
Jassper menceritakan apa yang ia dengar dari Mamanya. Eric pun terkejut. Ia tidak sangka Putrinya akan memberitahu kebusukannya sendiri pada cucunya, Jassper.
"Aku menyesal, Kakek. Maafkan aku. Jika aku tahu Kenzo adalah korba dari keserakahan Papa dan Mama, aku taka akan mau jadi boneka mainan mereka dan tak akan mengganggu Kenzo." kata Jassper.
Eric menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Sejujurnya ia terkejut, Jassper yang dilihatnya selama ini tidak mungkin begitu saja mau berlutut apalagi memohon pada seseorang. Ia meminta Jassper berdiri, tapi Jassper tidak mau melepaskan kaki Kakeknya dan memeluknya semakin erat.
"Jassper ... berdirilah, Nak. Kita bicara sambil duduk, jangan sepert ini." kata Eric meminta.
Jassper melepaskan dekapannya dan perlahan berdiri. Ia menunduk masih dengan air mata yang bercucuran. Eric merasa Jassper tampak menggemaskan, tetapi juga kasian. Ini kali pertama melihat Jassper menangis sepanjang ia melihat Jassper.
Eric menadahkan wajah Jassper dan menyeka air mata Jassper. Ia tersenyum, menatap Jassper.
"Hahaha ... Baru pertama kali aku melihatmu menangis seperti ini. Rasanya kamu benar-benar seperti anak TK yang menangis minta permen." kata Eric.
Jassper menatap Kakeknya, "Kakek tidak kesal lagi padaku seperti tadi?" kata Jassper.
Eric tersenyum, "Memang kamu selalu membuat Kakekmu ini kesal. Tapi Kakek bangga padamu yang mau mengakui kesalahanmu. Nah, kalau begitu. Hal yang harus kamu lalukan adalah datang pada Kenzo dan minta maaf. Maukah kamu melakukan itu?" tanya Eric menatap Jassper dengan penuh harap.
Jassper menganggukkan kepalanya pelan. Ia merasa memang seharusya ia meminta maaf. Meski pun Kenzo tak akan begitu saja memaafkannya.
Eric menepuk-nepuk bahu Jassper. Ia senang, Jassper mau meminta maaf dan mengakui kesalahan. Eric pun memberi nasihat pada Jassper untuk mau menghentikan semua prilaku jahat yang selama ini melekat. Ia berharap Jassper bisa berubah.
"Aku akan berusaha, Kakek. Aku tidak mau lagi mengikuti apa kata Papa dan Mama." kata Jassper.
"Bagus-bagus. Itu lebih baik. Kamu sudah makan? Mau makan dengan Kakek?" tawar Eric.
Jassper menganggukkan kepala, "Ya, Kek. Mau ... " jawab Jassper.
Eric berjalan keluar kamar diikuti Jassper. Mereka berjalan menuju meja makan untuk makan siang bersama.
***
Pelayan menyajikan hidangan di atas meja makan. Tak lama Kenzo dan Adelle datang. Mereka berdua menyapa Eric, juga sedikit terkejut saat melihat Jassper.
"Hallo, Kakek." sapa Adelle mendekat, lalu memeluk kilas Eric.
__ADS_1
"Hallo, sayang. Kamu dan Kenzo sudah makan? Ayo, makan bersama dengan kami." ajak Eric.
Adelle menganggukkan kepala, "Ya, Kek." jawab Adelle.
Jassper kebingungan. Ia pun hanya diam menunduk karena malu. Karena merasa bersalah, Jassper tidak bisa menatap wajah Kenzo.
Melihat gerak gerik Jassper yang aneh, Kenzo pun bertanya. Apakah Jassper sakit? atau ada sesuatu yang tidak nyaman?
"Ada denganmu, Jassper?" tanya Kenzo.
Jassper terkejut, "Ah, ti-tidak ada apa-apa. Hanya sedikit tidak nyaman," jawab Jassper.
Adelle menatap Jassper. Ia merasa Jassper aneh. Sikapnya, tatapan matanya, seolah ketakutan dan gelisah.
"Dia kenapa? melihat Kenzo seperti melihat hantu saja," batin Adelle.
Eric tahu, kenapa Jassper bsrsikap aneh. Ia pun ingin memanfaatkan kedantangan Kenzo. Ingin meluangkan waktu berdua untuk Jassper dan Kenzo.
"Adelle, setelah makan. Mau temani Kakek jalan-jalan? ada hal yang ingin Kakek sampaikan khusus padamu." tanya Eric menatap Adelle.
