
Olivia tengah membuat pesanan sepatu anak. Ada beberapa pesanan yang masuk lewat instagram. Bahkan, para pemesan sudah mentransfer uang secara penuh. Mau tidak mau, dirinya harus segera menyelesaikan pesanan pesanan tersebut sesuai tenggat waktu yang diberikan. Walaupun pada kenyataannya, Olivia meminta pengunduran waktu.
Sudah ada dua pasang sepatu yang jadi. Tidak lupa, ia mengambil gambar secara sederhana sebagau dokumentasi bahwa ia sedang mengerjalan orderan. Tidak lupa, Olivia memasang status di beberapa media sosial. Jangan sampai, orang mengira jika dirinya ini hanyalah seorang penipu ulung yang menjual barang, tetapi tidak ada wujud aslinya.
Olivia beristirahat sejenak. Memang, dirinya lebih sering menyulam di dalam kamar. Hanya sesekali saja ia akan mengerjakan hobby barunya itu di teras belakang atau di balkon. Namun, di atas kasur yang empuk tetap menjadi lokaai favoritnya. Jika tubuhnya merasa lelah, ia akan langsung merebah tanpa harus jauh jauh melangkah.
Suara ketukan di pintu kamar berlanjut pintu yang dibuka, tidak mengusik Olivia yang sedang berbaring miring. Tangannya mengelus perut dengan mata terpejam.
"Oliv, ada Vino di bawah."
Informasi yang baru saja diterimanya itu membuat Olivia langsung bergerak duduk.
Seketika, perutnya pun terasa keram karena gerakannya yang tiba-tiba. Olivia meringis, tangannya segera mengelus perutnya yang mulai tampak buncit itu berulang kali.
"Kamu enggak kenapa-napa?" Bunda Kania melangkah cepat, mendekati Olivia dan langsung mengelus bahu wanita hamil itu.
"Enggak apa-apa. Ngapain Kak Vino ke sini, Bunda? Nyariin aku?" tanya Olivia beruntun.
Bunda Kania mengembuskan napas panjang. "Sebenarnya, beberapa waktu ini kayak ada orang yang mencurigakan gitu. Kayak ngikutin Bunda. Cuma Bunda cuek aja lah. Nah, ini tetiba Vino datang, nanyain kamu. Tapi, belum Bunda temui, sih, baru ketemu pembanti aja. Dia juga belum masuk ke rumah. " Bunda Kania menjelaskan panjang lebar.
Tatapan Bunda Kania begitu lekat nan menyejukkan memandang Olivia yang kini tampak gelisah. "Kalau kamu belum mau nemuin dia, Bunda akan bilang kalau kamu enggak ada si sini." Bunda memberikan usul.
"Iyq, sih, aku memang masih engga mau nemuin dia. Malas aja gitu." Olivia mengakui.
__ADS_1
"Yang jelas, jangan berlarut-larut. Kalau memang mau pisah, bilang sama dia kalau kamu mau pisah. Kalau enggak mau pisah, bicarakan lagi gimana baiknya sama Vino. Lama-lama mengabaikan suami dan mengabaikan masalah juga enggak bakalan baik." Bunda Kania tersenyum.
"Aku masih enggan aja, Bunda. Ingin tahu sekeras apa dia nyariin aku. Sama enggak kayak dulu pas dia mau ajakin aku nikah." Olivia berkata sambil mengingat tentang perjuangan Vino di masa silam. Sayang sekali, semua hal baik itu kini hanya semu belaka.
Bunda Kania tersenyum lembut. Ia paham betul jika wanita ini masih merasa sedih dan kecewa kepada sang suami. "Biar Bunda temui dulu Vino-nya. Kamu istirahat saja ya," ujarnya lembut yang dibalas dengan anggukan lemah oleh Olivia.
Sepeninggal Bunda Kania, Olivia tidak bisa tidak merasa khawatir. Jantungnya berdegup kencang. Banyak hal yang berebut untuk masuk ke dalam kepalanya yang terasa sempit itu. Terlalu banyak hal yang dipikirkan membuat perutnya terasa mulas.
Olivia duduk dengan gelisah. Satu tangannya terus mengelus perutnya yang terasa tidak nyaman, sedangkan satu tangan nya yang lain mengelus dada kiri.
