
Setelah Vino berangkat bekerja, Olivia bergegas masuk ke kamar. Ia menyiapkan segala keperluannya selama liburan. Memasukkan baju-baju ke dalam koper juga menyimpan berkas pentingnya di sana.
Selanjutnya, Olivia menghubungi seseorang yang akan menyambut kedatangannya.
"Halo, Bunda. Saya jadi berangkat hari ini. Apakah benar-benar tidak merepotkan?" tanya Olivia memastikan.
Suara di seberang sana membalas dengan riang. "Tentu saja tidak. Bunda justru merasa sangat senang. Apalagi Nadia. Dia sudah enggak sabar nungguin kamu datang."
Olivia tersenyum sumir. Ada perasaan hangat di hatinya mengetahui ada seseorang yang mau membantu dan menunggu kedatangannya, tetapi juga merasa sedih karena semuanya harus seperti ini.
Sebab sejatinya, tidak ada seorang istri pun yang mau meninggalkan suaminya sendirian. Pun dirinya tidak mau pergi dari rumah dengan kondisi yang tidak baik-baik saja. Namun, mau bagaimana lagi. Ia juga butuh ketenangan.
"Jam berapa berangkat dari sana?"
Pertanyaan itu tidak kunjung mendapatkan jawaban.
"Olivia! Hei! Olivia, kamu melamun?"
"Oh, iya, Bunda. Bagaimana?" tanya Olivia tergagap. Ia kedapatan tengah melamun.
"Jam berapa berangkat dari sana?" tanya suara dari seberang itu lagi.
"Oh, pagi. Sebentar lagi otw. Tiketnya udah dipesankan oleh Kak Vino--"
"Suami kamu enggak ikut sekalian. Kalian terlalu sibuk lima tahun belakangan ini. Mungkin mau liburan bersama?"
"Oh, i ... ya, mungkin kapan kapan aja. Kalau sekarang enggak. Saya pergi sendirian, kok. Kak Vino masih banyak pekerjaan. Nanti pas ketemu kita cerita cerita ya, Bunda." Olivia berkata pelan.
__ADS_1
"Oke. Ditunggu ya."
Selanjutnya, panggilan pun diputus. Olivia membuka aplikasi perpesanan, melihat satu pesan dari Vino yang mengirimkan tiket yang telah dibelikan. Tidak ingin berlama-lama, ia pun segara menarik koper dan keluar dari rumah.
Saat menunggu taksi, ponselnya berbunyi. Rupanya, Vino yang menelepon.
"Kamu masih di rumah, kan. Aku rasanya enggak enak kalau enggak anterin kamu. Ini aku sudah di jalan pulang. Tunggu sebentar lagi sampai ya," kata lelaki itu dengan cepat.
"Tapi. Aku udah pesan taksi kok, Kak. Kak Vino selesaikan kerjaannya aja. Aku bisa berangkat sendiri. Mungkin Raisya juga butuh bantuan kamu--"
"Olivia," sela Vino cepat. "Apa salah kalau aku juga mau memperhatikan istri aku sendiri?" Lelaki itu bertanya dengan penuh penekanan. Seakan tidak suka dengan apa yang dikatakan sang istri.
"Atau kita ketemu di bandara aja langsung. Biar Kakak enggak perlu bolak balik begini. Repot lho, Kak." Olivia menyegarkan hati. Ia masih berusaha agar Vino tidak perlu mengantarkan dirinya ke bandara. Ia tidak ingin bertemu dengan lelaki itu.
"Ini sebentar lagi sampai, kok. Tunggu!" Vino berkata tegas. Dan Olivia sangat tahu jika suaminya itu tidak lagi mau dibantah.
Olivia khawatir jika hatinya akan merasa berat jika melihat wajah suaminya itu. Oh, rupanya dirinya masih selemah itu.
Ia menoleh ke belakang. Rumah itu masih tetap sama seperti saat dirinya pindah pertama kali. Bedanya, suasananya yang sekarang terasa lebih sepi.
