memiliki kehidupan masing-masing, sebelum atau setelah menikah. Satu sama lain tidak pernah saling mengusik dalam urusan apapun.


James memberikan semua yang dimiliki, dan bertanggung jawab penuh seperti suami pada umumya. Hubungan Adelle dan James pun berjalan normal-normal saja. Jika ada pesta, mereka berdua akan pergi bersama. Sama malam berbagi tempat tidur dan selimut bersama. Memang hubungan suami-istri diantara James dan Adelle kurang berapi-api. Karena keduanya sibuk dan pasti kelelahan, jika harus berjaga malam.


"Ahh ... mungkin karena itu juga hubungan kami yang terlihat harmonis sebenarnya biasa-biasa saja. Dia bosan dengan kehidupan itu-itu saja dan mencoba hal baru. Seperti ... " Adelle mengehentikan kata-katanya. Ia menatap Lalisa dihadapannya.


Adelle mengatakan, sejujurnya ia sangat terkejut, saat tahu James selingkuh. Karena Adelle tidak suka dikhianati, ia pun memilih bercerai dengan James.


"Wanita lain mungkin bisa menerima, tapi aku tidak. Karena itu aku mengajukan perceraian. Sangat disayangkan memang, hubungan kami yang terjalin selama ini hancur hanya karena seseorang," kata Adelle.


Bagi Adelle sekali pembohong, tetaplah pembohong. Ia tidak akan lagi percaya ucapan seseorang itu.


Deg ...


Jantung Lalisa seakan berhenti berdetak. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Aku memang sudah gila. Bagaimana bisa aku membuat wanita sebaik ini harus menerima kepedihan karena perceraian. Bodohnya aku, sangat bodoh!" batin Lalisa.


Mendengar perkataan Adelle, Lalisa merasa malu. Ia sadar, jika perbuatannya salah. Jika diingat-ingat kembali, Lalisalah yang lebih dulu menggoda James sampai James jatuh hati padanya dan Lalisa jugalah yang mengajak James tidur bersama. Lalisa ingin menguasai James sepenuhnya sampai-sampai membutkan mata dan pikiran James.

__ADS_1


"Ini memalukan. Sebagai sesama wanita, seharusnya aku tidak serakah, kan. Meski tahu James telah menikah, aku tetap saja berusaha keras menggodanya sampai James pun tidak kuasa menolakku saat itu. Mau itu cinta sesaat, atau aku memang benar-benar gila, tetap saja semua salah." batin Lalisa sedih.


"Bukankah seharusnya kamu sejak awal memahami itu? tapi, ya ... itu semua sudah terlambat. Baik kamu ataupun James, tidak akan bisa memutar kembali waktu. Sekarang yang bisa aku katakan adalah, hiduplah dengan baik dan jaga anakmu. Bicalah dengan James dengan kepala dingin. Ajari pria itu untuk tidak egois dan memahamimu." kata Adelle.


__ADS_2