Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab. 49


__ADS_3

"Sayang, apa kamu enggak pingin makan apa gitu?" Vino bertanya sembari mengelus perut sang istri.


Lelaki itu sering kali bingung karena istrinya itu tak pernah meminta apa pun darinya. Padahal, untuk saat ini ia yakin bisa mengabulkan apa saja yang dipinta sang istri. Kalaupun tak bisa, tentu saja ia akan berusaha untuk mewujudkan keinginan itu.


Sayangnya, Olivia cenderung menjadi wanita hamil yang kuat. Makan apa saja, tidak aneh-aneh dan tidak muntah-muntah. Vino juga kadang heran dengan istrinya itu.


Hari ini, Vino sengaja meliburkan diri agar bisa seharian penuh menemani Olivia. Terlebih, mengingat wanita itu yang sering merasakan sakit akhir-akhir ini. Dan itu membuat Vino selalu didera rasa khawatir. Sehingga, ia memutuskan untuk seharian saja di rumah di akhir pekan beberapa Minggu ini.


Sebagai seorang wirausaha, sebenarnya Vino tak memiliki hari libur secara khusus. Semua harinya adalah pekerjaan. Terlebih, di saat akhir pekan seperti ini pelanggan justru banyak yang berdatangan mengantarkan baju kotor yang telah sepekan tak dicuci. Terutama para pelajar maupun mahasiswa di sekitar sana. Namun hari ini, biarkan ia mempercayakan pekerjaan itu kepada karyawannya saja.


"Enggak ada."


Vino menghela napas dalam mendengar jawaban dari sang istri. Akan tetapi, kali ini ia akan berusaha sebisanya agar Olivia memiliki keinginan akan sesuatu.


"Makanan apa gitu, mau enggak?"


"Makanan apa itu?" Olivia justru balik bertanya. Ia tak mengerti jenis makanan apa yang disebutkan suaminya tersebut.


"Misalnya kamu mau makan soto Betawi. Atau pindang tempoyak. Atau mau makan model tekwan, atau sate Padang gitu. Kita bisa cari sama-sama. Aku akan mengantar istri tercintaku ini ke mana pun mau pergi." Vino menjelaskan dengan berapi-api. Ia sangat bersemangat. Namun harus menelan kekecewaan karena tak ada apa pun yang bisa menarik minat sang istri.

__ADS_1


"Aku lagi malas makan apa-apa. Makan yang ada di rumah aja." Olivia masih bersikukuh pada pendiriannya.


"Pizza, burger, buah?" Vino masih tak menyerah.


Olivia menggumam pelan sembari menggelengkan kepala. Kali ini, tampak jelas jika ia tak suka didesak.


Olivia beranjak berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Vino dengan raut khawatir. Pasalnya, Olivia tampak meringis kesakitan. Tangan wanita itu berada di pinggang dengan satu tangan yang lain berpegangan pada sandaran ranjang.


Vino bergerak cepat membantu sang istri untuk berdiri. "Kamu mau ke mana? Sakit ya? Kita ke rumah sakit yuk!" ujarnya cemas.


Tak membalas apa pun lagi. Vino memilih untuk mengekori sang istri dari belakang. Berulang kali Olivia berkeliling sekitaran ruang tamu, ia selalu berada di belakang wanita itu. Sampai Olivia protes karena perbuatannya itu.


"Lebih baik kamu duduk aja, Kak. Enggak perlu ikutin aku berjalan ke sana kemari."


"Enggak apa-apa. Aku mau ikutin kamu. Ke mana pun." Vino berkata mantap.


Olivia terkekeh pelan dan membiarkan suaminya itu melakukan apa yang dia suka. Saat kontraksi di perutnya semakin sering dirasakan, Olivia mengatakan sesuatu yang membuat Vino terkesiap. Seketika itu pula, wajah Vino terlihat pucat.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Pagi tadi sudah ada bercak darah di ****** ***** kamu. Dan kamu baru bilang sekarang ini." Vino semakin panik. Otaknya seketika blank. Kosong. Tak ada apa pun yang bisa dipirkannya.


Vino memegangi kepalanya. Berjalan mondar mandir dengan langkah yang lebih cepat. Tanpa disadari, keringat mengucur membasahi dahinya.


"Sudah semakin sakit, Kak. Kita ke rumah sakit ya," ucap Olivia merintih.


Seketika, Vino serasa ingin pingsan saja. Ia berlari ke kamar mandi. Mencuci wajah sekaligus rambutnya agar tetap bisa berpikir dengan tenang.


Kemudian, Vino masuk ke kamar mengambil tas yang sudah disiapkan jauh hari untuk menyambut kelahiran buah hati mereka. Ia pun membawa Olivia ke rumah sakit dengan perasaan yang tak mampu digambarkan.


Setelah menunggu hampir sepuluh jam, akhirnya si bayi yang ditunggu pun lahir juga. Vino menangis sembari mencium seluruh wajah Olivia mengucapkan kata terima kasih yang tak terhingga kepada istrinya itu.


"Kakak udah punya nama untuk bayi kita kan?" tanya Olivia lalu menyeka air mata.


"Sudah ... sudah." Vino menjawab sembari menganggukkan kepala berulang kali.


"Siapa? Aku mau dengar." Wajah Olivia tampak cerah menantikan nama buah hati mereka.


"Alvin Anugrah." Vino menjawab dengan perasaan membuncah dari dalam dadanya.

__ADS_1


__ADS_2