Olivia meraba perutnya. Ia telah meninggalkan sepucuk surat untuk Vino di dalam kamar. Ia berharap jika suaminya itu akan membacanya setelah seminggu dirinya pergi, atau saat semuanya dirasa telah berakhir.
Air matanya menitik. Dalam hati ia mengutarakan maaf berulang kali. Jika merasa kejam dengan dirinya sendiri.
Suara klakson mengagetkannya. Olivia menoleh, itu adalah mobil Vino dan di belakang mobil itu ada taksi yang dipesannya tadi.
Vino keluar, memberikan ongkos taksi kepada si sopir dan meminta maaf karena dirinya sendiri yang akan mengantarkan sang istri.
__ADS_1
Selanjutnya, Vino pun mendekati Olivia, menarik koper dan memindahkannya ke bagasi. Ia sempat heran, liburan sepekan, tetapi barang bawaannya terbilang cukup banyak.
Setelah meletakkan dua koper milik Olivia itu ke bagasi, Vino pun berlari untuk membukakan pintu penumpang. Ia juga memasangkan sabuk pengaman untuk sang istri. Setelah itu barulah mengitari mobil bagian depan, membuka pintu kemudi dan duduk di kursi di samping sang istri.
Vino menyalakan mesin. Ia melirik ke arah Olivia yang tengah menoleh ke samping jendela, kemudian kembali menatap lurus ke depan dan melajukan kendaraan roda empat itu di jalanan.
Di saat mobil berhenti di lampu merah, Vino seakan memiliki kesempatan untuk berbicara. Ia menoleh, menatap Olivia yang masih menghadap ke jendela.
"Kenapa bajumu banyak sekali yang dibawa? Padahal cuma liburan seminggu." Suara Vino masih terdengar tenang walaupun kepalanya dipenuhi rasa penasaran. "Apa aku perlu ikut liburan bersama kamu?" tanya Vino kemudian. Ia semakin heran karena Olivia menggeleng dengan cepat, seakan dirinya memang tidak diizinin bukan ikut.
Olivia tidak mengharapkan dirinya ikut. Ah, sakit sekali rasanya.
"Aku cuma mau jalan-jalan aja sih. Nanti kalau aja aku malas nyuci, kan lumayan untuk ganti-ganti. Daripada beli baju baru, mending uangnya untuk aku jajan aja. Aku lagi ingin jajan ini dan itu, banyak makanan yang ingin aku cobain." Olivia berbicara panjang lebar, memberikan alasan yang kiranya bisa masuk di akal dan diterima sang suami.
Saat Vino sudah membuka mulut hendak mengeluarkan suara lagi, lampu merah telah berganti kuning dengan cepat laku berganti hijau yang menyala. Selanjutnya, tidak usah dipikirkan lagi, tentu saja suara klakson bersahutan memekakkan siapa pun yang mendengarkan.
"Kamu cuma pergi ke Jakarta lho. Tapi banyak banget bawaan bajunya, kayak mau pergi ke luar negeri saja," protes Vino dengan keluhan. Ia menghela napas dengan kasar, mengeluarkan sesak yang terasa di dada.
Vino menoleh cepat, sekilas kemudian kembali fokus ke depan.
"Kamu belum pesan hotel lho, aku juga lupa untuk memesankan hotelnya," kata Vino. Ia benar benar lupa soal satu itu.
"Gampang, entar aku pesan sendiri aja," sahut Olivia enteng.
"Nanti jangan lupa kasih kabar ke aku kamu menginap di hotel mana ya." Vino mengingatkan kemudian mobil masuk ke parkiran bandara. Ah, rasanya waktunya kali ini sangat cepat sekali berlalu. Padahal, dirinya ingin berlama lama bisa bersama sang istri.
Vino ingat, ia sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua saja bersama Olivia. Makan di luar atau menginap di luar. Oh, hari- harinya telah banyak disita oleh pekerjaan dan ... keluarganya.
__ADS_1
Olivia turun dari mobil dalam kebisuan. Ia tidak ingin jika suara kesedihannya bisa terdengar jelas oleh Vino. Benar kan, bahwa saat melihat wajah lelaki itu pertahanannya untuk pergi seketika menjadi goyah.