
James mendapatkan masalah di tempat kerjanya. Karena ia sering terlambat datang dan sering tidak masuk juga, akhirnya ia dipecat. Kini James menjadi seorang pengangguran dan itu membuat Lalisa kesal. Lalisa memarahi James, meminta James mencari pekerjaan lain karena butuh biaya untuk persalinan. Lagi-lagi James dan Lalisa bertengkar.
"Cukup, Lalisa. Hentikan ocehanmu. Aku mengeluh padamu bukan untuk kamu uruhi," kata James kesal.
Lalisa tersenyum masam, "Hahhh ... (menghela napas) bisa-bisanya kamu dipecat padahal selama ini kan kamu tidak pernah sekalipun ada masalah di kantor. Pikirkan, bagaimana nasib kita kedepannya. Bagaimana biaya kehidupan, dan biaya persalinan anakmu. Tentu saja aku marah, karena aku memikirkan kehidupan anak kita nantinya," kata Lalisa.
"Aku tahu, aku tahu. Jadi berhenti bicara. Aku akan cari pekerjaan lain dan akan mendapatkan uang untukmu. Jadi bisakah kamu diam? kalau tidak bisa aku akan pergi dan menenangkan diri di luar." kata James.
Lalisa menadahkan tangan, "Beri aku uang. Aku harus ke Dokter untuk pemeriksaan." kata Lalisa.
James mengeluarkan dompetnya dan memberikan sejumlah uang pada Lalisa.
"Segini cukup?" kata James.
"Ya, aku pergi!" kata Lalisa. Yang langsung pergi meninggalkan James sendirian di apartemen.
James mengusap kasar wajahnya. Ia duduk bersandar di kursi. Tubuhnya terasa lemas. Ia sendiripun tidak tahu, kenapa akhir-akhir ini ia terus membuat masalah. Padahal James bukanlah orang pemalas kalau soal pekerjaan.
James menatap langit-langit ruang tamu, "Apa karena aku stres, dan sering minum-minum, ya. Kinerjaku di kantor jadi kacau. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan kalau sudah begini? Aaargggghh ... sialan! Padahal aku sudah bekerja keras dan susah payah masuk ke perusahaan itu." batin James kesal.
James mengambil ponselnya dari saku jasnya. Ia menghubungi teman-temannya untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Ia tidak boleh jadi pengangguran, atau Lalisa akan mengomel dan membuatnya kesal setengah mati.
Sudah beberapa teman ia hubungi. Di perusahaan teman-temannya itu sedang tidak membuka lowongan. James pun mencari lowongan pekerjaan di internet. Ada beberapa pekerjaan yang ia minati. Ia berniat langsung mengirim surat lamaran melalui surel.
***
Di rumah Eric. Adelle dan Eric berjalan-jalan di halaman depan rumah. Adelle merasa nyaman, uadara di area kediaman Kakek Kenzo terasa sejuk.
"Kakek dengar, kamu sudah selesai menata rumah. Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Eric.
__ADS_1
"Oh, ya, Kek. Dua hari lalu kami menyelesaikannnya. Tidak ada lagi yang kami butuhkan, Kakek. Terima kasih untuk tawarannya. Kami berencana langsung pindah setelah menikah nanti. Apa Kakek mau lihat-lihat rumah kami?" tanya balik Adelle.
"Tentu saja aku harus mengunjungi rumah cucu dan cucu menantuku. Nanti saja kalau kalian sudah senggang. Sepetinya kalian sibuk karena hari pernikahan yang sudah dekat," kata sang Kakek.
Adelle menganggukkan kepala. Ia berjalan mengikuti Eric perlahan-lahan. Eric menghentikan langkah, ia pun mengatakan apa alasan utaman mengajak Adelle jalan-jalan dan keluar dari dalam rumah.
Eric ingin memberikan waktu bagi Jassper dan Kenzo untuk berbicara. Mendengar alasan Eric, dahi Adelle langsung berkerut. Adelle sama sekali tidak mengerti apa yang Eric bicarakan. Adelle lantas bertanya, kenapa Eric melakukan itu.
"Maaf, kalau aku salah mengerti. Bukankah mereka tidak akur?" tanya Eric.
Eric mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengiakan perkataan Adelle.