Oh, ayolah! Di rumah ini dirinya pasti aman. Bunda Kania besert keluarganya telah menjaga ia dan calon bayinya dengan sangat baik. Ia pun membenahi duduknya.
Olivia naik ke atas ranjang, duduk dengan kaki lurus ke depan dan punggung yang disandarkan ke sandaran ranjang. Tidak lupa, ia meletakkan beberapa bantal untuk agar bisa duduk dengan nyaman.
Sementara itu, Bunda Kania meminta pelayan rumahnya untuk menyuruh Vino masuk. Ia duduk di sofa single yang ada di ruang tamu.
Jangan bilang kalau Vino sengaja membuat penampilannya menjadi kacau agar mendapatkan simpati dari Bunda Kania.
Bunda Kania tersenyum hangat. Lantas, ia berdiri dari duduknya dan mempersilakan si tamunya itu untuk duduk bergabung dengannya. Vino duduk di seberang Bunda Kania.
"Apa kabar, Vino? Kamu terlihat berbeda sekarang." Bunda Kania menyapa sopan. Tidak ada yang salah dari pertanyaannya, ia rasa juga begitu. Namun, apa yang Vino ucapkan cukup membuat hatinya tersentil.
"Cukup baik dengan kondisi seadanya, Bunda. Setelah ditinggalkan istri, berlanjut dibuat nyaris bangkrut." Wajah Vino biasa saja. Namun, matanya menatap nyalang.
__ADS_1
"Untung saja enggak sampai bangkrut ya. Tapi, memang kalau sesuatu bukan milik sendiri ya akan pergi juga. Istro saja bisa pergi apalagi cuma modal usaha dan usaha yang bisa gulung tikar kapan saja." Bunda berkata dengan senyum sopan.
"Saya datang ke sini untuk mengajak istri saya pulang, Bunda. Olivia ada kan?" Vino langsung mengutarakan tujuannya jauh-jauh datang ke sini. Ia tidak ingin berbasa basi apalagi mengobrol tidak berarti.
"Kamu salah tempat Vino kalau mencari istrimu di rumah ini. Seharusnya, mungkin kamu bisa mencari di tempat lain." Bunda Kania berkata tegas. Ia menatap tegas lelaki di hadapannya, menunjukkan kewibawaan dan siapa dirinya di hadapan lelaki itu.
"Saya sudah menyewa orang, Bunda, untuk mencari keberadaan Olivia--"
"Oh. Apa yang kamu lakukan bisa saya laporkan sebagai perlakuan yang tidak menyenangkan. Jika orang yang kamu sewa sampai menjadikan saya sebagai sasaran apalagi kalau sampai menguntit."
Vino justru terkekeh pelan. "Saya hanya ingin bertemu dengan Olivia, Bunda. Dan, selama ini kita tidak memiliki masalah apa pun bukan? Dengan Bunda menarik dana dari usaha yang kami jalankan, semakin menunjukkan jika Olivia berada bersama dengan Bunda Kania."
Sesaat, Bunda Kania mengerjap pelan. Oh, itu rupanya.
"Penarikan modal usaha itu tidak ada hubungannya dengan Olivia, Vino. Suami saya dan saya memang telah bersepakat untuk mengambil modal itu kembali jika usaha kalian sudah berkembang--"
"Bunda dulu memberikan itu kepada Olivia. Pas mau dikembalikan uanganya, Bunda tidak mau. Tapi setelah Olivia pergi dari sisi saya, Bunda menarik begitu saja tanpa ampun dan memberikan kepada kami kesempatan untuk bernapas sejenak." Vino tidak mau kalah.
"Begini saja, Vino. Coba kamu cari saja di tempat lain dulu. Bunda tidak ingin ikut campur dengan masalah kalian."
"Di Jakarta ini, hanya Bunda Kania yang Olivia kenal. Dan saya tahu benar kalau kalian sangat dekat--"
Bunda Kania berdiri. "Karena urusan kita sudah selesai. Lebih baik kamu pulang saja, Vino. Sebenarnya saya ingin mengajak kamu makan di sini, tapi saya sedang ada urusan. Maafkan saya ya."
__ADS_1
"Saya pasti akan menemukan Olivia, Bunda. Dan tolong sampaikan kepadanya. Sampai kapanku saya tidak akan menceraikan dia."
Setelah mengatakan kalimat penuh penegasan itu, Vino pun pergi.