Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 56


__ADS_3

Hari ini, Olivia sudah boleh pulang. Vino membawanya pulang ke rumah dengan perasaan lega.


Keadaan rumah terasa sunyi senyap. Tidak lagi ada celoteh dan tawa dari Alvin yang biasa menghiasi rumah ini. Sekarang, setiap sudutnya seakan menjadi gua yang gelap. Kosong dan kehampaan mengisi relung sanubari Olivia.


Ia terdiam sejenak, berdiri di tengah ruang keluarga yang menjadi tempat favorit Alvin bermain.


Bayangan akan keceriaan Alvin memenuhi ingatan, tetapi tidak mampu memenuhi hati yang kosong. Seperti ada lubang besar yang menganga di dalam dadanya.


Matanya pun berkaca-kaca, tetapi segera ia usap sampai kering. Sebagai seorang ibu, Olivia tidak mau jika anaknya yang sudah berada di alam lain tidak mendapatkan ketengan karena dirinya yang masih terasa berat melepaskan.


"Kita masuk ke kamar. Kamu butuh mandi," bisik Vino di telinga Olivia kemudian mengecup pelipis sang istri.


"Iya," sahut Olivia kemudian melangkah pelan menuju kamar. Belum sampai langkahnya sampai ke kamar, ia berbelok menuju kamar sang putra.


Kosong. Lagi-lagi kesedihan membayang di wajahnya.


'Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu, Nak?


Kedua bibirnya terkatup rapat, tetapi hatinya terus melantunkan tanya, otaknya terus bekerja memutar kenangan Alvin.


Lagi, matanya berkabut. Kali ini, bening kristal itu tidak mampu dicegah meluncur membasahi pipi. Olivia menangis dalam diam.


"Sayang ...." Vino mendekap tubuh Olivia dari belakang, merangkul pinggang sang istri dengan erat.


Vino pun merasakan hal yang sama. Kesedihan yang amat dalam menusuk di dadanya. Namun, ia harus bersikap tegar demi bisa menopang tubuh rapuh sang istri. Ia harus bersikap kuat agar bisa menjadi sandaran di kala Olivia menangis. Ia juga harus menjadi sekuat karang agar Olivia mau berbagi beban kesedihan kepadanya. Ia juga harus siap menjadi lautan luas di saat Olivia menangis dan butuh penyelam kesedihan.


Vino menutup pintu kamar Alvin. Masih dengan merengkuh tubuh Olivia, ia mengajak istrinya itu pergi dari sana. Kamar yang penuh kenangan dan penuh oleh wangi tubuh sang putra. Segala hal tentang Alvin ada di kamar itu. Dan segala kenangan tentang Alvin ada di dalam kamar itu.


Olivia menurut, Vino menekan bahunya agar duduk di tepi ranjang. Lantas, lelaki itu mengambil handuk kemudian mengambil pakaian ganti untuk Olivia.

__ADS_1


Setelahnya, Vino mengajak Olivia pergi ke kamar mandi. Ia juga membantu sang istri melepaskan pakaian dan menarik tubuh yang seakan tak bernyawa itu berdiri di bawah kucuran shower.


Setalah urusan mandi Olivia beres, Vino segera meninggalkan Olivia di kamar. Ia butuh makanan untuk mengisi ulang energi yang seakan telah terkuras habis.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Seseorang datang membawakan makanan untuknya. Seseorang itu adalah Raisya yang dengan sukarela memasakkan menu untuk dirinya dan Olivia.


"Aku sengaja masak tadi di rumah, Kak. Kasihan Kak Olivia kalau harus makan makanan dari luar. Dia butuh asupan gizi yang banyak agar tubuhnya segera pulih seperti sedia kala," kata gadis berparas ayu itu dengan nada riang dan wajah gembira.


Vino tersenyum tipis dan mengangguk. Mengucapkan banyak terima kasih karena Raisya mau memperhatikan sang istri yang memang sedang butuh banyak perhatian. Olivia juga butuh teman bicara dan Vino rasa ... Raisya bisa menjadi teman bicara yang baik.


"Kakak juga harus makan ya. Kak Vino harus sehat dan bugar agar bisa menjaga Kak Olivia dengan baik," kata Raisya memberi pesan.