"Lantas kenapa Kakek membiarkan keduanya begitu saja? apa Kakek tidak khawatir mereka akan bertengkar?" tanya Adelle.
"Entahlah. Semoga saja pembicaraan mereka berakhir tanp pertengkaran. Apa kamu tidak menyukai Jassper?" tanya Eric menatap cucu menantunya.
Adellw terdiam sesaat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya bukan benci yang dirasakan Adelle, melainkan kekesalan. Adelle pun mengatakan jujur tentang apa yang dirasakannya. Kalau ia tidak membanci Jassper. Akan tetapi tingkah laku dan perbuatan Jassper tak bisa dibiarkan dan tak bisa termaafkan begitu saja. Adelle bahkan mengungkit tentang Kenzo yang terluka karena ulah Jassper.
Eric tertawa, "Hahaha ... ya, kamu benar. Dia memang mengesalkan, tapi sebenarnya dia anak yang perlu kita kasihani. Jika kamu tahu apa yang dialami Jassper, kamu pasti akan berpikiran sama seperti Kakek." kata Eric.
"Apa maksud Kakek?" tanya Adelle merasa ada yang aneh dengan kata-kata Eric.
"Nanti kamu akan tahu sendiri. Kakek rasa permbicaraan mereka sudah selesai. Kita juga sudah terlalu lama berada di luar. Ayo, kita segera masuk." ajak Eric.
Adelle mengiakan kata-kata Eric dan berjalan mengikuti Eric yang sudah perlahan melangkah masuk ke dalam rumah.
***
Di dalam rumah. Suasana hening dan canggung. Adelle, Kenzo dan Jassper saling diam dan hanya saling menatap satu sama lain. Eric yang sebelumnya pergi ke ruang baca pun akhirnya keluar dan bergabung bersama ketiganya di ruang tengah.
__ADS_1
"Ada apa ini? kenapa hening seperti di pemakaman?" tanya Eric.
Karena merasa tidak enak dan canggung. Jassper pun memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Ia berpamitan pada Eric Kenzo dan Adelle.
Tingkah laku Jassper saat berpamitan membuat Adelle terkejut. Ia hampir salah mengira kalau itu orang lain dan bukan Jassper. Jassper yang ia temui akan bersikap sok dekat dan angkuh juga menyebalkan.
"Ada apa dengannya?" batin Adelle.
Sama seperti Adelle, Kenzo pun sejak tadi kebingungan dengan sikap tidak biasa Jassper. Ia tidak mengerti maksud dan tujuan Jassper sebenarnya. Untuk mencairkan suasana, Eric pun bertanya tentang persiapan pernikahan Kenzo dan Adelle. Mereka pada akhirnya membicarakan tentang pernikahan.
***
Jassper sampai di apartemennya. Ia tersenyum senang karena hatinya merasa lega. Baru saja ia masuk ke dalam apartemennya, ia langsung terdiam saat melihat sepatu yang tak asing. Ya, sepatu milik sang Papa. Jassper segara berbalik dan ingin pergi keluar dari apartemennya, tapi ia keburu ketahuan Papanya.
"Mau ke mana? jangan mencoba kabur, Jassper." kata Papa Jassper yang sudah berdiri di belakang Jassper.
Jassper gemetar ketakutan dan berbalik menghadap sang Papa. Jassper menunduk. Kali ini ia tidak tahu apa yang akan Papanya lakukan.
Melihat putranya yang hendak kabur, Papa Jassper semakin murka. Ia langsung menarik krah baju Jassper dan menarik Jassper ke ruang tamu. Tubuh Jassper langsung terhempas ke lantai. Papa Jassper mulai mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor memaki putranya sendiri.
"Dari mana kamu?" tanya Papa Jassper melotot.
"Ru-rumah Ka-kakek." Kata Jassper terbata-bata. Ia takut kalau sampai Papanya memukulnya.
Plakkk ....
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Jassper.
Plakkk ....
__ADS_1
Satu tamparan lagi di pipi yang lain. Papa Jassper menarik rambut putranya itu dan memberikan peringatan untuk tidak macam-macam.
Jassper sangat ketahukan. Ia menahan air matanya agar tidak menangis. Ia pun memejamkan mata saat dipukuli Papanya. Jassper tidak boleh terlihat lemah, atau Papanya akan semakin menggila.