"Ya, Kakek." jawab Adelle.
Jassper mencuri pandang pada Kenzo. Ia bingung, apa yang harus ia sampikan nantinya. Yang pasti ia akan meminta maaf lebih dulu dan mengakui kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan.
***
Papa dan Mama Jassper bertengkar. Papa Jassper kesal karena istrinya memberitahu Jassper apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kamu sudah gila? beepikirlah dulu sebelum bicara." sentak Papa Jassper.
"Kenapa kamu marah hanya karena aku memberitahu Jassper? dia sudah dewasa dan aku rasa dia berhak tahu juga." jawab Mama Jassper.
"Bagaimana kalau dia berubah pikiran. Bisa saja dia nantinya akan menentang perkataan kita," kata Papa Jassper.
"Itu lebih baik, daripada dia terus terjebak seperti kita. Cukup aku dan kamu saja yang seperti ini. Jassper, anak itu tidak boleh jadi seperti kita." kata Mama Jassper bergumam.
__ADS_1
Papa Jassper yang kesal pun memporak porandakan seisi ruang kerja. Ia lantas meminta istrinya itu untuk keluar dari ruang kerjanya. Ia sangat kesal sampai rasanya ingin menghancurkan ruang kerjanya. Ia kecewa pada istinya, karena istrinya bercerita pada Jassper tentang apa yang terjadi pada orang tua Kenzo.
Jassper anaknya, kini tahu kebusukan Papa dan Mamanya. Dan ia khawatir Jassper akan berubah pikiran, tidak mau lagi mendengarkan ucapannya.
Papa Jassper pun mengambil ponsel. Ia mencoba menghubungi Jassper, tapi ponsel Jassper tidak aktif. Ia mencoba beberapa kali, dan tetap saja berakhir dengan tidak bisa menghubungi Jassper.
***
Jassper dan Kenzo duduk di ruang tengah. Kenzo terlihat sibuk bermain ponsel. Mungkin karena sibuk dengan pekerjaan. Jassper pun mamanggil Kenzo dan meminta waktu Kenzo sebentar untuk bicara.
"Ken ... bisa kita bicara sebentar?" tanya Jassper.
Kenzo mengalihkan pandangannya dari ponsel ke Jassper yang duduk di hadapannya. Kenzo langsung meletakkan ponselnya di sofa di sisinya. Ia ingin tahu, apa yang mau Jassper bicarakan dengannya.
"Ya, katakan. Ada apa?" tanya Kenzo menatap Jassper.
Jassper terdiam sesaat, lalu bicara. Ia langsung meminta maaf pada Kenzo atas perbuatannya selama ini. Ia pun mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya.
Deg ...
Kenzo mengerutkan dahi mendengar perkataan Jassper. Ia merasa Jassper aneh dan yang dihadapannya bukanlah Jassper yang ia kenal.
"Apa kamu sakit? atau ada sesuatu?" tanya Kenzo penasaran.
Jassper menatap Kenzo, "Jangan tanya aku kenapa. Intinya aku mengaku bersalah dan meminta maaf. Masalah kamu mau memaafkan atau tidak, itu adalah hakmu. Aku sadar atas tindakanku yang keterlaluan, sampai-sampai sering kali hal itu membahayakan nyawamu. Aku menyesalinya, Ken. Dan hal itu tidak akan terulang lagi. Aku menjaminnya dengan nyawaku sendiri." kata Jassper serius.
Kenzo merasa Jassper semakin aneh. Ia justru khawatir, sesuatu hal buruk telah menimpa Jassper.
"Sebenarnya dia kenapa? jangan-jangan dia terbentur atau dia sakit parah?" batin Kenzo menduga-duga.
Jassper berkata, ia tidak tahu kalau Kenzo selama ini sudah menjalani kehidupan yang sulit. Ia yang selalu iri, berusaha menjatuhka Kenzo dengan segara cara. Tindakannya merupakan tindakan kekanakan dan pengecut.
"Anda aku tahu sejak awal. Mungkin saja aku tak akan pernah melukai atau menyusahkanmu, Ken. Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu." ucap Jassper dengan mata berkaca-kaca mau menangis.
Kenzo tidak tega. Ia berdiri dan berpindah tempat duduk di sisi Jassper. Kenzo menepuk bahu Jassper. Ia mengatakan pada Jassper untuk menenangkan hati dan pikiran, karena Jassper terlihat qsedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1