Raisya mengambil piring, mangkuk, wadah nasi dan sendok. Ia menyiapkan makanan, menuang ke wadah yang disiapkan. Tidak lupa mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Vino.


Setelah itu, Raisya juga mengambilkan nasi dan semangkuk sayur untuk Olivia. Meletakkan di atas nampan dan beranjak ke kamar Olivia.


Raisya mengetuk pintu kamar, tanpa menunggu persetujuan orang yang ada di dalam ia pun langsung masuk. Raisya meletakkan makanan yang dibawanya ke nakas, lalu duduk di tepi ranjang menyaksikan Olivia yang tengah memeluk baju Alvin dengan tatapan kosong.


Hati Raisya seakan teriris sembilu menyaksikan pemandangan yang menyedihkan itu. Ia mengulurkan tangan, menyentuh tangan Olivia.


Olivia menatap Raisya dengan tatapan kosong. Bibirnya bergerak, tetapi entah apa yang diucapkan. Raisya sendiri tidak bisa mendengar perkataan Olivia dengan jelas.


"Kakak makan dulu. Aku udah masakin makanan untuk Kak Olivia," kata Raisya dengan suara lembut.


"Aku enggak lapar. Alvin yang lapar. Dia sendirian, enggak ada yang nemenin," kata Olivia dengan bibir bergetar.


"Kakak makan ya. Aku suapin." Raisya mengambil nasi di piring lalu menyendok dan menyuap ke mulut Olivia.


Jujur saja, Raisya tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa yang bisa dijadikan penghibur untuk kakak iparnya itu. Pasti sangat menyakitkan kehilangan anak dalam waktu tidak terduga dan di hari yang penting pula. Namun, dirinya bisa apa. Manusia bisa apa jika takdir sudah berkehendak.

__ADS_1


Raisya menarik napas dalam, mengembuskan secara perlahan lewat mulutnya. Ia gusar dan sangat khawatir dengan keadaan Olivia.


"Kenyang," kata Olivia.


"Baru dua suap, Kak." Raisya masih menyodorkan sendok ke depan mulut Olivia.


"Kenyang. " Olivia memalingkan wajah. Ia menolak untuk melanjutkan makan.


"Ya udah. Minum susu aja ya, biar ada tenaga." Raisya meletakkan piring ke nampan kemudian mengambil segelas susu yang telah ia siapkan. Tidak lupa, dengan pipet agar memudahkan Olivia minum.


Setelah menghabiskan setengah gelas susu, Olivia pun berbaring miring membelakangi Raisya tanpa berbicara apa pun. Ia biarkan Raisya keluar dari kamar dalam hening.


Sejak saat ini, Olivia senang dengan keheningan. Sebab, hening inilah yang akan mengantarkannya bertemu dengan sang putra.


Sekuat apa pun dirinya berusaha ikhlash, sekuat itu pula kenangan Alvin bergelayut di ingatan. Olivia tidak mengerti, apa makna ikhlas yang sebenarnya?


Apakah dengan melupakan keberadaan Alvin? Atau membiarkan kenangan Alvin terus mengusik hatinya sampai datang keluhan dan perandaian yang ia lantunkan.


Olivia tidak tahu makna ikhlas itu seperti apa?


Ponselnya berdering. Tangannya bergerak dengan lemah mengambil benda pipih di samping bantal.


"Ya?" tanya Olivia dengan suara yang sangat lirih.


"Olivia. Gimana kabar kamu, Nak? Ibu sudah tahu kabar Alvin dari Vino. Ibu dan kami semua turut berdua ya, Nak. Ini Ibu dan Bapak kamu sedang dalam perjalanan. Saudara kamu enggak bisa ikut karena kondisinya yang tidak memungkinkan," cerocos suara dari sebatang sana yang suaranya telah dihapal oleh Olivia. Itu ibunya.


"Ya." Olivia membalas singkat. Ia tidak memiliki tenaga untuk berkata panjang lebar. Tenaganya seakan telah tersedot habis sampai tidak bersisa. Pada akhirnya, matanya pun terpejam tidak lagi mendengarkan suara sang Ibu.


Olivia tersenyum saat bayangan wajah Alvin terbayang di pelupuk mata. Anaknya tengah tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2