Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab. 51


__ADS_3

Olivia berusaha untuk tak ambil pusing masalah tadi. Ia terus berpikir bahwa yang penting adalah neneknya Alvin mau menerima kehadiran buah hatinya itu. Ya, itu sudah cukup.


Ia bersikap biasa saja. Walaupun sempat mendapatkan pertanyaan dari asisten rumah tangganya itu. Kenapa kedua tamu cepat sekali perginya?


"Oh, maaf, Nya. Saya tidak bermaksud--"


"Tidak apa-apa, Bik. Sepertinya mereka sibuk dan ada urusan lain. " Olivia menyahut perkataan itu dengan cepat. Ia berpikir bahwa siapa pun pasti bisa mengetahui apa yang terjadi tadi.


Sementara itu, dirinya sendiri ingin agar apa yang terjadi tadi dianggap angin lalu saja.


Olivia menatap Alvin yang tertidur di dalam box nya. Bocah itu tampak tengah tidur dengan nyenyak. Wajah imutnya sangat menggemaskan. Setelah mandi dan menyusu tadi, Alvin langsung begitu saja terlelap dalam pelukannya.


Setiap hari, Olivia berusaha menikmati waktu bersama sang putra dengan sebaik mungkin. Menatapi wajah bayi itu, mengamati gerak-geriknya. Ia sudah membayangkan jika besar nanti, Alvin akan mirip dengan sang papa. Dia adalah potret Vino dalam versi kecilnya.


Olivia tersenyum. Perasaan bahagia menyelinap di hatinya, memberikan kehangatan dalam jiwanya.


Saat matanya melihat jam di dinding kamar. Saat itu pula ia tersadar bahwa sang suami sudah waktunya pulang. Ia pun segera bersiap untuk menyambut kedatangan sang pujaan hati. Setelah itu, ia menunggu di kursi teras.


Lima belas menit kemudian, mobil yang ditunggu pun datang. Olivia berdiri dari duduknya, menyambut Vino yang turun dari kendaraan roda empat itu. Ia mengambil tas dari tangan suaminya lalu mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan lelaki itu dengan perasaan penuh takzim.


Vino tersenyum, tangannya mengelus pucuk kepala Olivia. Kemudian mengecup kening istrinya lama.


"Harum," ujar lelaki itu lalu tersenyum hangat.


"Udah mandi." Olivia membalas kemudian merangkul lengan lelaki itu. Keduanya pun beriringan masuk ke rumah.


Sesampainya di kamar, Olivia segera menyimpan tas kerja suaminya itu. Membantu Vino melepaskan pakaian kerja dan segera meminta suaminya itu mandi.

__ADS_1


Saat Vino hendak mendekati box bayi di mana putera mereka terlelap, Olivia mencegah.


"Mandi dulu, baru cium Alvin. Seharian lho berada di luar rumah."


Vino menurut, ia mengurungkan langkah menuju box itu. Kemudian tersenyum penuh arti pada sang istri. "Kalau gitu, cium mamanya Alvin aja deh," katanya saat jarak keduanya sudah dekat. Ia langsung menyambar pinggang Olivia dan mendaratkan kecupan di seluruh wajah wanita itu.


"Geli, Kak," kata Olivia dengan suara tertahan. Tangannya begitu saja memukul dada suaminya dengan pukulan ringan. Masih dengan senyum lebar di wajah.


"Temenin mandi, yuk!" goda Vino.


"Cepetan mandinya. Aku siapin baju gantinya," balas Olivia lalu mendorong punggung Vino agar segera berjalan masuk ke kamar mandi.


Setelah Vino masuk ke sana, Olivia menutup pintu itu dan langsung pergi dari sana menuju lemari pakaian. Menyiapkan baju ganti untuk lelaki tersebut.


Tak perlu menunggu lama, Vino telah keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun bercampur sampo menguar di udara.


Olivia menoleh, tersenyum dan segera bangkit dari ranjang. Membawa kaus dan langsung memakaikan kepada sang suami.


"Setelahnya, Kakak saja. Aku mau siapin makan ya," bala Olivia lalu keluar dari kamar dengan langkah lebar .


Vino terkekeh melihat sang istri yang menghindar darinya itu. Namun, ia juga tak berusaha untuk mengejar. Setelah berganti pakaian, Vino mendekati box. Mencium pipi sang putra dengan. Perasaan sayang yang membuncah bahagia.


Sesampainya di area dapur, Vino langsung menarik kursi dan duduk menghadap meja makan. ia memperhatikan Olivia yang tengah menyiapkan makanan untuknya. Sementara itu, asisten rumah tangga mereka menghidangkan sayur dan lauk ke meja makan.


"Baru matang ini sayurnya, Kak. Itu cumi sambal ijo. Kakak pasti suka," kata Olivia semangat.


"Udah enggak sabar." Vino menatap hidangan dengan penuh minat.

__ADS_1


Kemudian, sepasang suami istri itu pun menikmati makan mereka dengan sesekali mengobrol seputar apa saja. Sampai masalah pekerjaan sampai menceritakan tentang karyawan.


"Anak buah kamu pada kangen tuh," kata Vino santai.


"Nanti saja lah, sesekali ke sana. Untuk periksa pekerjaan secara langsung. Tapi semuanya aman kan, Kak?" sahut Olivia lalu kembali menyuap.


"Aman terkendali." Vino pun menyahut yakin. "Tadi katanya Mama ke sini ya, lihat Alvin. Sekalian makan siang enggak?"


"Oh ... iya, ke sini cuma sebentar, kok, sama Raisya. Jarak Kakak sama dia berapa tahun, Kak?"


"Oh ... hmmm, berapa tahun ya?" Vino tampak ragu. "Enggak ingat juga. Udahlah enggak usah bahas Raisya. Mama tadi gendong Alvin?"


"Iya, Mama gendong Alvin. Raisya yang ngajak becanda ...."


"Mereka kok cuma sebentar. Enggak makan dulu?"


Olivia bingung menjawab pertanyaan itu. "Kayaknya masih ada urusan, Kak." Ia berusaha bersikap santai, tetapi tampaknya tak bisa. Terlihat jelas raut tak suka dari wajahnya.


"Ada urusan atau sama kamu enggak boleh gendong lama-lama?"


"Ha? Apa?"


Detik itu juga, Olivia bingung mendengar pertanyaan Vino.


"Kenapa harus enggak boleh?" gumam Olivia tak percaya.


"Ya mana aku tahu. Kali aja kamu enggak suka Mama datang ke sini." Vino mengedikkan bahu. Ia tak acuh menanggapi pertanyaan istrinya itu. Namun, merasa tak percaya saja atas sikap yang diberikan Olivia kepada ibunya.

__ADS_1


"Ya ... boleh lah. Aku juga biarin Mama gendong Alvin, kok," balas Olivia kemudian. Ia terkekeh dengan perasaan hambar.


"Ya udah kalau gitu." Vino memutuskan percakapan mereka lalu memilih menghabiskan makanan si piring dengan cepat. Selanjutnya, ia kembali berkutat dengan pekerjaan.


__ADS_2